My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
Anaconda #14


__ADS_3

Jadwal hari ini Jennie akan periksa kandungan, dan Aneeq sudah berjanji untuk menemaninya. Maka dari itu, sebelum berangkat ke perusahaan Aneeq akan membawa istrinya ke rumah sakit terlebih dulu.


"Sayang, tubuhmu jadi tambah seksi," celetuk Aneeq saat melihat Jennie tengah memakai baju.


Wanita hamil itu sedikit menoleh, bukannya senang mendapat pujian seperti itu, Jennie malah memicing tak suka. "Apa? Kamu mau bilang aku gendut, iya?" Ketusnya dengan wajah yang sudah masam.


Mendengar itu senyum Aneeq langsung menyurut seketika. Dia hanya berniat memuji pahatan indah istrinya, tetapi Jennie yang sedang sensitif malah mengartikannya lain dari pada yang lain.


Aneeq menghembuskan nafas pelan, dia melangkah dan segera merangkul pinggang Jennie dari belakang. "Aku tidak bilang gendut, Sayang. Tapi seksi, dan aku suka. Anget kalo dipeluk."


Jennie yang sedang mengancingkan bagian atas bajunya segera menepis tangan Aneeq. "Bohong!" Tukas wanita itu. "Aku emang gendut kan? Kamu mau bilang aku jelek, dan itu kenyataan."


"Hei, hei, apa sih yang kamu bicarakan? Tidak, Sayang. Sekalipun kamu jelek, gendut, keriput. Aku akan tetap cinta sama kamu."


"Tuhkan kamu ngaku. Ish, tahu ah! Aku kesel." Jennie merengek sambil memasang wajah memberengut. Rasanya kesal sekali Aneeq mengatakan keadaan fisiknya yang sekarang.


Pria itu semakin dibuat sesak nafas. Hanya gara-gara salah bicara, membuat Jennie jadi marah-marah.

__ADS_1


"Iya-iya aku minta maaf, Sayang. Aku tidak bermaksud meledekmu. Jennieku tetap yang tercantik, dan selamanya aku akan tetap mencintaimu." Aneeq menangkup kedua sisi wajah istrinya yang berubah seperti kue bakpao.


Namun, kali ini dia tidak ingin menyatakan hal tersebut. Yang ada Jennie akan kembali merajuk.


Aneeq mengecup bibir Jennie beberapa kali, bahkan sedikit melumaatnya. Berhasil, wanita berdada besar itu kembali mengulum senyum dengan pipi yang merona.


"Ya sudah sana duduk saja, aku mau siap-siap dulu!" Jennie menyuruh Aneeq untuk duduk dengan dagunya yang terangkat, tetapi pria itu tidak patuh.


"Biar aku membantumu bersiap-siap."


Aneeq mengambil sisir, lalu membantu Jennie merapihkan rambutnya. Pria itu sedang berusaha menyenangkan istrinya dengan melakukan hal-hal kecil bersama.


Jennie mengangkat tangan, lalu menangkup satu sisi wajah suaminya. "Terima kasih ya, Sayang." Ucap Jennie seraya memberi usapan. Aneeq mengangguk, lalu memajukan wajah untuk sekedar mengecup bibir seksi itu.


Kemudian setelah beres, mereka langsung sarapan dan meluncur ke rumah sakit Puri Medika. Rumah sakit keluarga, sekaligus tempat Jennie dan Zoya biasa memeriksakan kandungan mereka.


"Jen, kita langsung ke ruangan Dokter Alana saja. Aneeq sudah mendaftar lebih dulu 'kan?" ajak Zoya, yang kala itu ikut dengan menantu dan anaknya.

__ADS_1


"Sudah kok, Mom, kata De tinggal datang saja ke ruangannya, lagi pula ini masih pagi, pasiennya pasti belum terlalu banyak," jawab Aneeq.


Zoya mengangguk, lalu menggadeng tangan Jennie untuk sampai di ruangan dokter Alana. Benar apa yang dikatakan Aneeq, pasien yang akan periksa kandungan, belum terlalu banyak yang datang.


Alhasil Jennie langsung bisa masuk untuk melakukan serangkaian pemeriksaan, ditemani oleh Zoya dan juga suaminya.


"Usia kandungan Nyonya Jennie tidak terlalu jauh ya dengan kandungan Nyonya Zoya," ucap dokter Alana sambil menggerakkan transduser.


Jennie mengangguk sambil tersenyum. "Iya, Dok."


"Sejauh ini bayi anda sehat dan berkembang dengan baik. Dan hei lihat ...."


Aneeq, Jennie dan Zoya sontak melihat ke arah monitor yang sedang menampilkan janin di rahim Jennie.


*


*

__ADS_1


*


"Bayi kalian juga kembar," sambung dokter Alana.


__ADS_2