
"Astaga, apa aku sedang mimpi indah?" gumam El seraya menelan ludahnya susah payah.
Mata El tak berkedip lagi, takut kalau sampai ia menutup mata, pemandangan indah ini akan hilang begitu saja.
Wanita itu bangkit dari ranjang, sementara Caka belum menyadari kehadiran El. Dia hendak memakai kaos, tetapi langsung dikagetkan oleh suara seorang wanita yang begitu dikenalinya.
"Kak Caca!" panggil El.
Deg!
Tangan Caka yang terangkat langsung terhenti, kaos itu menyangkut menutup kedua matanya. Sementara jantung pria tampan itu langsung berdetak dengan kencang.
El? Itu suara El? Atau aku sedang berhalusinasi?
Caka bertanya-tanya pada batinnya sendiri, ingin tahu apa yang sebenarnya sedang dia hadapi, Caka langsung meneruskan gerakannya untuk memakai kaos. Dan dia semakin terperangah, saat melihat El tiba-tiba sudah berada di depan wajahnya.
Astaga.
Caka langsung mundur beberapa langkah saking terkejutnya. Sementara El tersenyum sumringah, dia maju dengan langkah pendek-pendek, mengikis jarak yang terbentang di antara mereka berdua.
"Hei, Nona, anda ini sedang apa?" tanya Caka dengan mata yang membulat tak percaya.
"Aku disuruh Mami memanggil Kakak untuk makan malam. Eh, aku malah disuguhi pemandangan indah," ucap El, seraya matanya melirik ke bawah.
"Jangan lihat ke bawah!" cetus Caka, sambil mengangkat dagu El. Sumpah demi apapun, dia merasakan malu yang luar biasa. Bisa-bisanya, El melihat ia yang belum memakai celana.
El mengedip polos, menatap wajah tampan Caka dengan tatapan penuh dengan tanda tanya. "Kenapa? Aku sudah sering lihat kok, punya Kak An, Kak Bee, Kak Choco, Kak De. Tapi kalau punya Daddy belum pernah. Hanya Mommy yang boleh melihatnya."
Caka semakin membulatkan kedua netranya, tak habis pikir dengan tingkah El, kenapa tidak tahu malu begini? Pakai acara membeberkan pernah lihat punya si ini, punya si itu.
__ADS_1
"Tapi, Nona, saya ini berbeda, saya bukan Kakakmu, jadi anda tidak bisa masuk ke kamar orang lain dengan sembarangan. Dan perlu anda ingat, saya adalah pria dewasa yang bisa saja melakukan apapun padamu, kalau_"
"Memang Kak Caca bisa melakukan apa padaku?" potong El, menatap manik mata Caka dengan penuh cinta. Dia hendak melirik ke bawah, tetapi lagi-lagi Caka menahan dagunya.
Pria itu membalik posisi, mendorong El hingga wanita itu menabrak lemari pakaian. El memang tidak bisa diremehkan, wanita bak barbie ini terlalu berani untuk menodong lawan. "Nona, jangan memancing saya, lebih baik anda keluar!" Cetus Caka, dia terus menahan rasa malunya, karena benda gondal-gandul di bawah sana tak terhalang apa-apa.
"Kalau aku tidak mau bagaimana?" El menolak keinginan Caka, lagi pula kenapa dia harus keluar, padahal Caka tinggal memakai celana. "Aku sudah melihatnya, jadi aku tidak masalah kalau Kak Caca memakainya di depanku. Atau kamu perlu bantuanku?"
Astaga, Eliana Sancha! Wanita ini benar-benar membuatku malu dan sakit kepala.
Caka mengepalkan tangannya kuat, sementara rahang pria itu mengeras, apa wanita ini perlu ditantang? Agar tidak terlalu meremehkannya?
"Kak Caca, cepat putuskan, nanti milikmu kedinginan lho," ucap El lagi membuyarkan lamunan Caka, pria tampan itu menatap El dengan sengit, sementara El terlihat begitu santai mengahadapi pria yang dicintainya.
"Hah, aku pakaikan saja yah," putus El, menepis tangan Caka yang terus memegang dagunya.
Namun, tidak berhasil pria itu malah mencengkram dagu El dengan kuat, dan melandaskan sebuah serangan di bibir ranum itu. Kini giliran El yang membulatkan matanya, apa semua ini benar-benar mimpi indah?
Tubuh mereka semakin berhimpitan, karena Caka terus mendorong El, pria itu hanya mengikuti naluri kelelakiannya, mencumbu El dengan sesapan dan lumataan yang begitu dalam.
El yang masih begitu tabu dengan hal ini sedikit kesulitan untuk mengimbangi permainan lidah Caka. Dia membuka mulutnya ragu, saat Caka menggigit bibirnya.
Pelan, El membuka mata, dia melihat Caka yang terasa begitu nyata. Garis wajah pria itu tergambar dengan sempurna dalam indera penglihatannya.
Nafas El tersengal, tetapi dia tidak membiarkan semua kegilaan ini berakhir. Dia memeluk leher Caka dengan erat, membuat pria tampan itu tiba-tiba membuka kelopak matanya.
Hasrat Caka bangkit, darahnya mendidih hingga ke puncak ubun-ubun. Satu tangannya sudah berhasil masuk ke dalam blouse yang El kenakan. Selagi bibir mereka bertautan, Caka mengelus punggung itu dengan gerakan pelan.
El sedikit melenguh, saat kulitnya terus digesek dengan manja, dan suara itu yang membuat Caka sadar seketika. Apa yang dia lakukan? Bodoh! Caka langsung melepaskan ciumannya bersama El, ia menatap wanita itu sebentar, tanpa bicara Caka melangkah cepat dengan tubuhnya yang setengah telanjang.
__ADS_1
Sial, apa yang aku lakukan?
Hanya dalam hitungan detik Caka sudah berada di dalam kamar mandi, pusat tubuhnya menegang, tetapi ia bersyukur El tidak sempat melihatnya. Yah, semoga saja tidak.
Caka mengintip El dari balik celah, wanita itu masih berdiri mematung dan mencoba mengatur nafasnya.
"Nona, pergilah! Lupakan apa yang baru saja terjadi di antara kita."
Deg!
Jantung El seperti diremat. "Apa katamu? Lupakan? Apa kamu seorang pengecut? Kamu berani melakukannya, tapi kamu malah menyuruhku melupakannya?" tanya El, menatap nanar pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.
Caka memejamkan matanya sejenak, dia tidak tahu kosakata apa yang harus ia gunakan untuk membuat El pergi dari kamarnya.
"Nona, saya_"
"Kalau kamu memang tidak menyukaiku, tolak aku! Tolak aku secara terang-terangan! Selama ini aku hanya melihatmu seolah acuh, tapi di belakang kamu selalu memperhatikanku. Benarkah kamu sangat tidak menyukaiku?"
Mati sudah! Caka tidak bisa lagi mengelak, ternyata El merasakan bagaimana kepeduliannya.
"Asal kamu tahu, aku mendengar semua ucapanmu malam itu, aku hanya pura-pura mabuk!"
Deg!
*
*
*
__ADS_1
Hayo Abang Caka, gondal-gandulnya udah kelihatan sama Barbie El 🤪🤪🤪