My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
MSS 101


__ADS_3

Satu hari berlalu, setelah dari rumah sakit Aneeq tidak pulang ke mansion, pria dengan wajah penuh luka itu malah berniat untuk menginap di apartemen, karena belum berani bertemu dengan sang ayah yang sepertinya masih memendam amarah.


Ia teringat ucapan Ken saat terakhir kali mereka bertemu, pria paruh baya itu tidak sudi melihat wajahnya dan melenggang begitu saja untuk menyusul Zoya. Aneeq merasa sangat menyesal, ia dengan gontai melangkah menyusuri lorong apartemen. Elly sudah tidak ada di sana, karena Aneeq menyuruh wanita itu untuk pulang terlebih dahulu, sampai Jennie dan Ziel ketemu.


"Di mana kamu, Jen? Kenapa kamu tega menyiksa batinku seperti ini? Kenapa kamu tidak mau berjuang denganku untuk mendapat restu Mommy?" gumam Aneeq dengan tatapan nanar, pandangan mata pria itu kosong, menyisakan kehampaan.


Aneeq menekan password apartemen, begitu pintu terbuka, Aneeq tidak langsung masuk ke dalam. Ia malah memandangi seisi ruangan itu, setiap sudutnya membekas bayangan Jennie yang sedang tertawa, membuat Aneeq lagi-lagi merana.


Pelan, kaki jenjang itu melangkah dengan penuh keraguan. Pikiran pria itu mulai tak waras, karena sampai saat ini anak buahnya belum memberikan sebuah kabar. Aneeq tersenyum getir, memandang pintu kamar yang biasa Jennie gunakan.


"Kapan kamu pulang, Sayang? Percayalah, Mommy tidak benar-benar memandangmu rendah seperti itu. Mommy hanya belum tahu siapa kamu sebenarnya. Aku janji, kalau kamu pulang kita langsung bertemu Mommy dan Daddy. Aku akan buktikan kesungguhanku. Pulanglah, Jen. Aku merindukanmu," lirih Aneeq dengan bibir yang bergetar.


Pria itu menyugar rambutnya ke belakang dan kembali menatap sekeliling. Dadanya sesak saat bayangan wajah Jennie datang, tawa itu berubah menjadi raut penuh kesedihan, membuat Aneeq semakin merasa bersalah. "Pulanglah, Sayang."


Tubuh Aneeq ambruk di atas sofa, ia tergugu sendirian, karena merasa sangat kesepian. Jennie benar-benar mengambil separuh jiwanya, hingga membuat ia nyaris gila saat itu juga.


*


*


*

__ADS_1


Pagi datang dengan cepat, Aneeq sudah membenahi penampilannya dengan mandi air dingin dan berganti pakaian. Hari ini ia akan turun tangan mencari keberadaan Jennie dan juga Ziel.


Aneeq menyambar ponsel di atas nakas. Tanpa menunggu lama ia langsung mengangkat panggilan yang masuk, karena itu dari Caka.


"Halo, Tuan. Saya sudah di bawah."


Tanpa menjawab Aneeq langsung mematikan panggilan itu. Ia berjalan tergesa meninggalkan apartemen dengan mengancing lengan kemejanya.


"Aku akan mendapatkanmu secepatnya, Jen!" ucap Aneeq penuh semangat. Ia tersenyum smirk, untuk membangkitkan gairah hidupnya. Dia sudah sangat percaya diri, bahwa dia akan menemukan Jennie.


Mobil yang dikendarai Caka kembali melandas ke jalan raya, begitu Aneeq sudah berhasil masuk ke dalam sana.


Caka melihat wajah Aneeq yang begitu sumringah, membuat pria itu mengulum senyum karena ikut merasa bahagia. "Jangan patah semangat, Tuan. Anda pasti akan menemukannya. Aku selalu berdoa Nona Jennie dan Tuan kecil baik-baik saja. Anda juga harus percaya itu."


Tak sampai lama, mobil putih yang dikendarai Caka sudah masuk ke halaman mansion. Caka menepikan kendaraan roda empat itu tepat di depan pintu utama. Aneeq keluar dari sana, tetapi tubuhnya langsung ditahan oleh beberapa orang yang berjaga.


"Maaf, Tuan Muda. Tuan Ken melarang anda untuk masuk," ucap salah satu dari mereka sambil merentangkan kedua tangannya.


Alis Aneeq berkerut. "Maksudmu, aku tidak boleh bertemu dengan Mommy?"


Seorang penjaga itu mengangguk, membenarkan ucapan Aneeq. "Benar, Tuan. Tuan Ken sendiri yang memberikan mandat seperti itu pada kami."

__ADS_1


Aneeq mengatupkan bibirnya dengan tangan yang terkepal. Pria itu menarik nafas dalam-dalam dan mengembuskannya secara perlahan, berharap perasannya kembali tenang.


Dan tepat pada saat itu, Ken tiba-tiba keluar. Mata pria paruh baya itu menunjukkan sorot tak ramah, membuat Aneeq meneguk ludahnya dengan kaki yang mundur selangkah demi selangkah.


"Kamu sudah dengar apa kata penjaga? Telingamu masih berfungsi, 'kan?" tanya Ken sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.


Aneeq mengangguk.


"Lalu untuk apa kamu masih di sini?"


"Dad!" panggil Aneeq mencoba memberanikan diri, ia mengangkat kepala menatap sang ayah dengan sorot mata memohon. "Aku ingin bertemu Mommy."


"Untuk apa? Mau menyakitinya? Kamu mau membangkang lagi, setelah perjuangannya membesarkanmu selama 25 tahun? Aku yang menemaninya bertaruh nyawa, sampai sejak saat itu aku tidak berani membuat dia menangis. Tapi kamu?" Ken menunjuk Aneeq dengan jarinya. Lutut Aneeq tiba-tiba gemetar, sedangkan bayangan kesalahan berkelebat di pelupuk mata.


Pria dengan wajah penuh luka itu menatap Ken, mengiba pengampunan. Bahkan Aneeq hampir saja menjatuhkan tubuhnya di hadapan sang ayah. Namun, sebuah suara malah mengejutkannya.


*


*


*

__ADS_1


"Daddy!"


__ADS_2