
Selesai sarapan dan mengantar Ziel ke sekolah, Aneeq menepati ucapannya untuk menemani Jennie mengemasi barang-barang di rumah kontrakan wanita itu.
Elly tidak ikut ke sana, karena dia ditugaskan untuk menemani Ziel, sampai pria kecil itu pulang sekolah.
Sejak Jennie bangun, dia terus menatap Aneeq dengan tatapan entahlah. Bisa-bisanya semalam dia bermimpi bercumbu dengan pria tampan itu sampai basah. Dan hal itu membuat Jennie jadi terlihat malu-malu, karena cumbuan Aneeq terasa sangat nyata.
Hingga dia tak sadar kalau ternyata mereka sudah sampai di tempat tujuan, Aneeq segera melepas sabuk pengaman, sementara Jennie malah bergeming sambil menggigit bibir bawahnya.
"Jen, ayo turun, kita sudah sampai," ucap Aneeq membuyarkan lamunan Jennie tentang kegiatan mereka semalam. Cih, kenapa semua itu terus terngiang-ngiang.
Jennie tersenyum kikuk, malu pada dirinya sendiri yang terus berpikir mesumm. Lantas setelah itu, dia mengekor pada Aneeq, masuk ke dalam rumah kontrakannya.
Di sana sudah ada beberapa orang suruhan Aneeq untuk mengangkut barang-barang. Sementara pria tampan itu mengajak Jennie untuk mengemas baju-baju Ziel.
"Tuan, kamu tidak perlu turun tangan, biar aku yang membereskan semuanya, lagi pula hanya mengemas baju, ini pekerjaan mudah," ucap Jennie saat Aneeq mengambil alih koper milik wanita itu.
Namun, Aneeq malah menggeleng. "Aku sudah pernah bilang, aku menyayangi Ziel dengan tulus, jadi lebih baik kamu saja yang duduk. Biar ini semua menjadi urusanku."
Wajah Jennie terlihat sendu, lagi-lagi Aneeq membuat hatinya merasa gundah, karena terus merasa bersalah. Jennie mematung, sementara Aneeq mulai mengemasi baju yang ada di dalam lemari pakaian wanita itu.
Dari baju kantor, dress rumahan sampai benda segitiga lengkap dengan penyanggah semangka, Aneeq memasukannya tanpa ragu. Dia hanya sedikit meremass benda itu, seolah dia tengah meremass benda kenyal ukuran empat puluh.
__ADS_1
Lalu tiba-tiba gerakan Aneeq terhenti, begitu dia mendengar suara Jennie yang memanggilnya, "Tuan."
Aneeq mengesampingkan pekerjaannya, lalu menoleh ke belakang. Di mana Jennie menatapnya dengan sorot mata yang penuh kecamuk rasa bersalah. Wanita itu melangkah pelan-pelan, hingga akhirnya mereka berdiri dan saling berhadapan.
Aneeq tidak tahu apa yang akan dilakukan Jennie. Wanita itu menunduk, sementara kedua tangannya bertaut, saling memilin jari-jari.
"Ada apa, Jen?" tanya Aneeq dengan alis terangkat.
Jennie menggigit-gigit kecil bibirnya. Selang beberapa waktu, ia memberanikan diri mengangkat kepala untuk menatap wajah Aneeq. "Tuan, aku minta maaf atas kejadian kemarin. Maaf karena selama ini aku selalu bersikap ketus padamu. Aku tidak punya maksud seperti itu, aku hanya belum bisa mengendalikan diri, karena sejauh ini kamu sudah tahu masalahku, dan hal itulah yang membuatku menahan diri untuk tidak terlalu terbuka dengan pria lain. Aku_"
Cup!
Satu kecupan melandas, satu tangan Aneeq menahan tengkuk Jennie, sementara Jennie langsung melebarkan kelopak matanya, Aneeq sudah tak kuasa menahan diri untuk tidak menyergap benda yang sedari tadi bergerak-gerak itu. Menyisir di otaknya, membuat dia kehabisan rasa sabar.
Menciptakan pertautan yang tak bisa Jennie hindari, wanita itu perlahan memejamkan mata. Membuat dirinya begitu munafik, karena nyatanya dia malah menerima perlakuan Aneeq.
Pria tampan itu mencium lebih dalam, menyesap bibir itu atas bawah, dan mendorong tubuh Jennie untuk menutup pintu kamar itu. Di luar sana, orang-orang yang sedang hulu-hilir hanya bisa saling pandang, saat mendengar suara benda persegi panjang ditutup dengan keras.
Sementara dua sejoli itu saling berpagut, menikmati pagi yang cerah ini, dengan langkah yang semakin maju ke depan. Tangan Jennie melingkar di sepanjang leher Aneeq, dia juga membuka mulut, memberikan Aneeq akses agar pria itu membelit lidahnya.
Katakanlah dia sudah gila, bercumbu dengan Aneeq dikala statusnya yang belum sah menjadi janda. Namun, sebuah jarum pengendalian diri itu sudah ditembus oleh Aneeq, membuat Jennie terperdaya.
__ADS_1
Wanita itu melenguh, saat lidah Aneeq membasahi leher jenjangnya. Mulanya Aneeq bergerak dengan pelan, tetapi remassan jari jemari lentik milik Jennie membuatnya membrutal, nafas Aneeq memburu, dia menggigit leher Jennie hingga membuat wanita itu mengeluh sakit tapi nikmat secara bersamaan.
Satu tangan Aneeq bergerilya, sementara tangan yang lain mencari muara pengait buah kesukaannya. Tidak adanya penolakan membuat pria tampan itu semakin bersemangat, hingga dia dengan jelas bisa melihat dua sembulan dada ukuran empat puluh terpampang nyata di depannya, bahkan secara sadar sang pemilik memberikannya.
Aneeq meneguk ludah, sebelum menyesap benda bulat dan sintal itu, Aneeq menggendong tubuh Jennie, dan menghempaskannya di ranjang.
"Eugh!" Wanita itu semakin melenguh, saat Aneeq menyerang, hingga dia mencengkram kuat dada pria tampan itu, dan kali ini Aneeq yang menjerit kesakitan.
"Argh!"
Aneeq langsung menarik diri, karena Jennie menyentuh dadanya yang kemarin mendapat tendangan dan menghasilkan luka lebam. Membuat kegiatan panas yang sedang berada di puncaknya itu terpaksa dihentikan.
"Tuan."
*
*
*
Ea ea berharap apa lu pada🤣🤣🤣
__ADS_1
Pencet-pencet dulu anunya, sebelum melanjutkan🍉🐍