My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
Anaconda #17


__ADS_3

Melihat bola mata Jennie yang memerah, Zoya sangat yakin bahwa ada yang sesuatu yang terjadi dengan menantunya ini. Namun, saat ditanya Jennie selalu mengatakan tidak, membuat Zoya paham satu hal, bahwa wanita itu enggan bercerita kepadanya.


"Are you sure? Tidak ada yang kamu sembunyikan dari Mommy?"


"No, Mommy jangan khawatirkan apapun."


Jennie menjawab itu dengan mengulum senyum, meyakinkan pada Zoya bahwa tidak terjadi apa-apa.


Namun, Zoya tak percaya begitu saja. Sepertinya semua ini ada sangkut pautnya dengan sang putra. Zoya akhirnya mengalah, dia tidak mau terlalu jauh untuk ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka.


Akhirnya mereka kembali ke mobil. Sesampainya di mansion, Jennie tak dapat membendung lagi rasa sakit di hatinya. Dia menelpon Aneeq untuk segera pulang. Tak peduli apa yang sedang pria itu lakukan, pokoknya dia ingin sebuah penjelasan.


"Aku bilang pulang, An!" jerit Jennie kala itu, yang akhirnya membuat Aneeq tak bisa berkutik. Dia merasa sesuatu yang lain, sepertinya ada yang terjadi pada istrinya. Namun, sumpah demi apapun, dia tidak bisa menebak itu apa.


"Baik, aku pulang sekarang," jawab Aneeq dengan pasrah. Namun, Jennie yang sudah tak sanggup menahan sesak di dadanya, tak menjawab apapun, dia langsung mematikan panggilan mereka dan menangis sejadi-jadinya.


Aneeq melajukan kendaraan roda empatnya dengan kecepatan tinggi, hingga mengurangi waktunya di jalan raya. Sampai di mansion, hanya satu yang dia tuju, yaitu kamar.


Pria tampan dengan setelan jas itu tergugu, melihat Jennie yang begitu menyedihkan. Wanita hamil itu menangis entah sebab apa, padahal tadi pagi mereka masih tertawa bahagia, dan merasa sempurna karena saling memiliki.


Hanya gara-gara sebuah kesalahpahaman, pertengkaran sengit pun terjadi, Jennie selalu menuding Aneeq. Namun, pria itu sama sekali tak mengerti ke mana arah pembicaraan istrinya.


Hah! Jennie merasa bodoh sendiri. Bola matanya menyalak seolah tak ingin melunak. "Kamu benar-benar tidak sadar apa yang sudah kamu lakukan? Kamu menyembunyikan seorang gadis di apartemen, tanpa bercerita apapun padaku. Dan sekarang, kamu berlagak tidak tahu? Aku bertemu dengannya, An! Aku melihat dia tidur di ranjang yang pernah kita pakai bersama, bahkan dia memakai pakaianku!" Teriak Jennie dengan emosi yang semakin meluap.


Sementara Aneeq hanya bisa menganga.

__ADS_1


Seorang gadis?


Aneeq memejamkan mata sejenak, dan dia baru saja mendapatkan ingatannya. Dia lupa menjelaskan pada Jennie bahwa di apartemen ada teman De yang menginap. Namun, sumpah demi apapun Aneeq tidak tahu kalau dia adalah seorang gadis.


Pasti gara-gara itu semua, mereka jadi salah paham. Jennie pasti berpikir bahwa dia selingkuh. Gila, sungguh gila! De benar-benar perlu diberi pelajaran.


Aneeq memijat pelipisnya yang berdenyut dengan satu tangan yang bertolak pinggang. Sementara Jennie senantiasa sesenggukan, bahu wanita itu naik turun seiring tangisannya yang terdengar memilukan.


Helaan nafas panjang memenuhi udara. Aneeq yang merasa bersalah karena telah membuat wanita itu menangis, mencoba meraih bahu Jennie, tapi wanita berdada besar itu selalu menepisnya. Seolah enggan untuk menerima sentuhan itu.


Namun, Aneeq tak menyerah. Dia berjanji akan menjelaskan semuanya dengan sejelas-jelasnya.


"Sayang, ayolah ...."


Aneeq meraih kembali tangan Jennie, dan kali ini tidak ada penolakan, sepertinya Jennie mulai bisa diajak kerja sama. "Come on, Dear. Baby kita pasti lelah kalau Mommy-nya berdiri terus. Aku bersumpah, gadis itu tidak ada kaitan apapun denganku, jadi kamu tidak perlu menangis seperti ini."


"Makanya dengarkan penjelasanku, ayo kita duduk dan tenangkan dirimu. Ingat, semua ini tidak bagus untuk kandunganmu, Sayang. Kamu tidak boleh stres."


Mendengar itu, akhirnya Jennie semakin luluh. Dia patuh pada ajakan Aneeq untuk duduk di sofa. Keduanya duduk berdampingan, sekali lagi Aneeq menghapus jejak basah di pipi Jennie dan mengecupnya beberapa kali. "Satu yang harus kamu ingat, selamanya aku adalah milikmu."


"Cepat katakan, jangan banyak bicara lagi."


"Iya-iya, Sayang. Aku hanya ingin mengingatkan kamu." Satu tangan Aneeq menyentuh perut Jennie, sementara tangan yang lain merogoh ponsel, dia ingin memperlihatkan riwayat pesan De saat pertama kali pria itu meminjam apartemennya.


Dari awal sampai akhir, Aneeq menjelaskan tentang ketidaktahuannya. Dia tidak tahu bahwa De diam-diam menyembunyikan seorang wanita. Dan dia pun tidak merasa curiga, sebab dia sangat paham bagaimana sifat saudara kembarnya. Ya, satu spesies dengan Caka.

__ADS_1


"Aku berani bersumpah, aku juga tidak pernah melihat gadis yang kamu maksud. Karena De menyembunyikan semuanya," jelas Aneeq dengan begitu gamblang.


"Jadi gadis itu berpikir bahwa De adalah pemilik apartemen itu? Karena dia bilang dia adalah temanmu, dia juga memakai bajuku atas izinmu."


Aneeq menghela nafas, dia meraih tangan Jennie dan menciumnya. "Mungkin seperti itu, De tidak akan banyak bicara kecuali pada orang-orang yang memang dekat dengannya. Waktu itu dia hanya izin memakai barang-barang yang ada, dan aku mengizinkannya. Aku mana tahu dia juga meminjam bajumu."


Bibir Jennie mengerucut. "Kamu tidak sedang membohongiku, 'kan?"


"Astaga." Aneeq memutar bola matanya lalu menangkup kedua sisi wajah Jennie. "Kalau kamu tidak percaya, kita bicarakan nanti dengan De, biar dia yang bercerita langsung padamu."


"Tapi aku takut dengannya."


"Takut apa? De tidak akan menggigit, andai dia macam-macam aku yang akan menghajarnya. Tenanglah, apa lagi yang kamu khawatirkan?"


Akhirnya perlahan-lahan Jennie mulai percaya. Pikirannya sekarang berangsur tenang dan semakin tenang saat Aneeq membawa tubuhnya masuk ke dalam dekapan pria tampan itu. "Percayalah padaku, Jen. Aku tidak akan berpaling darimu. Perjuangan untuk mendapatkanmu sangat sulit, aku tidak mungkin melepaskanmu dengan begitu mudah, apalagi hanya untuk jambu-jambu di luar sana. Mereka semua akan kalah dengan semangka."


Bugh!


"Dasar Anaconda!"


"Dan ini Baby Anacondanya." Aneeq mengelus perut Jennie dengan lembut, hingga wanita itu pun mengulas senyum.


***


Sini yah kisahnya Abang De, biar nyambung Oey 😌😌

__ADS_1



__ADS_2