
Aneeq menghentak tubuh Jennie semakin dalam. Sementara wanita itu terus meraung keras dengan cengkraman yang begitu kuat pada bahu Aneeq. Sebentar lagi batas nirwana akan mereka sambangi, Jennie melingkarkan kakinya di sepanjang pinggang Aneeq, membuat senjata pria itu melesak dan menyentuh titik denyutnya.
"Annnn!" panggil Jennie diiringi desahaan merdu yang begitu menggema. Aneeq tidak diam saja, dia mencengkram erat kain sprei di antara kepala Jennie, sementara mulutnya berkelana dia leher jenjang wanita cantik itu.
Dua bongkahan semangka kesukaan Aneeq terombang-ambing, mengikuti laju gerak Aneeq di atas tubuh istrinya. Raksasa dalam dirinya seolah mengamuk, hingga dengan keji mengobrak-abrik sarang milik Jennie.
"Ini benar-benar nikmat, Jen," puji Aneeq berbisik di telinga Jennie. Tak hanya itu, dia juga menguluum gemas daun telinga Jennie hingga benar-benar basah, sementara tubuh wanita itu kembali meremang karena ulah suaminya.
Permainan dahsyat yang belum pernah dia terima dari Michael, sungguh Aneeq memperlakukannya dengan sangat berbeda.
"Shhhh, ahh!" Desaah Aneeq merasa tak kuasa, karena pusat tubuhnya sudah hampir meledakkan sesuatu yang begitu hebat. Jennie menangkup kedua sisi wajah Aneeq, dia meraup bibir pria itu hingga desahaan keduanya tertahan tetapi masih terdengar keras dan berpacu dengan waktu.
Aneeq meremass kain sprei dengan sangat kuat, dia menenggelamkan pusat tubuhnya pada inti sang istri, hingga lahar hangat itu akhirnya pecah di dalam sana. Setelah ini dia yakin, Ziel akan secepatnya memiliki adik kecil yang manis, buah percintaannya dengan Jennie.
Lutut Jennie terasa lemas setelah beberapa saat menegang hebat. Dia seperti seseorang yang menggigil karena bibir dan sebagian tubuhnya bergetar, akibat pelepasan yang baru saja dia terima.
__ADS_1
Pagi yang terasa begitu menyenangkan bagi Aneeq dan Jennie. Satu pelepasan telah mereka dapatkan dengan kenikmatan yang terasa sangat sempurna. Satu hal yang Jennie ketahui sekarang, bahwa milik Aneeq memang jauh lebih besar dan panjang.
Aneeq masih diam dengan sengatan yang terasa sangat mendebarkan memenuhi dadanya. Peluh mengucur deras, Aneeq dan Jennie kembali seperti habis mandi hingga membuat sprei putih itu berubah menjadi basah kuyup.
Nafas keduanya terdengar memburu beradu menjadi satu, Aneeq mengangkat kepala menatap Jennie dengan wajahnya yang terlihat puas, pria itu mengulum senyum. Dan mengecup kening sempit wanita itu dengan sayang. "I love you so much, Dear."
Kalimat itu seolah tidak akan pernah habis Aneeq ucapkan. Dia memberi jeda sejenak agar nafas mereka berangsur dengan normal. Jennie bergeming, dia sedikit meringis saat benda itu dikeluarkan. Menyisakan kedutan nikmat yang ingin terus dia rasakan.
Aneeq bangkit dari atas tubuh Jennie dan kembali memasang wajah penuh gairah yang tak berkesudahan. Padahal Jennie merasa masih ada sesuatu yang mengganjal. "I love you more, An. Kamu yakin masih ingin meminum obat kuat, setelah berhasil membuatku seperti ini?"
"Why, Dear? Kita baru melakukannya satu kali," jawab Aneeq dia meraih gelas di atas nakas dan memberikannya pada Jennie. Mereka meminum air putih itu hingga tandas, karena tenggorokan mereka terasa begitu gersang.
"Lakukanlah kalau kamu ingin membuatku tidak bisa berjalan selama beberapa hari," cetus Jennie memberikan kembali gelas itu pada Aneeq.
Mendengar itu, Aneeq terkekeh keras, merasa lucu dengan jawaban Jennie. Bukankah itu sebuah pujian dalam bentuk kepasrahan? Aneeq menyugar rambutnya ke belakang. Dia melangkah mengitari ranjang, sementara tatapan pria itu tak lepas dari tubuh Jennie yang telanjangg.
__ADS_1
Aneeq sudah seperti ingin menyantap daging segar di tengah rerumputan hijau. Belum lagi dua semangka yang menggantung dengan pucuk merah jambu, pun dengan irisan buah peach yang terasa sangat lembut dan tidak ada duanya, ah semua itu membuat Aneeq mabuk kepayang karena ingin terus mencobanya.
Mungkinkah istilah janda tapi perawan itu memang ada? Milik Jennie terasa sangat sempit, atau memang Anacondanya yang memiliki obesitas tingkat tinggi? Sampai menembus sarang janda saja butuh perjuangan ekstra.
Keduanya saling tatap, Jennie menggigit bibir bawahnya hingga terlihat sangat sexxy di mata Aneeq. Belum lama mereka memberi jeda, tetapi tubuh mereka sudah kembali merasakan geleyar aneh. Inti tubuh Jennie terasa berkedut-kedut, sebagai seseorang yang sudah berpengalaman, memang dia tidak bisa lagi untuk sungkan.
Jennie membelai kedua buah kesukaan Aneeq. Memainkan tubuhnya hingga membuat dia kembali basah. Aneeq menelan salivanya dengan kabut yang berkelebat. Sementara di bawah sana, si gondal-gandul kembali bangkit mengacungkan diri, untuk menantang sang istri.
Jennie melenguh panjang dengan permainannya. Membuat Aneeq merasa goyah. Hingga akhirnya sang singa kembali menerjang lawan, Aneeq membalik tubuh Jennie hanya dengan satu kali gerakan. Dia mencumbu wanita itu untuk memberi pemanasan, sebelum si anaconda kembali beraksi, memulai permainan dari arah belakang.
"Annhhh!" Jennie kembali memekik, saat Aneeq menusuk tubuhnya. Aneeq memegang kedua tangan Jennie, sementara dirinya kembali bergerak untuk menghujam lawan, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan, dia akan membalas dendam akibat semalam. Bila perlu sampai Jennie kesulitan berjalan.
Aneeq mengangkat kepala Jennie, sementara bagian bawah tubuhnya bergerak brutal.
"Rasakan, Jen! Rasakan pembalasanku semalam."
__ADS_1