My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
MSS 134


__ADS_3

Tak berbeda dengan lantai bawah. Di kamar pengantin baru lainnya juga tengah beradu desaah. Aneeq tersenyum kemenangan, saat sang ibu menggendong Ziel masuk ke dalam kamar.


Saat itu Aneeq mendapat pelototan tajam dari Ken, tetapi sungguh Aneeq tidak peduli. Dia justru menjulurkan lidah dan berlari sambil menarik tangan Jennie.


Seolah tak memiliki rasa lelah dalam tubuhnya, Aneeq mengangkat tubuh Jennie dan menghadapkannya ke sofa. Jennie sedikit meronta, tetapi Aneeq malah semakin bersemangat dengan mengunci tangan Jennie di atas kepala.


"Ah, An!" Wanita itu memekik saat Aneeq kembali merasuki dirinya. Benda panjang yang kerap memberinya kepuasan itu menusuk dari belakang. Aneeq menganga dengan dengan desaah yang terdengar keras.


Tubuh Jennie terlihat lebih sekksi dari arah belakang hingga membuat dia mabuk kepayang. Apalagi himpitan di bawah sana. Milik Aneeq seperti dililit dan dicengkeram dengan kuat. Menyisakan kenikmatan yang luar biasa.


"Oh My Dear, this is very good!"


Jennie hanya dapat menjawab Aneeq dengan lenguhan yang mengalun indah. Tangan Aneeq turun ke bahu, sedikit memberi usapan, lalu semakin turun ke dua bongkahan semangka kesukaannya.


Aneeq memainkan pucuknya dengan memilin-milin, menciptakan geli bercampur getar. Mulut Jennie tak berhenti untuk terbuka lebar, sementara tangannya terus mencengkram punggung sofa.

__ADS_1


"Kamu terlihat menakjubkan, Sayang," puji Aneeq, dia membungkukkan badan dan memegang kedua pinggul Jennie hingga pusakanya melesak semakin dalam. Pria itu menguluum gemas dan menyesap daun telinga Jennie membuat wanita itu menggigit bibirnya kuat.


"Calling my name, Dear, come on!" pinta Aneeq lalu mengecupi punggung Jennie yang terbuka. Sebab Jennie hanya terdiam dan mengekspresikan dirinya dengan suara.


Tubuh wanita berdada besar itu meliuk, Aneeq mampu mempermainkan gairahnya. Dia terus merasakan lelehan kenikmatan yang tiada tara. Terus menikam dadanya.


"Ah, An! Aku suka permainanmu," ucap Jennie sesuai keinginan Aneeq. Bahkan dia memuji permainan suaminya itu. Pria yang dipanggil namanya menyeringai penuh, dia memegang dua sisi wajah Jennie, sementara bagian bawah tubuhnya terus memompa.


"Apakah begitu luar biasa?" tanya Aneeq menciumi bibir Jennie. Wanita itu mengangguk, seraya menikmati hentakan keras dari suaminya.


"Aku menyukainya, An, ini nikmat," jawab Jennie terengah-engah. Aneeq tersenyum tipis, lalu dia menyesap bibir Jennie dengan buas. Gerakan pria itu memelan, dia memutar tubuh Jennie dan membantingnya dia atas sofa, buah semangka kesukaan Aneeq memantul sementara pria itu kembali mengungkung istrinya.


Dari atas sana, Aneeq bisa melihat wajah sensual Jennie yang memerah, mendamba sentuhannya. Jari jemari Aneeq menyentuh kening Jennie, menelisik pahatan wajah istrinya dengan lembut. Sedangkan peluh Aneeq menderas, berjatuhan di dada wanitanya.


Aneeq sedikit mencapit bibir Jennie, lalu memasukkannya tanpa harus meminta izin. "Hisap!" Pintanya dengan mata yang terlihat sayu, tetapi penuh gairah.

__ADS_1


Jennie terus menatap mata Aneeq. Tangan wanita itu berusaha memasukkan benda kesukaannya, sementara ia mulai menghisap jari Aneeq. Aneeq mendorong kembali tubuhnya, Jennie meringis dengan kedutan yang tak biasa.


Tubuhnya tak bisa lagi berbohong. Puncak nirwana sudah berada di pelupuk mata, dia terus menghisap jari Aneeq dengan sensual, sementara kedua tangannya memegang pinggang Aneeq dengan erat.


"Ah, An. Aku hampir mendapatkannya, faster, Darling," pinta Jennie setelah melepas ibu jari Aneeq, dia sudah tak tahan, sebab gelombang itu akan segera datang.


Aneeq tersenyum lebar, dia kembali menghentak dengan sangat cepat, sesuai dengan keinginan istrinya. Hingga suara lolongan panjang, memenuhi seisi kamar mereka berdua.


Lain halnya dengan kamar sebelah.


Ken masih berusaha memeluk tubuh Zoya, meski ada Ziel di tengah-tengah mereka. Namun, lagi-lagi pria kecil itu menepis tangan Ken, hingga Zoya hanya dapat dikuasainya.


Ken mengatupkan bibirnya dengan kepalan tangan yang begitu kuat. Andai bukan anak kecil, mungkin Ken sudah mengusirnya cuma-cuma.


"Haish, sampai tua pun aku tidak bisa memiliki dia seutuhnya. Ada saja pengganggu kecil di antara aku dan Zoya."

__ADS_1


__ADS_2