
Karena semua drees yang Jennie coba tidak memiliki ukuran yang pas di bagian dada. Akhirnya Aneeq memutuskan untuk meminta El menghubungi butik miliknya. Tidak ada pilihan lain, karena jikalau tidak begitu maka semuanya tidak akan selesai-selesai.
Tanpa menunggu lama beberapa dress kembali datang sesuai dengan pesanan Aneeq, dress yang memiliki lingkar dada yang besar.
Jennie kembali mencobanya, hingga pilihan wanita itu jatuh pada dress berwarna lime. Aneeq terus menunggu sampai Jennie selesai berdandan. Pria itu mendekat ke arah meja rias saat Jennie berhasil menggelung rambutnya.
Aneeq mengecup tengkuk Jennie hingga menghasilkan getaran yang tidak biasa. Jennie menggeliat kecil, lalu menoleh ke samping. "An, berhenti menggodaku. Kita tidak memiliki waktu banyak."
Aneeq sedikit menurunkan tubuhnya, dan menempelkan kepala di ceruk leher Jennie. "Tenanglah, Dear. Aku masih menahan semuanya. Tapi aku hanya sedang mengagumi keindahan dirimu. Kamu terlihat sangat cantik malam ini."
Tatapan mereka bertemu di dalam cermin yang ada di depan sana. Jennie mengerucut dan menarik hidung Aneeq. "Dasar buaya, sukanya gombal saja!" Cetus wanita cantik itu.
Jennie bangkit dan membuat Aneeq ikut bangkit pula. Pria itu senantiasa mengikuti gerak tubuh Jennie, ke mana pun wanita itu pergi. "Siapa yang buaya? Dan siapa yang sedang menggombal. Aku bicara apa adanya, calon istriku memang sangat cantik."
Jennie menghela nafas dan berhenti tepat di depan pintu. Dia membalik tubuhnya dan langsung berhadapan dengan Aneeq, wanita itu tersenyum kecil sambil menatap Aneeq dengan tatapan entahlah.
Cup!
"Iya kamu bukan buaya, tapi anaconda!" ujar Jennie dengan terkekeh, dengan cepat dia sudah membuka pintu, membuat Aneeq kecolongan, karena tak berhasil membalas kelakuan nakal wanita itu.
Cih, dia sudah mulai berani menggodaku. Awas saja!
*
*
__ADS_1
*
Beberapa mobil dari keluarga Tan akhirnya sampai di sebuah rumah di mana orang tua Jennie tinggal. Mereka keluar saat mobil sudah menepi di halaman yang cukup luas itu. Ziel langsung merasa tidak sabaran, karena sudah beberapa bulan tidak bertemu dengan kakek dan neneknya, hingga bocah tampan itu berlari dan menggandeng tangan Jennie.
"Mommy, hurry up! Ziel sudah tidak sabar bertemu dengan Opa dan Oma," seru Ziel seraya menarik tangan Jennie. Wanita itu terkekeh dan saling tatap dengan Aneeq.
Tanpa diduga Aneeq langsung meraih tubuh mungil Ziel. Hingga pria kecil itu berada dalam gendongan Aneeq. Sementara satu tangan pria tampan itu menggandeng tangan Jennie. "Ayo kita masuk sama-sama." Ucapnya yang membuat Ziel semakin kegirangan.
Semua orang yang melihat itu turut merasa bahagia. Mereka semua akhirnya masuk ke dalam rumah itu, karena tanpa menunggu lama pintu sudah dibuka oleh sang tuan rumah.
Christian dan Marino menyambut kedatangan keluarga Ken dengan penuh sukacita, karena ini semua memang sudah direncanakan. Mereka sudah mengetahui semuanya dari Zoya, karena wanita beranak lima itu lebih dulu datang sebelum Aneeq.
Aneeq memberi salam kepada calon mertuanya dengan tersenyum ramah. "Selamat malam Tuan, Nyonya."
"Malam, An. Silahkan duduk!" jawab Christian seraya mempersilahkan Aneeq untuk duduk di kursi yang telah tersedia. Sementara Ziel sudah ada dalam gendongan Marino, pria kecil yang menggemaskan itu disambut antusias oleh sang nenek, bahkan tak henti-hentinya ia mendapat kecupan dari wanita paruh baya itu.
"Oh ya? Apa Ziel senang mendapat Daddy Baru?"
Ziel mengangguk antusias. "Sangat senang. Karena Daddy selalu memberi Ziel mainan, menjemput Ziel di sekolah, dan memberikan pekerjaan pada Mommy. Pokoknya Daddy An sangat baik, padahal Mommy suka marah-marah dan suka memukul Daddy."
Mendengar itu, semua orang terkekeh geli, sementara Jennie mengerucutkan bibirnya. Kenapa Ziel hanya membicarakan keburukannya? Padahal kan Aneeq yang suka membuatnya kesal.
"Jangan marah-marah, itu memang kenyataan, 'kan, Dear?" bisik Aneeq.
Jennie mendelik, dia mencubit paha Aneeq hingga pria tampan itu sedikit memekik. "Ish, sakit. Kamu benar-benar suka menyiksaku yah?"
__ADS_1
"Yah, sangat suka. Aku sangat suka bila kamu kalah."
"Baiklah, aku tunggu kamu kalahkan aku di atas ranjang. Aku sangat menantikannya, Sayang," jawab Aneeq lengkap dengan seringai.
"An, sudah berhenti bisik-bisiknya. Ada kita semua lho di sini, apa kamu tidak sadar?" ujar Ken yang membuat kedua orang itu akhirnya menatap sekeliling, di mana semua orang tengah menonton mereka berdua.
Aneeq mengusap tengkuknya karena merasa malu. Sementara yang lain hanya bisa geleng-geleng kepala. Akhirnya setelah itu Ken mulai bicara tujuan mereka datang ke tempat ini, yakni untuk mempersunting wanita cantik bernama Jennie. Dia mewakili sang anak untuk meminta pendapat Christian, diterima tidaknya pinangan Aneeq.
Situasi semakin bertambah serius saat Christian buka suara.
"Saya turut bahagia, karena Jennie menjalin hubungan dengan seseorang yang baik seperti anak anda, Tuan. Dan perlu kalian ingat, Jennie sudah pernah menikah dan memiliki seorang putra. Sebagai seseorang yang pernah gagal, saya cukup hati-hati dalam memilih pasangan untuk hidup Jennie ...."
"Namun, dari semua yang saya lihat, dan semua cerita yang beredar. Jennie begitu bahagia dengan putra anda. Sementara kebahagiaan Jennie dan Ziel adalah kebahagiaan saya juga. Maka dari itu, saya tidak mau menghalangi kebahagiaan anak dan cucu saya ...."
"Saya hanya minta padamu, An." Christian menatap sang calon menantu yang baru saja mengangkat kepalanya, karena merasa terpanggil. "Jaga keduanya untuk saya. Jangan pernah sakiti mereka, karena jikalau itu terjadi saya tidak akan segan untuk membawanya pulang kembali."
Bibir Christian tiba-tiba bergetar saat mengatakan itu, sementara bola matanya sudah berkaca-kaca.
"Jennie dan Ziel adalah salah satu harta berharga yang saya punya. Saya akan menjaganya dengan segenap nyawa, sama seperti ayahmu menjaga kamu ...."
Jennie sudah menangis mendengar setiap perkataan ayahnya. Ada beberapa kalimat yang pernah ia dengar, sama persis dengan yang Christian ucapkan saat Michael melamar dirinya. Namun, kini semuanya telah berbeda. Karena dia akan menikah bukan dengan orang yang sama.
Pria di sampingnya adalah pria yang saat ini sangat dia cintai, dan semoga saja pernikahannya kali ini tidak akan gagal lagi.
"Saya menerima lamaranmu, An. Bawalah Jennie dan Ziel bersamamu, bahagiakan mereka, dan hiduplah dengan penuh cinta. Di sini, kami akan selalu mendoakan kalian berdua."
__ADS_1
Mendengar itu, Aneeq tersenyum tipis, sementara tangannya langsung menggenggam tangan Jennie di bawah sana.
"Aku akan membahagiakan mereka."