
Rasa lelah di tubuh mereka terbayar sudah dengan tawa semua orang. Tepat pukul sepuluh malam acara tersebut selesai dan para tamu undangan silih berganti meninggalkan mansion keluarga Tan untuk pulang.
Zoya langsung memberi ultimatum bagi ketiga putranya agar tidak membuat ulah. Alhasil, ketiga pria tampan dengan status jones (alias jomblo ngenes) itu mengangguk patuh pada petuah ibunya.
Mereka semua langsung masuk ke kamar masing-masing, sementara Ziel merengek ingin ikut dengan Zoya. Karena selama tinggal di mansion, bocah tampan itu sangat dimanja oleh nenek cantiknya.
Jennie mencoba membujuk pria kecil itu, tetapi Ziel tetap kukuh pada pendiriannya.
"Tidak mau, Mommy. Ziel mau sama Grandma," tolak Ziel sambil memeluk leher Zoya dengan erat. Jennie menghela nafas panjang, takut merepotkan ibu mertuanya itu, sebab Zoya terlihat kelelahan.
"Biar saja, Jen. Malam ini biar Ziel tidur di kamar Mommy," ucap Zoya sambil mengelus rambut Ziel. Keputusan yang membuat Aneeq tersenyum lebar, sementara Ken sudah menatap sebal.
"Tapi, Mom. Aku takut Mommy kelelahan." Jennie belum menyerah, masih ingin membawa Ziel bersamanya.
Melihat itu, Aneeq memutar bola matanya, dia sudah seperti tengah berperang batin dengan sang ayah. Aneeq meraih tangan Jennie, hingga wanita itu mengangkat wajah dengan alis yang saling menaut.
"Sayang, ada Daddy, kamu tenang saja. Dia pasti akan ikut menjaga Ziel. Lagi pula Ziel sudah besar, dia tidak akan terbangun tengah malam," ujar Aneeq mencoba meluluhkan sang istri, agar dapat melepaskan Ziel bersama dengan kedua orang tuanya.
Kan lumayan, malam ini mereka bisa makan semangka sambil yiha-yiha.
"Iya, Jen."
__ADS_1
"Tapi, Baby." Ken ikut angkat bicara, tetapi segera mendapat pelototan dari Zoya. Pria paruh baya itu akhirnya bungkam, sementara Ziel kembali mengangkat kepalanya untuk menatap semua orang.
"Mommy," panggil Ziel, Jennie langsung tersenyum sumringah dan mengulurkan kedua tangannya. Namun, Ziel malah menggeleng, tanda ia tak mau ikut bersama dengan ibunya.
"Ada apa, Boy?" tanya Aneeq sambil mengusak puncak kepala Ziel.
Ziel menatap Zoya sebentar, wanita yang masih terlihat sangat cantik dengan polesan make up tipis itu tersenyum. Lalu pria kecil itu kembali menatap ke arah kedua orang tuanya. "Apakah seseorang yang saling menyukai bisa menikah? Seperti Aunty Barbie dan Uncle Ca?"
Jennie dan Aneeq saling pandang. Tak mengerti maksud tujuan Ziel bertanya seperti itu. Apalagi semua itu adalah urusan orang dewasa, tentang rasa suka dan menikah.
Namun, karena ingin mencari maksud dari pertanyaan Ziel. Jennie tersenyum lalu mengangguk. "Tentu saja."
"Apa mereka akan hidup bersama selamanya?"
Mendengar itu, Zoya memutar-mutar bola matanya. Dia mengangguk dengan sedikit ragu. Benar-benar tak paham dengan arah pembicaraan bocah tampan itu.
"Of course."
Ziel bergerak kegirangan, bahkan tanpa aba-aba dia mencium pipi Zoya. "Kalau begitu kita menikah saja. Supaya kita bisa tidur bersama."
Tak hanya Zoya yang membulatkan kedua matanya, tetapi Ken juga langsung mendelik lengkap dengan mulut menganga. "Hei, hei, lalu nasibku bagaimana?"
__ADS_1
Sebuah kalimat protes yang membuat semua orang tertawa membahana.
***
Sementara di kamar pengantin, El sudah membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, sebab sebelum pesta benar-benar selesai, Caka masih meladeni para tamu.
Wanita itu menggosok rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil, sedangkan tubuhnya dililit oleh kimono berwarna putih. El tersenyum saat Caka masuk, pria itu mendadak menghentikan langkah melihat istrinya yang sudah segar bugar dengan rambutnya yang basah.
Pria itu terus menelisik penampilan istrinya. Di mana kaki jenjang El terekspos bebas sampai ke paha. Pandangan mata Caka semakin naik, hingga berpusat pada dua belahan dunia yang tegak menantang dirinya.
Indah!
Satu kata yang tepat untuk menggambarkan lekuk tubuh istrinya.
Namun, Caka segera tersadar saat El menepuk salah satu bahunya. Wanita bak barbie hidup itu tersenyum lalu dengan berani mencium bibirnya sekilas. "Kakak mandi dulu saja, habis ini aku akan kasih Kakak hadiah." Ujar El yang membuat Caka meneguk ludahnya.
Tiba-tiba ada yang berdesir dalam tubuhnya. Darah pria itu memanas nyaris naik ke puncak kepala. Caka hendak mengangguk, tetapi El kembali menggodanya dengan bisikan yang mendayu.
"Ini adalah hadiah sesungguhnya. Aku akan menyiapkan semuanya."
Glek!
__ADS_1
Pria mana yang akan menolak tawaran menggiurkan dari istrinya?