
Setelah selesai bercinta, Aneeq menggendong Jennie untuk masuk ke dalam kamar mandi, cuaca panas di siang hari membuat mereka ingin berendam di air dingin.
Tidak ada ronde kedua, ketiga dan selanjutnya. Sebab Aneeq cukup tahu diri bahwa kini ada buah hatinya di rahim Jennie. Dia pun tidak lagi bermain dengan brutal, sebisa mungkin Aneeq mengendalikan dirinya dengan menghentak tubuh Jennie dengan pelan-pelan.
Ya, walaupun sang istri sering mengeluh sesak, tetapi kan ujung-ujungnya nikmat.
Aneeq menurunkan tubuh Jennie di dalam bathtub dan mengisi air. "Sayang, kapan jadwalmu untuk periksa kandungan?" Tanya Aneeq sambil menyugar rambut Jennie, dia mencoba mengikatnya, agar wanita itu tidak merasa risih.
"2 atau 3 hari lagi, An. Nanti temani aku yah."
Cup! Aneeq mengecup bahu Jennie yang terbuka, tetapi Aneeq tak berhenti begitu saja, dia kembali melabuhkan ciuman di leher Jennie, semakin naik hingga ke bibir. Aneeq melumaatnya sekilas. "Pastilah, Jen. Aku akan selalu menemanimu. Nanti telepon aku saja yah."
Jennie mengangguk.
"An, kamu sudah tahu belum kabar dari Mommy?"
"Kabar apa?"
"Tadi pagi kan Mommy periksa kandungan, janinnya sehat, dan ada kemungkinan—"
Kening Aneeq berkerut melihat Jennie yang menjeda ucapannya. Wanita berdada besar itu tersenyum. "Adik kalian kembar."
__ADS_1
"Kembar?" Aneeq tampak melongo, tak percaya. "Lagi? Jangan-jangan lima."
Jennie terkekeh geli, dia juga awalnya tidak percaya, tetapi Zoya yang sedang bahagia memperlihatkan foto hasil USG bayinya. "Belum terlalu jelas berapa jumlahnya, An. Tapi dua kantung sudah terisi."
"Astaga, bisa-bisanya benih Daddy sebegitu kuatnya. Makan apa sih dia? Perasaan makanan kita sama."
"Mungkin gen kembar kalian kuat, An."
"Lalu anak kita berapa? Apa jangan-jangan kembar juga?" tanya Aneeq berantusias, kini dia kembali fokus pada keluarga kecilnya. Biarlah adiknya kembar, biar ayahnya yang tua itu repot.
Jennie meraih tangan Aneeq dan meletakkannya di perut. "Belum tahu, Daddy. Kita belum bisa menghitung." Ujar Jennie dengan menirukan suara anak kecil. Kedua orang itu saling pandang dan terkekeh, dan Aneeq kembali menghujani Jennie dengan ciuman.
"Sebentar lagi kita akan melihatnya. Memangnya kamu mau berapa?"
Aneeq yang sudah merasa sangat gemas segera masuk ke dalam bathtub, dia memeluk tubuh Jennie dari belakang dengan kedua tangan yang menyanggah dua buah kesukaannya. "Kenapa kamu menggemaskan sekali? Aku jadi ingin memakanmu lagi."
"Jangan!"
"Kenapa?" tanya Aneeq ingin menggoda istrinya.
"Takut dia bosan bertemu anacondamu terus."
__ADS_1
Jennie terkekeh semakin keras, sementara Aneeq sudah menancapkan giginya di bahu wanita cantik itu. Beberapa kali Aneeq membuat tanda kepemilikan, menandakan bahwa Jennie hanya miliknya.
"An, berhentilah. Kamu sudah seperti seorang vampir!" Jennie menghalau kepala Aneeq yang sudah semakin naik ke atas leher. Bukan apa, Jennie hanya merasa geli dengan sentuhan lidah suaminya yang tak sudah-sudah.
"Katanya tidak boleh yang itu, ya sudah aku mau yang ini saja. Yang ini juga enak kok, ah pokoknya semua yang ada padamu aku suka, kamu selalu membuatku tergila-gila, Jen."
Jennie hanya bisa menggeliat dalam kubangan kenikmatan yang terus menjalar. Hingga Aneeq membalik tubuhnya, dan menyuruh dia naik di atas pangkuan pria tampan itu.
Mereka kembali berciuman panas, membelit dan saling bertukar saliva. Tidak peduli pada suasana sekitar, apalagi yang di luar. Padahal saat itu Ziel baru saja bangun setelah tidur siang.
Dia mencari sang ibu, tetapi Zoya langsung menahannya. Sebab wanita itu tahu apa yang sedang dilakukan menantu dan anaknya.
"Ayo, Ziel tengok Grandpa saja."
Ziel menggeleng keras. "Tidak mau!"
"Lho kenapa?"
"Sekarang aku dan Grandpa bukan teman. Kita kemusuhan."
***
__ADS_1
Para reader mau berapa? Apa sepuluh? Biar Cucu si Daddy langsung banyak🤣🤣🤣