My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
MSS 122


__ADS_3

Malam harinya.


Aneeq dan Jennie pulang ke mansion milik keluarga Tan. Wanita itu memakai baju kerah tinggi untuk menutupi leher jenjangnya. Sebab banyak sekali tanda percintaan yang Aneeq buat di sana.


Sepanjang perjalanan Jennie menyandarkan kepalanya di dada bidang Aneeq. Ia benar-benar ingin menghabiskan waktu dengan beristirahat setelah meladeni sang suami yang tidak memiliki rasa lelah sedikitpun.


Di mulut berkata tidak. Namun, nyatanya saat di kolam renang Aneeq kembali menghajarnya. Lelah tapi nikmat itulah yang dirasakan Jennie, hingga dia tidak bisa menolak apapun yang dilakukan Aneeq di atas tubuhnya.


Setelah menghabiskan waktu beberapa puluh menit, akhirnya mereka sampai, Jennie yang kala itu terlelap dalam dekapan Aneeq, mengerjap saat tangan kekar Aneeq membelai lembut wajahnya.


"Jen, bangunlah. Kita sudah sampai, Sayang," bisik Aneeq seraya menyelipkan rambut Jennie ke belakang telinga. Jennie sedikit menguap dan tersenyum saat melihat wajah Aneeq untuk pertama kalinya.


"Kenapa tersenyum seperti itu?"


"Aku senang, saat pertama kali membuka mata yang kulihat itu kamu," ucap Jennie dengan suaranya yang terdengar sedikit parau. Jemari lentik wanita itu menyentuh bibir Aneeq dan memainkannya sedikit.


Aneeq menangkap pergelangan tangan Jennie. "Jangan memancingku kalau kamu tidak mau tanggung jawab."


Jennie terkekeh kecil, dia menarik diri dari tubuh Aneeq dan hendak keluar. Tak peduli pada ucapan Aneeq, karena dia ingin segera sampai di kamar.


Melihat itu, Aneeq hanya geleng-geleng kepala. Jennie meringis saat tubuhnya bergesekan akibat dia berjalan. Dia sudah seperti pinguin sekarang. Berjalan tertatih sambil memegangi pinggangnya.

__ADS_1


Wanita keras kepala itu terus saja berjalan tanpa peduli pada Aneeq yang memerhatikan dirinya. Aneeq tersenyum tipis hingga tanpa ba bi bu pria itu langsung mengangkat tubuh Jennie membuat wanita itu tersentak dan reflek mengalungkan tangan di leher Aneeq.


"An!"


"Keras kepala! Kenapa tidak meminta bantuanku?" cibir Aneeq.


Jennie mencebikkan bibirnya dan mencubit dada Aneeq. "Aku menunggu kepekaanmu saja."


"Tidak ada seperti itu, Jen. Kalau kamu butuh apapun bilang, jangan menunggu aku peka walaupun aku memang selalu tahu apa yang kamu butuhkan. Perlu kamu ingat aku bukan seorang cenayang!" cerocos Aneeq sambil melangkah ke dalam untuk menasehati istrinya.


Bibir sexxy wanita itu semakin maju. "Kenapa malah memarahiku?"


"Aku tidak memarahimu, My Jennie Oh Jennie. Aku hanya menasehatimu, bahwa dalam hubungan tidak ada istilah seperti itu." Aneeq berhenti sejenak saat mereka sudah berada di ambang pintu. "Karena kita itu saling melengkapi, kamu melengkapi ketidaksempurnaanku, dan aku melengkapi ketidaksempurnaanmu."


"Sudah, jangan banyak bicara."


Jennie mulai senyum-senyum di balik dada Aneeq. Pipi wanita cantik itu merona, kalau sudah seperti ini jarak usia tidak bisa ditebak yah. Jennie yang tiga tahun lebih tua dari Aneeq malah terlihat seperti gadis manja yang memiliki suami dewasa.


Begitu mereka masuk ke dalam mansion, dan hendak naik ke atas tangga. Teriakan bocah tampan bernama Ziel terdengar sangat kencang. "Mommy, Daddy!!!"


Ziel yang kala itu baru saja selesai makan malam segera berlari ke arah Aneeq dan Jennie. Mata Ziel berbinar sementara wajahnya sangat sumringah, dia sudah seperti seekor itik yang baru saja menemukan induknya.

__ADS_1


Aneeq reflek memutar tubuhnya saat mendengar teriakan sang anak. Keduanya tersenyum lebar begitu melihat Ziel yang mengayunkan kaki dan memeluk kaki jenjang Aneeq.


Jennie langsung meminta turun, Aneeq berganti menggendong tubuh mungil Ziel yang bergerak kegirangan. "My Boy." Ucap Aneeq seraya mengecup pipi Ziel yang terlihat sangat menggemaskan.


Pria itu terkekeh karena merasa geli, hingga membuat ia menggeliat ke sana ke mari. Kekehan Ziel berhenti saat Aneeq menghentikan aksinya pula. "Hei, Boy. Apa kamu sudah makan?"


Ziel mengangguk cepat. Jennie mengulum senyum dan mengacak rambut putranya.


"Sudah, Dad."


Namun, tiba-tiba bibir pria kecil itu berubah cemberut, karena merasa kesal menunggu Aneeq dan Jennie seharian.


"Kenapa, Nak?"


"Mommy dan Daddy kenapa lama sekali? Dan kenapa kalian tidak mengajak Ziel saat buat adik?" rengek bocah tampan itu, membuat Aneeq dan Jennie melongo.


"Hoh, kalau kita mengajak Ziel nanti adiknya tidak jadi, Sayang," ujar Aneeq membuat Ziel mengernyit, pria kecil itu menatap wajah sang ayah yang senantiasa memancarkan aura bahagia.


"Lalu mana adiknya? Apa sudah jadi? Kan Ziel tidak ikut dengan Mommy dan Daddy," tagih Ziel dengan tangan yang menengadah.


Bah!

__ADS_1


***


__ADS_2