
Pelan-pelan Caka bangkit, dia menatap tongkat bisbol yang jatuh tak jauh darinya lalu menatap seseorang yang sangat mirip sekali dengan El.
Dada Caka masih bergemuruh, dia berjalan dengan langkah waspada menuju pintu balkon. Tatapan Caka tak lepas dari sosok di hadapannya, wanita itu terlihat tersenyum sumringah. Benarkah ini calon istrinya? Atau sebenarnya wanita yang ada di hadapannya ini adalah hantu?
Lagi pula bagaimana caranya El bisa naik ke atas kamarnya? Astagaaaaa! Caka sampai pusing memikirkannya. Sementara di luar sana, El mulai kedinginan, dia sudah setengah jam berdiri di balkon kamar Caka, menunggu sang pujaan sampai selesai makan malam.
Namun, rasa dingin yang menusuk ke dalam kulitnya tak menyurutkan senyum di bibir wanita cantik itu. El terlihat sangat bahagia, karena akhirnya dapat bertemu dengan Caka.
Ceklek!
"KAKAK!" teriak El sambil melompat ke pelukan Caka, pria itu terkejut hingga menghasilkan reflek, hampir saja Caka melempar El, tetapi wanita itu malah memeluk lehernya dengan sangat erat.
Caka menahan bobot tubuh El menggunakan kedua tangan. Sementara wanita itu menggoyangkan badan, sebuah gerakan gemas yang menghasilkan gesekan. "Kakak, El kangen." Ujar wanita itu merajuk.
El menjauhkan wajahnya hingga menyisakan jarak. Wanita itu menatap Caka, pria yang sudah dua hari ini tidak terlihat oleh kedua matanya. Bibir El mencebik, dengan kerinduan yang menggebu.
Sementara Caka memejamkan matanya sejenak. Ada saja tingkah wanita satu ini, apa-apa sekehendaknya sendiri, tetapi entah kenapa dia malah suka. Aneh, 'kan?
Caka membawa tubuh ramping El ke sisi ranjang dan mendudukkannya di sana. Pria itu hendak mengambil kursi, tetapi El malah menarik Caka agar pria itu duduk di sampingnya. "Di sini saja, jangan jauh-jauh." Ucap wanita itu sambil terus memegangi lengan calon suaminya.
Caka menghela nafas panjang, dia patuh lalu duduk di samping El. Pria itu menunjukkan wajah serius, karena dia ingin memeringati calon istrinya agar tidak bertindak gegabah.
"Nona, apa yang anda lakukan? Apa anda tidak ingat? Kita dilarang untuk bertemu!" cetus Caka, dia bukannya tidak senang dengan kehadiran El. Namun, sungguh dia benar-benar tidak membayangkan usaha El untuk naik ke atas kamarnya. Itu semua berbahaya, dia takut El kenapa-kenapa.
"Kan aku sudah bilang, Kak. Aku kangen," jawab El kembali bergelayut di lengan Caka dengan rengekan tak habis-habis. "Sudah dua hari kita tidak bertemu, dan ada satu Minggu lagi. Apa Kakak tidak merindukanku? Jangan bilang tidak! Wanita cantik sepertiku pasti dirindukan, iya 'kan?" Sambungnya lengkap dengan bibir mencebik.
__ADS_1
Mendengar itu, sudut bibir Caka sedikit berkedut. Namun, bukan saatnya untuk bercanda, dia tidak mau El mengulangi hal seperti ini lagi, apalagi sebentar lagi mereka akan menikah. Hari H sudah ada di depan mata.
"Iya—"
"Dan satu lagi, aku ini calon istrimu. Kenapa kamu terus memanggilku anda, anda dan anda! Aku bukan seorang klien yang patut kamu panggil seperti itu!" tukas El dengan nada yang begitu ketus. Menandakan bahwa dia benar-benar tidak suka.
Lagi-lagi Caka menghela nafas panjang.
"Iya, Baik."
"Kalau kamu memanggilku seperti itu, harus ada denda. Cium aku yah," ujar El, memotong kembali ucapan Caka. Wanita bak barbie hidup itu mengedip lucu, sumpah demi apapun Caka sangat gemas melihatnya. Tanpa El minta, Caka pasti akan melakukannya, sebab pria itu benar-benar sudah tergoda.
Cup!
"Sudah!"
"Hehe, pinter deh. Boleh nambah tidak?"
Caka melebarkan kelopak matanya.
"Kamu—"
"Iya-iya aku bercanda, Kak. Aku ke mari hanya karena ingin melihatmu dari dekat." El merapatkan tubuh mereka, tangan wanita itu melingkar di perut Caka, sementara kepalanya menempel di dada. Di sana, El bisa mendengar detak jantung Caka yang berdebar begitu kencang.
Jedag-jedug tidak karuan.
__ADS_1
"Kak, apa kamu memiliki riwayat jantung?" tanya El sambil terus menikmati debaran tersebut.
"Tidak, memangnya kenapa?"
"Benarkah? Tapi debarannya sangat kencang, sama seperti milikku. Apakah ini yang namanya cinta?"
Blush!
Kini pipi Caka yang berganti memerah disertai hawa panas yang membakar tubuhnya. Dia menjauhkan kepala El dari dadanya, karena merasa malu yang begitu luar biasa. "Tidak ada teori seperti itu."
"Kita adakan saja, bukankah itu tidak salah? Kenapa sulit sekali untuk mengatakan bahwa kamu mencintaiku?" tanya El, kini mereka sudah berjarak cukup jauh, sebab Caka berdiri dan mengambil jarak aman, sementara El duduk di ranjang.
"Eliana ...."
"Ya, Caka."
Pria itu mengepalkan tangannya kuat, entah kenapa dia merasa tak suka dengan panggilan El kepadanya. Caka mencoba mengontrol dirinya dengan menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan. Dia berbalik hingga mereka kembali berhadapan.
"Aku mencintaimu, El. Lain kali jangan pernah lakukan ini lagi, aku khawatir kamu akan terluka. Hanya seminggu kita tidak bertemu, setelah itu kita akan bersama selamanya. Sabarlah sebentar, aku pasti datang dengan bukti cintaku yang sesungguhnya, karena dalam kamusku, cinta itu tindakan, bukan hanya sebuah perkataan," papar Caka dengan bola matanya yang terus menatap El dengan teduh.
El tersenyum sumringah. Ah, dia tidak pernah mendengar kalimat seindah ini di dalam hidupnya. Dia tidak menyangka, ternyata Caka benar-benar romantis.
"Jadi, katakan, kamu pakai apa sampai bisa naik ke atas kamarku?" sambung Caka, menuntut sebuah jawaban.
El bangkit dan melangkah hingga berdiri tepat di depan calon suaminya. Sekali lagi, El tersenyum hingga memperlihatkan gigi-giginya. "Naik ke atas pohon mangga sebelah kamar Kakak, hehe."
__ADS_1
HAH?