My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
MSS 132


__ADS_3

Di dalam kamar mandi, Caka merasa serba salah. Karena sedari tadi otak pria itu sudah terkontaminasi oleh hadiah yang El janjikan. Dia di ambang dua pilihan, antara bergerak cepat atau tetap santai. Kalau dia mandi dengan terburu-buru pasti El akan menganggapnya tidak sabaran, tetapi kalau tidak, dia bisa mati penasaran.


Hah, hadiah apa yang sebenarnya wanita itu siapkan?


Caka menyugar rambutnya yang basah ke belakang. Dia berusaha untuk tetap tenang meski pusat tubuhnya tak bisa untuk diajak kompromi, masa belum apa-apa sudah mau berdiri? Bisa ditertawakan oleh El kalau ceritanya begini.


Air dingin itu terus jatuh, sedikit meredam hasrat yang sedang membuncang hebat. Andai Caka tak dapat menahan dirinya, mungkin dia akan menerjang El saat itu juga.


Pria bermata perak itu tersenyum tipis. Saat menyelesaikan busa terakhir berhasil dia bersihkan. Caka menyambar handuk dan melilitkannya di pinggang.


Tidak ada yang perlu ditutup-tutupi lagi, sebab El juga sudah melihat semuanya. Dia keluar dengan kaki kanan yang melangkah lebih dulu. Caka sedikit menggosok kepalanya dengan tangan, hingga pandangan matanya tertuju ke arah ranjang.


Deg!


Seperkian detik jantung Caka berhenti memompa, saat melihat El yang berdandan untuk menyenangkan dirinya. Wanita itu terlihat mempesona dengan gaun tidur berwarna merah menyala. Bahu wanita itu terbuka, seolah memberi izin, agar Caka menggigitnya di sana.



Sementara di kepala wanita itu bertengger bando kelinci, memberikan kesan imut tetapi menggoda. El melambai kecil dan meminta Caka untuk mendekat. Bagai kerbau yang dicucuk hidungnya. Caka patuh dan melangkah ke arah ranjang, di mana istrinya berada.


El tersenyum kecil dengan bibirnya yang tergigit, lalu bangkit untuk mendekati Caka yang sebentar sampai di sisi ranjang. Tidak ada yang bicara, sebab mereka hanya berinteraksi melalui sorot mata.


Tak hanya Caka yang tergiur dengan keindahan tubuh istrinya. Namun, El juga merasakan hal yang sama. Dada bidang polos milik suaminya terlihat sangat menggoda. Tatapan mereka tak putus, bahkan rasanya sayang sekali jika mereka berkedip.

__ADS_1


El tersenyum menantang suaminya. Dengan berani dia mendorong dada bidang Caka hingga pria itu jatuh ke atas sofa. El sedikit membungkukkan badan, sementara satu tangannya menumpu di antara kaki Caka.


El seperti ingin merangkak, dan mencabik-cabik tubuh suaminya. Namun, sumpah demi apapun Caka sangat menyukainya. Pusat tubuh pria itu mulai menegang, dengan derap geleyar yang menerjang.


El memajukan wajahnya, hingga mereka hampir saja tak berjarak. Wanita itu tersenyum tipis, sementara Caka sedang berusaha mengamankan detak jantungnya. "Bagaimana, Suamiku? Apa kamu menyukainya?" El berkedip-kedip, membuat dia semakin terlihat lucu.


Caka menggigit bibir bawahnya dan meneguk ludah. Dia tidak bisa bohong lagi, sebab El memang terlihat sangat menakjubkan. Namun, belum sempat menjawab, tiba-tiba El kembali berdiri dengan tegak, dan mengangkat satu kakinya.


Caka semakin merasakan sesak saat kaki jenjang itu bertengger di pahanya, El membuka stoking jala yang dia pakai, lalu mengikat kedua tangan Caka. Pria itu hanya bisa menyipit dengan tingkah El, tak mengerti apa yang sebenarnya akan wanita itu lakukan.


"El ...." panggil Caka dengan suaranya yang memberat. Setelah selesai mengikat tangan Caka dengan sekencang mungkin. El mengangkat kepala dan menaruh jari telunjuknya di bibir Caka.


"Sttt ... Kakak diam saja, sebentar lagi aku akan tunjukkan hadiahnya. Aku telah menghafal adegan ini di drama, jadi jangan membantah, oke?" ujar El yang membuat Caka membulatkan matanya.


Apa katanya? El menghafal adegan ini di drama? Jadi wanita cantik ini telah melihat film dewasa? Bahkan berulang kali tanpa dirinya?


"Kak Caca, aku bilang diam. Jangan merusak suasana. Aku jadi lupa tadi sampai mana!" potong El menggerutu.


Astaga, istrinya ini ada-ada saja. Hah baiklah Caka akan melihatnya. Sejauh mana El bisa berbuat nekat untuk menggodanya. Caka akhirnya diam saja. Memerhatikan El yang naik ke atas ranjang, lalu menari di tiang penyangga.


Caka sedikit menganga, bersama dengan gerakan El yang meliuk dan menggoda dirinya. Wajah wanita itu terlihat sensual dengan lidah yang menjulur dan menjilat bibirnya sendiri. Basah dan memerah, benda kenyal itu mulai mengitari otak Caka.


El berputar-putar dengan kaki yang kadang terangkat, atau kepalanya yang menengadah. Leher jenjang itu seolah melambai pada Caka, meminta dilumatt dan disesap.

__ADS_1


Tubuh Caka seperti tersengat, sementara pusat tubuhnya sudah berdiri dengan tegak. Pria itu terus memperhatikan El yang belum mau berhenti, meski wanita itu sudah turun tetapi El malah merangkak di ranjang membuat dua pegunungan Himalaya menggantung indah, tanpa penyanggah.


"El ...." panggil Caka sekali lagi, sementara kedua tangannya belum bisa terlepas.


El sama sekali tak peduli dengan panggilan suaminya. Dia justru menarik resleting dress-nya hingga jatuh ke bawah, menampilkan lekuk tubuhnya yang begitu mempesona. Caka langsung meneguk ludahnya.


Sementara El berhenti dengan wajahnya yang nampak bingung. Wanita itu menaruh telunjuk di kening, mencoba mengingat-ingat. "Aduh, apalagi yah? Kok jadi lupa!"


"Setelah ini itu, aku harus—" El bergeming, dia menatap sekeliling, sementara Caka menarik sudut bibirnya ke atas.


"Kamu melupakan adegannya?" tanya Caka, El langsung menatap ke arah suaminya dan dengan polos menganggukkan kepala.


"Aku tahu adegan selanjutnya."


El langsung melebarkan kelopak matanya. "Kakak tahu? Jadi Kakak juga menontonnya?"


Caka tak mengangguk ataupun menggeleng, dia justru menyeringai tipis. "Kamu mau tahu apa yang terjadi setelah ini?"


Tak mau banyak berpikir akhirnya El mengangguk lagi. Caka menegakkan tubuhnya. Dia menatap El yang menatapnya pula.


"Setelah ini ...."


El menunggu Caka melanjutkan perkataannya.

__ADS_1


"Setelah ini, kamu tidak akan selamat lagi!"


Bersamaan dengan kalimat itu, Caka bangkit dan menerjang tubuh El. Ikatan di tangannya terlepas, sama seperti hasratnya yang sebentar lagi akan bebas.


__ADS_2