My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
MSS 120


__ADS_3

Bukannya menjaga keponakan mereka dengan baik. Ketiga pria dewasa itu malah mengajari Ziel bermain kartu, dan siapa yang kalah maka harus rela wajahnya dicoret-coret menggunakan tepung terigu.


"Aduh, kenapa mereka lama sekali sih? Jam berapa ini, masa dari pagi mereka tidak keluar-keluar dari kamar? Apa memang seperti itu ya pengantin baru?" keluh Choco yang sudah merasa bosan, karena tidak bisa bebas pergi ke mana-mana, padahal dia juga ingin beristirahat setelah semalam ikut ronda membersihkan sisa-sisa pesta.


Namun, karena mendapat hukuman berupa menjaga Ziel, dia harus terkurung di kamar ini bersama dua saudara kembarnya.


Bee melempar kartu.


"Kurasa dia sedang balas dendam karena semalam rencana dia gagal total. Apalagi dia minum obat kuat yang disarankan oleh De. Aku rasa Jennie habis di tangannya," timpal Bee pula, membayangkan Aneeq mengamuk dan menghajar istrinya tanpa ampun.


Hingga sampai sekarang mereka tidak selesai-selesai. Sementara bocah cilik yang sedari tadi mereka jaga, hanya melongo dan mendengarkan obrolan tiga pria dewasa itu dengan seksama.


"Hah, aku tidak sanggup memikirkannya. An itu gila kalau sudah dihadapkan dengan bokongg dan dada. Apalagi milik istrinya itu besar semua. Kekenyangan pasti dia." De tak kalah untuk ikut buka suara.


Mereka yang belum pernah bermain-main dengan kedua benda kesukaan Aneeq, belum paham bagaimana kenikmatannya. Hingga mereka hanya sanggup mencemooh dan mencela saudara kembarnya itu.


"Uncle," panggil Ziel yang membuat ketiga bujang itu mengangkat kepala. Saat itu juga mereka baru menyadari bahwa ada Ziel di sana. Bee, Choco dan De saling pandang, lalu angkat bahu, tak mengerti maksud Ziel yang memanggil mereka.


"Uncle, Mommy dan Daddy sedang apa sebenarnya? Kenapa kalian terus membicarakan mereka?" tanya bocah tampan itu dengan tatapan penasaran.


"Eum ...." Bee tampak garuk-garuk kepala, mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Ziel. Dia menatap kedua saudara kembarnya meminta bantuan. "Itu Ziel_"


"Apa Mommy dan Daddy sedang buat adik untuk Ziel?" potong pria kecil itu mulai menebak.

__ADS_1


"Ya, kurang lebih seperti itu," jawab De, dari pada mereka harus berpikir mencari alasan. Lebih baik iyakan saja pertanyaan Ziel. Pasti bocah itu akan diam.


Namun, harapan mereka harus pupus. Karena nyatanya Ziel malah semakin bertambah penasaran. Dia menaruh kartu di tangannya, lalu menatap ketiga pria yang memiliki wajah yang sama persis dengan ayahnya.


"Uncle, apa membuat adik itu rasanya menyakitkan? Kenapa Mommy harus dihajar? Kenapa kalian bilang Mommy habis di tangan Daddy?" tanya Ziel sambil duduk dengan kaki yang melipat di atas lantai.


Eh! Ketiga pria itu mulai bingung sekarang. Kenapa pertanyaannya malah menjebak seperti ini? Mereka kan hanya sedang merutuk karena Aneeq tidak selesai-selesai menghabiskan malam pengantinnya yang gagal total.


"Tidak seperti itu, Ziel. Rasanya menyenangkan kok. Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak yah, kamu belum dewasa," jawab Choco mencoba untuk meredam keingintahuan pria kecil yang sedang ditinggal orang tuanya.


"Tapi kenapa Mommy dan Daddy tidak mengajak Ziel? Ziel mau ikut Uncle," rengek Ziel dengan bola matanya yang sudah berkaca-kaca. Ditinggalkan oleh Aneeq dan Jennie terlalu lama membuatnya merindukan kedua orang itu. Sebab mereka terbiasa bersama.


Ketiga pria itu menghela nafas panjang.


"Ziel mau Mommy dan Daddy. Ziel mau ikut buat adik. Huaaaa ...." Akhirnya tangis bocah tampan itu pecah. Bee, Choco dan De saling tepuk pundak dengan nafas yang terasa gelagapan.


"Astaga, kita tidak pernah punya adik, jadi bagaimana ini cara menenangkannya?" Bee mulai bangkit dan mondar-mandir di ruangan sambil mencari cara.


"Mommy ... Daddy ... Kenapa tinggalin Ziel? Ziel janji tidak akan nakal, Ziel hanya mau menonton saja. Huaaa .... Mommy."


"Astaga! Bocah kecil ini bilang ingin menonton?" celetuk De tak habis pikir membuat Ziel mengangkat kepala dengan air mata yang memburai membasahi pipinya.


"Kenapa, Uncle? Apa menonton juga tidak boleh? Apa setelah mereka menikah mereka tidak sayang pada Ziel lagi?"

__ADS_1


"Ya ampun, bukan begitu," timpal Choco, dia menabok bahu De dengan cukup keras hingga menimbulkan bunyi yang begitu nyaring. "Makanya jangan bicara sembarangan!"


"Hiks, Mommy ...."


Haish, kenapa semua ini jadi merepotkan! Batin Bee.


Ketiga pria itu terus berpikir bagaimana caranya membujuk Ziel agar tidak menanyakan keberadaan Aneeq dan Jennie. Mereka sudah menawarkan beberapa kesukaan anak kecil, tetapi Ziel tetap tidak mau dibujuk.


Hingga akhirnya Bee menyeletuk. "Kita serahkan saja pada Mommy dan Daddy. Aku menyerah!"


Sontak saja hal itu langsung disetujui oleh Choco dan De. Keduanya menganggukkan kepala, setuju dengan ide Bee. Mereka akhirnya keluar dari kamar itu dan menuju kamar Ken dan Zoya.


Tanpa pikir panjang, begitu sampai salah satu dari mereka mengetuk pintu dengan cukup kencang.


Tok


Tok


Tok


Suara itu terus berdengung di telinga Ken, hingga akhirnya pria berkepala enam itu berdecak dan bangkit dari tubuh Zoya.


"Ck, mengganggu saja!"

__ADS_1


__ADS_2