
Pandangan mata Aneeq lurus ke depan, pria itu terlihat sangat fokus dalam menyetir, meski pada kenyataannya tidak demikian. Tujuan Aneeq sekarang adalah pulang ke rumah, dan menanyakan tentang Jennie pada ibunya.
Wajah pria itu terlihat kuyu dengan kepala yang terus berdenyut tak menentu. Baru kehilangan Jennie beberapa jam, ia sudah seperti mayat hidup, Aneeq langsung merasa tak bergairah begitu wanita itu hilang dari pandangan matanya.
Aneeq memejamkan matanya sejenak untuk mengusir pusing yang mendera, dan tepat pada saat itu suara klakson mobil mengejutkannya.
"Hei, kamu itu cari mati yah?" pekik seorang pengemudi yang baru saja melintas, Aneeq memutar setir dengan cukup kuat karena hampir menabrak trotoar.
Karena saking tidak fokusnya, ia hampir saja celaka. Aneeq berhenti di sisi jalan, ia menarik nafas untuk menetralisir rasa terkejutnya. Aneeq terus seperti itu hingga dirinya merasa cukup tenang.
"Jen, apa kamu senang melihatku seperti ini?" Lirih Aneeq, ia mengembuskan nafas kasar, lalu dengan gerakan pelan ia kembali menjalankan mesin mobilnya.
Hingga tak berapa lama kemudian, akhirnya Aneeq sampai di mansion dengan selamat. Gerakan pria itu selalu terlihat tidak sabaran, ia masuk ke dalam mansion setengah berlari dan langsung mencari keberadaan sang ibu.
Ternyata Zoya sedang berada di ruang keluarga. Tanpa memberi tanda, Aneeq datang tiba-tiba dan berdiri tak jauh dari sisi ibunya. "Mom, aku ingin bicara." Ucap Aneeq dengan nada sedikit ketus.
Mendengar itu, Zoya yang sedang merapihkan kuku-kukunya sontak mengangkat kepala, ia menatap putranya yang terlihat aneh, sorot mata Aneeq tidak seperti biasanya.
"Bicaralah," jawab Zoya dengan kepala yang dipenuhi tanda tanya.
__ADS_1
"Mom, kamu datang ke kantor hari ini?" tanya Aneeq untuk pertama kalinya. Zoya semakin menegakan kepala, menatap lurus pada Aneeq yang mulai menunjukkan wajah tak ramah.
Zoya mengangguk sambil mengedipkan matanya dengan pelan.
"Mommy bertemu dengan Jennie?"
Dahi Zoya langsung mengernyit mendengar nama itu, ia mencoba mengingat-ingat. "Sekretarismu? Wanita yang memiliki dadaa dan bokoong besar, benarkah dia?" Jawab Zoya sekaligus bertanya, mempertegas siapa orang yang Aneeq maksud.
Mendengar itu, Aneeq merasa bahwa Zoya tengah merendahkan calon istrinya. Ia sedikit mengepalkan tangan dengan rahang yang mengatup. Aneeq mengangguk samar. "Apa yang Mommy bicarakan dengannya?"
Zoya bangkit dari kursi menatap Aneeq yang semakin terasa aneh, karena terus bertanya ini dan itu tentang sekretaris yang sudah ia pecat secara sepihak. "Untuk apa kamu bertanya seperti itu?"
Pembicaraan dua orang itu terdengar sampai keluar, membuat pria paruh baya yang hendak pergi ke dapur itu menjadi urung. Ken datang dan menghampiri keduanya, tetapi kehadiran pria itu seolah tak memberi pengaruh apa-apa.
"Mommy bilang padanya kalau kamu hanya main-main, apa itu salah?" tanya Zoya dengan bahu yang terangkat, seolah apa yang ia lakukan bukanlah sesuatu yang harus dibicarakan dengan serius.
"Astaga, Mom!" pekik Aneeq dengan wajah frustasi. Apa karena itu Jennie merasa sakit hati lalu pergi?
"Ada apa sih, An?" sambar Ken yang tidak tahu menahu apa yang sedang menjadi topik pembicaraan ibu dan anak itu.
__ADS_1
"Bukankah biasanya seperti itu? Kamu mempermainkan mereka, dan mereka mendapatkan uang? Jangan pikir Mommy tidak tahu tagihan kartu kreditmu, Aneeq! Kamu menggunakan uang itu untuk membiayai hidupnya, 'kan? Kamu itu sudah dewasa, bukannya mengerti, kamu malah semakin membangkang ucapan Mommy," ucap Zoya dengan intonasi tak kalah meninggi, wajah wanita itu menunjukkan kegeraman yang tiada tara, karena Aneeq yang tidak pernah berubah.
"Mommy sudah memecatnya, dan memberikan uang ganti rugi yang setimpal. Mulai besok Mommy yang akan mencari sekretaris baru untukmu," sambung ibu beranak lima itu, semakin membuat Aneeq terperangah.
Pria itu menggeleng tak percaya, ibunya tega melakukan itu semua. Apa Zoya tidak bisa membedakan mana wanita yang baik, dan mana yang tidak, hingga semua orang yang berada di sampingnya di sama ratakan.
Tangan Aneeq semakin terkepal kuat dengan mata yang menungkik tajam. "Mommy salah! Semua pikiran buruk Mommy tidak ada yang benar, dia bukan mainkanku. Tapi dia calon istriku!" Teriak Aneeq dengan suara lantang.
Membuat jantung Zoya seolah berhenti seketika. Untuk pertama kalinya Aneeq bicara sekeras itu padanya? Tubuh Zoya tiba-tiba bergetar, dua netranya langsung menganak sungai.
Melihat itu, Aneeq langsung mengatupkan bibirnya, ia langsung merasa lemas melihat Zoya menangis di depan matanya. Perasaan bersalah menyelimuti hati pria itu, Aneeq hendak meminta maaf pada Zoya, tetapi sebelum itu terjadi sebuah pukulan keras langsung menghantam wajahnya.
"Berani kamu membuat wanitaku menangis? Hadapi aku kalau kamu berani, Sialan!" bentak Ken setelah berhasil membuat Aneeq tersungkur di lantai.
*
*
*
__ADS_1
Kaburrrrr🏃🏃🏃 gue takut dikeryoqqqq