
Dalam satu hari, bocah tampan itu sudah seperti diberi harapan palsu, karena dua orang yang ia panggil Daddy ternyata bukan Aneeq. Tak jauh berbeda dengan Jennie, dia selalu merasa terperangah, saat pria yang sangat mirip dengan Aneeq tiba-tiba datang dengan nama yang berbeda.
Malam itu, setelah Ziel diperiksa dan diberi obat, Ziel terus menggenggam tangan De, seolah tak ingin pria itu pergi dari sisinya. De hanya mampu bergeming, dia terus memandangi Ziel yang menatapnya penuh harap.
Karena merasa tak tega, akhirnya De mengalah, ia berbaring di samping Ziel dan mengelus puncak kepala pria kecil itu dengan sayang.
"Tidurlah, Uncle tidak akan ke mana-mana," ucap De seraya menatap Ziel yang menengadah dengan sorot mata sayu. Tanpa bicara, De tahu bahwa Ziel tak ingin dirinya pergi begitu saja.
"Are you sure?"
"Hem, makanya Ziel cepat tidur supaya cepat sembuh juga. Nanti Daddy An pasti jemput ke mari," ucap De lagi meyakinkan pria kecil itu, bahwa Aneeq pasti datang secepatnya.
Ziel mengukir senyum dan patuh pada ucapan sang paman, tangan mungil itu melingkar di sepanjang perut De, membuat pemandangan itu terasa mengharukan, sudut mata Jennie kembali berembun, ia membuang wajahnya dengan perasaan tak menentu. Sementara air matanya kembali mendera.
Aku juga merindukanmu, An.
Melihat itu, Zoya dan Ken kembali saling pandang, Ken mengangguk memberi isyarat pada Zoya. Hingga akhirnya wanita berkepala empat itu menyentuh bahu Jennie, membuat Jennie mengangkat kepala. "Jen, kembalilah ke kamarmu. Istirahat dan jangan cemaskan Ziel. De akan menemaninya di sini."
"Tapi, Mom. Apa itu tidak merepotkan?"
Zoya menggeleng dengan senyum tipis. "Tidak sama sekali. Besok kita buat penyambutan Aneeq dengan meriah, pastikan kamu berdandan secantik mungkin. Dan buat dia merasa bahagia."
__ADS_1
Jennie sedikit melebarkan kelopak matanya. Mendengar nama Aneeq disebut, entah kenapa jantung wanita itu langsung berdebar dengan kencang. Tanpa dipinta bibir Jennie melengkung dengan sempurna.
"Iya, Mom."
"Kalau begitu tidurlah dengan nyenyak, dan jangan pikirkan apapun."
Jennie mengangguk-anggukan kepala persis seperti anak itik yang sangat patuh pada perintah induknya. "Tapi, Mommy dan Daddy tidur di mana?"
"Kami tidur di kamar Bee, sebelah kamarmu. Kalau kamu butuh sesuatu ketuk saja pintunya," ucap Zoya, sementara Ken hanya diam sambil merangkul pinggang wanitanya.
Setelah itu, semua orang melenggang ke kamar masing-masing. Sebelum benar-benar pergi, Jennie melirik ke arah De yang ternyata tengah menatapnya pula. Jennie langsung salah tingkah, sementara dalam bayangannya pria itu adalah Aneeq.
Sebenarnya Jennie ingin pamit dan berterima kasih pada De, tetapi karena tatapan pria itu terasa tidak nyaman dalam penglihatan Jennie. Wanita itu malah pergi begitu saja, bahkan terkesan buru-buru seperti menghindari sesuatu yang sangat tidak dia sukai.
Di belakang sana, De memperhatikan Jennie, hingga wanita itu berhasil menutup pintu. De menyeringai tipis lalu berdecih.
Cih, selera Aneeq memang tidak pernah berubah. Depan belakang besar semua.
***
Ken dan Zoya sudah masuk ke dalam kamar. Keduanya berbaring dengan posisi seperti biasa, Ken memeluk Zoya dan membenamkan wajahnya di dada wanita cantik itu.
__ADS_1
"An benar-benar sudah berubah, Dad," ucap Zoya tiba-tiba sementara tangannya tak berhenti mengelus kepala Ken, dia teringat bagaimana tatapan sang anak begitu dia bicara bahwa Jennie telah dia usir dan dia hina.
Amarah itu langsung berkobar hebat, menutup akal sehat Aneeq. Hingga tanpa sadar pria itu membentak Zoya. Dari sana, Zoya tahu seberapa besar nilai Jennie di mata putra sulungnya itu.
"Aku juga bisa melihatnya, Baby," jawab Ken semakin mengendus aroma tubuh Zoya. Aroma candu dan menenangkan yang tidak akan pernah ada duanya.
"Semoga Jennie bisa menerima semua kekurangan anak kita."
Ken menghentikan aksinya.
"Hem, seperti kamu yang menerima kekuranganku."
Mendengar itu, Zoya menghentikan gerakan tangannya, ia menatap Ken yang menengadahkan wajah. Hingga sorot mata mereka bertemu dalam jarak sedekat itu. Buncahan cinta di antara keduanya terlihat masih sama, sama-sama kuat dan begitu banyak.
Ken menggerakkan kepalanya semakin naik ke atas, memangkas jarak hingga membuat kedua bibir itu menyatu. Ken mengecup dalam menyisakan debaran yang cukup kuat di dada Zoya. "Terima kasih sudah menerimaku. Aku mencintaimu, dan selamanya akan terus seperti itu."
Zoya mengulum senyum, wanita itu mengangguk, percaya bahwa semua yang Ken katakan bukanlah bualan semata. Hingga entah di menit ke berapa, pria yang masih terlihat gagah itu akhirnya mendapatkan sesuatu yang menyenangkan dari istrinya.
"Dad, aku ...."
"Kita lepaskan sama-sama."
__ADS_1