My Strong Woman

My Strong Woman
SIUMAN (TAMAT)


__ADS_3

Justin terus memanggil Velove agar segera terbangun dari tidurnya. Dia sangat khawatir sekali dengan kondisi sang Mommy, "Dad, kenapa Mommy belum sadar juga?"


"Sabar, Boy! Mommy-mu pasti akan sadar sebentar lagi. Tunggu saja, karena Mommy sangat kelelahan. Lebih baik kita keluar agar Mommy bisa istirahat," jawab Max dengan membujuk Justin.


Nyonya Glover pun ikut membujuk cucunya, "Benar apa kata Daddy-mu, Justin. Kita sebaiknya keluar dulu, nanti beberapa jam kemudian kamu boleh menengok Mommy lagi."


Justin sedih karena Daddy dan juga Grandma-nya membujuk agar dia keluar dari kamar sang Mommy. Akhirnya, Justin menurut dan keluar dari dalam kamar. Justin selalu takut jika Velove terjadi apa-apa.


"Grandma, apakah Mommy akan baik-baik saja?" tanya Justin pada neneknya.


Nyonya Glover menjawabnya dengan nada tenang, "Kamu tenang saja sayang, semuanya akan baik-baik saja. Sudah, kamu masuk kamar dulu bersih-bersih setelah itu makan siang."


Setelah itu, Justin pun langsung masuk ke dalam kamarnya. Meski khawatir, tetap saja dia harus menuruti perintah dari Grandmanya.


Di dalam kamar, Max selalu mengusap keringat dingin yang keluar dari tubuh Velove. Dia mengelus perut rata istrinya dengan penuh kasih. 'Sayangnya Daddy, jangan nakal ya di perut mommy. Lihat kasihan mommy kesakitan seperti ini. Baik-baik dalam perut mommy ya. Daddy mencintaimu,' ucap Max mencium perut Velove.


Setelah mencium pelan perut rata istrinya, Max mengelus wajah Velove dengan lembut dan penuh kasih. Dia sangat prihatin dengan keadaan lemah istri yang sangat dicintainya itu.


"Love bangunlah, aku dan Justin menunggumu untuk sadar," ucap Max dengan menggenggam erat tangan istrinya.


Tak berapa lama kemudian, Velove menggerakkan pelan jarinya. Lalu, dia tersadar dan membuka mata pelan. Max langsung berdiri dan mendekat kepada Velove yang mencari keberadaannya.


"Love, kamu sudah bangun sayang! Syukurlah, aku sangat khawatir sekali padamu. Aku panggil Justin ke sini ya, dia juga sangat khawatir padamu," seru Max dengan perasaan lega.


Max pun keluar kamar untuk memanggil putranya. Dia paling tidak bisa melihat putra kesayangannya itu bersedih. Setibanya di depan kamar, Max langsung memanggil Justin. " Boy, mommy sudah sadar Nak! Ayo lihat mommy sekarang," ucap Max di depan pintu kamar.


"Really Dad? Baiklah ayo Dad," sahut Justin dengan girangnya.


Max dan Justin berlari menuju ke kamar Velove. Sesampainya di kamar, Justin langsung melompat ke atas kasur dan memeluk Velove. "Mom, bagaimana keadaan Mommy? Bagian mana yang sakit? Apakah adik bayi nakal dalam perut Mommy?" tanya Justin dengan polosnya.


Velove tersenyum tipis mendengar pertanyaan beruntun dari putranya. Dia pun mencoba menjawab pertanyaan kecil itu, "Mommy tidak apa-apa sayang, juga adik bayi tidak nakal kok. Waktu kamu dalam perut Mommy pun hal seperti ini sering terjadi. Tapi, pada waktu itu Mommy sedikit kuat jadi tidak sampai tumbang."


"Justin sangat khawatir sekali dengan Mommy. Aku takut kalau hal buruk terjadi kepadamu Mom," sahut Justin lirih, dengan bibir yang manyun.


Max ikut tersenyum dengan kekhawatiran putranya. Dia berdiri lalu duduk di tepian ranjang sambil memeluk istri dan juga anaknya. "Kalian adalah belahan jiwaku, tak akan aku biarkan orang lain menyakiti kalian," ucap Max dengan mengecup rambut Velove dan juga Justin.


"Max, apakah terjadi sesuatu dengan bayi kita?"


"Tidak apa-apa Love, dokter mengatakan kamu hanya perlu istirahat dan jangan kecapekan. Hati-hati dengan bekas luka yang ada di perut kamu itu. Dokter berkata luka itu bisa saja sobek, ketika perutmu membesar nanti. Jadi kamu perlu hati-hati sayang."


Velove hanya mengangguk mendengar penjelasan dari suaminya. Dia harus semaksimal mungkin menjaga kandungannya itu.


Hari demi hari berlalu. Minggu berganti dengan minggu, dan bulan berganti dengan bulan.


Kandungan Velove semakin membesar. support dan juga kasih sayang yang di berikan Max untuknya sangatlah berharga. Velove bisa menjalani kehidupannya dengan baik. Dia bisa merasakan menjadi ibu dan juga istri yang berguna untuk keluarga yang dicintainya itu.


Kini usia kandungan Velove sudah genap sembilan bulan. Hari perkiraan lahir pun sudah terencana dengan baik. Menurut USG, Velove mengandung bayi kembar perempuan. Hal ini tentu membuat keluarga Glover sangat senang.


Kehadiran Justin dan juga calon bayi yang akan lahir itu menambah kebahagiaan keluarga Glover. Hal itu sangat dirasakan oleh Max, dia semakin memposisikan hadirnya sebagai seorang suami dan ayah yang selalu siaga terhadap apapun.


"Love kamu sedang apa?" Max bertanya pada Velove yang terlihat sibuk menata perlengkapan bayinya.


"Aku sedang memilih baju-baju yang nanti akan aku bawa ketika persalinan Max," jawab Velove dengan tangan yang sangat sibuk.

__ADS_1


Max berjalan mendekati istrinya itu. Dia ikut merapikan baju-baju mungil untuk calon bayinya nanti. "Sini biar aku saja yang merapikan sayang. Melihatmu yang sibuk membuatku tak tega, karena perut besarmu itu," ujar Max dengan mengambil baju mungil yang ada di tangan Velove.


Velove pun duduk di samping Max yang membantunya. Dia sangat kesusahan sekali ketika duduk ataupun berdiri, karena kandungannya sangat besar sekali.


"Max, jika bayi ini lahir dan bentuk tubuhku tidak lagi seksi, apakah kamu tetap akan mencintaiku?" tanya Velove pada suaminya.


Max tersenyum mendengar pertanyaan istrinya dan hal itu membuat Velove sangat kesal. "Sudahlah tidak perlu kamu jawab. Aku sudah tahu jawabannya," sahut Velove ketus.


Max pun semakin heran dengan sifat istrinya itu. Sudah mau beranak tiga pun sifat bar-barnya tidak hilang sedikitpun.


"Pertanyaan mu itu sangat bodoh sekali Love. Asal kamu tahu ya sayang, mau bentuk badan kamu seperti apapun, aku akan tetap cinta dan sayang. Kamulah belahan jiwaku dan anak-anak adalah hidupku. Jadi kalian tidak bisa dipisahkan dari hati ini," jawab Max penuh arti.


"Stop berpikiran aneh Love. Fokus saja dengan persalinanmu. Okey!"


Velove tak lagi bertanya pada Max, dia sangatlah percaya pada pria yang telah menemaninya dalam suka maupun duka itu.


Tiba-tiba, saja kandungan Velove mengalami kontraksi. "Aww, Sssss! Max perutku sakit sekali. Ahhh, sepertinya aku akan melahirkan," seru Velove dengan memegangi perutnya.


Max panik seketika, dia segera berdiri dan memapah istrinya untuk keluar dari kamar,"Ayo sayang, kita keluar dari sini dan menuju ke rumah sakit."


"Pelayan, bantu aku siapkan mobil! Istriku mengalami kontraksi," teriak Max dengan sangat keras.


Hal itu di dengar oleh Nyonya Glover yang sedang bersantai di ruang tamu. Dia segera berdiri ketika mendengar teriakan Max.


"Max, Velove akan melahirkan?"


"Iya Mom, tolong bantu aku untuk mengambil tas yang ada di kamar Mom."


Nyonya Glover segera naik ke atas untuk mengambil tas yang berisi dengan baju bayi. Nyonya Glover sangat semangat sekali karena cucu yang dinantikannya akan segera lahir ke dunia.


Setelah mendapatkan tas itu, Nyonya Glover segera keluar menuju ke mobil untuk mendampingi Max ke rumah sakit. Di dalam mobil Velove terus meremas perutnya yang semakin lama semakin sakit.


"Max, cepat aku sudah tidak kuat. Perutku sakit sekali," rintih Velove kesakitan.


"Sebentar sayang, tahan lagi ya. Kamu cepat tambah kecepatan agar kita cepat sampai!"perintah Max pada sopirnya.


"Baik Tuan."


"Sayang, tahan ya! sebentar lagi kita akan sampai," ucap Nyonya Glover pada menantunya.


"Iya Mom, tapi ini sungguh sangat sakit sekali. Sangat berbeda dengan Justin dulu," jawab Velove dengan meringis menahan sakit.


Beberapa menit kemudian, mobil yang dinaiki Max telah sampai di rumah sakit. Max segera keluar dan memanggil petugas medis untuk membantunya.


"Suster, tolong istri saya mau melahirkan!" teriak Max dengan sangat keras.


Tak berapa lama datanglah beberapa petugas medis yang mendorong brankar menuju ke mobil Max. Kedua suster membantu Velove keluar dari dalam mobil untuk pindah ke atas brankar. Setelah pindah, Velove dibawa ke ruang persalinan. Max berlari mengikuti istrinya ke ruangan itu.


Setelah sampai, Max ikut masuk ke dalam karena dia ingin mendampingi Velove saat melahirkan darah dagingnya. Di dalam ruangan, dokter menyiapkan peralatan medisnya. Setelah itu, Velove bersiap untuk melakukan persalinan.


Keringat dingin mengucur deras di wajah Velove. Max yang panik selalu menggenggam erat tangan istrinya. Dia sangat khawatir dan juga tidak tega melihat wajah istrinya yang menahan rasa sakit.


Velove mulai di aba-aba oleh dokter untuk mengejan ketika dia merasakan suatu dorongan dari dalam. Meski hamil kembar, Velove tetap bisa melahirkan secara normal. Jadi dia hanya perlu mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengejan dua nyawa yang akan lahir ke dunia.

__ADS_1


"Mmmmmppphh," suara Velove yang terus mengejan.


Sepuluh menit mengejan bayi pertama keluar dengan selamat. Tangisan yang sangat nyaring menggema di seluruh ruangan.


"Love, bayi kita lahir. Kamu berusaha lagi ya, ayo semangat untuk yang kedua sayang. Aku sangat mencintaimu, sangat mencintaimu," ucap Max memberi semangat untuk istrinya.


Setelah beristirahat selama lima menit, Velove merasakan kontraksi lagi. Dia mengejan untuk bayi yang kedua. Dia mengumpulkan seluruh tenaganya untuk mengeluarkan bagian dari hidupnya itu.


Kali ini termasuk singkat, hanya butuh waktu lima menit bayi kedua lahir dengan sempurna. Kini Velove dapat bernafas lega, karena berhasil melahirkan malaikat kecil yang akan menghiasi hari-harinya nanti.


"Sayang. Selamat kamu telah berhasil melahirkan malaikat kecil kita. Kamu dengar kan tangisan mereka. Bayi kita yang kedua sangat kalem suaranya. Sepertinya dia akan tumbuh menjadi gadis yang lemah lembut," ucap Max dengan senangnya.


Velove hanya terdiam, mendengar ungkapan senang suaminya. Dalam hati dia juga sangat bersyukur karena hidupnya semakin lengkap sekarang.


Kedua bayi pun di tangani oleh dokter, dan Velove harus menunggu beberapa jam untuk masa pemulihan.


Di luar ruangan, Nyonya Glover dan juga Justin sangat menunggu untuk bisa masuk ke dalam ruangan. Namun, dokter belum mengizinkan dan membuat Justin sangat kesal.


"Grandma, kapan kita bisa masuk ke dalam?" tanya Justin pada neneknya.


"Kamu harus sabar sayang, nanti beberapa jam lagi kita bisa menjenguk Mommy mu di dalam. Mommy mu harus beristirahat dulu untuk memulihkan tenaganya. Kamu tahu kan kalau adikmu itu kembar, jadi Mommy mu harus beristirahat secara maksimal dulu," jelas Nyonya Glover pada cucunya.


Meski telah di jelaskan tetap saja hal itu membuat Justin sangat kesal. Dia sudah tidak sabar untuk menemui Mommy dan juga adik bayinya.


Akhirnya setelah berjam-jam menunggu, Velove di pindahkan ke ruang rawat. Tenaganya sedikit pulih, dari luar Justin berlari masuk ke dalam ruangan Mommynya.


"Mommy," seru Justin menuju ke arah ranjang Velove.


"Ssssttt, pelan-pelan sayang! nanti adik kamu bangun," tegur Max pada putranya.


Justin berjalan mendekati kotak bayi yang ada di samping ranjang Velove. Nyonya Glover mengambil salah satu bayi itu dan digendongnya. "Ouh cucu grandma cantik sekali. Max yang ini mirip sekali denganmu. Lihatlah, rambut, hidung mata, dan juga bibirnya sangat mirip denganmu," seru Nyonya Glover.


"Sini Mom, aku juga ingin melihat putriku," sahut Velove dengan suara yang masih lemas.


Nyonya Glover memberikan bayi yang digendongnya itu pada Velove. Lalu, dia mengambil bayi yang satunya lagi dari dalam kotak. "Cucu grandma yang satu ini mirip sekali dengan kamu Justin. Lihatlah!"


Max berdiri, melihat putrinya yang sedang di peluk oleh Velove. "Benar, dia lebih mirip denganku Love. Lihatlah di belakang telinganya ada tanda lahir," seru Max dengan menunjuk titik hitam di belakang telinga putrinya.


Lalu, Nyonya Glover memberikan bayi yang ada dalam gendongannya itu pada Velove. Dia ingin kedua cucunya merasakan hangatnya pelukan dari seorang ibu.


Velove meneteskan air matanya, dia sangat terharu sekali dengan apa yang ada di hadapannya saat ini. Max pun memeluk hangat istrinya itu. "Sudahlah, jangan menangis di hari bahagia kita sayang. Hari-hari kita akan sangat sibuk kedepannya," ucap Max menenangkan hati Velove.


"Ya kamu benar Max, kedepannya kita pasti akan repot sekali. Felicia, Justin, dan kedua bayi kembar kita pasti akan sangat merepotkan nanti. Tapi aku sangat senang karena aku bisa melakukannya denganmu suamiku. Aku tidak akan sendiri dan merasa kesepian lagi. Aku mencintaimu Max melebihi apapun," ucap Velove dengan mengecup lembut bibir suaminya.


Nyonya Glover ikut menitikkan air mata melihat keharmonisan rumah tangga putranya itu. "Sudah, berhenti menangis. Mari kita rayakan kebahagiaan ini nanti ketika pulang ke rumah. Felicia sebentar lagi akan tiba."


"Mommy, Justin janji akan menjadi kakak yang baik buat adik bayi. Aku akan selalu sedia membantu Mommy menjaga adik bayi. Ya kan Dad?" seru Justin dengan semangatnya.


"Tentu, dong jagoan Daddy. Kamu harus melakukannya karena kamu laki-laki sendiri diantara Kak Felicia dan juga adik bayi."


"Siap laksanakan tugas Bos!" sahut Justin dengan sikapnya yang polos. Hal itu membuat semua orang tertawa senang dan kebahagiaan itu akan selalu hadir di keluarga Max Anderson Glover.


...TAMAT...

__ADS_1


HAI READERS TERIMA KASIH TELAH MENGIKUTI CERITA RECEHKU YA😍 MESKI TAMAT DALAM WAKTU YANG LAMA TAPI AUTHOR TETAP KONSISTEN UNTUK MENAMATKANNYA.😊 NANTIKAN NANTI SEASON KEDUANYA YA, YANG AKAN MENCERITAKAN TENTANG JUSTIN, FELICIA, DAN JUGA KEDUA ADIK KEMBARNYA NANTI.🥰 SALAM CINTA DARI AUTHOR UNTUK KALIAN SEMUA🥰🥰😍😍❤️❤️❤️


__ADS_2