
Mobil mewah berjalan melintasi kota di siang hari. Juga diiringi mobil lainya dari depan, samping, dan belakang bertugas untuk mengawal. Di dalam mobil yang dinaiki Nyonya Glover, Felicia, dan Justin, langsung di kendarai oleh Luis dan Marvin. Mereka semua menuju ke rumah sakit untuk menjenguk Velove.
Didalam mobil Justin masih dengan wajah cemberut, Felicia mencoba menghibur Justin. Tetapi, hal itu percuma karena Justin tetap tidak mau bicara. Nyonya Glover pun hanya bisa menghela nafas panjang, dia terheran-heran dengan sikap cucunya itu. Lalu Nyonya Glover menyuruh Felicia untuk tidak mengganggu Justin dulu.
Setengah jam kemudian mobil yang dikendarai Luis pun tiba di kawasan rumah sakit. Nyonya Glover pun turun dan menggandeng cucunya masuk ke dalam rumah sakit. Setelah sepuluh menit berjalan, Nyonya Glover sampai juga di depan ruang perawatan dimana Velove berada.
Nyonya Glover pun langsung masuk, ia melihat Max yang sedang menyuapi Velove makan siang. Max menoleh ke arah pintu dan tersenyum melihat keluarganya datang. Max langsung meletakkan mangkok yang di pegang nya di meja dan berjalan menuju ke arah Justin.
"Hei, jagoannya Daddy kenapa cemberut begitu mukanya?" ucap Max sambil menggendong putranya.
"Kamu tahu Daddy sangat rindu denganmu, lihatlah mommy sudah sadar sekarang dan dia juga sangat merindukanmu."
Justin masih tetap diam sambil melihat ke arah Velove, dan Max mendudukkan Justin di atas ranjang sang Mommy. Velove hanya melihat datar, dia tau dengan sikap diam putranya.
"Kenapa hanya diam kamu tidak merindukan mommy Justin?" tanya Velove dengan suara yang masih lemas.
"Hai Mom, Justin sangat merindukan Mommy." jawab Justin masih dengan menundukkan kepalanya.
"Mommy tau kalau kamu pasti melakukan kesalahan. Benarkan?"
Nyonya Glover pun menengahi pembicaraan antara ibu dan anak itu. Dia tidak mau kalau sampai Velove memarahi Justin.
"Hem, sudahlah bukankah ini pertemuan yang kita inginkan, kenapa suasananya berubah menjadi tegang." ucap Nyonya Glover sambil mendekati Justin.
"Justin apa kamu masih marah dengan Grandma?" tanya Nyonya Glover pada cucunya.
Justin menjawab hanya dengan gelengan kepala.
"Justin Mommy sedang tidak ingin marah, karena keadaan Mommy yang masih lemah seperti ini. Jadi Mommy mohon menurut lah dengan Grandma ya, tidak boleh nakal. Bukankah keluarga yang seperti ini impian kamu dulu?"
Mendapat pencerahan Justin pun mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk. Dia menatap Velove, Max, Grandma, dan kakaknya Felicia secara bergantian. Kemudian menetes lah air mata Justin membasahi pipinya.
"Maafkan Justin Mom, Dad, Grandma, kakak. Justin janji akan menjadi anak yang penurut." ucap Justin dengan tulus.
Max pun terharu dengan sikap putranya itu. Dia tersenyum lalu kembali merengkuh Justin ke pelukannya.
"Sudah jagoan Daddy tidak boleh cengeng. Ayo kita peluk Mommy. Ayo Felicia sini kita peluk Mommy bersama." ucap Max pada kedua anaknya.
Kemudian Max dan kedua anaknya pun memeluk Velove bersama-sama.
__ADS_1
"Kita semua sayang Mommy, cepat sembuh ya Mom." ucap Felicia.
"Justin sayang sama Mommy, terima kasih sudah membawakan Daddy untukku, dan Mommy juga memberiku bonus seorang Grandma yang baik dan seorang kakak yang cantik. Terima kasih Mom. I LOVE YOU." ucap Justin sambil mencium pipi Velove.
Velove pun terharu, hatinya sangat bahagia. Dia pun menangis saking bahagianya. Max yang melihat Velove menangis segera menghapus air mata Velove yang mengalir membasahi pipi mulusnya, dan Max mencium ujung kepala Velove dengan penuh cinta.
"Terima kasih Tuhan, kau berikan aku rasa bahagia ini. Aku akan selalu menjaga kebahagiaan ini dalam hidupku. Mencintai selalu orang-orang yang mencintaiku." ucap Velove dalam hati.
Nyonya Glover juga ikut menitikkan air mata. Pertemuan yang mengharukan itu adalah pertemuan yang sangat di dambakan Max selama ini.
"Semoga keluarga kita selalu diberi kebahagiaan selalu ya. Mom ikut bahagia melihat kalian bahagia seperti ini sayang." seru Nyonya Glover kepada Velove dan semuanya.
"Cepatlah sembuh nak, dan segeralah menjadi menantu resmi ku." ucap Nyonya Glover pada Velove.
"Iya Mom, aku akan berusaha sembuh demi kalian semua." jawab Velove dengan menatap kedua anaknya.
Selesai berpelukan Velove mengobrol dan bercerita kepada semuanya. Dia menceritakan waktu kehamilannya yang penuh dengan perjuangan. Max dan Nyonya Glover hanya bisa diam mendengarkan semua yang diutarakan Velove.
Setelah cukup lama berbincang, Max menyuruh Justin untuk pulang karena sang Mommy harus istirahat.
"Justin, kamu harus pulang ikut Grandma dan kakak ya. Karena Mommy harus kembali istirahat." ucap Max pada putranya.
Justin kembali cemberut, namun karena dia sudah berjanji akan menjadi anak yang penurut dia pun langsung menyetujui perkataan Daddy-nya.
"Iya sayang, Mom akan berusaha untuk cepat sembuh. Tunggu Mommy ya." ucap Veloce dengan bibir tersenyum manis pada Justin.
"Ya sudah kalau begitu Mom pamit ya. Cepat sembuh ya sayang." ucap Nyonya Glover pada Velove.
"Mom, Felicia pulang ya. Cepat sembuh biar kita bisa berkumpul lagi." sahut Felicia kemudian mencium pipi Velove.
Velove tersenyum dan mengangguk pelan, menjawab pernyataan mereka semua.
"Bye Mommy."
"Bye Daddy." seru Felicia dan Justin bersamaan.
Kemudian Nyonya Glover membawa kedua cucunya untuk pulang. Setelah semuanya sudah pergi tinggal Max berdua dengan Velove. Max masih dengan posisi duduknya di samping Velove. Dia meraih tangan Velove dan menciuminya lagi.
"Love thanks sudah mengembalikan kebahagiaanku yang hilang. Thanks sudah menghadirkannya untukku, dan membuatmu berjuang sendirian membesarkannya. Aku mencintaimu Love." ucap Max penuh dengan ketulusan.
__ADS_1
Mata Velove berkaca-kaca melihat Max berbicara seperti itu padanya. Max yang melihat Velove ingin menangis pun segera berdiri dan memeluk Velove dengan penuh kasih.
"Jangan menangis Love, karena mukamu sangat jelek ketika menangis."
"Baru kali ini aku merasakan ada rasa bahagia dalam hidupku Max. Hidupku berubah sejak Justin hadir, dia mampu merubah kepribadianku."
"Ya aku tau Love aku merasakan perubahan mu. Aku melihat kelembutan di dalam matamu. Maaf jika selama ini aku sangat terlambat Love." ucap Max sambil menatap wajah sendu Velove.
"Mulai saat ini percayalah padaku Love aku akan menjagamu dan putra kita. Tak akan aku biarkan siapapun menyakiti kalian."
"Baiklah mulai sekarang aku pasrahkan hidupku untukmu Max, aku sudah cukup lelah menjaga diriku sendiri. Aku serahkan semuanya padamu, dan aku akan bergantung padamu." ucap Velove pada Max.
Max dan Velove saling beradu mata menatap satu sama lain. Tersimpan kerinduan yang menggelora dari tatapan mata Max. Kerinduan yang selama ini ia tahan hanya untuk satu wanita.
Max membelai wajah Velove dia menatapnya dalam, kemudian dengan perlahan Max meraih tengkuk Velove dan mendekatkan bibirnya untuk menciuuum bibir manis yang dia rindukan. Max menciuuum bibir manis itu dengan lembut. Satu kecupan, dua kecupan, dan lama-lama berubah menjadi lumaaaatan lembut. Max terus menguuulum bibir manis Velove, memainkan lidahnya menyusuri rongga mulut Velove dan memberikan gigitan-gigitan kecil disana. Velove hanya bisa menerima perlakuan lembut Max. Dia menikmati lumaaatan demi lumataaan dari bibir Max. Cukup lama bibir mereka menyatu, semakin lama nafas Max semakin memburu dan membuatnya semakin ingin melahap semuanya.
Max melepaskan paguuutannya karena Velove kesulitan bernafas. Setelah terlepas Max mendaratkan bibirnya ke leher jenjang Velove. Max kembali menciumi leher mulus Velove, kemudian meninggalkan jejak kepemilikan disana. Velove meleeenguh mendapat perlakuan yang lebih dari Max.
"Ahhhhhhh, Stop Max Stop, aku masih belum pulih." ucap Velove lirih.
Max tak memperdulikan ucapan Velove.Max fokus pada sebuah gundukan besar yang sembunyi dibalik piyama tidur. Max membuka kancing piyama Velove, dia menelan salivanya dan setelah semua terbuka Max memberhentikan aksinya ketika melihat bekas luka di dada Velove. Luruhlah semua hasraat yang tadi menggebu. Max kembali menatap mata Velove.
"Love maafkan aku, aku lupa kalau kamu masih belum pulih. Aku sangat merindukanmu sayang." ucap Max lembut pada Velove.
Max pun berhenti dan kembali mengancingkan piyama yang dikenakan Velove. Setelah mengancingkan semuanya Max kembali meraih tubuh Velove kedalam pelukannya.
"Love cepatlah pulih karena aku sangat lah merindukanmu."
"Kamu tetap pria bodohku Max. ingin sekali aku menendang mu. Aku belum pulih sepenuhnya tetapi kamu berani melakukan hal itu padaku."
"Maaf sayang aku tidak bisa menahannya tadi. Ya sudah kamu kembali istirahat ya, biarkan aku memelukmu seperti ini." ucap Max pada Velove.
Kemudian Velove pun kembali memejamkan matanya dalam pelukan Max. Dia sangat bahagia saat ini. Kebahagiaan yang dia ingin rasakan dalam hidupnya kini sudah hadir, dan Velove sangat lah bersyukur.
HAI READERS APA YANG KALIAN HARAPKAN DENGAN ADEGAN TADI🤣🤣🤣JANGAN BERHARAP LEBIH OKEY..😂😂😂TUNGGU VELOVE SEMBUH DULU YA🤣🤣🤣🤣
JANGAN LUPA BUDAYAKAN LIKE SETELAH MEMBACA KARENA DENGAN LIKE SAJA OTHOR SUDAH SANGAT SENANG SEKALI👍👍😘
HADIAHNYA JUGA BUNGA DAN KOPI BIAR OTHOR TAMBAH SEMANGAT🌹☕
__ADS_1
YANG BELUM KASIH VOTE NYA BOLEH VOTE OTHOR😘
TERIMA KASIH BUAT KALIAN SEMUA😀😀😍😍🥰🥰😘😘