My Strong Woman

My Strong Woman
LONDON IN LOVE 8


__ADS_3

Max dan Velove berjalan menuju ke mobil sportnya. Quality time yang mereka lakukan saat ini membuat hubungannya semakin mesra saja. Velove yang berubah menjadi wanita manja, membuat Max semakin menyayanginya.


Di dalam mobil Max dan Velove saling tersenyum satu sama lain jika mengingat semua kenangannya di kota London. Hingga tak terasa, mereka berdua telah sampai di hotel tempatnya menginap. Max turun dari mobil membukakan pintu untuk Velove.


Velove pun langsung turun dan segera masuk kedalam bersama suaminya. Mereka berdua berjalan memasuki lift untuk naik keatas menuju ke kamar. Di dalam lift Velove dan Max saling berpelukan satu sama lain. Sesekali berciuman bibir tanpa mempedulikan kamera cctv di atas mereka.


Setelah sampai di lantai atas, Max dan Velove segera keluar dari dalam lift. Max membuka pintu kemudian masuk kedalam disusul Velove dari belakang. Setelah keduanya masuk Max segera melancarkan aksinya. Max langsung menyambar bibir Velove dengan penuh napsu.


Velove pun menyambut ciuman panas itu. Dia mengalungkan tangannya di leher suaminya, sedangkan Max langsung mengangkat tubuh Velove dan membawanya ke atas ranjang. Sesampainya di ranjang, Max menurunkan tubuh Velove dengan sangat pelan. Setelah itu dia segera melucuti semua pakaian yang dikenakan oleh Velove.


Velove tersenyum nakal, sambil menggigit bibir bawahnya sambil berkata," Kenapa kamu selalu tidak sabaran Max?"


"Itu karena kamu yang begitu menggodaku sayang," jawab Max dengan senyum smirk.


Setelah berhasil melucuti semua pakaian Velove Max segera mengeksekusi sajian terindah di depannya. Max mencium kembali bibir Velove dengan lembut dan penuh cinta. Dia melu**mat bibir itu dan sesekali menye**sapnya.


Velove mele*nguh menikmati sensasi yang diberikan Max padanya. Max tak pernah gagal untuk memuaskan has*ratnya. Dari bibir turun ke leher, Max juga menyematkan tanda kiss mark di leher jenjang itu. Tangannya juga bergerilya di tempat lain.


Setelah puas dengan permainan bibirnya, Max langsung berpindah tempat ke aset kembar milik Velove. Benda kenyal kesukaannya itu mulai membesar mungkin efek dari kehamilan Velove. Max menciumi lembut dua aset kembar Velove itu secara bergantian. Dia juga memainkan dua buah choco chip merah muda itu dengan lidahnya.


Velove mencengkeram kuat rambut Max yang sedang fokus dengan tubuhnya. Hal itu membuat Velove mende**sah merasakan sesuatu yang muncul dan mengalir pelan menjalari seluruh tubuhnya.


"Ohh, Max. Aku mencintaimu," ucap Velove sambil mengutarakan perasaanya. Melihat sang istri yang sangat menikmati setiap belainya itu membuat hati Max senang.

__ADS_1


Max puas berada di bagian tubuh atas Velove. Kini gilirannya untuk mengeluarkan sang junior dari tempat persembunyiannya. Sang junior yang sejak tadi sudah meronta-ronta mencari sang ruang indah yang bisa membuatnya terbang ke surga.


"Love bersiaplah, aku akan melakukannya dengan lembut," ucap Max sambil berancang-ancang untuk melakukan kegiatan wajibnya.


Max membuka kedua kaki Velove, lalu dia mengarahkan sang junior ke ruang indah sang istri. Max memasukkan ujung sang junior dengan pelan, Velove menutup mulutnya merasakan sesak di pangkal pahanya.


"Awww, Max pelan-pelan rasanya sedikit sakit," rintih Velove dengan pelan.


Max jadi khawatir melihat ekspresi Velove yang kesakitan. Tetapi dia harus menuntaskan has*ratnya malam ini." Tenang sayang, Daddy tidak akan menyakitimu dalam perut Mommy," ucap Max pada calon bayinya.


Kini sang junior pun telah masuk sepenuhnya di ruang indah Velove. Max memajumundurkan pinggulnya mengikuti irama di setiap hentakannya. Sejak hamil Max tidak bisa melakukan bercinta dengan bebas pada Velove, karena ada sang buah cinta yang harus tetap di jaga keselamatannya.


Setengah jam bermain belum juga membuat Max menyelesaikan aksinya. Dia masih bermain bebas di atas tubuh Velove yang sudah mulai lemas tak bertenaga. Akhirnya Max menyudahi kegiatannya itu secara paksa, karena dia tak mau mengambil resiko yang besar.


Max mempercepat alunan ritmenya, dia menghentakkan pelan pinggulnya maju mundur secara teratur. Velove pun tak bersuara lagi dia hanya pasrah sambil menahan sakit di bawah perutnya.


"Iya Love sebentar lagi aku keluar," sahut Max dengan nafas yang tersengal. Dia semakin mempercepat goyangan pinggulnya. Max mengerang sambil mendekap kedua kaki Velove. Setelah itu meledak lah benih cinta itu diatas perut Velove, dan Max langsung mengelap benih yang ia keluarkan dengan tissu. Setelah itu dia langsung menjatuhkan tubuh lemasnya di samping Velove yang juga sangat kesakitan.


"Love kamu tidak apa-apa? Apakah masih sakit?" tanya Max cemas.


Velove menganggukkan kepalanya pelan, kemudian Max pun menyelimuti tubuh Velove dengan selimut dan menarik tubuh itu kedalam pelukannya.


"Besok kita pulang ya. Aku tidak ingin mengambil resiko. Sebenarnya aku masih ingin mengajakmu keliling dunia. Akan tetapi melihat kondisimu yang seperti ini membuatku sangat khawatir." Max memeluk dan mengecup ujung rambut Velove dengan lembut.

__ADS_1


"Tidurlah sayang, karena perjalanan besok pasti akan sangat melelahkan," sambung Max dan akhirnya Velove pun tertidur dalam pelukan suaminya.


Malam indah sudah mereka lalui bersama dan Max mengajak Velove untuk kembali ke Jerman. Dia ingin fokus menjaga kandungan istri tercintanya itu.


Pagi telah tiba, Max bangun dan segera membersihkan tubuhnya. Dia harus bersiap-siap untuk pulang ke Jerman. Max mulai mengemasi semua barang-barangnya. Dia masih membiarkan Velove tidur. Semalam dia sudah memesan tiket dan siang nanti bisa langsung berangkat.


Satu jam kemudian Max telah selesai dengan semua barang-barangnya. Velove juga sudah mulai bangun, Max langsung menyambut sang istri tercinta dengan sebuah kecupan manis," Pagi sayang, bagaimana keadaanmu? Apa sudah baikan?"


Velove mengangguk pelan dan menjawab," Agak lumayan. Apa kita jadi pulang Max?"


"Ya Love, semalam aku sudah memesan tiket, dan nanti siang kita berangkat," jawab Max dengan lembut. " Sekarang mandilah aku sudah menyiapkan semuanya," sambung Max.


Setelah itu Velove pun bangun dan segera bersiap untuk pulang ke rumah. Dua jam kemudian Velove dan Max telah siap berangkat, dia koper besar sudah berdiri rapi. Lalu Max membawa kedua koper itu keluar dari kamar hotel untuk menuju ke bandara.


"Apa kamu membicarakan ini pada Justin?" tanya Velove pada Max.


"Belum Love, aku ingin memberi kejutan untuknya," jawab Max dengan tersenyum.


"Pasti anak itu akan senang sekali. Kamu tau semenjak kamu hamil Justin sangat sensitif sekali, dia berubah agak posesif," sahut Max.


"Iya sifat kerasnya itu terlalu mendominasi, dan terkadang membuatku sangat gemas."


Mendengar ucapan Velove membuat Max terkekeh, dengan suara pelan dia menyindir istrinya itu," Itulah sifat mu Love dan kamu menurunkan semuanya pada Justin. Kamu tau, akulah yang kesulitan jika menghadapi kalian berdua."

__ADS_1


"Cih ingin sekali aku memukulmu Max," seru Velove sedikit kesal. Semenjak Velove hamil perasaanya sangat mudah sekali tersinggung.


"Jangan marah sayang aku hanya mengutarakan apa yang aku rasakan, Okey." Max mencoba menenangkan Velove, dia harus berhati-hati agar mood istrinya itu tetap terjaga dengan baik. Setelah itu Max dan Velove naik taksi untuk menuju ke bandara karena mobil yang dia sewa sudah ia kembalikan.


__ADS_2