My Strong Woman

My Strong Woman
LOVE FOR MY LIFE


__ADS_3

Setelah melakukan penyatuan panas Max tertidur dengan memeluk Velove. Hingga sore hari pun tiba. Max terbangun karena mendengar Justin menggedor-gedor pintu kamarnya.


"Daddy, Daddy, bukain pintunya, aku mau ketemu Mommy. Daddy cepat buka pintunya." teriak Justin dari luar.


"Justin jangan ganggu Daddy dan Mommy mu ya, nanti mereka juga akan keluar sendiri. Ayo ikut grandma di taman depan." ucap Nyonya Glover kepada cucunya.


"No grandma, Justin mau ketemu Mommy dulu, aku khawatir terjadi apa-apa dengan Mommy. Daddy buka pintunya."


"Astaga bagaimana aku menjelaskan semuanya pada cucuku ini." gumam Nyonya Glover dalam hati.


Max yang terbangun langsung mengurai pelukannya, dan itu membuat Velove terbangun juga. Velove yang sadar langsung terkejut karena Justin sedang menggedor-gedor pintu.


"Awwwww kamu keterlaluan Max, kamu membuat sakit pangkaaal pahaku." cibir Velove kepada Max.


"Tapi kamu suka kan sayang, cepat pakai bajumu. Sebelum Justin marah-marah di luar."


"Haiiihhh, bagaimana nanti aku menjelaskan pada anak itu." desah Velove bingung.


Setelah berpakaian lengkap Max membuka pintu kamarnya dan kemudian Justin langsung masuk dan menghamburkan tubuhnya di ranjang sang Mommy.


"Mommy tidak apa-apa kan? Mommy tidur seharian, aku rindu Mommy." ucap Justin manja sambil memeluk Velove.


Velove tersenyum melihat ekspresi putranya itu.


"No, Mommy hanya tidur siang bersama Daddy. Kan Mommy harus banyak istirahat sayang." ucap Velove sambil melirik Max yang masih berdiri memandang putra dan juga istrinya.


Max tersenyum tipis karena lirikan Velove yang secara tidak langsung sedang menyindirnya.


"Benar boy, Daddy hanya tidur bersama Mommy. Bagaimana tadi main gamenya, apakah mengasyikkan?" tanya Max pada putranya.


"No, aku tidak suka dengan Uncle Luis, Dad. Dia bisa mengalahkan aku ketika bermain. Aki tidak mau lagi bermain sama Uncle Luis. Nanti Daddy harus marahi Uncle Luis. Justin tidak suka." cibir Justin dengan bibir mengerucut.


Celotehan Justin membuat Max dan Velove gemas dan saling berpandangan mata sesaat.


"Sayang harusnya kamu berterima kasih loh dengan Uncle Luis, karena dia mau menemani mu bermain." sahut Velove menasehati putranya.


"No Mommy, hanya aku yang boleh menang dalam bermain game." tegas Justin kepada Mommy-nya.


Velove pun mengalah tidak ada yang bisa menandingi sifat keras kepala putranya.


"Mom, Justin ingin pergi ke sekolah lagi." rengek Justin sambil memeluk sang Mommy.

__ADS_1


Velove langsung memandang ke Max mengharap satu jawaban. Kemudian Max menjelaskan kepada putranya perihal tersebut.


"Justin, Daddy sudah memikirkan soal sekolahmu dan Daddy memutuskan untuk kamu sekolah di rumah saja. Daddy akan cari guru yang profesional untuk jadi guru privat kamu." ucap Max kepada putranya.


"No, Dad, aku mau sekolah di sekolahan. Akan sangat membosankan jika sekolah di rumah." sahut Justin menolak rencana Max.


Max bingung harus menjawab lagi pertanyaan putranya kemudian dia memutuskan untuk mengiyakan permintaan Justin.


"Okey, mengenai hal ini Daddy akan bicarakan dengan Mommy terlebih dahulu."


"Okey Daddy."


Justin yang sudah setuju mengurai pelukannya di tubuh Velove. Kemudian dia memandang wajah sang Mommy, dan tiba-tiba berdiri sambil memegang tanda merah yang ada di leher Velove. Justin pun menanyakan hal itu kepada sang Mommy.


"Mom, leher Mommy kenapa merah seperti ini? Apa sangat sakit?" tanya Justin kepada Momm-nya.


Velove terkejut sesaat, dia bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan putranya. Velove tersenyum canggung kemudian dia menjawab pertanyaan putranya.


"Emmm ini digigit nyamuk sayang dan tidak sakit kok."


Max pun menahan tawanya mendengar jawaban istrinya. Velove pun segera menoleh dan memelototi Max yang sedang menertawakannya.


Hal itu membuat Max semakin ingin tertawa karena melihat sang istri yang kesulitan menjawab. Kemudian dia pun ikut menyahut pertanyaan Justin.


"Justin, Mommy kamu bukan digigit nyamuk. Leher Mommy digigit oleh Da...!"


BUGGHHH


Sebuah bantal melayang tepat di wajah Max dan Velove segera mengalihkan pertanyaan putranya.


"Sayang kamu cepetan mandi sana kan sudah sore. Nanti setelah mandi temani Mommy turun kebawah." perintah Velove pada putranya.


"Baiklah Mom, aku pergi mandi dulu ya."


Justin pun keluar dari dalam kamar, kemudian Max tertawa keras.


"Hahahahaha, Sayang mukamu menggemaskan sekali, membuatku semakin ingin melahap mu."


"Bodoh, bodoh, bodoh, kamu menyebalkan Max." umpat Velove kesal.


"Hahahah, stop sayang. Jangan pukuli aku lagi atau aku akan membuatmu melayang."

__ADS_1


"Enyahlah kamu dari sini pria bodoh. Pergi sana , cepat keluar dari sini."


Velove terus memukuli Max dengan bantal. Dia sangat kesal sekali karena terus digoda oleh suaminya.


"Okey, okey sayang aku akan keluar. Tapi biarkan aku mandi dulu, badanku sangat lengket sekali." ucap Max.


"No, aku duluan yang akan mandi. Cepatlah keluar Max."


Velove terus mengusir suaminya karena dia sudah salah tingkah karena ulah suaminya itu.


"Sayang aku sangat menyukai wajah tersipu mu itu. Menggemaskan sekali." seru bangkit dari ranjangnya.


"Atau begini saja aku bantu kamu untuk mandi agar kamu tidak kecapekan. Bagaimana Love?"


Velove terdiam sambil menatap tajam pria yang ada di depan matanya itu.


"Aku hitung sampai tiga Max. Kalau kamu tidak cepat keluar dari sini maka aku lah yang akan keluar dari kamar ini dan jangan harap aku kembali ke kamar ini." ucap Velove mengancam suaminya.


"No Love, okey baiklah aku akan pergi dari sini tuan putri. Cepatlah mandi agar tubuhmu wangi kembali."


"Tunggu sebentar sayang sepertinya ada sesuatu di rambutmu. Biar aku ambilkan untukmu."


Max mendekati istrinya, kemudian dia mengambil sesuatu dari rambut Velove. Namun, dia justru mendongakkan kepala Velove ke atas dan dengan cepat Max menyambar bibir seksi istrinya.


CUPPPP


Mata Velove terbelalak karena dia lagi-lagi di goda oleh Max. Setelah melakukan itu Max cepat kabur keluar kamar sambil tertawa senang.


"Dasar pria brengsek, awas kamu Max." teriak Velove mengumpat suaminya.


"Sial kenapa aku jadi salah tingkah seperti ini, Max selalu bisa membuat jantung ku berdebar. Tidak seperti dulu, walaupun aku kesal tapi aku sangat menyukainya. Sungguh bodohnya diriku sekarang. Arrrkkhhh." gerutu Velove dalam hati.


Setelah Max keluar dari kamar Velove turun dari ranjang, dia melakukannya dengan hati-hati. Dia harus banyak gerak agar lukanya cepat sembuh juga ototnya tidak menjadi kaku. Karena setelah sembuh ada tugas berat yang telah menanti. Jadi Velove harus menjaga tubuhnya dengan hati-hati.


**JANGAN LUPA LIKE SETELAH MEMBACA YA DEARS๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ˜€


HADIAH UNTUK OTHOR JANGAN LUPA๐ŸŒนโ˜•


VOTE NYA MANA VOTENYA


TERIMA KASIH๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜**

__ADS_1


__ADS_2