My Strong Woman

My Strong Woman
GWS MOMY


__ADS_3

Justin pun mengajak Max menuju ke yayasan yang biasa Justin tinggali. Justin selalu menempel pada Max, wajahnya full senyum dengan terus menatap wajah Max.


Max pun tersenyum melihat putranya yang sangat bahagia dengan mata yang berbinar. Namun, senyuman Max tidak bisa bertahan lama, karena Velove masih berjuang dengan masa kritisnya.


Setelah beberapa menit Max dan Justin telah sampai di yayasan. Justin menggandeng tangan Max untuk masuk ke dalam. Kedatangan Max di sambut oleh ibu yayasan dengan pandangan bertanya-tanya.


"Mama, kenalkan dia adalah Daddy ku." ucap Justin pada ibu yayasan.


"Daddy mu Justin? Daddy yang sedang kamu cari itu?" tanya Ibu yayasan.


"Iya Nyonya, perkenalkan saya Max. Kunjungan saya siang ini adalah untuk menjemput Justin putra saya untuk pulang ke Jerman." ucap Max pada ibu yayasan.


Ibu yayasan itu pun tersenyum ramah, dia memanggil Justin agar mendekat padanya.


"Justin sini nak!" panggil Ibu yayasan.


Justin pun berjalan menuju ke ibu yayasan, dia memeluk mama penggantinya itu. Ibu yayasan juga membelai rambut Justin penuh kasih sayang.


"Justin selamat ulang tahun nak, selamat juga kamu sudah menemukan daddy mu." ucap tulus Ibu yayasan pada Justin.


"Terima kasih mama sudah ikut menjaga ku selama ini, Justin akan selalu ingat kebaikan mama." ucap Justin sambil mencium pipi Ibu yayasan.


Setelah saling berpelukan Justin kembali duduk di samping Max, kemudian Max berpamitan untuk segera kembali ke Jerman. Max tidak bisa menunggu terlalu lama karena keadaan Velove yang masih kritis.


"Nyonya maaf saya harus pamit sekarang, karena kasih ada keperluan yang mendesak." ucap Max pada Ibu yayasan.


"Baiklah hati-hati dalam perjalanan, dan kamu Justin semoga kamu bahagia dengan Mom and Daddy mu."


"Iya Mama, nanti Justin akan memberi kabar sesampainya di Jerman." ucap Justin dengan perasaan gembira.


Setelah berpamitan Max dan Justin keluar dari yayasan itu untuk menuju ke bandara. Justin melambaikan tangannya kepada Ibu yayasan yang sejak kecil menjaganya ketika Velove sedang bertugas. Max dan Justin naik taksi menuju ke bandara.


"Dad apa kita akan naik pesawat?" tanya Justin.


"No boy, daddy akan ajak kamu naik helikopter." jawab Max.


"Really? Daddy punya heli pribadi?" seru Justin kagum.


"Yes boy, Daddy punya dua heli, satu jet, and satu pesawat."


"Wow daddy ku ternyata hebat, jadi Justin bisa tunjukin sama teman-teman kalau daddy ku adalah yang terhebat." ucap Justin dengan mata yang berbinar.


"Maafkan daddy Justin, daddy terlambat mengetahui keberadaan mu. Tapi daddy janji mulai detik ini daddy akan selalu menjagamu dam momy mu." ucap Max dalam hati.


Justin masih banyak pertanyaan untuk Max. Dia selalu memeluk Max tanpa melepaskannya. Namun, Max masih larut dalam kesedihannya karena sampai saat ini Velove belum sadar pasca operasi.


" Love semoga kamu cepat sadar, aku sudah menjemput putra kita. Dia sangat bahagia sekali."ucap Max dalam hati.


Taksi yang dinaiki Max dan Justin pun melaju ke bandara. Sesampainya di bandara Luis sudah menyambut kedatangan mereka.


"Halo Tuan Muda." sapa Luis kepada Justin.


"Uncle ini siapa Dad?" tanya Justin pada Max.

__ADS_1


"Dia uncle Luis asisten Daddy." jawab Max.


"Hai uncle perkenalkan namaku Justin." ucap Justin sambil membungkukkan badan.


"Hai juga Tuan Muda, nama saya Luis. Mari kita lewat sini Tuan semuanya sudah siap." ucap Luis mengajak Max dan Justin menuju ke heli.


Max dan Justin pun berjalan mengikuti Luis. Justin terus memutar kepalanya melihat sekitar bandara karena ini pertama kali baginya berada di bandara.



"Woow, ini sungguh punyamu Daddy?" seru Justin sangat takjub.


"Yeah boy, kita harus cepat pergi." jawab Max.


Max pun mengangkat tubuh Justin naik ke helikopter yang sudah siap terbang. Setelah semua masuk helikopter pun terbang menuju ke Jerman.


Justin terus mengungkapkan kekagumannya, dia terus bicara dan melontarkan banyak pertanyaan pada Max. Max pun tersenyum melihat kecerewetan putranya itu. Dia mengingat sewaktu kecilnya dulu, sama persis seperti Justin.


"Kamu sangat mirip dengan daddy sewaktu kecil boy, daddy tidak menyangka kamu bisa hadir di tengah-tengah daddy sekarang." ucap Max dalam hati dengan terus melihat ke arah Justin.


Setelah kurang lebih 4 jam Max sampai di Jerman. Justin tertidur di pangkuan Max, karena tidak mau membangunkan putranya, Max menggendong Justin lalu turun dari helikopter. Tak lama kemudian Justin pun terbangun karena mendengar suara bising dari heli.


"Kita sudah sampai Daddy?" tanya Justin denga mengucek matanya.


"Ya boy, kita sudah sampai." jawab Max menurunkan Justin.


Kemudian Max menggandeng tangan putranya, di luar bandara sudah banyak sekali anak buah Max yang sudah menunggu kedatangannya. Justin pun heran dan bertanya-tanya kenapa banyak sekali orang-orang yang memakai baju serba hitam dan semua membungkukkan badan memberi hormat ke arahnya.


Justin tetap diam menyimpan semua pertanyaannya. Dia berpikir kalau saat ini bukan waktu yang tepat untuk mengajukan pertanyaan. Apalagi saat ini Max sedang menampakkan raut wajah yang sangat serius.


Max membawa Justin ke rumah sakit untuk menemui Velove. Hatinya sangat gundah kali ini, dia khawatir kalau Justin akan syok lalu menyalahkannya atas kejadian yang menimpa Velove.


Justin melihat wajah serius Max, dia ingin menanyakan sesuatu tapi tidak jadi. Perasaanya pun mendadak jadi tidak enak. Seperti rasa sesak merasuk dalam dadanya.


Mobil Max tiba di rumah sakit, Justin pun semakin heran kenapa dia dibawa kerumah sakit. Max turun dari mobil kemudian di ikuti oleh Justin. Max menggandeng tangan putranya dengan sangat erat. Mereka pun masuk ke dalam rumah sakit.


Justin yang penasaran pun memberanikan diri bertanya pada Max perihal kedatangannya di rumah sakit.


"Siapa yang sakit daddy?" tanya Justin pelan.


Max tetap diam dengan pandangan lurus ke depan. Dia ingin menjawab pertanyaan putranya. Namun lidahnya sangat kelu untuk mengucapkan yang sebenarnya.


Pertanyaannya tak dijawab Justin kembali diam dan terus berjalan mengikuti langkah sang daddy. Sampai lah mereka di ruang ICU dengan banyak pengawal yang berjaga di lobi. Semua memberi salam hormat ketika Max berjalan di lobi.


Justin semakin bingung dengan apa yang terjadi. Dia pun mengehentikan langkahnya sejenak, berharap Max menjawab pertanyaannya tadi.


Max yang melihat putranya berhenti berjalan pun langsung menengok kebelakang. Max tau apa yang sedang di pikirkan oleh putranya. Max pun menghampiri Justin untuk menggandengnya lagi untuk ikut dengannya.


Justin menurut ketika Max kembali menggandeng tangannya, Justin terus berjalan hingga akhirnya sampai di depan sebuah ruangan. Nyonya Glover berdiri ketika melihat Max yang datang, dia langsung menghampiri Max.


"Kamu sudah sampai nak. Oh my God apa dia cucuku Max?" tanya Nyonya Glover.


"Ya mom." jawab Max singkat.

__ADS_1


"Oh cucu grandma , kamu tampan sekali sayang. Aku adalah grandma mu nak." ucap Nyonya Glover sambil memeluk Justin.


Justin yang masih bingung tidak merespon pelukan grandma-nya. Dia justru mencari keberadaan Velove.


"Dimana momy Dad?" tanya Justin.


Max terdiam lalu dia mengumpulkan segala keberaniannya untuk menunjukkan keadaan Velove kepada Justin.


"Ayo ikut daddy."


Max menggendong Justin menuju ke jendela yang menampakkan sang Momy sedang terbaring lemas dengan alat bantu pernafasan. Justin pun langsung berteriak ketika melihat Velove yang diam tak bergerak.


"MOMY." teriak Justin.


"Momy, momy kenapa Dad? kenapa Momy bisa ada disana. Momy, aku ingin ketemu momy Dad, turunkan aku.!!"


Justin berteriak dengan memanggil Velove. Dia ingin masuk ke ruangan namun, langsung di hentikan oleh Max.


"Wait, Justin dengarkan daddy dengar. Maafkan daddy nak, telah terlambat mengetahui ini semua." ucap Max sedih dengan memeluk Justin.


"Justin bermimpi kalau momy jatuh lalu berdarah, ternyata mimpiku terjadi Dad. Momy bangun Mom, jangan tinggalin Justin. Momy...Huhuhuhu."


Justin menangis di pelukan Max. Nyonya Glover yang menyaksikan itu juga ikut meneteskan air mata. Sungguh tragis kisah yang dialami putranya. Nyonya Glover pun menghampiri cucunya, dia ingin menghibur Justin agar tidak terlalu sedih.


"Sayang cucu grandma, kita doakan momy agar kuat dan cepat sembuh ya nak. Kamu ikut grandma yuk, kita pulang dulu kerumah biar daddy yang menemani momy mu disini." ucap Nyonya Glover membujuk Justin.


"No, aku ingin tetap disini aku ingin menjaga momy." teriak Justin.


"Aku ingin bertemu Momy Dad, aku mau membangunkan momy." rengek Justin masih terus menangis.


"Justin kamu dengarkan daddy, kamu pulang dulu bersama grandma. Momy membutuhkan banyak istirahat, jadi kamu pulang dulu nanti kalau momy sudah sadar, daddy akan telepon kamu."


Justin diam dan berpikir, mungkin apa yang di katakan daddy itu benar.


"Baiklah jaga Momy Dad, aku akan jadi anak penurut demi Momy." ucap Justin lirih.


Max memeluk putranya kemudian Nyonya Glover pun mengajak Justin untuk pulang ke mansion. Justin berjalan mengikuti grandma-nya dan Max kembali menatap Velove yang masih belum sadar dari luar jendela.



"Love segeralah bangun, putra kita menunggumu." batin Max.


**HAI READERS MAAF UP NYA TELAT....KARENA ATM PENGHASIL DOLLAR OTHOR SAKIT JADI NGGAK BISA NULIS🥺🥺🥺OTHOR SIBUK SEKALI🤧🤧🤧


TETAP SETIA BACA YA READERS OTHOR JANJI SETELAH LEBARAN NANTI OTHOR AKAN BUAT KALIAN HAREUDANG😂😂🔥🔥🔥


JANGAN LUPA LIKE LIKE LIKE SETELAH BACA YA👍


SAWER OTHOR DENGAN HADIAH JUGA☕🌹


VOTE VOTE NYA JUGA MAU OTHOR🥰


TERIMA KASIH 🥰🥰😍😍😘😘😘**

__ADS_1


__ADS_2