
Genap satu minggu Velove terbaring di ranjang rumah sakit. Demi keamanan, Max selalu berjaga di ruangan perawatan. Max tidak membiarkan semua orang masuk tanpa izin darinya. Meskipun yang datang itu dokter yang ingin memeriksa, harus ada Max yang mendampingi.
Max tidak ingin kecolongan lagi seperti waktu itu. Sampai Justin pun tidak di perbolehkan untuk menjenguk Momynya, dengan alasan keamanan. Karena Dragon Empire terus mencari celah kelengahan Max.
Selama di rumah sakit Max menjalankan kewajibannya sebagai lelaki yang sangat bertanggung jawab. Max dengan setia menjaga dan merawat Velove dengan sepenuh hati. Dia juga rela begadang semalaman hanya karena demi keamanan.
Setiap hari Max selalu membersihkan badan Velove, dia juga rutin mengganti pakaian kotor kekasihnya. Max selalu membelikan buket bunga segar untuk menghiasi ruangan perawatan agar enak dipandang. Max tidak pernah meminta bantuan siapapun.
Untuk menghilangkan kejenuhannya, Max menyibukkan diri dengan berkerja secara online. Dia berkerja sambil menjaga Velove. Max juga sangat rindu dengan putranya Justin. Sejak tiba di Jerman dan menyuruhnya pulang ke mansion Max belum bertemu putranya. Hanya dengan video call Max mengabarkan keadaan Velove untuk Justin.
Hari sudah larut malam, dan dia merasa capek sekali. Untuk mengantisipasi kejadian buruk, Max memutuskan untuk berbaring di samping Velove. Sebelum memejamkan mata Max melihat wajah Velove yang sangat tenang tanpa menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Kemudian pelan-pelan mata Max pun terpejam, dan Max tertidur di samping Velove.
Setelah beberapa jam berlalu, Max tertidur sangat lelap sekali. Tiba-tiba tangan Velove yang sedang digenggam oleh Max sedikit bergerak, dan Max belum menyadari hal itu. Semakin lama gerakan itu makin terasa, jam menunjukkan pukul dua dini hari. Max yang merasakan itu pun segera membuka matanya, dan mendapati Velove telah sadar. Max langsung bangun dan melihat jelas kalau Velove sudah benar-benar sadar.
"Love kamu sudah sadar, terima kasih Tuhan engkau telah mengembalikan orang yang kucintai."
Max memeluk Velove dan menciumi tangannya. Hingga tak terasa air matanya mengalir dari sudut mata. Dia sangat bahagia sekali karena Max hampir putus harapan.
"Love apa yang kamu rasakan? Apakah sakit sekali? Aku akan panggil dokter." ucap Max. Namun, ketika Max mau beranjak dari tempatnya Velove mencegahnya. Max pun berhenti dan menanyakan apa yang Velove inginkan. Velove dengan susah payah ingin mengutarakan keinginannya. Tetapi, untuk bersuara sangat sulit sekali.
"Ju-jus-tin." ucap Velove dengan susah payah.
Max pun mendengar apa yang dikatakan Velove. Dia pun langsung menjawab pertanyaan Velove dengan wajah sendunya.
"Aku sudah menjemput Justin, dia sekarang ada di mansion bersama Mom. Kamu jangan khawatir ya sayang, Justin akan aman disana."
Setelah mendengar jawaban Max, hati Velove merasa tenang. Putra yang dicintainya itu telah bertemu dengan keluarga yang dia rindukan selama ini.
"Love kamu istirahat lah, besok pagi akan aku suruh Marvin untuk membawa Justin ke sini." ucap Max.
Velove pun menuruti saran Max, dia kembali beristirahat dan memejamkan matanya. Max kembali berjaga dengan terus menggenggam tangan Velove.
__ADS_1
Keesokan harinya, Max sedang sibuk telepon dengan Marvin. Rencananya hari ini Max akan mempertemukan Velove dan Justin. Max mengatur cara agar semuanya berjalan dengan aman dan lancar. Karena berita tentang Velove sudah beredar luas di kalangan para pebisnis ataupun para mafia. Jadi Max harus melakukan penjagaan ekstra untuk meminimalisir hal buruk yang mungkin bisa terjadi.
DI MANSION
"Grandma ayo cepat kita pergi, momy sudah menunggu ku Grandma." seru Justin pada Nyonya Glover
"Iya sayang Grandma belum mendapat perintah dari Daddy mu. Tunggu sebentar lagi ya!"
"No Grandma, No...Justin tidak mau menunggu lama lagi. Aku sudah menunggu lama sekali minggu ini Grandma. Ayolah kita berangkat sekarang." rengek Justin dengan menghentak-hentakkan kakinya.
"Astaga cucu laki-laki ku ternyata cerewet dan keras kepala sekali. Aku harus tanya kepada Velove bagaimana dia bisa mengatasi keras kepala cucu tampan ku ini." ucap Nyonya Glover dalam hati.
Nyonya Glover dibuat pusing selama satu minggu ini. Dia harus menghadapi sifat Justin yang bar-bar dan keras kepala, dan pagi ini Nyonya Glover sudah memijit pangkal hidungnya untuk mengurangi gejala pusingnya.
Demi keselamatan Max melarang Justin ataupun Felicia beraktivitas di luar rumah. Justru hal ini membuat Justin makin nakal karena dia tipe anak yang tidak suka di kekang. Apalagi kalau sudah marah dia tidak akan berbicara pada siapapun.
Akhirnya Nyonya Glover memutuskan untuk menghubungi Max, dia tidak tahan dengan sikap Justin yang membuatnya pusing.
"Hallo, Max kapan kamu menjemput kami, Mom sudah tidak tahan melihat kelakuannya. Dia membuat Mom pusing."
"Grandma berikan padaku, Justin mau bicara sama Daddy." ucap Justin sambil melompat-lompat berusaha mengambil telepon Grandma-nya.
Nyonya Glover pun memberikan teleponnya itu kepada Justin.
"Daddy, kapan Justin ke rumah sakit? Justin sudah tidak sabar bertemu Momy. Cepatlah Daddy jangan lama-lama atau Justin akan pergi sendiri." ucap Justin sedikit mengancam.
Max pun menepuk jidatnya, sikap Justin ini adalah sikap yang dimiliki Velove.
"Oh God, putraku menuruni sifat ibunya. Nasib ku ke depan harus menghadapi kedua makhluk yang keras kepala ini." gumam Max dalam hati.
"Okey, okey, Daddy akan suruh Luis dan Marvin menjemputmu. Jangan bertindak macam-macam, mengerti?" jawab Max, dia juga dibuat pusing oleh putranya.
"Aku tunggu Daddy kalau dalam waktu setengah jam uncle Luis dan uncle Marvin belum sampai, Justin akan pergi sendiri." ucap Justin dan langsung menutup telepon sebelum Max menjawabnya.
__ADS_1
"Hallo Justin, ohh Shiitt, Love kenapa kamu membuatkan aku putra yang keras kepala seperti itu. Huhhh...Aku harus belajar bersabar kali ini untuk mereka berdua." gumam Max sambil memandangi Velove yang masih tidur.
Setelah menutup telepon Justin berjalan kasar menuju sofa dengan suasana hati yang kesal, kemudian dia menghempaskan tubuh kecilnya untuk duduk.
'"Bruuggh, Daddy sangat menyebalkan. Awas saja nanti akan aku adukan ke Momy." gumam Justin di sofa. Nyonya Glover pun geleng-geleng kepala melihat cucunya.
"Sepertinya tidak ada orang yang bisa mengalahkan sifat cucu ku ini nanti. Aku pun tidak bisa berkata keras padanya, karena aku terlalu menyayanginya." ucap Nyonya Glover dalam hati.
Setengah jam kemudian Luis dan Marvin sampai juga di Mansion dengan banyak pengawal di belakangnya. Justin yang mendengar pun langsung berlari keluar untuk memastikan siapa yang datang.
"Uncle kenapa kalian lama sekali, aku sudah bosan menunggu. Ayo cepat antar aku ke rumah sakit." ucap Justin dengan keras membuat Luis dan Marvin saling berpandangan sesaat.
Kemudian dari dalam keluarlah Nyonya Glover dan Felicia.
"Justin apa kamu tidak menunggu Grandma dan kakakmu?" tegur Nyonya Glover dari belakang.
Justin mendengus kesal karena ucapan Grandma-nya terdengar dengan nada tinggi. Justin pun langsung diam, dia menunduk sambil memainkan ujung kaosnya. Nyonya Glover melihat kalau cucunya terlihat sedih karena memang dia sengaja meninggikan nada suaranya untuk menegur Justin.
Kemudian Nyonya Glover menghampiri Justin, lalu dia menasehati cucunya itu dengan ucapan yang lembut.
"Sayang, maafkan Grandma. Tadi Grandma tidak bermaksud membentak kamu. Tetapi Grandma mohon kalau kamu harus sopan kepada orang tua ya nak. Tidak boleh bersikap seperti itu. Pasti momy mu juga akan bersikap sama seperti Grandma jika melihat sikap mu yang seperti ini. Mengerti kan?"
"Iya Grandma Justin minta maaf. Justin tidak akan mengulanginya lagi." jawab Justin pelan.
"Good boy, cucu Grandma harus jadi anak yang baik.! Baiklah ayo kita berangkat sekarang."
Setelah menasehati cucunya, Nyonya Glover menggandeng tangan Felicia dan Justin untuk menuju ke rumah sakit, dan Justin masih dengan wajah cemberutnya.
**JANGAN LUPA LIKE LIKE LIKE SETELAH MEMBACA YA DEARS👍👍😘
BUNGA KOPI JANGAN LUPA☕🌹
__ADS_1
TERIMA KASIH😍🥰😘**