
Malam hari pun tiba, Max mulai mempersiapkan makan malam untuk Velove. Dia membawa nampan berisi makanan berserta obat untuk kekasihnya. Max pun membangunkan Velove dengan suara pelan.
"Love bangun, makan malam dulu nanti minum obat."
Velove bangun mendengar suara Max yang memanggilnya. Dia melihat Max yang tersenyum ke arahnya sambil memegangi sesuatu di tangannya.
"Bangun Love makan malam sudah siap, dan waktunya minum obat."
Velove pun berusaha untuk bangun namun masih kesulitan. Max dengan cepat membantu Velove untuk duduk. Setelah Velove duduk dengan baik Max langsung menyendok makanan yang di bawanya lalu menyuapi Velove. Velove menerima suapan dari Max, dia membuka mulut dan mengunyahnya pelan.
"Makan yang banyak sayang, agar kamu cepat pulih dan segera pulang." ucap Max dia terus menyuapi Velove dengan penuh perhatian.
"Max aku ingin laptop ku." kata Velove dengan wajah sendunya.
Max pun sedikit kaget dengan permintaan Velove. Di saat kondisinya yang belum stabil dia justru memikirkan tentang laptopnya.
"Apa? Laptop ? Kamu mau ngapain Love? Lebih baik sekarang kamu fokus dengan kesehatanmu ya." protes Max pada Velove.
Bukan Velove namanya kalau tidak membantah. Dia tetap bersikeras meminta laptopnya.
"Aku ingin laptop ku Max, please berikan aku sebuah laptop. Kalau kamu tidak mau menuruti permintaan ku, simpan saja makanan dan obat itu aku tidak mau makan." ucap Velove ketus dengan nada mengancam.
"Love jangan membantah oke!!! Sekarang makanlah. Ayo buka mulutmu." perintah Max pada Velove. Namun, Velove justru menutup mulutnya dengan kedua tangan dan menggelengkan kepalanya.
"Oh Tuhan, berikanlah aku kesabaran yang kuat untuk menghadapi kedua makhluk mu ini. Ibu dan anak benar-benar mirip sifatnya. Sangat keras kepala." gumam Max dalam hati.
Max menyerah dia tau kalau tidak akan mampu melawan Velove. Dia pun langsung menelepon Luis untuk mengambil laptop dan membawanya ke rumah sakit.
"Sudah, aku sudah perintahkan Luis untuk mengambil laptop mu. Sekarang ayo buka mulutmu dan makan." ucap Max sedikit kesal.
Akhirnya Velove membuka mulutnya dengan tersenyum tanpa dosa ke pria yang ada di depannya itu. Kemudian Velove menerima suapan demi suapan dari Max. Max memandang wanita cantik yang ada di depannya itu dengan tatapan penuh arti.
"What??? Beraninya kamu menatap ku seperti itu Max." ucap Velove dengan memalingkan wajahnya.
"Aku mempunyai segudang pertanyaan untukmu Love!!" jawab Max dengan nada serius.
__ADS_1
"Pertanyaan apa? bukankah kita tidak ada masalah apapun?" sahut Velove dengan santai.
Max yang merasa dirinya di abaikan oleh Velove mulai kesal. Dia menaruh mangkok yang di pegangnya ke meja dan berdiri dari tempat duduknya lalu merengkuh Velove kedalam pelukannya.
"Love aku ingin kamu jujur padaku soal jati dirimu, setiap masalahmu, rahasiamu, dan semuanya. Aku ingin tau semuanya Love tentang kamu, tentang Justin tanpa ada yang terlewat. Bisakah kamu ceritakan itu padaku Love? Please!!!"
Velove tertegun sejenak dalam pelukan Max, dia mencerna semua omongan Max. Velove berpikir, mungkin semua omongan Max itu benar. Kemudian dia mendorong pelan tubuh Max mundur ke belakang.
"Stop, kamu mau membuatku berhenti bernapas? Karena aku sudah memutuskan untuk mempercayakan semua dengan mu, aku menceritakan semuanya padamu Max. Ajukan lah pertanyaan apa yang ingin kamu ketahui jawabannya."ucap Velove dengan wajah yang serius.
Max kembali duduk setelah mendapat jawaban dari Velove, dan dia mulai mengajukan pertanyaan yang membuatnya sangat penasaran.
"Sejak kapan kamu menjadi seorang Hacker Love?"
"Sejak aku berumur 20 tahun Max. Sejak daddy meninggalkanku sendirian di dunia ini. Aku menggeluti dan mempelajari semua yang berkaitan tentang IT, dan hal itu berkembang sampai saat ini." jawab Velove dengan santai.
"Jadi sejak pertama kali kita bertemu kamu adalah Hacker misterius yang di bicarakan semua orang itu Love? Apa kamu juga yang membongkar perdagangan senjata ilegal dan obat terlarang di kota New York waktu itu?" sahut Max.
"Yeah, itu aku. Why??? apa ada masalah?"
"Satu lagi Love sejak kapan kamu bergabung dengan aliansi yang berbahaya itu. Kamu tau itu bisa membahayakan nyawamu Love."
Velove membelalakkan matanya mendengar pertanyaan Max. Pertanyaan yang mampu membuat napasnya sesak. Pertanyaan yang membuat hatinya sakit. Pertanyaan yang membuatnya harga dirinya terinjak-injak selama bertahun-tahun dan membuatnya jauh dari putra yang sangat disayanginya itu. Velove menundukkan kepalanya dan diam. Dia mengumpulkan kekuatan untuk menjawab pertanyaan Max kali ini.
"Love jawab aku!!!"
"Max kamu tau alasanku meninggalkanmu pada waktu itu apa? karena aku tidak mau menjadi kelemahan untukmu menghadapi Dragon Empire sialan itu. Tetapi, setelah aku pergi darimu masalah baru menimpaku. Dua bulan setelah aku pulang ke New York Justin hadir di dalam kehidupanku. Aku hamil Max, aku hamil putra kita. Kemudian aku memutuskan untuk merawat dan menjaga malaikat kecilku sendiri, karena aku tidak mau masalah baru muncul di kehidupanmu. Maka dari itu aku memutuskan untuk sembunyi darimu selama 7 tahun ini."
Max terkejut mendengar cerita Velove. Dia tidak menyangka hal sebesar itu bisa di sembunyikannya secara rapi.
"Kamu kejam Love. Kamu tega menyiksaku selama bertahun-tahun. Aku hampir gila saat aku tau kamu pergi, dan aku hampir menyerah disaat aku tidak bisa menemukanmu. Aku sudah berkeliling bar dan cafe seluruh Amerika hanya untuk mencarimu Love, tetapi tidak pernah ada hasilnya." ucap Max dengan nada marah.
"Kamu tidak akan bisa menemukanku Max karena aku menyembunyikan identitas ku. Sejak aku hamil, aku putuskan untuk berhenti berkerja di dunia malam. Aku ingin merawat dan menjaga kehamilanku dengan baik. Aku pun memutuskan untuk mengikuti kegiatan di sebuah panti asuhan demi bisa menjadi ibu yang baik dan tau cara merawat anak. Hal itu berlanjut sampai Justin lahir ke dunia. Justin memberi warna baru dalam hidupku setelah kamu Max. Aku sangat bahagia ketika Justin ada di setiap hariku, mengusir kesepian ku, membuat bahagia di hatiku. Namun, hal itu tidak berlangsung lama."
"Disaat Justin berumur satu tahun, dia di culik oleh seseorang dan parahnya aku kesulitan menemukannya pada waktu itu. Aku sudah melacak semuanya namun sangat sulit sekali menerobos masuk ke dalam akun penculik itu. Aku hampir gila Max, aku pikir akan kehilangan Justin."
__ADS_1
" Dua hari kemudian aku mendapat sebuah notif, dan notif itu berisi tentang lokasi dimana Justin di culik. Aku segera bergegas pergi untuk menyelamatkan Justin dan sesampainya disana Justin dalam keadaan yang memprihatinkan. Dia menangis di tempat yang gelap dan tubuhnya penuh lebam bekas cubitan tangan si penculik. Aku ingin marah tetapi mereka mengancam ku dengan ingin membunuh Justin. Aku tidak bisa berbuat apa-apa Max, disaat aku tidak ingin menjadi kelemahan mu justru Justin lah yang menjadi kelemahan ku."
" Akhirnya aku menuruti keinginan mereka yang ingin menjadikanku anggota dari aliansi rahasia. Meski aku tahu pekerjaan itu sangat berbahaya dan nyawa juga menjadi taruhannya. Disetiap aku ingin menolak misi mereka menggunakan Justin untuk melemahkanku, dan yang kubisa hanya menuruti mereka sampai hal itu berlangsung hingga sekarang."
"Makanya aku ingin laptop ku Max, karena aku ingin melihat semua data ku masih aman atau tidak karena aku mempunyai kartu As dari Dragon Empire sialan itu. Aku ingin menghancurkan mereka dan membunuh ketua menjijikan itu. Aku bisa menghancurkan mereka dengan sekali tekan tetapi aku butuh dukungan mu Max. Aku butuh anggota untuk melawan mereka."
Max berdiri dan memeluk Velove lagi. Dia membelai rambut wanita yang dicintainya itu.
"Kita lakukan itu bersama Love. Bergabunglah dengan klan ku jadilah QUEEN di BLACK PEARL. Kamu bisa memerintah semua orang yang ada di klan ku sesuai keinginanmu Love. Berjuanglah untuk sembuh, karena aku juga ingin mematahkan leher si brengsek itu. Dia sudah berani menyentuh tubuhmu di depan mataku."
Max melepaskan pelukannya dan dia memandang wajah Velove dengan seksama. Mata Max tertuju pada bibir manis Velove. Max pun memegang wajah Velove, kemudian dia mencium bibir manis yang sudah menjadi candunya itu. Semakin lama semakin dalam Max mema@gut bibir Velove, menyes@p dan bertukar lidah satu sama lain. Saling menikmati setiap *****@n demi lum@tan dari kedua belah pihak, dan Max merebahkan tubuh Velove perlahan. Ciuman itu masih berlangsung, kini Velove mengalungkan tangannya ke leher Max yang masih mencumbuunya itu. Ketika Max melepaskan ciumannya dan dia kini mengarah ke bagian kesukaanya dan bagian sensitif Velove. Max membenamkan wajah ke ceruk leher Velove dia menciumi seluruh leher itu dan sesekali menyematkan tanda kissmark disana, dan disaat hal itu berlangsung tiba-tiba Luis masuk tanpa mengetuk pintu.
"Tuan ini laptop yang anda ingin.....kan."
Max dan Velove pun kaget mendengar suara Luis, dengan cepat Max mengakhiri aksinya itu dan memelotototi Luis yang berdiri terpaku di depan pintu. Max turun dari ranjang dan menghampiri Luis dengan wajah yang menyeramkan, kemudian Max mengambil laptop dari tangan Luis dan mengatakan sesuatu pada asistennya itu.
"Kamu pilih aku pecat atau ku potong dua kali lipat bonusmu?" ucap Max pada Luis.
"Maafkan saya Tuan, saya tidak sengaja. Saya tidak ingin di pecat dan juga tidak ingin anda memotong bonus saya." jawab Luis dengan ketakutan dan memohon pada Max.
"Cepat pergi dari sini, sebelum aku berubah pikiran."
"Ba-baik Tuan saya permisi dulu." sahut Luis keluar dari ruangan.
"Shiitt, mengganggu suasana saja. Ingin sekali aku menendangnya." umpat Max dalam hati
Velove pun tertawa melihat ekspresi kesal Max.
HAI READER SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN YA BUAT SEMUA YANG BACA NOVEL OTHORπ₯°π₯°πππ
TERIMA KASIH BUAT KALIAN YANG SUDAH BACA NUPEL HALU OTHOR INI YA...SEMOGA AMAL IBADAH KITA DI TERIMA OLEH ALLAH DAN SEMOGA KITA SELALU DAPAT KEBERKAHAN DI DALAM HIDUP KITA. AMIINNN
JANGAN LUPA LIKE NYA YA READERS.π₯°π₯°ππππ
__ADS_1