My Strong Woman

My Strong Woman
MY ANGEL


__ADS_3

Pagi yang cerah telah tiba, matahari yang sudah menampakkan sinarnya pun tak mampu membangunkan dua insan yang sedang memadu cinta. Tanpa rasa bosan dua sejoli itu melakukan suatu hal yang membuat jiwa mereka melayang.


Max masih tertidur dengan memeluk istrinya. Dingin AC yang keluar dari mesin penyejuk itu tak membuatnya bangun. Hanya Velove yang merasa kedinginan, dia menggeliatkan badannya dan melepaskan pelukan suaminya. Namun, Max menarik kembali tubuh Velove dalam pelukannya.


"Max aku kedinginan, aku mau pakai baju."


"No, jangan pergi Love, biarkan aku yang menghangatkan mu."


Max tidak membiarkan istrinya pergi. Dia terus memeluk bahkan sangat erat hingga paha Velove merasakan sesuatu keras yang sudah bangun. Mata Velove melotot merasakan gesekan benda keras di pahanya.


"Max hentikan, please."


"Itu otomatis Love, tidakkah kamu melihatnya?" jawab Max santai.


"Kalau begitu lepaskan pelukanmu Max, aku mau bangun. Bisa bahaya kalau seperti ini terus."


"Apa yang berbahaya sayang, justru benda ini selalu memuaskan mu. Love sepertinya aku harus menuntaskan sesuatu." ucap Max dia membuka matanya dan tersenyum menyeringai ke arah istrinya.


"No Max No, tadi malam kamu sudah menghajar ku dua kali. Badanku ingin rontok Max." teriak Velove menolak ajakan Max.


"Love bagaimana aku mengatasi ini jika tidak bersamamu, mau ya."


Tanpa persetujuan dari istrinya Max langsung menyambar bibir manis Velove yang sudah menjadi candu baginya. Max terus menciumi seluruh tubuh Velove yang masih polos tanpa sehelai benang. Bahkan tanda kissmark sudah memenuhi seluruh dada dan perut istrinya karena Max tidak melewatkan sedikitpun bagian tubuh yang belum tertanda. Velove hanya bisa pasrah karena dia belum bisa pergi kemana pun.


Akhirnya Max melakukan penyatuan panas di pagi itu, tanpa jeda Max terus menggempur istrinya yang sudah kelelahan. Karena durasi yang dia mainkan tidak bisa cepat, jadi semuanya harus sesuai dengan staminanya.


Setengah jam sudah membuat Velove tak berdaya. Max pun terpaksa mengakhiri pemainannya karena kasihan melihat istrinya yang sudah tak berdaya.


"Love, Maaf sudah membuatmu kelelahan. Aku mencintaimu."


Max masih menindih tubuh istrinya, dia masih membiarkan juniornya menebar benih di dalam ruang indah istrinya. Setelah lima menit Max beranjak dari tubuh Velove. Kini dia berinisiatif membantu istrinya untum membersihkan badannya. Max menggendong Velove menuju ke kamar mandi. Kemudian dia memandikan istrinya karena siang nanti mereka harus pergi ke butik untuk fitting gaun pengantin.


Setelah hampir satu jam, Max keluar dari kamar mandi dengan masih menggendong sang istri. Velove hanya diam tak berbicara karena kesal dengan sikap Max yang menyiksanya tanpa ampun. Max jadi bingung ketika Velove sedang marah. Jadi dia tidak berani untuk menggoda Velove yang sedang dalam mode diam.


Max menurunkan tubuh istrinya duduk di depan meja rias. Dia langsung mengambil hair dryer dan mengeringkan rambut Velove yang basah. Velove terus diam hingga membuat Max tak tahan. Akhirnya Max membuka suaranya dan meminta maaf kepada Velove.


"Love please maafkan aku okey, jangan mendiamkan ku seperti ini." rengek Max kepada Velove.

__ADS_1


Velove tetap mengabaikan ucapan suaminya itu. Dia benar-benar sangat kesal. Kemudian datanglah Justin yang sudah pulang dari sekolahnya.


"Mommy, mommy," Justin masuk kedalam kamar Max dengan tergesa-gesa. Velove menoleh ke arah pintu kemudian Justin mengajaknya untuk segera pergi.


"Mommy, kata grandma. Kita harus pergi sekarang. Tadi pagi Grandma sudah bilang kalau aku pulang sekolah boleh menyusulnya. Ayo Mom, Daddy ayo kita pergi.


"Sebentar boy, Daddy harus melayani Mommy dulu. Kamu lihat lah bagaimana Mommy sekarang."


Justin menutup mulutnya, dia terkejut melihat wajah Velove yang sedang cemberut. Kemudian Justin langsung mundur dan tidak berani berkata lagi. Dia sudah tau sifat Mommy-nya kalau sedang badmood. Kemudian Justin memilih pergi dari kamar Mommy-nya untuk mencari aman.


Setelah mengeringkan rambut Velove, Max mencoba membujuk lagi istrinya. Kini dia harus berjuang keras jika Velove sudah menunjukkan tanduknya.


"Love Maaf ya, aku janji tidak akan memaksamu lagi lain waktu. Jangan diami aku seperti ini." Velove tetap diam tak merespon, dia ingin lihat segigih apa Max membujuknya.


"Love aku mu melakukan apapun, asal kamu mau memaafkan aku."


"Sungguh?" sahut Velove singkat.


"Yeah apapun itu Love."


Max terkejut mendengar Velove berkata demikian. Tapi keputusan istrinya itu mutlak tanpa bisa di ganggu gugat.


"Aku tidak suka cara pemaksaan mu Max, aku ini istrimu bukan pel@curmu."


Max seperti tertampar mendengar ungkapan serius dari mulut Velove. Dia hanya bisa pasrah menerima keputusan yang istrinya buat.


"Baiklah Love aku mengerti, aku janji aku tidak akan menyentuhmu sampai kamu benar-benar pulih. Senyum dong sayang."


"Sudahlah ayo kita cepat pergi ke butik. Mom mungkin sedang menunggu."


"Ayo, hati-hati sayang."


Max memapah istrinya keluar dari kamar. Kemudian dia mengajak Justin ke butik tempat mereka fitting baju pengantin. Max melajukan mobilnya menuju ke pusat kota. Butik itu telah menjadi langganan dari keluarga Glover secara turun temurun dan Nyonya Glover telah mempersiapkan pernikahan spesial untuk menantu kesayangannya itu.


Kurang lebih dua puluh menit Max sampai di gedung bertingkat tinggi. Butik itu berada di lantai tiga puluh. Max turun bersama Velove di ikuti Justin dari belakang. Mereka pun langsung menuju ke lantai tiga puluh.


Di dalam sana Nyonya Glover dan Tuan Ander sudah lama menunggu putra, menantu, dan cucunya. Mereka sangat kesal sekali karena sudah menunggu terlalu lama dan akhirnya dari luar terdengar suara bel pintu. Pelayan segera membukakan pintu untuk Max dan Velove.

__ADS_1


"Akhirnya datang juga, Mom sudah sangat capek menunggu kalian."


"Sorry Mom ada sedikit masalah tadi." ucap Max sambil melirik istrinya yang tetap cuek.


"Ayo sayang cepat coba gaun mu." Nyonya Glover mengajak Velove ke ruang fitting.


"Daddy, bukankah sangat menyeramkan jika Mommy sedang marah?" celetuk Justin menggoda Max.


"Daddy sudah tau boy, Mommy mu itu wanita yang sangat sulit di taklukkan."


Tak berselang lama Velove telah mencoba gaun pengantinnya, kini dia bersiap untuk keluar dari ruang fitting. Nyonya Glover membuka tirai yang menutupi ruang fitting.


SRREETTT!


Velove keluar menjelma menjadi wanita yang sangat cantik, gaun pengantin berwarna putih itu sangat cocok di tubuhnya. Gaun pengantin yang bertabur hiasan mutiara murni itu di desain khusus oleh Nyonya Glover sendiri.


Max terpana melihat kecantikan istrinya. Bahkan dia sampai tak berkedip memandang istrinya.


"Mommy, Mommy cantik sekali." seru Justin gembira.


Max berjalan mendekati Velove yang tampak tersipu karena gaun feminim itu. Velove juga masih tidak percaya kalau dirinya akan menikah dan memakai gaun pengantin yang indah.


"Love kamu sangat memukau. Beruntungnya aku bisa memilikimu."


Velove tersenyum tipis mendengar pujian suaminya. Setelah mencoba gaun Velove memutuskan untuk berganti dengan gaun pesta. Jadi gaun ini akan di pakai ketika menjalani resepsi di gedung.


Velove masuk ke dalam ruang fitting dan mencoba gaun yang lainnya. Setelah selesai Velove keluar lagi dan gaun yang ini pun tak kalah memukaunya. Tubuhnya yang ramping dan bodynya yang sangat ideal, membuat baju apapun terlihat pantas untuk dipakainya.


Setelah mencoba semua gaun, Velove mengakhiri fitting hari ini. Dia sudah sangat kelelahan sekali dan merasa tak enak badan. Melihat istrinya sangat kelelahan Max membawa Velove untuk pulang agar bisa beristirahat. Max terlihat menyesal karena sudah terlalu over kepada istrinya itu.


...bersambung...


JANGAN LUPA LIKE SETELAH MEMBACA YA


HADIAH BUAT OTHOR JUGA


TERIMA KASIH😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2