
Setelah pergulatan panasnya tadi Max dan Velove memutuskan untuk mandi bersama. Max sangat bahagia dengan inisiatif dan kejutan di pagi ini. Bibir Max terus mengulas senyum menatap liar Velove yang sedang berganti baju.
"Tolong kondisikan matamu Max." Velove merasa risih Max memandangnya dengan senyum-senyum seperti itu.
"Why, babe? Aku hanya suka mengingat adegan liar mu tadi."
Wajah Velove memerah di goda suaminya.
Velove bersikap cuek kemudian mendorong kasar tubuh Max ke ranjang hingga terlentang.
"Lupakan adegan tadi bodoh."
Max yang gemas dengan sikap malu-malu istrinya itu sengaja menarik tangan yang di gunakan untuk mendorongnya hingga Velove jatuh di atas tubuh Max yang belum memakai baju. Velove memberontak ingin bangun tetapi di cekal oleh Max.
"Mau kemana sayang? Bukankah kamu sangat suka berada diatas ku seperti tadi!"
"Lupakan kejadian tadi pria bodoh!" teriak Velove sambil memukul dada Max.
Max tergelak melihat istrinya salah tingkah, Max semakin semangat menggoda Velove. Dia tidak melepaskan pelukannya meskipun Velove berontak sekuat tenaga. Max justru menghujani wajah Velove dengan ciuman.
"Max lepaskan aku. Max kamu dengar apa tidak?"
"Hahaha. Aku tidak mendengarnya sayang." ucap Max tertawa menggoda istrinya.
Max dan Velove bercanda hingga tak terasa sudah waktunya untuk berangkat ke New York. Terdengar dari luar Justin mengetuk pintu dengan berteriak keras.
"Mommy, Daddy kalian sedang apa kenapa lama sekali di dalam kamar?"
Velove yang mendengar suara Justin yang memanggilnya langsung gugup dan Max segera melepaskannya. Velove segera membukakan pintu buat Justin.
CEKLEEKK!
Masuklah Justin dengan berkacak pinggang dan bibir mengerucut melihat Mom and Dad nya secara bergantian.
"Morning my sweety!" sapa Velove pada Justin dengan mencubit kedua pipinya.
"Mommy , Daddy, apa yang kalian lakukan sejak pagi? Kenapa kalian belum bersiap-siap."
Velove memandang sinis ke arah Max dan Max memandang Velove dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Sayang Mommy sudah bersiap kok, tinggal keluar saja tadi tapi keburu kamu masuk ke dalam."
Justin masih dengan tampang kecurigaannya. Dia pun melontarkan berbagai pertanyaan kepada Mom and Dad nya.
"Aku dengar dari luar tadi, Daddy tertawa sangat keras sekali kalian sedang bersenang-senang tanpa aku?"
Velove semakin heran dengan sikap Justin tumben sekali dia merasa cemburu kepada Daddy-nya. Kemudian Max menjawab pertanyaan putranya. Dia menjelaskan tentang apa yang terjadi.
"Boy, Dad and Mom hanya bercanda kecil saja. Mommy mu sangat lucu pagi ini. Lihatlah wajah Mommy bukankah begitu menggemaskan?"
Velove melotot ke arah Max, karena masih saja menggodanya. Justin juga senang melihat wajah malu Mommy-nya karena selama ini dia belum pernah melihat wajah Velove yang santai. Selama bertahun-tahun Velove hidup dengan wajah yang serius dan bengis.
"Oke aku turut senang jika Mommy sedang bahagia, tetapi jangan lupakan Justin Mom, sudah beberapa hari ini Mommy tidak menemaniku tidur."
Velove sadar sudah beberapa hari ini dia memang jarang menemani putranya tidur karena dia sudah pergi tidur duluan.
__ADS_1
"Maafkan Mommy sayang, Mom juga bingung hari-hari ini Mommy lebih suka tidur. Rasanya sangat mengantuk sekali."
"Yeah aku tau, Mommy sudah tertidur ketika aku naik ke atas. Ya sudah sekarang sudah waktunya kita pergi Mom Dad bersiaplah."
Setelah menyuruh orangtuanya bersiap Justin langsung turun ke bawah. Kemudian Velove segera bersiap-siap membawa barang pentingnya.
"Love." panggil Max.
"Jangan banyak bicara Max cepatlah bersiap." sahut Velove ketus.
Setengah jam kemudian Max dan Velove segera menuju ke bawah membawa dua koper besarnya. Dengan pakaian serba hitam dan dengan kaca mata hitam pula Max dan Velove berjalan beriringan. Di depan sudah ada Luis dan Marvin yang sudah menunggu. Max ke New York membawa sebagian anak buahnya untuk berjaga demi keamanan semua yang ada disana nanti.
"Max kamu duluan saja aku mau semobil dengan Mom dan anak-anak." ucap Velove.
"Baiklah Love biar aku semobil dengan Dad."
Setelah semuanya siap, seluruh anggota keluarga Glover segera berangkat menuju ke bandara. Puluhan mobil berjalan mengikuti mobil Max dari belakang.
Max semobil dengan Daddy-nya. Tuan Ander memberikan beberapa pertanyaan kepada putranya. Karena sejak dia bertemu Max, Tuan Ander belum banyak berkomunikasi dengan sang putra.
"Max apa kamu membenci Daddy?"
Max menoleh Daddy-nya.
"No, aku tidak pernah membencimu Dad. Karena Mom selalu menceritakan semua hal tentang Dad."
"Ya dan sekarang Dad merasa sangat menyesal telah melewatkan masa-masa yang manis di antara kita."
"Sudahlah Dad, jangan bersedih di hari bahagiaku. Daddy bisa mencurahkan kasih sayang yang hilang itu kepada Justin dan Felicia. Karena mereka berdua juga hidup dengan kurang kasih sayang."
"Terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk membayar semua kesalahan Dad dulu Max."
"Daddy tidak berhutang apapun denganku. Jadi Dad tidak perlu membayar apapun."
"Ya kamu benar."
Tuan Ander menganggukkan kepalanya. Dalam hatinya sangat senang sekali melihat orang-orang yang disayanginya hidup bahagia.
Perjalanan ke bandara membutuhkan waktu selama empat puluh menit. Semua orang kini telah keluar dari mobil dan melakukan check in. Max berjalan duluan untuk mengecek pesawat yang akan dia naiki.
Sedangkan Velove beserta mertua dan anaknya mengikuti Max dengan berjalan pelan dari belakang. Max telah sampai dulu di pesawat, dia juga sudah mengecek kondisi dalam pesawat. Kini dia duduk menunggu istri dan anaknya.
Dari jauh Velove berjalan dengan menggandeng Justin dan Felicia. Velove berjalan dengan cool membuat Max selalu terpana dengan gaya elegan istrinya. Setelah itu Velove dan mertuanya sampai juga di pesawat. Kemudian mereka semua masuk dan lima belas menit kemudian pesawat take off dan terbang menuju ke New York.
Di dalam pesawat Max duduk bersebelahan dengan istrinya. Wajah Velove tampak lelah dan Max menyuruh istrinya untuk istirahat sebentar.
"Tidurlah Honey, agar energi yang kamu keluarkan tadi pagi terkumpul kembali."
"Ck jangan mulai lagi Max atau ku pukul kamu."
Velove menyandarkan kepalanya di lengan kekar Max. Sesekali Max mencium ujung kepala Velove dengan penuh kelembutan. Perjalanan menuju ke New York membutuhkan waktu yang cukup lama. Jadi semua orang menggunakan waktu itu untuk tidur sejenak.
Setelah beberapa jam pesawat telah landing di bandara JOHN F. KENNDY. Max mulai membangunkan istrinya. Max sedikit kesal karena sekarang sulit sekali membangunkan istrinya itu ketika tidur pulas.
"Love bangun sayang, kita sudah sampai."
__ADS_1
"Emmm, aku masih sangat mengantuk Max."
"Iya kita turun dulu, nanti lanjutkan kembali tidurmu. Aku sudah menyewa sebuah rumah disini."
Velove pun terpaksa bangun dia membuka paksa matanya dan beranjak dari tempat duduknya. Velove berjalan dengan malas di pelukan suaminya.
"Max aku lapar."
"Ya setelah ini nanti kita pergi makan siang."
"Aku ingin makan makanan Asia, dan juga aku ingin minum lemon ice."
"Iya sesuai permintaanmu sayang."
Max membawa istri dan semua keluarganya menuju ke rumah yang sudah dia sewa untuk tempat tinggalnya sementara. Karena pernikahan akan dilaksanakan di gereja Manhattan. Dimana gereja itu menjadi saksi hidup Velove di masa kecil hingga lahirnya Justin.
Semua orang sudah menaiki mobil untuk segera menuju ke restoran yang menghidangkan makanan Asia. Max semobil dengan istrinya, karena dari tadi Velove tidak mau melepaskan lengan Max. Matanya selalu terpejam ketika sedang bersandar. Velove berkata dia sangat menyukai aroma tubuh Max.
Setelah lima belas menit Max menemukan restoran Asia tak jauh dari lokasi bandara. Max keluar dan Velove masih bergelayut di lengan suaminya. Max tak mau menegur istrinya, karena jarang sekali Velove bersikap manja terhadapnya.
Velove mulai melepaskan tangannya ketika sudah masuk ke dalam restoran. Max memesan banyak makanan untuk semua orang. Velove bahkan sudah tidak sabar untuk makan karena dia sudah sangat lapar sekali.
"Max buatkan aku lemon ice tanpa gula. Cepat."
"Iya sayang tadi kan sudah ditulis pelayan tunggu sebentar ya!"
"No, aku mau kamu yang buat. Aku tidak mau buatan pelayan."
"Tapi Love ini restoran bukan rumah kita."
"Oh okey fine, kalau kamu tidak mau. Aku tidak jadi makan. Mending aku pergi saja dari sini." ucap Velove beranjak pergi dari tempat duduknya.
"Stop, kembali duduk akan aku buatkan lemon ice untukmu."
Max segera pergi ke dapur untuk membuatkan minuman untuk istrinya. Sedangkan Velove menunggu dengan perasaan yang sedikit kesal. Di meja lain Nyonya Glover memperhatikan sikap menantunya yang tidak biasa.
Lima menit kemudian Max keluar dengan membawa segelas lemon ice di tangannya. Dia berjalan menuju ke meja Velove. Dia melihat sang istri yang tampak lesu menunggu pesanannya.
"Ini minumannya sayang,".
Velove tersenyum senang seperti anak kecil yang mendapat sebuah hadiah. Velove langsung meminum lemon ice itu dengan penuh kesegaran.
"Emmm segarnya, kamu mau coba Max?"
"No, terima kasih sayang, melihatmu minum saja sudah membuatku senang."
Setelah itu makanan yang di pesan pun datang. Mata Velove berbinar melihat semua hidangan yang ada di depan matanya. Sungguh membuat selera makannya bangun. Tak menunggu lama Velove segera mengeksekusi semua hidangan itu dengan lahapnya. Max heran melihat selera makan Velove yang menurutnya meningkat drastis. Biasanya Velove sangat menjaga pola makannya agar tidak terlalu gendut. Tapi akhir-akhir ini ada yang berubah dari sikap Velove.
...bersambung...
JANGAN LUPA LIKE SETELAH MEMBACA YA DEARS👍🥰
HADIAH JUGA🌹☕
VOTE NYA INI HARI SENIN LIST VOTE SUDAH MUNCUL🥰
TERIMA KASIH🥰😘😍
__ADS_1