My Strong Woman

My Strong Woman
BERKUMPUL KEMBALI


__ADS_3

Velove tengah tertawa bahagia, dan kemudian ada dokter yang masuk ingin memeriksa keadaannya. Max pun mempersilahkan dokter itu untuk memeriksa keadaan Velove.


"Silahkan dokter." ucap Max mengizinkan.


"Baik Tuan Max." jawab dokter itu.


Dokter pun memeriksa keadaan luka Velove. Dia juga mengganti perban yang ada di kaki dan juga tangan dan untuk di bagian dada, Max memilih untuk menggantinya sendiri. Max tidak ingin siapapun melihat tubuh wanitanya.


"Bagaimana keadaan ku dokter?" tanya Velove pada dokter.


"Semuanya baik Nona, luka di tangan dan kaki anda sudah hampir kering." jawab dokter.


"Apakah sudah bisa rawat jalan di rumah Dok?" sahut Max.


"Bisa, tetapi harus tetap dalam pantauan pihak medis." kata Dokter itu.


"Aku ingin pulang sore ini Max."


Max pun bertanya pada dokter " Apa boleh Dok?"


"Boleh, anda harus mengurus semua dokumennya Tuan Max. Kalau begitu saya permisi dulu." jawab Dokter.


Setelah memeriksa Velove dokter itu pun keluar ruangan. Max melihat Velove memancarkan raut wajah senang.


"Sepertinya kamu senang sekali Love?" tanya Max.


"Yeah karena dari dulu aku benci suasana rumah sakit, itu membuatku bosan. Jangan beritahu Justin Max, aku ingin beri kejutan untuknya." seru Velove dengan senang.


"Love aku ingin menanyakan sesuatu padamu."


"Hem, tanyakanlah Max!!" jawab Velove.


Max duduk di kursi samping ranjang Velove. Dia memegang kedua tangan kekasihnya dan menciuminya. Velove penasaran apa yang akan ditanyakan oleh Max.


"Kamu mau menanyakan apa Max?"


"Love aku ingin menikah secepatnya denganmu . Agar aku bisa melindungi mu secara penuh dan aku ingin mengubah nama Justin menjadi nama keluarga ku biar statusnya jelas."


Velove terdiam sejenak, dia berpikir tentang resiko apa yang akan dia hadapi nanti, ketika semua orang tau identitasnya. Kemudian Velove mempunyai sebuah ide.


"Aku mau Max menjadi istrimu tetapi, aku tidak mau mempublikasikan status kita sebelum kamu menghabisi seluruh anggota Dragon Empire. Bagaimana?"


"Jadi kamu tidak ingin status kita diketahui orang lain Love?"


"Ya yang penting kita buat buku nikah, soal pesta atau apapun itu aku tidak menginginkannya Max."


"Bukankah kamu sudah melamar ku tujuh tahun yang lalu Max." ucap Velove sambil menatap lembut pria yang ada di depannya itu.


"Bahkan aku masih menyimpan perhiasan itu Max. Aku selalu menjaga mutiara hitam itu dengan baik." imbuhnya.


Velove masih menatap Max dengan tatapan lembut, dibelai wajah serius itu dengan kedua tangannya, kemudian dengan perlahan Velove memajukan wajahnya mendekati wajah tampan itu dan...


CUUPPP


Sebuah kecupan lembut mendarat di bibir Max. Max yang sadar akan hal itu pun sengaja memperdalam kecupan kekasihnya tapi dengan cepat Velove melepaskan diri dari rengkuhan Max.


"Stop, no more. Kamu masih aku hukum Max" ucap Velove dengan gelak tawa.


Max kesal telah di permainkan oleh Velove. Max memandangi wanitanya itu dengan raut wajah masam.


"Berani-beraninya kamu permainkan aku Love!! Aku bisa berbuat nekat disini, apa kamu mau mencobanya?"


Max berdiri dan mendekati Velove perlahan dia naik ke atas ranjang dan dengan cepat mengunci kedua tangan Velove yang ingin mendorongnya.


"Max apa kamu sudah benar-benar gila? Ini rumah sakit dan tangan ku masih belum pulih. Cepat minggir dari sini." teriak Velove mengusir Max.


Max tidak mempedulikan teriakkan Velove. Justru dia senang melihat kepanikan kekasihnya itu. Max tersenyum menyeringai menatap Velove yang terus memberontak. Di silangkannya tangan Velove kesamping kemudian dia mendekatkan wajahnya, semakin dekat dan semakin dekat, hidung mancung itu pun menyentuh pipi Velove yang sudah memerah. Max mengendus pipi mulus itu, tubuh Velove meremang terkena hembusan napas Max.

__ADS_1


Max kembali menatap Velove dan dia bersiap untuk menyentuh bibir seksi Velove itu dengan bibirnya, semakin dekat dan semakin dekat lagi. Setelah dekat tiba-tiba Max membaringkan tubuhnya di samping Velove dengan gelak tawanya.


"Hahahaha, Love kenapa wajahmu tersipu malu seperti itu? Hahahaha!!! Lucu sekali."


Velove tampak seperti orang bodoh karena berhasil dijahili Max. Velove pun mencubit keras perut Max yang masih belum berhenti tertawa.


AAAWWWW


"Love stop, jangan cubit perutku. Aaaawwww. Stop Love." teriak Max pada Velove yang terus mencubitnya.


"Rasakan, beraninya kamu nengerjaiku pria bodoh." sahut Velove yang masih belum berhenti.


"Okey, okey sorry sayang, sorry, berhentilah."


Max pun menangkap kedua tangan Velove lalu memeluknya dengan erat.


"Stop, biarkan aku memelukmu seperti ini. Sepertinya kamu mulai sehat Love."


"Ya aku sehat dan sebentar lagi aku akan bisa memukulmu Max."


"Ya Ya ya, aku siap Love, kamu apakan aku akan pasrah. Mari kita beristirahat sejenak sebelum berangkat nanti."


"Ciihhh, Awas saja kamu Max."


Tanpa membalas, Max pun berbaring sambil memeluk Velove. Kebahagiannya telah kembali jadi dia berubah menjadi pria penyayang pada umumnya.


SORE HARI


Sore telah tiba, Max masih tertidur dengan memeluk Velove. Terdengar suara ponsel yang berbunyi. Velove pun terbangun karena mendengar dering ponsel Max. Velove pun membangunkan Max dengan suara pelan.


"Max bangun ponselmu berbunyi."


Tak lama kemudian Max pun bangun dia mengambil ponselnya yang ada di meja. Ternyata panggilan itu telepon dari Luis. Max mengangkat panggilan itu, dan Luis mengatakan kalau semuanya sudah siap. Velove bisa keluar sekarang.


"Siapa Max?"


"Kalau begitu sekarang saja Max." seru Velove dengan gembira.


"Yeah aku sudah menyuruh Luis membawa kursi roda kesini. Bersiaplah Love."


Max pun bersiap untuk membawa Velove keluar dari rumah sakit, dan beberapa menit kemudian Luis tiba dengan mendorong sebuah kursi roda.


"Semuanya sudah siap Tuan. Keamanan juga sudah saya perintahkan di semua titik." ucap Luis pada Max.


"Bagus, Ayo Love kamu duduk di kursi roda dulu dan ini masker kamu." ucap Max sambil mengangkat tubuh Velove ke kursi roda.


Setelah duduk di kursi roda Velove segera memakai masker untuk menutupi wajahnya. Sangat berbahaya jika Velove keluar tanpa memakai masker penutup.


Velove keluar dari ruangan dengan memakai topi, dia sangat berhati-hati sekali dengan identitasnya. Max mendorong kursi yang diduduki oleh Velove menuju ke halaman rumah sakit dan diikuti oleh Luis dari belakang.


Diluar sudah ada Marvin dan beberapa anak buah Max yang sudah di tempatkan untuk menjaga kawasan di sekitar rumah sakit. Akhirnya Max sampai juga di halaman, mata Velove melihat keadaan sekitarnya. Dia menangkap beberapa gerak gerik yang mencurigakan.


"Sial, di hari aku keluar pun sudah ada musuh yang mengintai." ucap Velove dalam hati.


Velove pun hanya diam dia berpura-pura tidak tau. Max mengangkat tubuh Velove dari kursi roda untuk masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan. Setelah semua berada di dalam Velove memulai rencananya.


"Luis kita harus cari jalan lain jangan sampai kita melewati jalan yang biasa kalian lewati. Aku ingin jalan yang lebar dan bisa di gunakan untuk memutar balik. Satu lagi jangan beritahu yang lain kalau kita ingin memisahkan diri." ucap Velove dengan serius.


"Ada apa Love, apa kamu melihat sesuatu yang mencurigakan?" tanya Max.


"Kita sudah terkepung Max, hanya ada satu cara yaitu dengan membodohi mereka semua."


"Luis sekarang jalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, kalian semua membawa senjata kan?" tanya Velove kepada mereka.


"Kita selalu membawa senjata masing-masing Love." sahut Max.


"Bagus, Luis dan Marvin siapa diantara kalian yang tau tentang istilah dunia balap?"

__ADS_1


"Kami sedikit tau Nyonya." jawab Marvin.


"Good, kalau begitu Luis kamu tetap mengemudi ikuti arahan ku dan berikan senjata mu padaku. Max, Marvin, tetap pada posisi kalian dan juga siapkan senjata. Kita mulai bermain."


Velove mengarahkan Max dan asistennya untuk mengecoh anak buah Dragon Empire yang ingin menyerang. Luis pun segera memisahkan diri dari anggota lainnya menuju jalan yang diinginkan Velove.


"Dibelakang kita ada tiga mobil. Pasti mobil itu ingin mengepung kita dari depan dan samping. Marvin tugasmu adalah menembak target yang ada di depan, sedangkan aku dan Max akan menembak target dari samping." ucap Velove memberi arahan.


"Love bagaimana dengan tanganmu? Apakah tidak apa-apa." ucap Max khawatir.


"Kamu tenang saja Max, ini biasa terjadi padaku. Kalian tinggal ikuti saja caraku, kita bisa hancurkan mereka dalam satu gerakan." jawab Velove dengan senyum seringai diwajahnya.


"Benar Nyonya ada tiga mobil yang mengikuti kita. Kebetulan di depan ada jalan melingkar jadi bisa digunakan untuk memutar balik." ucap Luis.


"Bagus sekarang tambah kecepatan mobil kita Luis." perintah Velove.


"Baik Nyonya."


"Setelah mereka mengejar, pasti mereka akan berusaha mengepung kita. Jika itu terjadi segera kamu lambatkan laju mobil untuk mengimbangi mereka dan setelah aku bilang mulai, cepat turunkan kaca dan segera tembak ban mobil mereka dengan 2 kali tembakan. Kalian mengerti?"


Max, Luis, dan Marvin mengangguk menerima perintah Velove. Luis pun segera memacu kendaraanya dengan kecepatan tinggi. Tiga mobil yang membuntuti Velove pun panik dan langsung menancapkan gas untuk mengejar mobil Velove yang melaju cepat.


"Kalian semua bersiaplah, aku akan hitung sampai tiga." seru Velove mengarahkan.


ONE


TWO


THREE


MULAI...


Luis segera menurunkan kaca mobil kebawah. Tiga mobil itu sekarang sudah mengepung mobil Velove. Dari samping Max dan Velove segera menembakkan pelurunya ke arah ban mobil musuh.


DOORR


DOORR


CKIIIITTTTTT BRRRAAAAAKKKK


Dua mobil sudah berhenti karena ban mereka pecah akibat peluru Velove dan Max. Kini giliran Marvin. Luis menambah kecepatan mobilnya agar bisa mengimbangi kendaraan yang ada di depannya. Setelah seimbang Marvin segera mengarahkan senjatanya ke ban depan musuh dengan dua tembakan.


DOOORR


DOOORR


BRUUUAAAKKKK


BOOOMMM


Mobil yang di tembak oleh Marvin pun terbalik dan meledak di tempat. Luis langsung memutar balik mobilnya untuk segera pergi dari tempat itu.


"Good job, kalian semua hebat. Aku yakin kita bisa mengalahkan Dragon Empire sialan itu." seru Velove senang dengan keberhasilannya.


"Nyonya hebat sekali, sangat cocok bersanding dengan Tuan." ucap Marvin spontan.


"Woooouwwww. Aduhhh..Ssssssshhhh...Awwwww.." desis Velove memegang lengannya yang sakit.


bersambung...


**JANGAN LUPA BUDAYAKAN LIKE SETELAH MEMBACA YA๐Ÿ‘๐Ÿ‘


HADIAH JUGA BUAT OTHOR๐ŸŒนโ˜•


VOTE NYA YANG BELUM VOTE


TERIMA KASIH**

__ADS_1


__ADS_2