
Tiga hari sudah semenjak Velove sadar dari komanya. Keadaannya sedikit membaik, dia sudah bisa bicara dengan perlahan. Max sedang mengelap tubuh Velove dengan lembut.
"Love ada seseorang yang ingin aku kenalkan kepadamu." ucap Max dengan tangan yang masih mengelap kaki Velove.
"Siapa?"
"Nanti kamu juga bakal tau. Terima kasih Love, karena hadirmu telah membawanya kembali untukku."
"Ck, sialan kamu membuatku penasaran."
Max tersenyum melihat ekspresi kekesalan pada istrinya. Kemudian dari luar terdengar suara langkah kaki Justin yang sedang berlari dengan suara berisiknya.
"Mommy, Mommy." panggil Justin dari luar.
CEKLEK!
"Mommy, Daddy, aku merindukan kalian." teriak Justin berlari ke dalam pelukan Max.
"Justin, Felicia, Mom," sapa Velove kepada semuanya dan berhenti disaat Velove melihat seorang pria yang tengah tersenyum ramah kepadanya.
Velove menoleh ke arah Max untuk meminta sebuah jawaban. Max lagi-lagi tersenyum melihat kebingungan sang istri. Kemudian pelan-pelan Max menjelaskan kepada Velove siapa pria tersebut.
"Dia lah kejutan yang aku bicarakan tadi Love. Dia yang menolong mu ketika berada di dasar jurang dan dia juga yang membawamu ke rumah sakit."
Velove tercengang, dengan refleks langsung mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih anda telah menyelamatkan nyawa saya Tuan." ucap Velove dengan membungkukkan punggungnya.
Tuan Ander pun tersenyum, dia berjalan mendekati menantunya yang belum tau identitasnya.
"Perkenalkan Nak, nama ku Mendy Stevano Anderson." ucap Tuan Ander dengan menjabat tangan Velove.
Velove mengangguk-anggukkan kepalanya dia belum menyadari sesuatu. Kemudian matanya melotot dan menoleh lagi ke arah Tuan Ander, dia memastikan sesuatu. Di tatapnya Tuan Ander kemudian Velove juga menatap wajah Max.
"Anderson? kenapa namanya mirip dengan nama Max dan juga Justin anak saya? wajah kalian juga sedikit mirip." ucap Velove dengan senyuman bingung.
Kemudian Justin menyahut kebingungan Mommy-nya.
"Mommy, jelas kita bertiga mirip. Itu Grandpa ku Mom. Daddy-nya Daddy aku." jelas Justin dengan wajah imutnya.
__ADS_1
"Max kenapa kamu membuat istrimu bingung seperti ini." tegur Tuan Ander kepada Max.
Velove tersenyum bahagia mempunyai keluarga yang lengkap sekarang. Nyonya Glover pun menitikkan air matanya. Felicia yang melihat Grandma-nya menangis pun langsung bertanya.
"Grandma kenapa menangis?" tanya Felicia.
"Grandma sangat bahagia sayang, Grandma bahagia memiliki kalian semua."
"Sayang sudah jangan menangis di hari bahagia ini." Tuan Ander menghibur istrinya.
"Ya sangat di sayangkan, gara-gara kamu menghilang aku hanya mempunyai anak tunggal. Aku kangen menimang seorang bayi."
"Mommy tenang saja setelah Velove sembuh Max akan buatkan bayi yang lucu untuk Mommy. Ya kan sayang!!" ucap Max dengan percaya diri.
Velove menatap kesal ke arah suaminya dan Max justru meneruskan menggoda istrinya.
"Sayang ini permintaan Mommy."
"Justin juga ingin seorang adik Mom, Justin ingin adik perempuan. Biar nanti aku sendiri yang laki-laki di keluarga ini." seru Justin dengan menyilangkan tangan di dada.
"Boleh ya Mommy, please." rengek Justin sambil mengedip-edipkan matanya ke arah Velove.
❤️❤️❤️❤️❤️
Hari berganti hari keadaan Velove semakin membaik dan pada hari ini dia diperbolehkan pulang. Velove sudah meminta pulang di hari-hari kemarin, karena dia sudah bosan berada di rumah sakit terus.
Max berencana kembali ke Jerman siang ini, semuanya telah dia persiapkan. Dari pesawat pribadi dan semua keamanannya. Meski sudah tidak ada musuh tetap harus waspada karena kejadian buruk bisa saja terjadi tanpa suatu pemberitahuan dulu.
Tuan Ander, Nyonya Glover, Felicia, Justin, dan Luis hadir di rumah sakit untuk menjemput Velove. Semuanya masuk ke dalam ruangan Velove.
"Mommy," sapa Justin.
"Hai sayang. Hai semua, Hai Luis. Bagaimana lenganmu apakah sudah sembuh?" tanya Velove kepada Luis.
"Sudah Nyonya muda, Tuan memberikan perawatan terbaik buat saya."
"Bagus, Max kamu harus menaikkan gaji Luis dan Marvin loh! Mereka sudah berjuang dengan sekuat tenaga."
"Hemm Ya ya ya, gaji kalian akan aku naikkan semua." ucap Max datar sambil melirik ke arah Luis.
__ADS_1
"Terima kasih Nyonya, sudah bersedia mengingatkan Tuan Max!!"
"Iya Luis, sama-sama. Aku suka dengan kesetiaan kalian. Jadi semua itu juga pantas. Cepatlah cari jodoh jangan berkerja terus."
"Terima kasih banyak Nyonya telah memperhatikan saya?"
"Iya Luis benar yang di katakan menantuku, carilah jodoh dan kenalkan dulu kepadaku, agar aku bisa memberikan restu padamu." Sahut Nyonya Glover.
"Baik Nyonya besar, kalau sudah bertemu nanti pasti akan saya kenalkan kepada anda."
"Mari kita berangkat sekarang, Marvin berkata semuanya sudah siap."
Setelah melakukan perbincangan Max dan keluarganya berangkat menuju ke bandara. Velove duduk di kursi roda dan didorong oleh Max. Velove selalu mengembangkan senyumnya. Kemudian dia berkata dalam hati.
"Selamat tinggal New York, selamat tinggal Manhattan. Semua kenangan mu tidak akan aku lupakan."
Kemudian Velove dan semuanya naik lalu masuk ke mobil yang sudah berjajar di halaman rumah sakit. Setelah semuanya naik mobil pun segera berangkat menuju ke bandara.
Perjalanan ke bandara tidak memakan waktu lama. Karena letak rumah sakit dan bandara tidaklah terlalu jauh. Kini semuanya telah sampai di bandara, Max menggendong Velove menuju ke dalam pesawat.
"Max, maaf aku selalu merepotkan mu."
"Kamu bicara apa sayang, justru aku bahagia bisa merawat mu. Karena itu bukti kesetiaan ku padamu."
Setelah berjalan selama lima belas menit Max sampai juga di dalam pesawat. Max mendudukkan Velove di kursinya, kemudian dia mengambil selimut untuk menyelimuti istrinya.
"Istirahatlah sayang, perjalanan masih lama. Kamu tidak boleh kecapekan ."
Velove mengangguk pelan kemudian memejamkan matanya. Meski kondisinya sudah membaik, tetap saja dia harus banyak istirahat agar tenaganya cepat pulih.
Max memandangi wajah istrinya yang tertidur, dia sudah tidak sabar sampai di Jerman, karena dia sudah membuat kejutan kecil untuk istrinya tercinta.
...bersambung...
**HAI READERS JANGAN LUPA LIKE👍 SETELAH MEMBACA YA🥰
HADIAH DAN VOTE BUAT OTHOR🥰
TERIMA KASIH😍😘**
__ADS_1