My Strong Woman

My Strong Woman
KEHANGATAN DAN KECEMASAN


__ADS_3

Max terus diam memandang Velove, Max masih mencari jawaban di dalam diamnya. Velove pun membuyarkan lamunan Max.


"Max, Hei, jadi tidak ini nyuapin aku lagi?" ucap Velove protes.


Lalu Max tersadar, dan tatapan sendu Max menusuk tajam ke arah wajah kekasihnya. Velove pun gugup karena Max menatapnya sangat antusias.


"Love aku tidak tau apa yang kamu alami selama 7 tahun ini, tapi aku berharap kamu bisa percaya padaku. Aku akan melindungi mu walaupun nyawa yang menjadi taruhannya."


Velove terdiam dia melihat wajah pria yang ada dihadapannya. Pria yang telah merubah seluruh kehidupannya. Velove melihat ketulusan di dalam mata Max.


"Bodoh... kamu pikir aku mau mengorbankan nyawa orang lain hanya untuk melindungi ku?"


Kemudian Max merengkuh tubuh Velove dan memeluknya erat.


"Jangan pernah pergi dariku lagi Love, sudah cukup kamu menyiksaku selama 7 tahun ini."


Max melepaskan pelukannya dan membelai kedua pipi Velove, kemudian Max meraihnya dan dia mendekatkan bibirnya untuk mencium bibir sensual milik Velove. Namun, tiba tiba pintu terbuka dan.....


"Daddy."


Felicia masuk tanpa mengetuk pintu dan menggagalkan adegan romantis itu.


"OPSSS SORRY." ucap Felicia canggung karena tidak sengaja mengganggu romantic scene daddy-nya.


"No, kedatangan mu sangat tepat waktu cantik." sahut Velove memberi senyum pada Felicia.


Max pun memutar bola matanya lalu mendengus kesal.


Felicia pun mendekat ke arah Velove sambil membawa parcel buah di tangannya.


"Hai, Mom. Bagaimana keadaanmu? Apakah sudah membaik?" tanya Felicia.


"Sudah, terima kasih telah melakukan pertolongan pertama untuk ku." jawab Velove dengan ramah.


"Bolehkah aku memelukmu Mom?" tanya Felicia.

__ADS_1


"Kemari lah nak!!"


Velove merentangkan tangannya untuk memeluk Felicia. Bagi Felicia hal seperti inilah yang dia dambakan selama ini. Dapat pelukan kasih sayang dari seorang ibu. Max pun terharu melihat kebahagiaan putrinya. Max pun ingin juga memeluk kekasih dan juga putrinya itu. Namun, ketika Max mendekatkan diri untuk segera memeluk hal itu justru di hentikan oleh Velove.


"Kamu mau apa Max?" tanya Velove.


"Memeluk kalian berdua."


"No, stop dont hug me okey!!!"


"Love kamu benar-benar wanita kejam, awas saja nanti kamu." Max sangat kesal dengan sikap Velove.


Tiba-tiba pintu kamar pun terbuka dan masuklah Nyonya Glover dengan semua barang bawaannya. Max pun heran melihat tingkah sang ibu yang berlebihan.


"Mom, ada apa dengan semua barang ini?" tanya Max dengan heran.


"Why Max? Ini semua untuk menantuku. Iya kan sayang, Mom sudah menunggu mu bertahun-tahun apalagi anak bodoh ini, dia semakin bodoh sejak kepergian mu."


Velove tersenyum melihat ibunya Max yang mempunyai sifat bar-bar juga.


"Mom juga sangat berterima kasih padamu sayang, berkat kamu cucuku kesayanganku selamat dalam penculikan itu, kamu tau Mom sangat syok dan sedih sekali kemarin. Mungkin ini sudah takdir dari sang Author kalian bisa bertemu dengan kejadian yang seperti ini. Terima kasih Author tercinta." ucap syukur Nyonya Glover.


Velove terkejut, apalagi Max dia langsung menatap Velove dengan mata melotot tajam.


"Kamu dulu hamil kan sayang?"


"Maksud anda apa saya tidak mengerti?"ucap Velove mengalihkan pembicaraan.


"Jadi kamu tidak hamil, berarti dugaan ku salah ya. Aku kira sudah mempunyai seorang cucu lagi. Tapi tidak apa-apa kalian cepat buatkan cucu untuk Mom ya? Kalau bisa baby twins biar rumah kita ramai nantinya. Ahh Momy akan berdoa pada Author agar mengabulkan doaku yang ingin memiliki cucu baby twins." ucap Nyonya Glover dengan penuh harap.


Velove pun heran dengan mertuanya tersebut dan dia langsung ingat kepada Justin. Velove membayangkan seandainya dia bisa berbicara yang sesungguhnya pada mereka semua.


"Mom tenang saja Max akan berusaha semaksimal mungkin membuatkan baby twins buat Mom." sahut Max sambil memeluk Velove.


"Dalam mimpimu." ucap Velove memukul dada Max pelan.

__ADS_1


"Sepertinya kamu di terima di keluarga ini sayang, momy akan berbicara pada mereka jika keadaannya sudah aman." batin Velove.


"Iya Mom buatkan Felic adik yang lucu biar hari-hari ku tidak kesepian." sahut Felix mengikuti permintaan grandma nya.


"Oh God... Hatiku sangat sedih tapi mereka justru membahas soal bayi." ucap Velove dalam hati.


"Sayang kamu kok melamun, apa kamu sudah membayangkan on proses baby twins kita?" tanya Max dengan refleks.


Velove langsung mencubit perut Max dan Max pun menjerit kesakitan.


"Aaawwww, sayang sakit. Kenapa kamu cubit aku?"


"Jadi kamu lebih minta di pukul Max?" jawab Velove sedikit kesal.


"Hahaha. Okey okey aku tidak menggodamu lagi sayang."


Nyonya Glover pun tersenyum bahagia melihat putranya kembali tertawa. Dia sudah lama tidak melihat senyum di wajah putra semata wayangnya itu.


MANHATTAN, NEW YORK.


Seorang anak kecil yang sedang bersedih karena sang Momy yang tidak bisa di hubungi. Justin duduk di teras sambil memandang ke halaman.



"Mom, momy kenapa belum menghubungi Justin. Momy baik-baik saja kan disana?"


Justin mulai khawatir dengan keadaan sang Momy. Perasaannya tidak tenang sekali. Justin pun memanjatkan doa kepada Sang Author.


"Author ku tercinta, Justin mohon lindungilah momy ku dimana pun dia berada. Jauhkanlah dia dari marabahaya, dan pertemukan lah aku dengan daddy ku y Author. Aku ingin sekali bertemu dengan Daddy. Semoga di hari ulang tahunku nanti momy membawakan daddy untuk ku. Kabulkanlah doa Justin y Author."


Justin berdoa kepada Author dengan sangat tulus. Semoga sang Author mendengar doa dari si anak baik ini...


**JANGAN LUPA LIKE LIKE LIKE YA DEARS.๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


HADIAH JUGA YA ๐ŸŒนโ˜•

__ADS_1


TERIMA KASIH...๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


PERSIAPKAN EMOSI KALIAN DI EPISODE SELANJUTNYA YA...๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜**


__ADS_2