
"Love tunggu aku Love!" Max terus mengejar istrinya yang pergi gara-gara kecemburuannya.
"Stop! jangan ikuti aku Max, aku sedang malas denganmu," ucap Velove terus berjalan cepat pergi dari pusat perbelanjaan itu.
Velove terus berlari hingga dia lupa bahwa dirinya tengah mengandung. Sedangkan Max terus mengejar istrinya yang kabur ditengah-tengah keramaian orang. Akhirnya dengan tak sengaja Velove menabrak seseorang yang sedang berlari ke arahnya, dan membuatnya jatuh terlentang.
"Awwww." Velove terlentang di lantai sambil memegangi perutnya.
Max yang melihat istrinya terjatuh pun panik. Dia segera berlari menuju ke tempat Velove terjatuh.
"Love kamu tidak apa-apa sayang? Apa ada yang sakit? Bilang sama aku, jangan membuatku panik." Max terlihat sangat khawatir.
"Perutku sedikit sakit," ucap Velove dengan bibir meringis kesakitan.
"Ayo aku gendong kamu kita ke dokter sekarang." Max menggendong Velove keluar dari tempat itu menuju ke rumah sakit.
Wajah Velove terlihat sangat pucat sekali. Max yang melihat istrinya seperti itu pun sangat khawatir. Dia melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah sakit. Beberapa menit kemudian Max sampai di sebuah rumah sakit. Max keluar mobil dengan tergesa-gesa, kemudian dia cepat menggendong Velove yang semakin lemas di dalam mobil.
Max melihat sedikit darah yang mengalir di kaki istrinya. Ternyata Velove mengalami sedikit pendarahan dan itu membuat Max sangat panik.
"Love bertahanlah, aku mohon jangan terjadi apa-apa denganmu." Max terus berlari sambil menggendong istrinya.
Max masuk ke dalam rumah sakit dan di sambut oleh para petugas kesehatan. Kemudian Velove menuju ke ruang perawatan IGD. Max menunggu di luar dengan cemas, dia berjalan mondar mandir sambil berkacak pinggang.
Setengah jam kemudian dokter keluar dari ruangan. Max langsung menghampiri dokter tersebut dan menanyakan keadaan istrinya.
"Dokter bagaimana keadaan istri saya?" tanya Max dengan paniknya.
"Istri anda tidak ada masalah yang serius, hanya saja butuh istirahat penuh mengingat usia kandungannya yang masih lemah dan rentan terjadi masalah." Dokter menjelaskan secara detail tentang keadaan Velove.
"Bolehkah saya masuk ke dalam dokter?"
__ADS_1
"Boleh silahkan." Dokter mempersilahkan Max untuk masuk ke dalam ruangan.
Sesampainya di dalam Max melihat Velove yang masih belum sadarkan diri. Dia mendekat kemudian memegang tangan Velove dan menciumnya. Tak lama kemudian Velove tersadar dia melihat Max yang sedang cemas sambil menggenggam tangannya.
"Max." Velove memanggil suaminya yang sedang diam memandangnya.
"Apa kamu tau Love kalau aku sangat mengkhawatirkan mu? Apa kamu tidak berpikir kalau sedang mengandung? Kamu berlarian seperti itu tanpa mendengarkan panggilan ku." Max terus berbicara dengan tatapan tajamnya kepada Velove.
"Kamu tadi mengalami pendarahan, dan untung saja keadaanmu tidak apa-apa. Bagaimana kalau tadi terjadi sesuatu denganmu? Aku mohon lain kali jangan bertindak seperti itu, karena aku tidak sanggup jika harus melihatmu terbaring lagi di rumah sakit. Kamu boleh marah denganku tapi jangan melakukan hal yang bisa mengancam nyawamu Love. Apakah kamu mau berjanji denganku?"
Max terus mengungkapkan kekhawatirannya hingga membuat Velove merasa bersalah dan dia pun menitikkan air matanya. Max merasa iba melihat istrinya menangis. Kemudian dia memeluk Velove dan berbicara lembut kepadanya.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Max sambil mengusap air mata Velove.
"Maafkan aku membuatmu khawatir, maafkan aku telah membuat calon baby kita dalam bahaya," jawab Velove lirih.
"Its okey, jangan menangis ya! Sekarang istirahatlah, jangan bersedih lagi." Max terus menguatkan mental istrinya yang hampir down.
Setelah malam hari tiba Velove meminta pulang saja. Dia tidak betah berlama-lama di rumah sakit.
"Baiklah aku urus administrasinya dulu," jawab Max kemudian dia keluar dari ruang perawatan.
Setelah selesai mengurus administrasi Max kembali ke dalam ruangan. Velove sudah bersiap untuk pulang ke hotel. Dokter juga sudah memberikan vitamin dan juga obat penguat kandungan untuk Velove.
Max menuntun istrinya dengan sabar dan sangat perhatian menuju ke mobil. Setelah sampai di mobil, Max melajukan kendaraanya meninggalkan rumah sakit. Di dalam mobil Velove menyandarkan kepalanya sambil memejamkan matanya. Max jadi bingung ingin melanjutkan liburan ini atau pulang ke rumah. Kalau dia melanjutkan liburan ini tentu hal seperti tadi akan sangat beresiko.
Setelah hampir satu jam berkendara Max sampai juga di hotel. Dia turun dari mobilnya kemudian menggendong Velove keluar dari dalam mobil menuju ke dalam hotel. Keadaan Velove masih sangat lemas sekali. Sesampainya di hotel Max segera masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan istrinya di ranjang.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Max kepada istrinya.
"Badanku terasa tidak enak Max," jawab Velove sambil memegangi perutnya.
__ADS_1
"Ya sudah istirahatlah, biar besok cepat membaik." Max menyelimuti istrinya kemudian ikut berbaring di samping Velove.
Setelah Velove tertidur Max beranjak dari tempat tidurnya. Dia pergi ke toilet untuk mandi. Setelah selesai Max kembali ke tempat tidur untuk bersiap tidur. Max melihat istrinya yang berkeringat dingin seperti sedang menahan sakit.
Max pun mengelap dahi serta wajah Velove dengan tisu. Kemudian dia menambah volume AC kamarnya. Beberapa menit kemudian Max tertidur juga.
Tengah malam Velove merasakan sakit yang teramat sangat di perutnya. Dia mencengkeram seprei dengan kuat sambil menahan sakit yang ada di perutnya. Max pun terbangun mendengar suara istrinya yang sedang kesakitan.
"Love kamu kenapa? Bagian mana yang sakit? Please jangan membuatku cemas."
"Perut ku Max, sakit sekali." Velove terus memegangi perutnya yang sedang kram.
Max kemudian ikut mengelus perut istrinya dengan lembut. Kemudian dia berbicara dengan kandungan Velove.
"Sayang anak Daddy, jangan nakal ya di perut Mommy. Kasihan Mommy jadi kesakitan, Mommy janji kalau nanti tidak akan ceroboh lagi. Mommy akab bersikap lembut lagi sama kamu. Jadi baik-baik ya di perut Mommy. Daddy sangat mencintai kalian." Max berbicara kepada janin yang ada di perut Velove.
Setelah Max berbicara lembut dan mencurahkan semua rasanya, keadaan Velove sedikit membaik. Sepertinya kata-kata Max dapat menetralkan kram yang dirasakan Velove.
"Bagaimana keadaanmu sekarang sayang?" tanya Max kepada Velove yang sudah tenang.
"Sedikit membaik, mungkin baby kita mendengar perkataan mu Max," seru Velove dalam pelukan suaminya.
"Love apa kita pulang saja, aku khawatir kalau terjadi sesuatu denganmu."
"No, kamu sudah janji ingin membawaku keliling Eropa Max. Kalau kandungan ku sudah membesar nanti sudah tidak mungkin lagi untuk pergi."
"Tetapi aku khawatir terjadi sesuatu yang buruk denganmu sayang," ucap Max membujuk Velove yang keras kepala.
"Aku hanya ingin menikmati waktu ini dengan mu Max, karena aku sangat bahagia saat ini bisa berdua denganmu. Entah kenapa saat ini aku tidak bisa jauh darimu. Rasanya ingin sekali menempel kepadamu Max." Velove berkata sangat manja sambil terus memeluk suaminya.
"Baiklah tapi kamu harus janji jaga diri dengan baik, jangan melakukan hal ceroboh lagi.Kamu mengerti kan?"
__ADS_1
"Mengerti suamiku, terima kasih semua perhatianmu. I Love You," ucap Velove sambil menciumi dada bidang Max.
Max tersenyum melihat sikap Velove yang semakin manja. Dia tidak menyangka kalau Velove bisa berubah menjadi seperti sekarang ini. Sikap serius dan waspada telah hilang sepenuhnya dari diri Velove. Kini dia berubah menjadi wanita sejati yang berlindung di bawah suaminya.