
Velove sekarat dipelukan Max, dan dia di bawa Max menuju rumah sakit khusus keluarganya agar keamanan serta fasilitasnya lengkap. Helikopter mengudara meninggalkan markas Dragon Empire. Max tak henti-hentinya mengecup kepala Velove.
Kini nafas Velove semakin berat, ditubuhnya ada dua tembakan di tambah satu bekas tembakan yang kemarin, semuanya tambah parah. Max semakin panik pikirannya sudah buntu, dia takut kalau kejadian dulu menimpanya lagi.
"Love bertahanlah, please jangan meninggalkanku lagi." ucap Max dengan penuh air mata.
Ini untuk yang kedua kali Max menangisi orang yang dicintainya dan setelah setengah jam di udara Max sampai juga di rumah sakit. Untung saja rumah sakit itu mempunyai tanah yang lapang untuk di jadikan tempat pendaratan helikopternya.
Max sudah disambut oleh para petugas, Max segera meletakkan tubuh Velove di brankar dan dengan cepat para petugas itu membawa Velove ke ruang operasi.
Max bingung bercampur panik, dia hanya mondar mandir sambil memegangi kepalanya. Kemudian datanglah Luis dan Marvin menghampirinya.
"Sudah kamu temukan mereka Luis?" tanya Max.
"Belum Tuan, mereka dengan cepat menghilang. Sepertinya mereka tidak ingin kita ketahui." jawab Luis.
Max memerintah Luis untuk mengejar para aliansi rahasia yang datang membantu Velove. Max ingin mencari informasi tentang identitas Velove yang asli. Namun, hal itu masih sangat sulit di dapatkan.
"Luis kamu cari hotel tempat Love ku menginap, pasti kita dapat menemukan petunjuk disana." perintah Max pada Luis.
"Baik Tuan saya permisi."
Luis dan Marvin pergi bersama, karena hanya mereka berdua lah yang saat ini bisa Max percaya.
"Love kamu tadi bicara apa denganku, aku begitu panik hingga tidak mengerti apa yang sedang kamu bicarakan."
Max terus mengeluh dia sudah tidak bisa berpikir lagi. Pikirannya sangat buntu dan buntu.
MANHATTAN, NEW YORK
Seorang anak kecil berusia 6 tahun sedang tidur meringkuk di sofa ruang tamu. Dia menolak tidur di dalam kamar karena sedang menunggu telepon dari sang ibu.
Justin sedang menunggu telepon dari sang momy, dan besok adalah hari ulang tahunnya. Beberapa hari ini justin tidak bisa tenang, dia selalu memikirkan tentang momy-nya. Sampai nafsu makannya pun ikut berkurang.
Justin ketiduran di sofa karena kelelahan, hampir setiap hari dia mondar mandir dari yayasan ke gereja hanya untuk berdoa agar momy-nya cepat kembali. Tiba-tiba Justin terbangun dan berteriak.
"MOMY"
Keringat dingin mengucur di dahinya, Justin panik dan ketakutan. Kemudian ibu yayasan pun muncul menanyakan apa yang terjadi.
"Ada apa Justin? apa kamu sedang mimpi buruk?" tanya ibu yayasan.
"Momy, momy ku, aku hanya ingin momy, MAMA. Momy ku kenapa belum ada kabar, aku hanya ingin ditelepon oleh momy. Huhuhuhu." ucap Justin sambil menangis.
"Tenang Justin, momy mu pasti kembali kok ya. Sekarang kamu tidur lagi, kamu tidur di kamar saja. Di sini sangat dingin nanti kamu bisa sakit." perintah ibu yayasan kepada Justin.
__ADS_1
Dengan segala kesedihannya Justin menuruti kata ibu yayasan. Dia masuk kamar dan kemudian tidur kembali. Keesokan harinya Justin bangun pagi-pagi sekali, dia bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Hatinya sangat sedih karena baru kali ini di hari ulang tahunnya sang momy tidak ada di sampingnya. Justin berangkat dijemput oleh bis sekolah. Di dalam bis Justin hanya diam sambil menatap ke luar jendela, yang ada dalam pikirannya hanya sang momy.
RUMAH SAKIT, JERMAN
Max masih setia menunggu Velove, Max sangat bersyukur operasinya berjalan lancar. Namun, Velove masih dalam keadaan kritis. Dia masih belum bisa di temui. Max duduk lesu bersandar di bangku. Nyonya Glover pun sedih melihat putranya yang kembali terpuruk.
"Max kamu jangan seperti ini Nak. Mom sangat yakin kalau Love bisa bertahan. Dia itu wanita kuat Max."ucap Nyonya Glover.
Max tetap diam tanpa merespon perkataan Mom-nya. Kemudian Luis dan Marvin datang membawa berita baik.
"Tuan saya sudah menemukan hotel tempat menginap nyonya dan ini semua barang-barangnya." ucap Luis.
Bagai mendapat angin segar Max langsung melihat semua barang yang di miliki Velove. Max membongkar isi ransel Velove, Max menemukan banyak sekali barang untuk misi penyelidikan. Kemudian Max mendapatkan dompet Velove, dia membukanya dan melihat isinya. Max melihat kartu identitas Velove dan Max pun tersenyum karena selama ini dia tidak salah memanggil nama pujaan hatinya itu.
"Velove Alexandra Keihl, nama yang cantik." ucap Max.
Lalu Max kembali mengecek lagi, dia menemukan dua lembar foto Velove. Mata Max terbelalak kaget dia melihat foto Velove yang sedang hamil besar dan yang satunya adalah foto Velove bersama seorang anak laki-laki.
Max melihat dengan seksama foto tersebut. Kemudian Max mengingat-ingat tentang anak laki-laki itu, karena Max sedikit lupa.
"Justin Anderson Keihl, anak ini adalah Justin yang waktu itu. No, apa maksudnya ini Love? kamu menyembunyikan hal ini terhadapku. Kamu benar-benar kejam Love." teriak Max.
"Max ada apa siapa dia?" tanya Nyonya Glover.
"Mom dia putraku Mom, aku mempunyai seorang anak laki-laki. Aku juga sudah bertemu dengannya Mom, tapi aku malah meninggalkannya. Mom aku titip Velove, aku ingin menjemput putraku Mom. Dia sedang menunggu ku sekarang." ucap Max penuh haru.
"Luis ikut aku ke Manhattan sekarang, dan ku Marvin kamu perkuat penjagaan jangan sampai kecolongan lagi. Segera hubungi aku kalau terjadi sesuatu." ucap Max dia sudah siap untuk berangkat.
"Baik Tuan."
"Justin daddy datang menjemputmu, tunggulah daddy nak." ucap Max dalam hati.
Max berangkat dengan menaiki Helikopternya menuju ke Manhattan. Dia sudah sangat tidak sabar untuk bertemu dengan putranya.
Max mengudara selama empat jam, dan kini dia telah sampai di bandara John F Kennedy.
Max turun dan segera mencari taksi untuk menuju ke gereja Katredal Santo Patrick. Dimana tempat itulah yang menjadi awal pertemuannya dengan sang putra.
Hanya membutuhkan waktu setengah jam Max sudah sampai di gereja. Max segera keluar dan kemudian masuk ke dalam gereja. Max mencari sosok anak kecil yang dicarinya.
Max pun masuk ke ruang utama, dari kejauhan dia melihat seorang anak kecil yang sedang berlutut memohon dan berdoa kepada tuhannya.
"Justin putraku." ucap Max pelan.
__ADS_1
Justin sedang berdoa kepada Tuhannya dengan sedih dan penuh dengan air mata.
"Tuhan, kembalikanlah momy ku, aku sangat merindukannya Tuhan, Hari ini ulang tahun ku tanpa momy. Kalaupun momy tidak bisa membawakan daddy untuk ku, tidak apa-apa kok, yang penting momy bisa kembali untukku dan memelukku. Aku rindu momy ku Tuhan, Momy pulanglah Justin rindu. Justin janji tidak akan nakal, Justin janji tidak akan marah-marah lagi, Momy pulanglah."
Justin berdoa dengan beruraian air mata. Max yang melihat putranya bersedih pun tak kuasa menahan air mata nya. Max menangis dia berjalan mendekati Justin.
"JUSTIN, daddy datang untukmu." ucap Max memanggil putranya.
Justin pun menoleh ke arah suara, dia terkejut dengan orang yang ada di depannya saat ini.
"Uncle, uncle ngapain disini?" tanya Justin.
"Daddy menjemputmu nak, Justin putraku kemari lah peluk daddy."
"Uncle tidak bercanda kan?"
"No, aku daddy mu nak, aku adalah daddy yang sedang kamu cari selama ini." jawab Max.
"Daddy, daddy, daddy, kamu benar daddyku? aku sangat senang sekali, Daddy akhirnya aku menemukanmu." ucap Justin sambil memeluk Max.
"Selamat ulang tahub sayang."
"Iya Daddy, oh ya momy kemana Dad?" tanya Justin.
Max terdiam dia tidak tau harus menjelaskan apa pada putranya.
"Dad, kok melamun Momy dimana?"
"Momy sedang menunggumu di rumah daddy Boy. Ayo kita pulang nak." ucap Max.
"Tetapi daddy harus minta izin sama pemilik yayasan kalau mau membawaku." sahut Justin.
"Kalau begitu tunjukan jalannya untuk daddy."
bersambung...
**AKHIRNYA BERTEMU JUGA MEREKA GAES😭😭😭AKHIRNYA JUSTIN KETEMU SAMA DADDYNYA DAN AKAN DAPAT KASIH SAYANGBYA😭😭
OTHOR NYESEK SEKALI NULIS INI GAES🤧🤧🤧KARENA OTOR DARI KECIL TIDAK PERNAH MERASAKAN KASIH SAYANG SEORANG BAPAK😭😭😭 MENGSEDIH OTORNYA GAES..😭😭😭
JANGAN LUPA LIKE LIKE LIKE👍👍😍😘
HADIAHNYA JUGA🌹☕
SUDAH HARI SENIN GAES KASIH VOTE KALIAN BUAT OTOR YA🥰🥰🥰
__ADS_1
TERIMA KASIH👍🥰❤️❤️😘**