My Strong Woman

My Strong Woman
KERINDUAN


__ADS_3

Max melajukan kendaraannya pulang menuju rumah. Sepanjang perjalanan Max selalu mengembangkan senyuman ke arah istrinya. Justin tertidur di kursi belakang karena kelelahannya dalam bermain.


"Max kalau kamu tersenyum terus aku takut gigimu akan kering." celetuk Velove menyindir suaminya.


"Hahaha, itu tidak akan terjadi Love karena kamu lah yang akan membasahinya nanti, dengan lidahmu. Seperti ini sayang.."


Max menjulurkan lidahnya dan menyapukannya ke seluruh area bibir. Velove yang melihat itu menjadi salah tingkah kemudian memalingkan wajahnya ke luar jendela.Max tergelak melihat wajah Velove yang sedang menahan malu.


"Love kenapa kamu yang sekarang lebih banyak tersipu setiap kali ku goda."


"Pikir saja sendiri." jawab Velove cuek.


Max tersenyum dan berhenti menggoda istrinya, dan kini dia fokus dalam mengemudi. Setengah jam kemudian Max sampai di mansionnya. Dia berhenti tepat di depan pintu halaman. Justin yang terlelap pun masih belum bangun dan tidak tau kalau sudah sampai rumah.


"Kita bangunkan saja Max!"


"No, biarkan dia tidur Love, biar pengawal yang menggendongnya." jawab Max sambil menurunkan Velove ke kursi roda.


Setelah menurunkan istrinya Max menyuruh pengawal untuk membawa Justin ke dalam kamarnya. Kemudian Max mendorong kursi roda istrinya untuk masuk ke dalam.


Di ruang tengah terdapat Nyonya Glover dan suaminya serta Felicia yang cemberut. Max menyapa putrinya namun diacuhkannya. Kemudian Max menjelaskan pelan kepada Felicia agar tidak cemburu.


"Felicia," panggil Max.


Felicia diam tak menjawab dia sibuk dengan laptopnya. Velove juga merasa tidak enak dengan putrinya, meski bukan anak kandung tapi Felicia sangat sayang sekali kepada Velove. Jadi Velove juga begitu menyayanginya.


Max menghampiri putrinya yang tengah merajuk, dia duduk di samping Felicia. Namun Felicia justru menghindar dan berpindah tempat. Max sudah tau karakter putrinya itu jika merajuk. Velove dan Max saling berpandangan, kemudian Velove mengedipkan matanya untuk meminta bantuan untuk berdiri. Velove ingin duduk di sofa dan membujuk Felicia. Max pun membantu Velove berdiri lalu duduk di sofa.


Setelah duduk Velove memanggil Felicia untuk duduk disampingnya.


"Felicia, sini duduk di samping Mommy." panggil Velove.


Felicia pun langsung berdiri menghampiri Mommy-nya. Dia duduk dengan menundukkan kepalanya. Velove langsung membelai rambut Felicia dengan penuh kelembutan.


"Sayang, kamu marah sama Mommy?"


Felicia menggelengkan kepalanya.


"Terus kenapa kamu tidak berbicara dengan Mommy? atau kamu marah sama Daddy?"


Felicia menganggukkan kepalanya mengiyakan.


"Padahal kan Mommy juga tidak mengajakmu sayang."


"Maafkan Felicia Mom, Dad. Aku tidak akan mengulanginya lagi." ucap Felicia sedih.


"Tidak apa-apa sayang, kami tidak bermaksud meninggalkanmu. Justin tadi ingin jalan-jalan karena iri dengan teman-temannya di sekolah. Kamu tau kan sifat Justin itu bagaimana? Setiap keinginan harus cepat terlaksana kalau tidak bisa marah-marah. Mom and Dad janji lain kali kita akan jalan berempat."


"Okey Mom, Dad. Felicia mengerti kok."


"Bagus anak pintar." puji Velove kepada Felicia.


"Mommy istirahat saja dikamar, pasti Mommy sangat lelah."


"Ya sayang Mommy akan istirahat dikamar. Kalau kamu ingin bicara sama Mommy langsung ke kamar saja ya."

__ADS_1


"Okey Mommy."


"Sudah kan Felic, Grandma tadi sudah bilang sama kamu kan nak!" sahut Nyonya Glover.


"Sudahlah Mom, yang pasti sekarang Felicia sudah mengerti. Saya yakin dia tidak bermaksud seperti itu. Ya kan sayang?" tanya Velove kepada Felicia.


"Benar Mom."


"Harusnya putri Daddy memang harus seperti ini. Ya sudah lanjutkan PR kamu, Daddy mau antar Mommy ke dalam kamar."


Setelah berhasil membujuk putrinya, Max membawa Velove masuk ke dalam kamar untuk istirahat.


"Love sepertinya kamu sangat berarti di hati Felicia. Aku sangat bahagia hal itu."


"Felicia anak yang baik dan penurut Max. Mungkin mommy-nya dulu lemah lembut."


"Ya Cathrine memang lemah lembut di segala sikapnya sama persis seperti Felicia."


"Tetapi istri kamu yang sekarang kasar seperti berandalan, ya kan?" sahut Velove ketus.


"Wait, sayang kamu jangan menyamakan dirimu dengan Cathrine karena kalian dua insan yang berbeda. Dulu memang Cathrine ada di hatiku, tapi untuk sekarang hanya kamu yang mampu menaklukkan ku Love."


"Sudahlah simpan dulu rayuan mu itu Max."


Max pun langsung diam, dia takut kalau istrinya itu salah paham. Akhirnya Velove sampai juga di dalam kamar. Max segera mengangkat tubuh Velove ke atas ranjang. Kemudian Velove ingat dengan apa yang di beli Max tadi.


"Max tadi kamu membeli apa?"


"Oh iya aku hampir lupa Love."


"Love look." Velove menoleh ke arah Max dia sangat terkejut dengan apa yang di beli oleh suaminya.


"What? apa lagi yang kamu beli Max? pakaian kurang bahan lagi."


"Ini untukmu Love, Lingerie ini pakailah nanti. Aku ingin sekali melakukannya nanti malam."


"Tapi kaki ku masih sakit Max. Kamu tega?"


"Love please, aku sangat ingin sekali. Sudah lama aku menahannya hingga bersolo karier setiap malam karena tubuhmu selalu menggodaku. Sayang kan benih-benih unggul ku terbuang percuma. Mau ya sayang please!!"


Velove melotot tak percaya, setelah Justin yang merengek kini giliran suaminya juga merengek mengalahkan putranya. Max terus berusaha membujuk istrinya agar mau bercinta dengannya nanti malam.


"Baiklah tapi aku tidak melakukan apa-apa."


"Kamu cukup berbaring sayang, biar aku yang bermain. Tugas mu hanya perlu mendesah biar aku tambah semangat. Aku janji akan pelan-pelan dan lembut." ucap Max meyakinkan istrinya.


Velove akhirnya menyerah dan menyetujui keinginan suaminya, dan kini Velove beristirahat sebentar untuk memulihkan tenaganya hari ini.


Malam hari pun tiba. Setelah makan malam bersama dan menidurkan Justin. Max mengajak Velove langsung menuju ke kamarnya untuk melakukan pekerjaan penting. Dari kamar Justin, Max mengangkat tubuh istrinya dengan full senyum di wajahnya. Dia sangat bahagia karena sang junior akan mengunjungi ruang indahnya kali ini.


"Wajahmu sangat menyebalkan Max." celetuk Velove dengan nada datar.


"Hahaha, sayang malam ini aku sudah bersiap-siap agar terlihat tampan. Tetapi kamu malah mengataiku menyebalkan."


"Ya kamu sangat menyebalkan."

__ADS_1


"Tapi kamu suka kan sayang!!"


Max terus menggoda Velove hingga sampai di kamarnya. Setelah masuk Max segera menutup pintu dan menguncinya. Kemudian Max merebahkan tubuh Velove di atas ranjang. Setelah itu Max segera mengungkung tubuh istrinya itu. Mata Max memandang penuh cinta kepada Velove yang sudah pasrah di bawahnya.


"Kamu sudah siap sayang?"


Velove mengangguk pelan, dan Max langsung mendaratkan ciumannya ke leher Velove yang menjadi titik rangsangnya. Max mencium dan menyesap di bagian-bagian tertentu yang membuat Velove mende. sah hebat dan hal itu membuat Max semakin semangat mencummmbu istrinya. Kemudian Max mencium bibir manis Velove melumaaatnya dengan penuh napsu yang memburu.


"Love aku sangat merindukanmu."


Max mulai membuka kaosnya dan melemparkannya ke lantai. Di juga membuka kaos Velove kemudian membuangnya ke sembarang tempat.


Setelah itu Max menyambar lagi bibir istrinya dengan penuh gaiirah. Sedangkan tangannya bergerilya di kedua aset kembar milik Velove. Max ingin membuka bra milik istrinya.


BRAAKKK!


BRAAKKK!


DADDY!


MOMMY!


Mata Velove melotot mendengar suara Justin yang menggedor-gedor pintu. Velove gugup dan mendorong Max untuk minggir.


"Minggir Max, Justin ada di depan."


"Astaga cobaan apalagi ini. Terus bagaimana nasib junior ku Love, dia sudah On dari tadi."


"Bodoh kita bisa lanjutkan lagi nanti. Sekarang bukakan pintu untuk Justin." Velove dengan cepat memakai pakaiannya lagi dan dengan langkah berat Max turun dari ranjang membukakan pintu untuk putranya.


CEKLEK!


MOMMY!


"Justin mimpi buruk Mom. Justin takut, Huhuhu."


Justin berlari memeluk Velove dengan menangis tersedu-sedu.


"Kamu mimpi apa sayang?" tanya Velove sambil menenangkan Justin.


"Aaaa, aku tidak ingin cerita Mom."


"Ya sudah sekarang biar Daddy temani kamu ke kamar ya?


"No, Justin tidur bersama Mommy malam ini."


Mata Max langsung melotot mendengar ucapan Justin. Dia pun menepuk jidatnya sambil mengumpat dalam hati. Velove pun tersenyum melihat kekesalan suaminya, dan akhirnya malam indah itu tertunda lagi.


...bersambung...


**JANGAN LUPA LIKE SETELAH MEMBACA Y DEARS👍😂


HADIAH JUGA BUNGA🌹 DAN KOPI ☕ BUAT OTHOR🥰😘


TERIMA KASIH😍🥰😘**

__ADS_1


__ADS_2