
Velove keluar dengan menggelayut manja di lengan suaminya. Mereka berdua keluar dari kamar menuju ke luar hotel. Max ingin mengajak istrinya untuk keliling London hari ini, karena dia berencana besok siang akan membawa Velove pergi dari London dan singgah ke negara selanjutnya.
"Puaskan lah hari mu disini Love, karena besok kita akan meninggalkan London," ucap Max sambil menghidupkan mobil sportnya.
"Besok kita mau kemana lagi Max?" tanya Velove dengan memasang seat beltnya.
"Kamu mau kemana nanti akan aku turuti kemanapun kamu ingin pergi."
" Wait, sedang ku pikirkan. Lebih baik nanti saja kalau setelah makan, mungkin akan muncul idenya."
"Baiklah pikirkan dahulu baik-baik ya, " ucap Max kemudian dia menjalankan mobilnya.
Max melajukan kendaraannya menuju ke Golden Tower. Dia menuju ke sana karena di tempat itu lah banyak sekali kenangan bersama istrinya. Satu jam berkendara mobil Max sampai juga di Tower Bridge. Mobilnya berjalan melenggang di tengah jembatan yang masih dalam keadaan sepi itu karena bertepatan dengan libur akhir pekan.
Max membawa istrinya menuju ke restoran Italy yang berada di sekitar kawasan Tower Bridge. Semenjak hamil Velove menyukai segala masakan Italy, apalagi kalau dia berhadapan dengan spagetti dan berbagai macam desert yang manis seakan lupa dengan teman makannya.
Mobil Max tiba juga di halaman restoran. Dia memarkirkan mobilnya itu di tempat yang di sediakan. Kemudian Max keluar dan membukakan pintu untuk Velove. Setelah itu mereka berdua berjalan masuk ke dalam restoran.
Sesampainya didalam Max langsung mencari tempat duduk yang sepi dari pengunjung lainnya. Bukan bagaimana? Itu semua dia lakukan demi kenyamanan istri tercintanya.
"Max kenapa kamu tau kalau aku suka tempat yang tak begitu ramai?" tanya Velove kepada suaminya.
"Bukankah sangat lucu dan aneh jika aku tidak mengerti semua tentang istriku Love? Akan aku upayakan semua demi kebaikanmu My Love?"
"Cih membuatku terharu saja kamu Max," ucap Velove dengan memalingkan wajahnya, dia selalu salah tingkah jika Max menggodanya.
Setelah perdebatan hangat itu pelayan datang membawa daftar menu yang disediakan hari ini. Velove membolak-balikkan daftar menu itu dengan raut wajah yang serius. Kemudian Velove memesan makanan kesukaannya diikuti oleh Max, dan setelah itu pelayan pun mencatatnya kemudian pergi.
Hanya butuh setengah jam menunggu. Semua makanan telah siap dan di sajikan di meja. Velove langsung menyantap tanpa aba-aba mendahului suaminya. Sedangkan Max melihat istrinya yang mempunyai porsi makan tinggi pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Sarapan pagi berlangsung sangat serius bahkan tidak ada pembicaraan apapun saat itu. Satu jam kemudian sarapan pagi pun selesai. Velove duduk menyenderkan punggungnya sambil mengelus perutnya yang sudah kenyang.
"Astaga kenyangnya, sungguh masakan Italy itu sangat enak Max. Ayo kita pergi dari sini, aku sudah sangat kenyang sekali."
"Tunggu Love aku membayar tagihan ini dulu." Max berdecak sambil melihat istrinya yang sudah keluar duluan.
Velove terus berjalan menuju ke mobil, dia merasa tidak nyaman di perutnya. Sambil berjalan dia terus mengelus perutnya yang masih datar.
"Uhh kenapa sangat tidak nyaman sekali," keluhnya sambil membuka pintu mobil.
Setelah itu Max muncul dari belakang, dia df freemelihat sang istri yang telah masuk ke dalam mobil. Kemudian Max langsung menyusulnya. Di dalam mobil Max mendapati Velove sedang mendesis sambil memegangi perutnya.
"Sssss, Awwwww," desis Velove pelan.
"Ada apa Love, perutmu sakit lagi?" tanya Max khawatir.
Max segera mengelus perut istrinya dengan penuh kelembutan. Dia mengelusnya sambil berbicara dengan bayinya.
"Hai ini Daddy nak, apa kamu mendengar Daddy di dalam sini? Mungkin Mommy terlalu kasar sama kamu ya, sehingga membuatmu tak nyaman di dalam sini. Daddy janji hal seperti ini tak akan terjadi sayang, karena mulai sekarang Daddy akan tegas sama Mommy, demi keselamatan mu selama di perut Mommy. Okey. Sudah ya baik-baik dalam perut Mommy. Daddy mencintaimu, Emuaach." Max mengecup pelan perut Velove, dan ajaibnya kram di perut Velove langsung menghilang.
"Bagaimana? Apa sudah baikan?" tanya Max pada Velove.
"Kamu pakai mantra apa Max? Kenapa bayiku menurut sekali denganmu?" Velove menatap sinis suaminya.
"Hahaha, ya jelas dong sayang, karena aku sangat menyayangi kalian. Sudah ya kita jalan lagi."
Max menyetir kembali, bibirnya full senyum. Sedangkan Velove menikmati posisinya yang masih bersandar di kursi. Max akan membawa Velove ke gereja Katredal Santo Paulus di dekat sungai Thames London. Karena di gereja itulah Max dan Velove pertama kali bertemu.
Hanya membutuhkan waktu lima belas menit, Max telah sampai di gereja tersebut. Velove langsung mengerti maksud Max membawanya kesini.
__ADS_1
"Kamu mau bernostalgia Max?" tanya Velove sambil mendongakkan kepalanya keluar jendela mobil.
"Ya karena di gereja ini lah saksi pertemuan kita Love," jawab Max kemudian dia keluar dari mobil.
Velove juga keluar dari mobil, dan tangannya di raih oleh suaminya. Kemudian mereka masuk ke gereja bersama-sama. Di dalam gereja banyak orang yang sedang berdoa karena akhir pekan adalah waktu yang sangat pas untuk berdoa di gereja.
"Love ayo kita berdoa bersama, kita memohon kepada Tuhan agar keluarga kita bahagia selalu."
Velove pun tersenyum dan mengangguk. Mereka berdua pun berdoa bersama dengan penuh khidmad. Setelah selesai memanjatkan doa masing-masing, Max mengajak Velove duduk sejenak di kursi yang sudah di sediakan.
Max duduk sambil memeluk istrinya. Sedangkan Velove menyandarkan kepalanya di lengan kekar sang suami. Mereka berdua saling membayangkan masa lalu ketika pertama kali bertemu.
"Max, ingatkah kamu pertama kali kita bertemu disini?" ucap Velove pelan dengan pandangan mata tetap lurus ke depan.
"Mana bisa aku lupa Love, semua kenangan tentangmu tak akan pernah hilang dari ingatanku. Waktu itu aku sangat kaget, aku kira kamu adalah wanita genit yang mencoba merayuku," jawab Max dengan spontan, membuat Velove berdecak kesal.
"Ck, kamu menganggap ku wanita genit? Menyebalkan!"
"Hahaha, Love itu hanya awalnya. Tetapi setelah melihat aksimu pada waktu itu membuatku sangat terkesan. Dalam hatiku ingin sekali memilikimu. Karena menurutku wanita yang paling cocok berdiri di sampingku adalah yang seperti kamu ini."
"Ternyata jalan pikiran kita sama ya, aku juga pada waktu itu sangat terpesona denganmu Max. Padahal aku bukan tipe wanita yang gampang kagum dengan seorang pria. Tapi melihatmu entah kenapa hati ini terasa beda dan aku sangat yakin kamu mempunyai sihir Max," ucap Velove dengan mata yang semakin menyipit.
"Sayang aku tidak mempunyai sihir apapun. Justru kamu lah yang menyihir ku, kamu mampu membuatku gila selama tujuh tahun. Untung saja mental kuat, kalau saja aku lemah mungkin aku sudah bunuh diri karena tak sanggup tanpamu." Max menjawab Velove dengan serius sekali hingga tak sadar istrinya itu telah tertidur.
Menyadari tak ada tanggapan dari istrinya. Max menengok wajah Velove dan Max hanya tersenyum melihat wanita yang ada di depannya sekarang. Wajah yang menunjukkan ketenangan terpancar dari diri Velove.
' Love tetap seperti ini lah sampai nanti, aku berjanji akan selalu menemani hari-harimu. Membahagiakanmu bersama putra dan putri kita.' batin Max dalam hati.
...bersambung...
__ADS_1