
Max dan Velove kini telah sampai di rumah yang telah di sewanya sementara. Max turun daan keluar dari mobilnya. Setelah itu dia membukakan pintu mobil untuk istri tercintanya. Max meraih tangan istrinya kemudian dia merangkul dan masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah, ternyata Nyonya Glover dan semuanya telah menunggu kedatangan Max dan Velove. Justin yang mengetahui Mom and Dad-nya segera berlari menghampiri Velove.
"Mommy." teriak Justin berlari dan ingin memeluk Velove.
Dengan sigap Max menangkap dan menghalangi putranya yang ingin memeluk Mommy-nya.
"Stop Boy, mulai hari ini hilangkan sikapmu yang seperti ini. Okey. Dad tidak mau terjadi hal buruk terhadap Mommy mu."
"Why, Dad. Ada apa dengan Mommy?"
"Karena Mommy sedang mengandung adikmu Boy."
"Really Dad. Wooah, Grand ma, Grand pa, Kakak Felic. Sebentar lagi aku akan jadi seorang kakak juga. Yeaayyy." teriak Justin girang.
Kemudian Max mengajak istrinya untuk duduk. Justin dengan cekatan membantu Daddy-nya menuntun sang Mommy ke sofa.
"Selamat sayang, akhirnya kamu akan memberikan anggota baru di keluarga kita." ucap Nyonya Glover senang.
"Iya Mom, saya juga tidak menyangka kalau akan secepat ini lagi mengandung."
Velove menjawab sambil memegang tangan Max yang selalu mengelus perutnya yang masih rata.
"Max kamu harus berhati-hati menjaga istrimu. Jangan kasar-kasar terhadapnya."
"Aku tau Mom, dokter sudah memperingatkan tadi. Aku pasti akan lembut kepada istriku. Iya kan sayang."
Velove tersenyum malu sambil menundukkan kepala. Sedangkan Justin terlihat sedih, dia menyilangkan tangan di dada sambil cemberut. Velove yang melihat putranya bersikap aneh langsung bertanya.
"Sayang kamu kenapa cemberut seperti itu?"
"Kalau nanti Mommy punya adik baby, apakah Mommy tetap sayang dengan ku?"
Velove tersenyum dan menoleh ke arah suaminya. Kemudian Max langsung berlutut di depan putranya. Max pun menasehati Justin dengan lembut.
"Apa yang kamu bicarakan Boy? Jadi apa kamu tidak senang memiliki adik baby?"
"No Dad, Justin senang sekali. Jadi aku punya teman bermain."
__ADS_1
"Lalu apa yang kamu khawatirkan sayang?" sahut Velove membelai kepala putranya.
Justin diam tidak bisa menjawab pertanyaan Mommy-nya. Kemudian Nyonya Glover juga berdiri menghampiri cucunya.
"Justin sayang, Grand ma tau apa yang kamu khawatirkan. Asal kamu tau, kita semua sayang dan akan selalu cinta kepadamu."
"Okey, Aku senang mendengarnya, nanti kalau adik baby-nya sudah launching Justin yang pertma kali menggendongnya. Boleh kan Mom?"
"Boleh sayang," jawab Velove dia selalu tersenyum bahagia.
"Ya sudah Mom, aku ingin pergi ke atas dulu. Ayo kak ikut aku!" Justin menarik Felicia ke atas.
"Bye Mom." ucap Felicia sambil tersenyum.
"Iya sayang."
Max kembali duduk di samping istrinya. Dia selalu memandang Velove dengan senyuman yang selalu mengembang.
"Kamu tidak capek sayang?"
Velove menggelengkan kepalanya.
"Dengan senang hati sayang, aku juga penasaran dengan tempat tinggal istri dan anak ku dulu seperti apa."
Kemudian Velove mengajak Max ke rumahnya yang dulu. Rumah yang sudah menjadi saksi perjuangan hidup Velove semasa kecil hingga dewasa. Max pergi dengan mengendarai mobilnya sendiri tanpa di temani anak buahnya. Hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk sampai di apartemen Velove.
Velove turun dari mobil kemudian di ikuti oleh Max. Dia berjalan masuk ke dalam apartemennya. Karena tidak ada lift Velove harus menaiki tangga satu persatu. Sedangkan apartemennya ada di lantai empat.
"Love biar aku menggendong mu, aku tidak ingin kamu kecapekan."
"Baiklah maaf merepotkan mu suamiku."
"Kamu pikir aku akan keberatan menggendong mu Love? Berat badanmu lebih ringan jika di bandingkan dengan barbel yang aku angkat setiap hari."
"Jadi kamu menyamakan aku dengan barbelmu?"
"Hei itu perumpamaan sayang, kalaupun kamu adalah barbel aku rela mengangkat mu setiap hari."
"Ck mulai lah dengan gombalan mu Max."
__ADS_1
Max menggendong istrinya sampai kelantai empat. Terdapat empat pintu di lantai paling atas tersebut, dan apartemen Velove berada di pintu yang kedua.
Max menurunkan istrinya tepat di depan pintu. Velove mulai membuka pintu dengan kode pin. Setelah menekan kode pintu pun terbuka. Max dan Velove masuk ke dalam rumah dengan ruangan yang tidak terlalu besar. Hanya terdapat dua kamar, dapur, dan toilet. Max sedikit miris dengan keadaan rumah istri dan anaknya ketika tinggal disini. Max berkeliling melihat-lihat ke sekitar ruangan.
Banyak sekali foto Velove dan Daddy-nya sewaktu kecil dulu. Dia juga melihat foto Velove ketika hamil dan menggendong seorang bayi yang tak lain adalah putranya. Max terharu melihat kegigihan istrinya dalam memperjuangkan nasib putranya.
Tak terasa Max meneteskan air matanya, dia pun membalikkan badan dan segera memeluk Velove dengan perasaan yang terharu.
"Love begitu besar perjuanganmu, maaf aku tidak ada sewaktu kamu membutuhkan aku. Maafkan aku sayang, maaf."
Max terisak di pelukan istrinya. Velove juga terharu dengan sisi lembut suaminya. Kemudian Velove membalas pelukan itu dan mencium bibir Max dengan penuh cinta.
"Dasar bodoh, mana ada bos mafia cengeng seperti ini dan aku juga tidak pernah menyalahkan mu Max. Karena semua ini murni keputusan ku, akulah yang salah karena telah memisahkan mu dengan Justin dalam jangka waktu yang sangat lama."
"Pasti perjuanganmu berat ketika disini sayang!"
"Sangat berat, apalagi dalam keadaan mengandung. Asal kamu tau setelah aku meninggalkan mu di London dan kembali kesini sedetik pun aku tidak pernah melupakanmu Max. Bahkan ketika tau kalau aku hamil, rasa tidak percaya hadir dalam benakku. Alu bingung ketika aku hamil Max, aku takut kalau tidak bisa menjadi ibu yang baik. Karena dari kecil aku tidak pernah merasakannya. Tetapi aku tidak menyerah, ketika kandunganku mulai tumbuh. Aku belajar bagaimana cara menjadi ibu yang baik, aku belajar bagaimana cara mengurus bayi dan yang lebih mencengangkan lagi kehadiran mampu merubah hati dan pola pikirku Max. Pada saat itulah aku menjadikan Justin sebagai prioritas dan semangat dalam aku menjalani hidup. Hingga aku bisa membawanya ke hadapanmu."
"Stop Love, jangan lanjutkan lagi karena aku tidak kuat mendengarnya. Kehilanganmu sudah cukup membuat hidupku hancur dan tak ada semangat. Kamu tau butuh bertahun-tahun untuk mencari mu. Tetapi, justru kamu sendiri yang menemuiku."
"Bukankah sudah ku bilang dari awal kita bertemu, kalau kamu tidak bisa menemukanku. Aku sendirilah yang akan mencari mu Max. Apa kamu lupa?"
"Ya aku tidak ingat tentang hal semacam itu karena aku begitu terobsesi denganmu. By the way foto mu waktu hamil sangat seksi sayang. Hehehe." Max mulai menggoda istrinya.
"Ck menyebalkan, hamil itu membuat badan gendut Max. Butuh waktu lama bagiku untuk menstabilkan berat badan ku pasca melahirkan."
"Sayang aku tidak masalah jika kamu menjadi gendut, karena menurutku kamu itu selalu seksi dalam segala aspek. Mulai dari sini, sini, sini dan sini. Semuanya aku suka dan yang paling aku sukai adalah bagian ini."
"Singkirkan tangan nakal mu pria bodoh. Kamu terus saja menggodaku. Sangat menyebalkan. Huhhh.
Max sangat suka sekali mengganggu dan menggoda Velove. Kini sepasang suami istri itu sedang bercanda dan bersenda gurau penuh dengan tawa. Tak terasa besok mereka akan mengucapkan janji di Altar pernikahan suci.
...bersambung...
...JANGAN LUPA LIKE SETELAH MEMBACA YA DEARS👍❤️...
...HADIAH NYA JUGA🌹☕...
...VOTE JUGA VOTENYA...
__ADS_1
...TERIMA KASIH😍😘🥰...