
Hanya membutuhkan waktu beberapa menit Max sampai di sebuah restoran yang menyediakan makanan khas Italy. Velove sangat bersemangat, dia membuka pintu mobilnya lalu keluar. Setelah itu Max menggandeng istrinya untuk masuk ke dalam restoran.
Max dan Velove langsung disambut ramah oleh pelayan yang ada disitu. Keadaan restoran juga tidak begitu ramai. Sehingga sangat nyaman sekali jika ingin bersantai dalam menikmati makanan. Setelah mendapatkan tempat duduk Max mulai memesan makanan kesukaan istrinya. Velove sangat antusias sekali dalam memilih menu. Bahkan air liurnya sudah tidak bisa ditahan lagi.
"Max aku pengen makan es krim dan desert ini, cepat panggil pelayan suruh mereka buatin."
"Sabar Love,"
"No, aku maunya sekarang tidak boleh nanti, kalau nanti sudah tidak ingin lagi. Kamu mau baby kita nanti ileran!" ucap Velove dengan kesal.
Max mendelik heran melihat sikap Velove yang melebihi Justin putranya. Akhirnya Max memanggil salah satu pelayan untuk segera membawakan es krim dan desert permintaan istrinya.
"Kamu kata siapa Love? Kalau permintaanmu tidak terwujud baby kita akan ileran?"
"Kata Author? Dia kan tau segala kehidupan kita Max. Masa iya anaknya seorang bos Mafia yang tampan, cool, dan kaya punya baby ileran. Jadi, kamu harus turuti permintaan aku y suamiku, kalau tidak aku tidak akan berbicara denganmu Max."
Max hanya bisa pasrah kalau Velove sudah menurunkan titah seperti itu. Dia hanya bisa menuruti istrinya dan tidak bisa menolak sedikitpun. Tak lama kemudian semua pesanan pun datang. Para pelayan meletakkan semua makanan di meja. Velove hanya bisa berdecak kagum sambil melihat semua makanan yang ada di depannya.
Velove segera menyendok satu persatu makanan ke dalam piringnya dan pesanan terakhir pun datang. Es krim dan desert sebagai makanan penutup. Velove memakan spagetti kesukaannya. Velove makan dengan cepat sekali sehingga membuat mulut belepotan.
"Love kamu makannya pelan-pelan, masih ada banyak di belakang. Aku akan pesan semua untukmu."
"Max spagetti ini rasanya enak sekali. Kamu harus cobain, Ayo buka mulutmu."
Velove ingin menyuapi suaminya dan Max pun segera membuka mulutnya. Velove tersenyum lebar ketika spagetti yang disendoknya masuk ke dalam mulut suaminya.
"Sangat enak bukan?"
"Ya spagetti khas Italia memang tidak ada duanya Love dan juga kamu jangan terlalu banyak makan sayang, karena nanti ada tugas untukmu." jawab Max sambil mengunyah spagettinya
"Terserah padamu yang penting makan dulu Max."
Velove terus memakan makanannya tanpa menghiraukan maksud suaminya. Setelah satu jam berlalu, Velove selesai dengan semua makanan yang disajikan. Terakhir dia menyantap Es krim dan juga desert sebagai makanan penutup.
"Emm, kenyangnya. Sangat memuaskan makan disini Max. Ayo kita pulang. Hooaaammmm, aku sudah mengantuk."
"No, simpan dulu rasa kantuk mu sayang. Ada tugas yang belum kamu selesaikan untukku."
Kemudian datanglah pelayan membawa tagihan dan sebotol red wine. Max mengeluarkan kartu ajaibnya untuk membayar semua tagihan makan malam ini. Velove menanyakan heran kenapa suaminya memesan sebotol red wine.
"Max kamu memesan red wine?"
"Yeah, red wine ini nanti akan aku minum biar malam kita semakin romantis."
Velove merasa merinding dengan ucapan suaminya. Tentu saja otaknya sudah terkoneksi dengan maksud yang Max ucapkan.
"Ayo kita pulang sayang, aku sudah tidak sabar ingin memakan mu."
__ADS_1
"Ck, katakan itu nanti bodoh." ucap Velove malu kemudian pergi tanpa menunggu suaminya.
Max tersenyum melihat tingkah istrinya itu. Kemudian dia mengikutinya dari belakang sambil membawa red wine-nya.
Velove sudah berada di luar, Max menekan tombol remote mobilnya. Setelah terbuka Velove masuk ke dalam di ikuti Max. Max segera menghidupkan mobilnya kemudian mobil sport itu berjalan pulang menuju hotel.
Tidak ada obrolan antara Max dan Velove selama perjalanan pulang. Velove sendiri sudah mempunyai kebiasaan buruk yaitu akan tertidur jika perut sudah kenyang. Max pun sedikit kesal dengan perubahan sikap Velove yang seperti itu. Akan tetapi di mencoba mengerti mungkin itu efek kehamilan istrinya.
Beberapa menit kemudian Max sampai di hotel. Tanpa sepatah kata pun Velove langsung keluar begitu saja dan berjalan sendiri masuk ke dalam hotel.
"Astaga, drama apa lagi kali ini. Huhhh." keluh Max sambil berlari mengejar Velove.
"Love kenapa kamu tidak menunggu ku."
"Kelamaan aku sudah sangat mengantuk Max. Aku mau langsung tidur."
"No kamu harus bersih-bersih dulu baru tidur. Ibu hamil harus menjaga kesehatan sayang."
"Iya aku tau Max, kamu cerewet sekali."
Velove terus berjalan melenggang meninggalkan suaminya di belakang. Kemudian mereka naik ke atas bersama. Setelah sampai di atas, Velove langsung mengambil bathrobe kemudian pergi menuju ke toilet untuk mandi.
Max berdiri di balkon, dia menunggu istrinya yang sedang mandi. Beberapa menit kemudian Velove keluar dengan rambut yang masih basah. Max menoleh Velove yang sudah selesai mandi dan sudah menjadi kebiasaan istrinya rebahan dengan rambut yang masih basah. Max masuk ke dalam berjalan menuju ke meja mengambil hair dryer.
"Love kemarilah aku bantu kamu mengeringkan rambut."
"No, aku sangat malas Max. Lain kali saja mengeringkan rambutku. Okey!"
Max yang sedikit kesal terpaksa naik ke atas ranjang dan mengangkat tubuh istrinya. Kemudian Max mendudukkannya di kursi dekat meja.
Max mengeringkan rambut istrinya itu dengan penuh kesabaran. Kemudian Velove memutar badannya menghadap Max yang sibuk dengan rambutnya. Velove memeluk dan meletakkan wajahnya di perut sixpack suaminya. Velove mengendus dan menciumi perut Max dengan manja.
"Jangan memancing ku Love. Aku sedang sibuk sekarang."
"Why, aku suka aroma mu Max. Jangan mandi malam ini. Okey."
Velove terus bermain di perut suaminya bahkan tangannya mulai aktif menjalar kemana-mana. Hal itu membuat sesuatu yang diam menjadi terpancing.Velove mulai mencium dan menggigit lembut perut suaminya. Bahkan Velove sudah bisa menciptakan tanda kissmark di perut seksi itu.
Velove mendongakkan kepalanya dan tersenyum devil kepada Max. Max tau kalau istrinya itu sedang berinisiatif menggodanya. Namun Max berpura-pura tenang. Dia ingin melihat sejauh mana aksi dari wanitanya itu.
Velove menyapukan lidahnya di perut suaminya. Max juga sudah merasa tertantang, dia melenguh pelan ketika Velove sedikit menyesap permukaan kulitnya. Kemudian tangan Velove bergerak menuju ke ikat pinggang Max. Di bukanya ikat pinggang itu, dan dia melihat sesuatu yang ada di dalam sana sudah berontak ingin segera keluar dari tempat persembunyian.
Setelah berhasil membuka ikat pinggang suaminya. Velove langsung membuka kancing celana Max dan menurunkan resleting itu dengan pelan. Velove menurunkan resleting itu sambil menatap wajah Max yang sudah merah padam menahan sesuatu. Setelah resleting berhasil di turunkan Velove menurunkan celana jeans suaminya. Kini Velove melihat sesuatu yang sudah tegak berdiri di dalam under wear hitam itu. Dengan menggigit bibir Velove mulai membuka under wear suaminya, dan benar saja Velove di sambut dengan sesuatu yang tegak berdiri namun bukan keadilan. Velove memegang sang junior yang sudah on fire itu.
Velove memegang sang juniornya dengan tangannya bergerak naik turun. Max menatap wajah istrinya dengan tatapan tajam mengisyaratkan sesuatu. Velove mulai mendekatkan bibirnya ke ujung sang junior yang sudah semakin mengeras. Velove pun melahap sang junior itu dengan lembut. Velove menguluuumm bergerak naik turun sesekali menyedotnya dengan kuat hingga membuat Max mendessssah hebat.
"Owhhhhhh, Love. Sssshhhh." desah Max sambil menjambak rambut istrinya.
Velove tersenyum menyeringai melihat ekspresi suaminya. Dia justru makin semangat dengan aksi yang dimainkannya. Velove menyusuri seluruh permukaan kulit sang junior itu dengan lidahnya. Dari atas ke bawah, bawah ke atas kemudian dia melaaahapnya lagi dan menyeeeedotnya lagi hingga membuat Max semakin menegang😭. (kuatkan hatiku 😭😭)
"Sssssshhh, Owwwhhhh. Love lebih kuat lagi honey."
Velove semakin mempercepat ritmenya, Dan Max juga ikut mendorong kepala Velove maju mundur berharap istrinya dapat lebih kuat dan cepat lagi memainkan juniornya. Max semakin tidak tahan menahan sesuatu yang ingin keluar. Max mendorong lebih cepat kepala istrinya itu maju mundur, Velove juga mengimbangi aksi suaminya itu dengan terus melahap dan memainkan si junior yang semakin keras. Max pun semakin menegang dan dia menyuruh Velove semakin mempercepat ulumannya.
"Lebih cepat Love, lebih cepat lagi, Owwwhhh."
__ADS_1
Dengan nafas yang terengah-engah Max terus menyuruh istrinya mempercepat ritme permainannya dan kini Max sudah tidak bisa menahan lagi. Dengan suara parau dan tubuh menegang Max meledakkan benihnya ke dalam mulut istrinya. Velove memejamkan mata menerima ledakan tersebut. Maka selesailah permainan yang cukup menguras tenaga itu.
Velove mengambil tisu untuk mengelap mulutnya. Sedangkan Max masih mengatur pernapasannya. Max mengusap bibir seksi Velove.
"So good babe! Sekarang giliran ku."
Max tersenyum sambil mengangkat tubuh istrinya dan Velove mengaitkan kakinya kencang di pinggang suaminya. Sambil mengalungkan tangan Velove menatap lembut wajah Max yang sedang tersenyum padanya. Max mulai mendekatkan bibirnya menyentuh bibir Velove. Mereka berdua pun saling berciuman saling memagut dan bertukar saliva.
Max menuju ke ranjang dan merebahkan tubuh istrinya. Max mulai membuka tali bathrobe yang di kenakan Velove. Setelah tali terlepas terpampang dengan jelas tubuh mulus itu. Max berdiri dan turun dari ranjang dia ingin mengambil sesuatu. Max mengambil red wine yang di belinya tadi. Max membuka tutup botol itu, kemudian dia berjalan pelan menuju ke ranjang. Dengan tersenyum smirk Max menuangkan red wine itu di atas tubuh istrinya.
Velove pun terkejut dengan aksi gila suaminya.
"Are you crazy Max?"
Max tersenyum menanggapi pertanyaan Velove. Setelah menuangkan red wine ke tubuh istrinya. Max mulai melancarkan aksinya, Max mengangkat kedua tangan Velove ke atas dan menguncinya. Kemudian Max mulai mencummmbu tubuh istrinya itu dengan bibirnya. Max menjilati perut yang penuh dengan red wine itu. Max terus menyesap lembut hingga membuat Velove menggeliat karena geli.
Setelah puas bermain diperut istrinya, Max mulai merambat ke atas menuju ke aset kembar Velove yang menjadi salah satu bagian terfavoritnya. Max mulai meraba dan meremas dua aset kembar itu dengan lembut. Velove hanya bisa meleengguh pelan ketika Max mulai menyesaaap dan memainkan choco chip merah mudanya. Max terus melahap dua benda itu dengan rakus. Dua benda yang semakin bertambah ukurannya itu mampu membuat semangatnya berkobar.
Max masih sibuk dengan dua aset kembar milik Velove. Dia masih sibuk menggambar di sana. Dia memenuhi dada Velove dengan tanda kissmark yang begitu jelas. Setelah puas Max kembali menuangkan red winenya. Kini red wine itu sengaja dia tuangkan ke ruang indah Velove yang berumput tipis itu. Max menuangkannya sangat banyak sehingga sprei putihnya itu penuh dengan noda warna merah. Max tengkurap di bawah kaki istrinya. Di bukanya pelan kaki Velove kemudian dia mendekatkan wajahnya di depan ruang indah istrinya. Max mulai mengendus ruang indah itu lalu menciumnya perlahan. Velove hanya bisa pasrah menikmati cumbuuan suaminya.
Max terus melahap ruang indah itu dengan rakus. Max menjilat sambil memainkan lidahnya di rumah indah Velove. Sesekali menggigit-gigit kecil hingga membuat Velove menjambak rambut di kepala Max sambil mendeesaah hebat.
"Ohh Max, suamiku."
Max mengakhiri permainan lidahnya. Dia bangkit dan mempersiapkan juniornya untuk mengunjungi new baby nya yang masih dalam proses di rahim istrinya.
"Daddy datang mengunjungimu baby."
"Pelan-pelan Max," ucap Velove khawatir.
"Jangan khawatir sayang, aku akan melakukannya dengan pelan."
Max telah bersiap dengan sang juniornya. Max mengarahkannya ke ruang indah milik Velove. Max menempelkan ujung sang junior lalu mendorongnya pelan hingga masuk sepenuhnya. Max dan Velove mendeessaah bersamaan beriringan dengan permainan Max yang memaju mundurkan pinggulnya. Max masih dengan posisi dan permainannya, hingga beberapa menit kemudian ada sesuatu yang aneh terjadi kepada Velove. Istrinya terlihat sedikit kesakitan di bagian perutnya. Max mulai panik dia pun menanyakan apa yang terjadi.
"Ada apa Love?"
"Perutku sedikit sakit Max." ucap Velove sambil meringis.
"Baiklah aku akan mengakhirinya. Kamu tahan sebentar ya."
Velove mengangguk dan Max tidak mau mengambil resiko. Dia harus tetap mengutamakan kesehatan janin yang di kandung istrinya. Max mulai mempercepat ritmenya dia mengangkat ke atas kaki Velove dan di letakkan di pundaknya. Max terus memompa pinggulnya maju mundur untuk menuntaskan aksinya. Akhirnya Max mulai menegang dan dia mulai mencabut sang junior keluar dari ruang indah itu. Max meledakkan benihnya ke perut Velove. Max terus memegang sang junior untuk mengeluarkan seluruh hassrattnya.
Max mengerang dengan suara khasnya. Setelah keluar semuanya, Max merebahkan tubuhnya di samping Velove yang sudah tampak lemas sekali. Max mencium pipi dan bibir Velove dengan lembut.
"Maafkan aku sayang, telah membuatmu kesakitan. Besok kita ke dokter ya."
"Tidak usah ini wajar terjadi pada ibu hamil. Aku hanya butuh istirahat saja."
"Cepatlah tidur sayang, biar tenaga mu pulih. Aku mencintaimu sayang. Muuacch."
...bersambung...
...JANGAN LUPA LIKENYA OTHORNYA PANAS DINGIN HAREUDANG😭😭😭😭😭😭...
HADIAH BUAT OTHOR JUGA🌹☕
__ADS_1
VOTE NYA YANG PUNYA VOTE🙏🙏😭
TERIMA KASIH🥰😍😘