My Strong Woman

My Strong Woman
PSIKOPAT YANG KEMBALI


__ADS_3

"Max ingin sekali aku menendang mu keluar." seru Velove dengan keras.


"Calm down Love dan Justin kamu disini jaga Mommy karena Daddy mau pergi keluar sebentar."


"Yes Dad." jawab Justin.


"Sayang kalau kamu butuh apa-apa panggil Mom saja ya. Ingat jangan keluar kamar sendiri. Okey." ucap Max sambil mencium kening kekasihnya.


"Aku bukan seorang bayi Max." sahut Velove.


Setelah izin, Max keluar dari kamarnya. Dia ingin menemui Luis untuk mengerjakan hal penting. Max berjalan menuruni anak tangga, di bawah ada Nyonya Glover dan Felicia sedang duduk di sofa.


Nyonya Glover pun bertanya pada putranya, "Mau pergi kemana Max?"


"Ada urusan penting yang harus aku selesaikan Mom. Aku titip Velove juga, dia sedang ada dikamar bersama Justin."


"Bolehkah aku ke kamar Daddy?" tanya Felicia.


"Boleh sayang, sana temani Mommy mu."


"Yeee terima kasih Daddy."


Setelah mendapat izin Felicia segera berlari menuju ke kamar Max untuk bergabung bersama Velove dan Justin. Max berjalan menuju sofa kemudian duduk.


"Ada apa Max? Sepertinya kamu sedang bimbang." tanya Nyonya Glover.


"Ya Mom, aku ingin segera meresmikan statusku dengan Velove."


"Mom setuju, lalu apa yang membuatmu bimbang? Kita selenggarakan saja pesta yang mewah untuknya."


"Velove tidak mau hal semacam itu Mom, bahkan dia tidak ingin pernikahan ini diketahui oleh orang lain."


"Yeah masuk akal juga alasannya. Apalagi musuh kalian masih belum teratasi. Ya menurut Mom, kamu turuti saja keputusannya Max. Love adalah tipe wanita berprinsip jadi dia mempunyai keputusan sendiri."


"Baiklah Mom, aku sudah menyuruh Luis untuk mengurus semuanya, mungkin besok sudah jadi buku nikahnya." ucap Max.


"Bagus, semoga kebahagiaan selalu menyertai keluarga kita."


Tiba-tiba ponsel Max berbunyi, terlihat Marvin sedang memanggil. Max pun mengangkat telepon itu.


"Hallo, baiklah aku segera kesana." jawab Max dengan serius.


"Aku pergi dulu Mom." ucap Max lalu dengan cepat dia pergi meninggalkan rumah untuk menuju ke markas Black Pearl.


Max akan menuju markasnya karena salah satu anak buahnya menangkap seorang mata-mata dari klan musuh. Untuk masalah ini Max tidak akan berbelas kasihan karena semangat hidupnya sudah kembali.

__ADS_1


Max menuju ke mobil yang sudah tersedia di halaman rumah. Setelah sampai dia langsung masuk dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Setengah jam kemudian Max sampai di markasnya. Dia keluar dari mobilnya kemudian langsung masuk ke dalam markas.


Sesampainya di dalam Max langsung di sambut anak buahnya dan dia langsung menuju ke ruang eksekusi. Di dalam sudah ada Marvin yang sedang mengintrogasi musuh.


"Tuan." sapa Marvin.


"Bagaimana sudah mendapatkan informasi dari mulutnya." tanya Max kepada Marvin.


"Belum Tuan, dia tetap bungkam." jawab Marvin.


Max diam sambil menatap tajam anak buah Dragon Empire yang sudah babak belur itu. Max juga meminta sebatang rokok kepada Marvin untuk di hisapnya. Entah apa yang akan dilakukan Max. Sejak dia menikah dan mempunyai anak, Max menghilangkan kebiasaan merokoknya. Sekarang tiba-tiba dia ingin menghisap lagi balutan tembakau itu.


Max menyulut ujung batang rokok itu dengan gaya cool-nya. Dia menghisap rokok itu dengan dalam lalu berjalan mendekati musuh yang tertangkap itu.


"Kamu katakan atau aku akan habisi kamu." ucap Max dengan mengepulkan asap ke wajah tawanannya.


"Kamu membunuhku juga tidak akan aku katakan. Hahahahah." teriak tawanan itu dengan sombongnya.


Max yang merasa diremehkan pun melayangkan tendangan ke arah dada orang itu.


DUGGGHHH


Tawanan itu pun jatuh tersungkur di lantai, dengan tangan dan kaki terikat dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Bangunkan dia." perintah Max pada anak buahnya.


"Ohhh aku ingat kamu adalah orang yang memegang tangan wanita yang aku cintai. Berani-beraninya kamu menyentuhnya."


"Katakan tangan mana yang kamu gunakan untuk menyentuh wanitaku? Apa tangan yang ini?" ucap Max dengan senyuman jahatnya. Dia memegang tangan orang itu kemudian Max meminta sebuah balok kayu kepada Marvin.


"Marvin berikan aku balok kayu itu."


Marvin segera mengambilkan apa yang diperintahkan tuannya. Setelah menerima balok kayu dari Marvin, Max dengan gaya elegannya mendekati orang itu dan menghantamkan balok kayu ke tangan kanan musuh.


BRUAAAKKK


AAAAAAAAARRRHHHH


Tawanan itu berteriak kesakitan,dan hal itu membuat Max puas. Sudah lama dia tidak melakukan hal-hal yang kejam.


"Itu belum seberapa dengan luka yang kalian tembakkan ke orang yang aku cintai. Kalian semuanya brengsek." teriak Max murka.


Max kembali menghisap rokok yang masih di pegangnya. Dia menghisap dalam kemudian dengan cepat Max menyulutkan ujung batang rokok itu ke mata musuhnya.


CLUUPPP

__ADS_1


CLUUPPP


AAAAAAAAARRRRKKKHHH


Tawanan itu mengerang kesakitan karena kedua matanya menjadi sasaran kemurkaan Max.


"Kamu masih tidak ingin mengatakannya?Hahhh?"


"Aku sudah bilang aku tidak akan mengatakannya." teriak musuh Max.


"Kalian ambilkan aku tapal panas itu, aku ingin menggambar sesuatu ke tubuh orang bodoh ini."


Salah satu anak buah Max pun mengambilkan tapal panas yang diinginkan Max. Setelah tapal panas itu ada di tangan Max. Dia memulai aksinya dengan menempelkan tapal panas itu ke wajah tawanannya dan ke beberapa bagian tubuh lainnya.


Suara teriakan keras memenuhi ruangan berdinding tebal itu, ruangan yang hampir tidak ada ventilasinya.


Semua anak buah Max bergidik ngeri dengan kekejaman tuannya. Mereka melihat sosok tuanya yang dulu kejam dan mulai berubah sejak jatuh cinta kepada wanita yang sudah meninggalkannya, yang tak lain adalah istrinya dahulu.


Setelah puas menyiksa musuh nya, Max tertawa lepas.


"Hahahahahha, sungguh asyik sekali setelah sekian lama tidak bersenang-senang. Aku tau kamu itu hanya umpan. Jadi aku tidak akan memaksa lagi. Marvin bawa dia ke ruang bawah tanah, biarkan dia sekarat. Setelah mati buang jasadnya ke peternakan buaya." perintah Max kepada Marvin.


"Baik Tuan."


Max keluar ruangan eksekusi itu dengan keringat yang mengucur. Dia menuju ke ruangannya untuk membersihkan diri dan mengganti baju. Tidak mungkin dia pulang dengan baju berantakan dan tubuh kotor.


Setelah bersih-bersih Max keluar dari ruangannya dengan pakaian yang bersih dan juga aroma yang wangi. Dia kembali memanggil Marvin asistennya.


"Marvin setelah kejadian ini kalian lebih perketat penjagaan. Kalau ada yang mencurigakan segera tangkap mereka. Aku pulang dulu, kalau ada apa-apa langsung laporkan saja padaku."


"Baik Tuan." jawab Marvin patuh.


Max keluar dari markasnya untuk pulang ke mansion. Max sudah merindukan Velove padahal baru beberapa jam saja dia keluar.


"Aku sudah sangat merindukanmu Love, padahal baru sebentar saja aku keluar. Sungguh aku tak berdaya jika bersamamu." gumam Max dalam hati.


bersambung...


**HAI HAI READERS GIMANA SANG MAFIA KEJAM TELAH KEMBALIπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


AKAN OTHOR BUAT NANTI KOLABORASI PASANGAN PSIKOPAT MAX AND LOVE MENYIKSA MUSUH2NYA🀣🀣🀣**


JANGAN LUPA LIKE SETELAH MEMBACA YAπŸ‘πŸ₯°


HADIAHI OTHOR JUGAπŸŒΉβ˜•πŸ˜˜

__ADS_1


VOTENYA BAGI YANG PUNYA VOTE


TERIMA KASIHπŸ₯°πŸ₯°πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜****


__ADS_2