My Strong Woman

My Strong Woman
TERBAKAR CEMBURU


__ADS_3

Mr. X pun menyuruh anak buahnya untuk mengirimkan video yang berhasil direkam tadi. Dia ingin membuat Max emosi dan cemburu. Alhasil video yang dikirim pun telah sampai di notif email klan Black Pearl. Luis yang masih berjaga di depan laptopnya pun segera memberi tau Tuannya.


"Tuan ada notif email yang masuk." kata Luis.


"Cepat buka." perintah Max.


Luis langsung membuka dan mengunduh video tersebut, dan betapa kagetnya Max melihat istrinya di peluk oleh orang yang sangat dia benci. Max langsung tersulut emosinya dan marah mengumpat semua yang ada disitu.


"Brengsek, bajingan, berani-beraninya dia menyentuh milikku. Luis cepat temukan keberadaan mereka. Aarrkkkkhhh." teriak Max dengan keras dia sangat frustasi melihat Video itu.


Luis pun dengan gugup menuruti perintah Tuannya. Kemudian dia menemukan sebuah notif lagi, kali ini notif signal dari GPS yang ada di liontin Justin.


"Tuan ada signal dari GPS tuan muda." seru Luis kepada Max.


"Benarkah? Dimana putraku ayo kita kesana." sahut Max.


"Signalnya menuju ke arah mansion kita Tuan."


"Ayo kita pulang Luis, mungkin Velove sudah berhasil membawa Justin pulang."


Max dan Luis memutuskan untuk kembali ke mansionnya. Luis mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi agar sampai tepat waktu.


Di dalam sebuah mobil Justin duduk diapit oleh para pengawal berbadan besar. Justin tidak merasa takut pada mereka. Justru Justin malah membuat pengawal itu kesal.


Justin duduk dengan tangan bersilang dada. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri melihat wajah para pengawal itu.


"Uncle kenapa wajah uncle sangat menyeramkan sih?" celetuk Justin pada pengawal itu. Namun pertanyaan Justin di abaikan oleh mereka.


"Uncle kalian tidak bisu kan? terus kalian juga tidak tuli kan?" dengus Justin kesal dengan menghela nafas panjang.


"Uncle, kata Mommy kalau ada orang bertanya itu harus di jawab, bukanya diam seperti orang bisu." ucap Justin dengan sangat polos


"Kamu bisa diam tidak anak kecil? Berisik." bentak pengawal itu.


"Cih, galak sekali. Aku kan cuma tanya kenapa mereka marah-marah. Aku sumpahin kalian tidak akan mempunyai anak, karena kalian itu jahat sekali sama anak kecil. Huhhh." gumam Justin dengan sangat pelan.


Di jalan lain mobil Max sudah sampai di mansionnya, Max berlari ke dalam rumah mencari putra dan istrinya.

__ADS_1


"Justin, Love kalian dimana?" teriak Max dengan keras.


"Max kamu cari siapa Justin dan Velove belum ketemu kah?" tanya Nyonya Glover.


"Belum Mom, tapi Luis menemukan signal GPS dari liontin Justin sedang menuju ke rumah." jawab Max pada Momnya.


Max sangat lah panik hingga dia tidak bisa berpikir jernih. Kemudian dari luar ada seorang pengawalnya yang berlari dari luar melaporkan sebuah informasi.


"Tuan, tuan muda terlihat berjalan sendirian di depan gerbang." ucap pengawal itu.


"Apa sendirian?" jawab Max singkat kemudian dia segera pergi keluar untuk melihatnya sendiri.


Di depan Justin berjalan didampingi oleh pengawalnya. Dia berjalan dengan santainya seolah-olah tidak terjadi apapun. Max yang sudah sampai luar pun melihat putranya berjalan sendirian tanpa Velove disampingnya.


"Justin kamu pulang, kamu tidak apa-apa nak? mana Mommy?" tanya Max pada Justin.


"Ajak Justin masuk dulu Max." sahut Nyonya Glover.


Kemudian Max membawa masuk Justin ke dalam mansion. Max bingung dan penasaran dengan sikap diam Justin. Setelah sampai di ruang tamu Max mendudukkan putranya dan meminta pelayan membawakan air minum. Kemudian Max bertanya kepada pengawal apa yang terjadi.


"Kami menemukan tuan muda berjalan sendiri dari ujung jalan Tuan, dan kami menanyakan sesuatu tapi tuan muda diam tidak menjawab."


Justin minum air putih yang di bawakan pelayan, setelah minum Max mengajukan beberapa pertanyaan pada putranya.


"Sayang ceritakan pada Daddy, siapa yang mengantarmu pulang, dan kenapa kamu sendirian? dimana Mommy?" tanya Max pada putranya.


Justin menghela nafas panjang kemudian menceritakan semua kepada Daddy-nya.


"Aku pulang sendiri tanpa Mommy, Dad. Mommy menyuruhku pulang duluan, kata Mom dia masih ada urusan. Apa sebenarnya pekerjaan Mommy, Dad. Mom menyuruhku menanyakan hal ini kepada Daddy." ucap Justin dengan nada kesal.


"Terus sebelum aku pulang tadi, Mommy bicara dengan seorang uncle yang jahat Dad. Dia menyuruh Mommy untuk tetap tinggal, dan Mommy menyetujuinya. Justin tidak suka dengan uncle itu Dad, meskipun dia tampan tetapi aku tidak suka cara dia memandang Mommy. Membuatku semakin kesal saja."


Penjelasan Justin membuat kepala Max semakin pusing. Dia semakin bingung dengan keputusan yang dibuat istrinya. Nyonya Glover yang melihat ucapan Justin yang polos pun hanya bisa menggelengkan kepala karena penjelasan dari cucunya itu membuat Daddy-nya semakin gusar.


"Sudahlah Max, mungkin Velove punya rencana lain. Makanya dia melakukan semua ini. Kamu percaya saja sama dia jangan berpikiran macam-macam." ucap Nyonya Glover menenangkan Max.


"Mommy bilang Daddy jangan khawatir. Nanti kalau Mommy butuh bantuan pasti Mom akan menghubungi Daddy." sahut Justin dengan jelasnya.

__ADS_1


Max memijit pangkal hidungnya. Dia tidak bisa berpikir jernih jika kecemburuan merasuk kedalam hatinya.


"Sayang ayo kita ke kamar kamu harus istirahat." ucap Nyonya Glover pada Justin.


"Max sebaiknya kamu mendinginkan dulu pikiranmu, baru mencari jalan keluar untuk mencari Velove." imbuh Nyonya Glover kepada Max.


"Love apa maksud dan rencanamu sebenarnya, kenapa kamu melakukan hal berbahaya seperti ini. Rencanamu ini terlalu beresiko Love. Aku tidak bisa melakukan apa-apa jika kamu seperti itu." ucap Max dalam hati.


DI MANSION, Mr. X


Velove berjalan membuka dan memasuki semua ruangan. Dia memilih ruangan yang cocok untuk menjalankan semua misinya. Akhirnya dia memilih sebuah kamar yang mempunyai jendela luas dan sebuah balkon di depannya.


Velove memasuki ruangan itu dan berkeliling melihat kondisi kamar yang akan di tempatinya itu. Kemudian Mr. X juga ikut masuk kedalam kamar yang dipilih Velove. Dia sudah tau kalau Velove pasti akan memilih ruangan tersebut.


"Pilihan yang bagus sayang, aku sudah tau kalau kamu akan memilih ruangan ini." ucap Mr. X mengahampiri Velove yang berdiri di balkon.


Velove diam tanpa menoleh dia masih tetap dengan pandangan lurus ke arah langit. Lalu Mr. X memeluk tubuhnya dari belakang lagi, dan hal ini membuat Velove terkejut.


"Jangan bertindak kurang ajar. Lepaskan tanganmu." bentak Velove dengan menghempaskan tangan Mr. X yang memeluknya.


"Hahahah kenapa sayang,? Mengapa kamu terlihat sangat jijik kepadaku." sahut Mr. X dengan memegang dagu Velove.


"Karena kamu sangat menjijikkan." sahut Velove dengan mengempaskan lagi tangan Mr. X.


"Baiklah aku tidak akan menggangumu, nikmatilah hari-harimu sayang. Karena besok kita akan pergi jalan-jalan. Sebentar lagi ada pelayan yang akan masuk mengantar baju untukmu. Enjoy lah karena aku akan memanjakanmu, sayang." ucap Mr. X dengan gaya casanovanya.


Velove pun merasa eneg melihat tingakah pria yang sangat di bencinya itu. Dia harus bersabar demi misi yang sudah dia rencanakan agar berhasil.


"Tunggu saja tanggal mainnya pria brengsek, aku akan membunuhmu dengan tanganku ini." gumam Velove dengan penuh kebencian.


**JANGAN LUPA LIKE SETELAH MEMBACA YA DEARS๐Ÿ‘๐Ÿ˜€


HADIAHI OTHOR JUGA๐ŸŒนโ˜•


VOTE NYA MANA VOTE NYA๐Ÿ˜˜


TERIMA KASIH๐Ÿ˜€๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜๐Ÿฅฐ**

__ADS_1


__ADS_2