My Strong Woman

My Strong Woman
LONDON IN LOVE 3


__ADS_3

Setelah permainan panas, Velove tidur dengan lelapnya. Bahkan dia tidak menyempatkan diri untuk bersih-bersih. Max juga tidak berani menyuruh istrinya untuk membersihkan badan sebelum tidur. Kemudian Max beranjak dari tempat tidur menuju ke toilet. Beberapa menit kemudian Max telah selesai dia keluar dari toilet dan merebahkan dirinya di samping Velove. Max tidur dengan memeluk istrinya.


Keesokan harinya Max terbangun, jam sudah menunjukkan pukul 09.00. Di lihatnya wajah sang istri yang masih tidur, wajah itu mampu membuatnya gila sesaat. Tiba-tiba ponselnya berdering, ternyata panggilan dari Justin. Max mengangkat telepon dari putranya.


"Halo boy, ada apa pagi-pagi sudah telepon?"


"Daddy, aku rindu Mommy. Dimana Mommy Dad?"


"Mommy masih tidur Nak. Biarkan Mommy tidur, nanti kalau sudah bangun Daddy akan telepon balik kamu."


"Emm, baiklah Dad. Salam buat Mommy."


"Iya sayang."


Kemudian Justin menutup teleponnya. Setelah itu Velove terbangun dia mengucek matanya mencari seseorang. Kemudian Max memeluknya dari belakang sambil mencium pundaknya.


"Morning Honey,"


Velove membalikkan badannya kemudian dia langsung memeluk suaminya.


"Morning, biarkan aku memelukmu sebentar suamiku."


Max tersenyum dan mengecup ujung kepala istrinya.


"Peluklah aku sesukamu sayang. Kamu ingin makan apa biar aku pesan sekarang."


"Aku belum lapar, nanti saja kalau aku sudah benar-benar lapar." jawab Velove sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang Max.


"Bagaimana keadaan perutmu sayang? Apakah masih sakit?"


"Sudah baikan kok, mungkin tadi malam sedikit kaget jadi mengalami kontraksi."


"Maafkan aku membuatmu sakit sayang." ucap Max dengan terus membelai rambut Velove.


"Tidak apa-apa,"


"Apa kamu tidak ingin mandi Love? Hari ini kita harus keliling London,"


"Aku malas berjalan Max, entah mengapa aku ingin terus memelukmu."


"Iya aku tau, tapi kamu harus mandi biar fresh. Ayo aku bantu kamu mandi."


"Emm, baiklah terserah kamu saja."


Kemudian Max membawa istrinya untuk mandi. Velove menjadi sangat manja saat ini. Emosinya juga sering berubah-ubah. Untung saja Max pria yang penyabar, jadi dia bisa melayani istrinya dengan baik.


Setengah jam kemudian Max keluar dari toilet dengan menggendong istrinya. Max mendudukkan Velove di tepian ranjang. Kemudian dia mengambilkan baju ganti untuknya. Sebelum berganti baju Max mengeringkan rambut Velove yang basah.


"Tadi Justin menelepon mu Love."


"Emm, kenapa kamu tidak membangunkan ku Max?


"Karena aku tidak mau mengganggumu sayang. Kamu telepon balik Justin saja."


Kemudian Velove menelepon balik putranya. Sedangkan Max terus mengeringkan rambut istrinya. Velove asyik videocall dengan Justin, dan Max hanya memperhatikan tawa renyah sang istri. Setelah beberapa menit video call pun berakhir, Velove ingin merias wajahnya.


"Setelah selesai make up aku mau shoping Max,"


"Dengan senang hati menemanimu My Queen."


Velove berkutat dengan alat make up di depan cermin. Dia merias wajahnya dengan make up yang natural. Setelah make up selesai Velove dan Max segera keluar dari kamar menuju ke mobil. Velove tampak senang sekali karena Max begitu perhatian dan selalu memanjakannya. Setelah sampai di mobil Max melajukan kendaraannya menuju ke Tower Bridge. Velove tampak senang sekali bisa kembali ke tempat dimana dia bertemu Max pertama kali.


"Kita kemana dulu Love?"


"Aku mau belanja dulu, setelah itu kita makan."


Max langsung menuruti permintaan istrinya, dia melajukan kendaraannya mencari pusat perbelanjaan di sekitar London Tower. Beberapa menit kemudian Max sampai dia memarkirkan mobilnya kemudian turun dan membukakan pintu mobil untuk istrinya. Velove keluar kemudian dia langsung menggandeng tangan suaminya untuk segera masuk ke dalam.


Velove terus merangkul lengan suaminya dengan erat. Dia menuju ke salah satu butik yang dengan nama brand yang terkenal Valentino Garavani, sedangkan Max memilih ke Paul Smith.


__ADS_1


"Max temani aku masuk ke sini dulu. Aku mau mencari baju buat Justin dan Felicia."


"Baiklah Love "



Lalu Max dan Velove masuk ke dalam butik tersebut. Semua berjejer dengan rapi di dalam butik tersebut dan semuanya adalah barng limited edition. Sejak bersama dengan Max, Velove menyukai barang-barang branded terkenal.


Velove memilih dan memilah semua baju yang ada disitu. Tiba-tiba dari belakang ada seorang pria yang sedang mengamatinya dari kejauhan. Pria tersebut semakin mendekat menuju ke arah Velove. Setelah mendekat pria tersebut langsung memeluk Velove dari belakang. Hal itu sontak membuat Velove terkejut. Velove melihat tangan yang memeluknya bukanlah tangan Max. Kemudian Velove melancarkan pukulan ke arah pria tersebut, namun dapat di tangkis dengan mudah.


"Kamu ingin memukulku Love?"


Velove terkejut melihat pria di depannya.


"Astaga Will, ini kamu. Sial hampir saja aku menghajarmu."


" Beberapa tahun tidak pernah bertemu, kamu masih saja galak Love."


"Simpan omong kosongmu."


"Hei kenapa kamu terlihat gemuk sekarang Ha? Sini aku peluk kamu sekali lagi untuk memastikan."


Will memeluk Velove sekali lagi dan hal itu dilihat oleh Max. Max langsung geram dan kesal melihat Velove dipeluk pria lain. Velove juga memberontak dari pelukan Will.


"Jangan memelukku sembarangan Will atau kamu dalam bahaya."


"Why, kenapa babe?" tanya Will penasaran.


"Karena yang anda peluk itu adalah milik saya." sahut Max dari belakang.


Will dan Velove menoleh ke arah Max. Velove pun segera berjalan menuju ke suaminya. Dia tidak ingin Max salah paham.


"Hai sayang, perkenalkan dia Will bos ku waktu kerja di bar dulu. Will perkenalkan dia suamiku."


"Suami? Apakah dia pria waktu itu? Wait menikah kenapa kamu tidak mengundangku?"


"Ya salah sendiri kamu pergi dari Amerika. Aku mencari informasi tentang mu tapi tidak ketemu. Aku meresmikan pernikahan ku dua hari yang lalu di Manhattan."


Will yang terus bicara tanpa filter itu membuat Max terbakar api cemburu. Dia sudah mengepalkan tangan seakan sudah bersiap untuk menghajar pria yang juga menyukai istrinya.


Velove juga kesal dengan ulah Will, karena dia tau pasti Will melakukan itu dengan sengaja. Kemudian Velove mengajak Will makan siang untuk mencairkan suasana.


"Will mau ikut makan siang bersama kita? Kebetulan kita mau makan."


"Oh suatu kehormatan bagiku bisa makan bersamamu My Love."


Max menghela nafas panjang dan menghembuskan dengan kasar seakan dia sedang menahan emosi. Dan mata Max terus menatap tajam Will yang sedang menggoda istrinya.


Will berjalan duluan di depan, sedangkan Max berjalan dengan malas sekali, dia sudah bad mood karena kecemburuannya. Velove juga ikut mengumpat dalam hati karena sikap Will yang sedang memprovokasi Max.


"Dasar Will sialan, ingin sekali aku menyumpal mulut brengseknya itu. Dia suka sekali mendatangkan masalah untukku."


Selanjutnya mereka bertiga di sebuah restoran sea food. Max, Velove, dan Will masuk kesana bersamaan. Setelah mendapatkan meja, Velove mulai memesan makanan. Sembari menunggu makanannya siap, Velove melakukan obrolan dengan Will dan obrolan itu membuat Max sangat terganggu.


"Bagiamana kabar Justin Love, apa dia sudah besar sekarang?"


"Yeah dia sudah besar dan semakin tampan. Kapan-kapan mainlah ke rumah kalau kamu ingin bertemu dia Will."


"Tentu aku akan bermain, karena aku juga merindukannya seperti aku merindukanmu."


Mata Max mendelik mendengar ucapan Will yang semakin lama semakin di sengaja.


"Maaf sepertinya anda tidak menganggap keberadaan saya disini. Saya menghargai kalau adalah teman istri saya, tapi bukan berarti anda bisa berbicara seenaknya."


Max menegur Will yang berbicara terus tanpa filter. Kemudian ponselnya berdering tanda panggilan masuk. Max beranjak pergi mengangkat ponselnya ditempat lain. Kemudian Velove juga memarahi Will dengan umpatan kasarnya.


"Will kalau aku sedang tidak hamil, aku sudah menendang mu keluar dari tempat ini."


"Salahkan dia mengapa lebih tampan dariku." jawab Will cuek.


"Jadi kamu memujinya sekarang?"

__ADS_1


"Yeah aku akui dia tampan, kaya, pantas untukmu. Perfect, Selamat untukmu Love."


"Thanks Will, kamu memang my Brother."


"No, lebih tepatnya mantan pacar Love."


"Oh No, kamu bisa membuatku gila jika berlama-lama disini Will."


"Aku ingin tau seposesif apa suamimu?"


"Kamu salah jika menganggapnya posesif Will. Dia selalu mendengarkan dan menghargai keputusanku dan itulah yang membuatku jatih hati padanya. Ya meskipun dia sudah pernah menikah tapi tak apa. Aku menyukainya."


"Dia pernah menikah?" ucap Will tak percaya.


"Yeah bahkan dia mempunyai seoarang putri."


"Ternyata seorang sugar daddy."


"Why, bukankah dulu kamu yang menyuruhku mencari Sugar Daddy di London Will. Dia lah Sugar Daddy ku."


"Iya ya, membuatku sangat iri."


Ketika Velove dan Will asyik bicara Max kembali ke mejanya. Dia sudah selesai bertelepon. Max masih mengarahkan pandangannya terhadap Will.


"Siapa yang telepon Max?"


"Luis ada sedikit masalah di rumah, tetapi suda teratasi."


"Emmm, ya sudah ayo kita makan. Kita sedang menunggumu."


Setelah Max kembali, Velove memulai makan siangnya. Makan siang itu sangat asyik buat Will dan Velove tetapi tidak untuk Max. Will terus menggoda Velove hingga membuat Max geram.


Satu jam kemudian makan siang itu selesai, Will pamit ingin pergi.


"Sepertinya aku harus pergi Love. Terima kasih untuk hari ini, senang bertemu denganmu. Kapan-kapan kita bertemu kembali."


"Ya aku tunggu kedatanganmu di Jerman, karena aku akan menetap disana."


"Baiklah bisa diatur nanti dan satu lagi ini untukmu Bung. Jaga Velove dengan baik jangan sakiti dia karena kalau sampai itu terjadi, akulah orang pertama yang akan membawanya pergi." ucap Will kepada Max secara serius.


"Hmm itu tidak akan terjadi sampai kapanpun." jawab Max sinis.


"Okey, aku pergi dulu ya Love sampai bertemu kembali. Muacch. Mmuaacch."


Will mengecup pipi Velove dengan paksa dan membuat Max berdiri refleks. Velove juga terkejut dengan sikap Will yang sengaja.


"Will dasar brengsek." teriak Velove mengumpat Will yang berlalu.


"Hahaha bye my Love, aku mencintaimu." balas Will dengan percaya diri.


"Ingin sekali aku menhajarnya dan kamu Love sepertinya kamu sangat menikmati kecupannya." ucap Max marah."


"Why apa maksudmu Max? Kamu pikir aku wanita apa? Ha? Kamu tau kan dia seperti kakak bagiku. Jadi kamu jangan pernah berpikiran aneh. Okey."


"Kami membuatku emosi, aku ingin pulang."


Velove pergi dengan emosi juga, karena ulah Max yang emosi padanya.


"Astaga, kenapa seperti ini, Seharusnya kan aku yang marah. Tapi kok kebalikannya."


"Love tunggu Love. Ini tak adil bagiku."


"Love berhenti."


...bersambung...


JANGAN LUPA LIKE SETELAH MEMBACA YA DEARS🙏👍


HADIAH BUAT OTHOR🌹☕


VOTE NYA YANG PUNYA VOTE

__ADS_1


TERIMA KASIH🥰😘😍


__ADS_2