
Sesampainya di bandara Max dan Velove segera melakukan check in untuk mendapatkan boarding pass pesawat. Mereka harus menunggu pesawat take off selama setengah jam lagi. Velove merasakan sedikit kram di bagian perutnya.
Memang akhir-akhir ini, kandungan Velove sering mengalami kontraksi. Max menyarankan Velove agar memeriksakan kandungannya ke dokter. Akan tetapi, Velove menolaknya dengan alasan dia akan periksa setelah tiba di Jerman nanti.
"Sssssh, aduh perutku kram lagi Max," desis Velove pada suaminya.
Max pun segera memegang dan mengelus pelan perut istrinya. Setiap Velove merasakan kontraksi, Max selalu melakukan itu dengan sabarnya. "Bagaimana Love? apakah masih terasa sakit?" tanya Max pelan.
Velove mengangguk pelan dan berkata," Ya, sangat nyaman sekali Max. Sepertinya bayi dalam perutku ini akan manja sekali denganmu."
"Oh, tentu dong sayang, karena mereka tau kalau Daddy-nya ini sangat penyayang dan selalu mencintai keluarganya," sahut Max dengan sangat percaya diri.
Tak lama kemudian, panggilan penerbangan sudah terdengar. Max dan Velove segera berdiri dan masuk kedalam pesawat. Mereka berdua duduk di kursi kelas bisnis. Setelah itu pesawat take off dan perjalanan panjang di mulai.
Di dalam pesawat kondisi Velove kembali buruk. Badannya lemas dan kepalanya pusing juga ditambah mual. Max selalu siaga mendampingi sang istri dan selalu menuruti semua yang di perintahkan.
Setelah beberapa jam mengudara, pesawat yang dinaiki Max dan Velove mendarat juga di bandara Jerman. Kini saatnya mereka berdua turun dari pesawat. Max menuntun Velove yang masih berjalan sempoyongan.
"Love kamu masih muat kan? atau aku gendong saja kamu?" tanya Max kepada Velove.
"Aku ingin jalan pelan-pelan saja," jawab Velove lirih.
Setelah itu mereka berjalan keluar dan mencatatkan diri ke bagian imigrasi. Lalu, dilanjutkan dengan mengambil koper, setelah itu menuju ke mobil karena Luis dan Marvin telah menunggu di depan.
Luis dan Marvin segera menyambut Tuan dan Nyonya-nya. "Selamat datang kembali ke rumah Tuan dan Nyonya," sapa Luis dan Marvin.
"Iya, ayo segera pulang. Justin belum tau kan kalau kita akan pulang," tanya Max pada Luis.
"Belum Tuan. Hari ini tuan Muda ada lomba melukis," jawab Luis .
__ADS_1
"Oh, ya! Biar nanti aku yang jemput Justin pulang dari sekolah Luis."
"Baik Tuan."
Setelah itu Luis membawa majikannya untuk pulang ke mansion yang sudah ditinggalkannya berminggu-minggu. Beberapa menit kemudian mobil yang dinaiki Max telah sampai di mansion.
Max ingin keluar dari mobil tapi keadaan Velove semakin lemas. Max pun panik dan segera mengangkat tubuh istrinya itu masuk kedalam rumah. Bahkan, Velove terlihat tak sadarkan diri dan Max mengira istrinya tadi sedang tidur.
Max masuk kedalam rumah dengan setengah berlari dan membuat terkejut sang Mommy. "Max kamu sudah pulang, ada apa dengan Velove? kenapa dia tampak pucat sekali," tanya Nyonya Glover panik.
"Nanti Max ceritakan Mom, sekarang tolong panggilkan dokter untuk memeriksa keadaan Velove, Mom," sahut Max pada sang Mommy.
Setelah itu Nyonya Glover segera menghubungi dokter langganan keluarga dan memintanya untuk seger datang ke rumah.
Selesai menelepon, Nyonya Glover segera naik keatas untuk menyusul anak dan juga menantunya. Sesampainya diatas, Nyonya Glover langsung menghampiri Velove yang masih pingsan diatas tempat tidur.
"Apa yang terjadi Max? kenapa istrimu bisa pingsan seperti itu?"
"Mommy kan sudah bilang sama kamu kalau jangan terlalu keras dalam berhubungan badan, karena bisa fatal akibatnya."
"Iya aku tau Mom, makanya mengajak Velove pulang karena aku sangat khawatir sekali."
Max berdiri dan meminta izin pada Nyonya Glover, "Mom jaga Velove aku mau jemput Justin di sekolah."
"Baiklah, Mom akan disini," jawab Nyonya Glover mengizinkan.
Setelah itu Max pergi menjemput Justin di sekolahnya. Dia juga sudah sangat merindukan putra tercintanya itu. Sedangkan Nyonya Glover menemani Velove yang masih belum sadar dan juga menunggu kedatangan sang dokter.
Max sudah tiba di sekolah Justin. Dia menunggu dengan tenang di depan pintu gerbang. Sepuluh menit kemudian, pintu gerbang sekolah pun terbuka. Banyak anak-anak yang keluar dari dalam sana. Max pun mengamati setiap anak yang keluar, lalu dia menemukan Justin yang sedang berjalan pelan dengan salah satu temannya.
__ADS_1
Max keluar dari dalam mobil, lalu melambaikan tangannya ke arah Justin. Justin yang melihat sosok Daddy-nya pun langsung berlari sambil berteriak senang, "Daddy, Daddy."
Justin berteriak dan memeluk Max dengan gembira, " Daddy kapan kembali? Dimana Mommy, Dad? kenapa Mommy tidak ikut menjemputku?"
"Ayo kita masuk dulu boy, nanti Daddy akan jelaskan padamu," ucap Max membuka pintu mobil untuk putranya.
Setelah itu, Max menjalankan mobilnya untuk kembali ke rumah. Di dalam mobil, Justin terus bertanya kepada Max, tentang liburannya di London kemarin, "Bagaimana liburan Daddy? apakah sangat menyenangkan?"
"Banyak kejadian yang tak terduga sayang. Apalagi kondisi Mommy yang sering bermasalah dengan kandungannya."
"Kenapa dengan Mommy, Dad?" tanya Justin sangat khawatir.
"Nanti kamu akan tau jika sudah sampai di rumah sayang," jawab Max, dan itu membuat Justin sangat penasaran.
Dua puluh menit kemudian, Max telah sampai di kediamannya. Tanpa menunggu lagi, Justin langsung keluar dan berlari masuk ke dalam rumah untuk menemui Mommy-nya.
Dari luar, Justin berteriak memanggil Velove yang sedang di periksa oleh dokter, "Mommy, Mommy."
Justin sampai dalam kamar Velove. Dia kaget melihat Mommy tercintanya terbaring lemas di atas kasur, "Mommy, Mommy kenapa? Grandma, ada apa dengan Mommy? kenapa Mommy terlihat sangat pucat?"
"Justin, sini duduk sama Grandma dulu. Biar dokter memeriksa Mommy-mu," ucap Nyonya Glover pada cucunya.
Justin pun menuruti perkataan Grandmanya. Wajah polosnya sangatlah khawatir dengan keadaan Mommy-nya.
Beberapa menit kemudian, dokter telah selesai memeriksa kondisi Velove. Dokter menuliskan resep obat dan vitamin agar bisa menutrisi kandungan Velove yang masih sangat rentan itu.
Max masuk ke dalam kamarnya untuk mendengarkan penjelasan dokter mengenai kondisi istrinya, "Bagaimana dengan istriku Dok? apakah kandungannya baik-baik saja?"
"Semua baik, hal seperti ini sangat wajar terjadi pada awal kehamilan. Hanya perlu menjaga pola makan dan juga aktifitas yang melelahkan. Harus banyak istirahat karena saya melihat bekas luka di perut kanan istri anda dan itu bisa beresiko jika kehamilannya membesar nanti," ucap dokter dengan sangat teliti.
__ADS_1
Setelah itu dokter memberikan resep pada Maz, kemudian dokter itu pun pergi berpamitan. Justin langsung berdiri dan menghampiri sang Mommy yang masih memejamkan matanya itu.
"Mommy, bangunlah. Jangan membuat Justin takut. Aku sayang sekali dengan Mommy. Mommy cepat bangun ya?" ucap Justin sangat khawatir.