
Max mencium kembali bibir manis itu dan Max pun membantu Velove untuk mandi. Setelah selesai Max menggendong Velove keluar kamar mandi menuju ke tempat tidur. Velove yang lemas dan lelah hanya memejamkan matanya sambil mengalungkan tangannya ke leher Max.
Max menidurkan Velove di ranjang, kemudian menutupinya menggunakan selimut. Velove tertidur kembali, fisik yang belum pulih sepenuhnya membuat dia cepat lelah. Padahal penyatuan tadi termasuk dalam waktu yang singkat, karena kurang dari 15 menit.
"Love kamu begitu cantik, membuatku ingin selalu menempel padamu." gumam Max sambil memandangi wajah ayu sang kekasih.
Tak lama kemudian ponsel Max berdering, nama Luis tertera di layar ponselnya. Max pun mengangkat telepon dari Luis.
"Hallo Luis, ada apa? okey aku segera turun." Max menutup teleponnya dan segera keluar kamar untuk menemui Luis.
Max berjalan keluar kamar, di depan pintu dia mendapati Justin yang ingin masuk kamar menemui Mommy nya.
"Stop kamu mau kemana Justin?" tanya Max pada putranya.
"Aku mau masuk menemui Mom, Dad." jawab Justin.
"No, nanti saja ya, jangan ganggu Mommy karena dia masih istirahat."
"Justin kesepian Dad, tidak ada yang menemani ku main game." rengek Justin dengan muka melas.
"Emm Daddy akan suruh uncle Marvin untuk menemani kamu main game gimana?"
"Yes, yes, aku mau Dad,"
"Kalau begitu ikut Daddy ke bawah."
Setelah bernegosiasi dengan putranya, Max turun kebawah, dan di ruang tamu sudah ada Luis yang menunggu.
"Selamat siang Tuan dan ini dokumen yang anda inginkan." ucap Luis kepada Max.
Max menerima amplop coklat yang diberikan Luis, kemudian dia membuka amplop itu. Buku nikah yang dia daftarkan sudah jadi, dan kini status Velove adalah istri sah dari Max.
"Kerja bagus Luis,"
Tiba-tiba dari dalam kamar Justin berteriak kepada Max.
"Daddy mana uncle Marvin? kenapa lama sekali?"
Max yang mendengarnya pun segera ingat.
"Oh ya Luis panggil Marvin kesini untuk menemani Justin bermain game."
"Tetapi Marvin lagi keluar menemui klien Tuan," jawab Luis.
"Kalau begitu kamu saja temani Justin sampai dia bosan soalnya aku lagi larang dia untuk mengganggu Velove yang lagi istirahat."
"Baik Tuan, saya permisi ke kamar Tuan muda."
Luis pergi menuju ke kamar Justin sedangkan Max kembali ke kamarnya untuk menaruh dokumen pentingnya.
Di dalam kamar Velove masih tegolek lemas di atas kasur. Dia mulai mengerjapkan matanya dan melihat ke sekeliling ruangan namun tidak menemukan siapapun. Kemudian dia ingin bangun tetapi Velove merasakan sakit di pangkal pahannya. Terlebih lagi dia masih belum mengenakan pakaian karena terlalu lelah karena kegiatan panasnya tadi.
"Aduhhh, ssssshhh, dasar pria itu selalu membuatku tak berdaya. Ritme yang dia lakukan masih dalam mode biasa tetapi efeknya sangat luar biasa." gumamnya dalam hati mengingat aksi Max tadi.
Kemudian Max masuk kedalam kamar dan dia mendapati sang istri yang sudah bangun. Max tersenyum bahagia melihat Velove yang sudah resmi menjadi istrinya.
"Istri kesayanganku sudah bangun ternyata."
Velove menoleh dengan heran ke arah Max. Dia memastikan kalau yang didengarnya tadi tidak salah. Max makin tersenyum lebar kemudian naik keatas ranjang.
"Stop di situ Max." ucap Velove memberi jarak agar tidak terlalu dekat.
__ADS_1
"*Wh*y?? Aku ingin melihat wajah istriku dengan jelas."
"Istri katamu?" tanya Velove sekali lagi.
"Iya sayang, kamu sekarang sudah sah menjadi istriku." jawab Max meraih tubuh Velove ke pelukannya.
Max masuk ke dalam selimut Velove, dia memegang dan membelai tubuh Velove yang masih polos tanpa baju.
"Ahhhhh Max apa yang kamu lakukan?" desah Velove merasakan sentuhan tangan Max di area sensitifnya.
"Aku menginginkannya lagi sayang, tadi begitu cepat aku belum puas." sahut Max.
"Tenaga ku baru terkumpul kamu mau mengurasnya lagi Max?"
"Salahkan tubuhmu kenapa membuatku candu Love, dan ini kenapa bisa berubah menjadi sebesar ini? apakah kamu dulu menyu sui putra kita Love?" tanya Max sambil meremas dua aset kembar milik Velove.
"Menurut mu gimana Max?" tanya Velove dengan mengigit bibir bawahnya dan menatap sendu wajah Max.
"Ohh Love izinkan aku untuk melakukan lagi ya aku sudah tidak tahan." ucap sambil mengendus-endus dada Velove.
Velove yang terlena pun dengan refleks memeluk Max yang terus membenamkan wajahnya di tengah-tengah aset kembar milik istrinya. Max terus menciumi dua aset kembar itu, menghisap, dan menyematkan tanda kissmark baru. Padahal kissmark yang dia buat tadi pagi masih terlihat jelas, namun Max menambahinya lagi di bagian yang belum tersentuh.
Max melahap rakus dua aset kembar itu seperti bayi yang kelaparan. Max menji. lati dua cocochip berwarna merah muda itu dengan gigitan kecil yang membuat tubuh Velove menggeliat dan mende. sah menik. mti aksi yang Max lakukan.
"Oohhh Maxxx, Ahhhhhh." suara itu yang keluar dari mulut Velove. Hal itu yang membuat Max semakin bersemangat.
Setelah puas dengan dua aset kembar Velove, Max mengecup dada kemudian menuju leher yang menjadi titik sensitif istrinya. Max terus menciumi leher Velove dengan hembusan nafas yang kasar dan suara parau. Max melihat ekspresi wajah istrinya yang sangat menggairahhhkan. Max tidak membuat tanda kissmark di leher Velove untuk menghindari pertanyaan dari putranya nanti. Karena hal ini paling sulit di jelaskan untuk anak kecil yang aktif seperti Justin.
Setelah puas menji. lati leher putih itu Max memandang wajah sang istri sebentar, dan Velove pun tersenyum manis kepadanya.
"Love aku sangat mencintaimu istriku. Katakan padaku kalau kamu juga mencintaiku Love, karena aku belum pernah mendengarkan kata itu darimu," ucap Max lembut pada Velove.
"Apakah itu penting Max? bukankah yang terpenting sekarang aku sudah menjadi milikmu seutuhnya?" ucap Velove sambil mengusap bibir pria yang sudah menjadi suaminya itu.
"Kenapa apa kamu terlalu gengsi untuk mengucapkannya Love?" jawab Max dia menangkap jari Velove yang ada di bibirnya kemudian dia menggigit lembut jari Velove.
"Kamu adalah pria bodohku Max, tapi pria bodoh sepertimu bisa mendapatkan ku. Kamu sangat beruntung, Max aku bahagia denganmu dan aku juga sangat mencintaimu. Jangan pernah kecewakan aku. Karena kalau sampai hal itu terjadi aku akan menghilang selamanya dari hidupmu."
"No, itu tidak akan terjadi Love. Kamu lah hidupku, jadi aku tidak akan melakukan hal bodoh itu. Karena kamu begitu sempurna Love."
Velove tersenyum mendengar jawaban Max, kemudian Max mendaratkan ciumannya ke bibir Velove. Max mencium bibir itu, dan juga bermain lidah di dalam mulut Velove. Max menghi. sap dan menye. cap lidah Velove itu dengan penuh naf. su. Sesekali dia menggigit kecil bibir Velove itu dengan lembut. Sehingga membuat suara lengu. han keluar dari mulut Velove.
MMMPPHHHH
MMMPPHHHH
MMMPPPHHH
Max memperdalam luma. tannya, sehingga membuat Velove kehabisan nafas dan membuatnya tersengal.
MMMMMMPPP
AAHHHHHHHH
Max mengurai aksi ciumannya itu dengan nafas yang terengah-engah. Kemudian Max membuka pakaiannya karena cuaca sangat panas hari ini. Padahal Ac sudah di nyalakan tetapi tidak bisa mengurangi hawa panas yang terjadi di antara mereka berdua.
Setelah Max membuka seluruh bajunya, dia berdiri dan membangunkan Velove. Max menyuruh Velove untuk bersandar di headboard ranjang, kemudian dia berdiri tepat di wajah istrinya sambil mengacungkan sang junior yang belum on fire. Max memegang tangan Velove dan diletakkannya ke sang junior yang masih lemas. Velove pun memegang sang junior itu kemudian dia masukkan ke dalam mulutnya dengan lembut. Dia mengu. lum sang junior seperti sedang memakan es krim. Max menegang seketika dia mengerang meni. kmati sensasi dari aksi Velove.
"OHHHH, Love so good. Ssssssshh Ooohhhhh." desssahh Max sambil memegang kepala Velove maju mundur.
Velove juga semakin bernaf. su ketika melihat ekspresi kenik. mata Max. Dia terus menghi. sap dan menji. lat seluruh area sang junior. Kini sang junior pun sudah tegak berdiri. Cukup lama Velove mengu. lum dan menghi. sap sang junior yang semakin mengeras dan te. gang.
__ADS_1
SLUPPP
SLUPPP
SLUUPP
"Oohhh Love Ahhhhhhh, cukup aku sudah tidak tahan."
Max melepaskan sang junior dari mulut Velove. Kini Max membaringkan kembali tubuh Velove, dan kini giliran Max menyerbu ruang indah milik Velove. Di bukanya kedua kaki jenjang milik istrinya. Kemudian Max dengan cepat membenamkan mulutnya ke arah ruang indah itu. Max menji. lati nya dengan penuh naf. su dia menye. sap semua area sensitif Velove. Semakin dalam dan semakin dalam hingga membuat Velove berteriak sambil menjambak rambut Max .
"Ahhhhhh, Ahhhh, Fuuuckkk, Ohhhh Fuckkk."
Velove terus meracau menik. mati sensasi yang penuh dengan gaiiirah itu. Max terus melancarkan aksinya hingga membuat pertahanan Velove luruh, akibat serangan Max yang bertubi-tubi keluarlah cairan kenik matan dari ruang indah Velove. Velove berteriak dengan suara parau diikuti deru nafas yang memburu.
"Kau sangat gila Max, Hahh Hahh,"
Max tersenyum puas karena bisa membuat klimaksss istrinya. Dia pun segera bersiap dengan sang junior yang sudah teg. ang sedari tadi.
"Sekarang giliran ku Love."
Max memegang dan mengarahkan sang junior ke arah ruang indah yang telah basah itu. Max menempelkan ujung sang junior ke ruang indah Velove kemudian dia menekannya secara perlahan dan terbenam lah seluruh bagian sang junior ke ruang indah Velove.
JLEEEBBB😭
AAAHHHHHH🤤
Max dan Velove mende. sah secara bersamaan. Max tersenyum manis kepada Velove yang melek merem menik. mati aksi goyang pinggul Max. Max terus memaju mundurkan pinggulnya dengan ritme sedang. Kemudian dia membungkukkan badannya sambil merengkuh Velove ke pelukannya.
Max masih memaju mundurkan pinggulnya dengan memeluk Velove. Mulutnya juga bermain di area aset kembar Velove. Max menghi. sap, mengu. lum, dan menye. sap seluruh bagian yang kenyal itu. Kemudian Max bangkit melepaskan pelukannya dia mempercepat gerakan pinggulnya. Hal itu semakin membuat Velove mende. sah hebat.
"OHHHH Max Aaahhhh, Hug me, hug me."
Max tersenyum melihat ekspresi Velove, dan Max menarik Velove untuk bangun. Kini posisi Max sedang duduk dengan posisi Velove di atasnya. Velove bergerak naik turun di atas pangkuan Max, dan sensasi itu membuat Max mende. sah penuh kenik. matan. Max terus mencu. mbu dada Velove yang bergerak naik turun mengikuti ritme dari aksinya. Max melahapnya dengan sangat rakus.
"Ohh Love, Ohhhh nik. mat sekali. Aku mencintaimu baby."
Sudah cukup lama Velove beraksi diatas pangkuan Max. Kini Max merebahkan kembali tubuh istrinya, dan sekarang gilirannya yang menghujam kembali ruang indah Velove. Max menggoyangkan kembali pinggulnya maju mundur. Kini ritme yang dia gunakan sedikit cepat karena dia ingin mengakhiri penyatuannya kali ini.
"Ooohhh Ohhhh Max , hug me, Hug me,"
Velove terus meracau dan Max pun memeluk Velove sambil membungkam mulut Velove dengan bibirnya. Dia terus memompa pinggulnya semakin cepat dan semakin cepat.
"Ahhh ahhhh ahhhh Love, Love, Looveee Ahhhhhhh."
Luruhlah seluruh pertahanan Max dia meledakkan lagi benih cintanya itu di ruang indah milik Velove, dengan suara parau Max mengerang penuh kepuasan di ceruk leher Velove. Peluh mengucur membasahi tubuh keduanya. Max tepar di atas tubuh Velove dan masih memeluknya dengan erat.
"Terima kasih sayang, kamu membuat ku gila. Tidurlah biar aku memelukmu seperti ini."
Max dan Velove tepar dengan aksi panasnya di cuaca yang panas ini. Mereka tertidur dengan saling berpelukan.
bersambung...
**GIMANA APAKAH MASIH KURANG PANAS DEARS...OTHOR SUDAH CUKUP TEGANG MEMBAYANGKAN KEGIATAN MEREKA.😌😌😌SEMOGA OTAKNYA OTHOR GAK KONSLET YA MEMIKIRKAN ALUR BERIKUTNYA😂😂😂TAKUTNYA OTAK OTHOR KONSLET GARA2 MEREKA BERDUA UWUWUUAN2 TERUS TANPA MEMIKIRKAN SANG AUTHOR INI😭😭😭
JANGAN LUPA LIKE NYA LOH BIAR OTHOR SENENG😭
HADIAH NYA OTHOR JUGA WAJIB NIH☕🌹
VOTE NYA YANG PUNYA VOTE OTHOR MAU🥺
TERIMAKASIH🥰😍😘**
__ADS_1