
"Sa-saya tidak bodoh, dokter. Dan saya tidak akan pernah malakukan hal bodoh itu. Saya hanya ingin menyingkirkan bayi ini yang menjadi Noda dalam hidup saya," tegas Miya.
"Kau takut untuk mati. Tapi, kau tidak takut menjadi pembunuh. Kau benar-benar pecundang. Kau kira hanya dirimu yang hidup penuh penderitaan. Ada banyak orang diluaran sana yang menderita lebih darimu. Hidup itu adalah sebuah jalan menuju kesuksesan. Tidak ada jalan yang selalu lurus, akan ada belokan, tanjakkan, dan banyak lagi hal lainnya. Kau harus mampu melewati jalan itu walaupun ada banyak rintangan disana. Walau kau harus bersakit-sakit dahulu. Kau akan bahagia kemudian karena kau akan berhasil sampai ketujuanmu. Jadi, jangan pernah menyerah dalam mencapai tujuanmu. Karena yang kau alami saat ini, hanya sebuah tanjakan dalam perjalanan hidupmu. Ini hanya tanjakkan kecil, mungkin masih banyak tanjakkan yang lebih tinggi kedepannya. Kau tau, Tuhan akan memberikanmu sesuai bagaimana usaha dan caramu merayunya. Selalu berusaha keras dan jangan lupa rayu dia dalam Doamu, puji dia dalam Doamu. Niscaya dia akan memberikanmu hadiah nantinya." Jelas sang dokter panjang lebar membuat Miya merasa begitu bersalah karena telah mengambil keputusan yang salah.
"Berbaringlah disini," titah dokter itu memberi perintah kepada Miya. Sambil terisak Miya mengikuti perintah sang dokter. Miya berbaring diatas ranjang itu. Lalu dokter meyinsing bajunya dan mengoleskan gel ke perut datarnya.
__ADS_1
'Lihatlah itu, kasian sekali dia. Masih sekecil itu harus dibunuh oleh ibunya sendiri. Padahal, dia tidak bersalah apapun." Ujar dokter membuat Miya semakin merasa bersalah.
Miya menoleh ke layar monitor disampingnya. Air matanya mengalir begitu deras tanpa bisa ia tahan kala melihat sendiri bagaimana bentuk bayi yang kini menetap di rahimnya.
"Kau dengar itu. Itu bukanlah suara detak jantungmu. Tapi, itu adalah suara detak jantung bayi yang sekarang ada di dalam rahimmu. Dan kau dengan teganya ingin membunuhnya Ingan menghentikan detak jantungnya." Ucap sang dokter sengaja membuat Miya semakin merasa bersalah. "Baiklah, aku akan menggugurkan bayi tidak bersalah ini atas perintah ibunya sendiri."
__ADS_1
"Baguslah kalau kau sudah sadar, nak. Jagalah janin ini. Dia dan dirimu tidak bersalah. Jadi, jangan sakiti dirimu dan bayi malangmu. Tetaplah tegar dan jalani hidupmu dengan baik. Jangan menyerah. Bayi ini bukanlah Noda dalam kehidupanmu. Aku yakin, suatu saat kau akan mengatakan bahwa bayi ini adalah Anugrah untumu." Ucap sang dokter lalu memberikan beberapa vitamin untuk Miya secara gratis.
***
Setelah dari rumah sakit. Kini, Miya sudah berada di dalam kamarnya. Ia masih menangis terisak-isak karena merasa begitu bersalah pada bayinya. Dia hampir saja membunuh bayi yang tidak berdosa itu, dia hampir saja menjadi seorang pembunuh. Miya terus menangis hingga iya merasakan sakit di perutnya.
__ADS_1
"Sakit sekali," ringis Miya. "Apa kamu juga bersedih saat ibu bersedih? Apa kamu juga sakit saat ibu sakit? Maafkan ibu, sayang. Mulai saat ini, ibu akan menjagamu dan akan selalu menyayangimu. Ibu mohon maafkan kesalahan ibu yang pernah akan menyingkirkanmu. Sekarang ayo kita makan, kamu pasti lapar bukan. Setelah makan batu kita ke Toka Bungan ya. Ibu akan bekerja keras untukmu, ibu akan mengumpulkan banyak uang untumu. Agar kamu tidak kesusahan saat kamu lahir nanti. Maafkan ibu, sayang." Ujar Miya lalu keluar dari rumahnya menuju rumah makan terdekat untuk membeli makanan.
Dia akan memberikan makanan terlezat untuk bayinya. Dia tidak akan memakan, makanan yang tidak bergizi mulai sekarang. Ada bayi kecil yang memerlukan banyak gizi didalam perutnya. Dan dia tidak akan membiarkan bayinya kekurangan satu apapun.