
***
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Alvin.
"Saya ingin mencuci piringnya, Tuan." Jawab Miya.
"Biarkan saja disana. Akan ada peleyan yang membersihkannya. Sekarang ayo ikut aku." Titah Alvin menarik pergelangan tangan Miya. Sampai di kamar barulah Alvin melepaskan tangan Miya, lalu Alvin pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Sedangkan Miya langsung naik ke atas ranjang untuk melanjutkan kembali tidurnya.
Perlahan Alvin naik keatas ranjang agar tidak membangunkan Miya. Lalu dia menarik tubuh Miya untuk dia peluk erat. membenamkan wajahnya di ceruk leher Miya menghirup aroma tubuh Miya yang membuatnya candu dengan sensasi yang begitu menenangkan pikirannya, hingga berhasil membuatnya terlelap begitu nyenyak.
Pagi itu, awan terlihat kelabu. Matahari tidak terlihat karena ditutup oleh awan-awan hitam. Angin bertiup begitu kencang, suara gemuruh yang saling bersautan tak membuat bangun kedua sejoli yang kini saling memeluk mencari kehangatan. Miya benar-benar lupa akan segalanya. Bahkan dia melupakan bahwa hari ini adalah pemeriksaan terakhir putrinya. Ya, hati ini adalah hari penentu apakah putrinya benar telah sembuh seutuhnya apa belum.
Sebenarnya, tentu saja sudah. Karena sakit leukemia itu hanyalah setingan yang telah Anan rencanakan untuk menyatukan Miya dan juga Alvin. Dan Anan begitu bangga saat ini, karena rencananya berjalan dengan mulus.
Duaaarrrr!
Suara gemuruh paling kuat akhirnya mampu membangunkan dua sejoli itu. Miya terduduk sambil meringis memegangi kepalanya.
__ADS_1
"Kau kenapa?" Tanya Alvin yang kini juga terbangun.
"Tidak apa-apa, Tuan. Saya hanya terkejut karena petirnya." Bohong Miya. Tak menjawab Alvin segera menuju kamat mandi untuk membersihkan tubuhnya.
"Astaga, aku mohon jangan sakit, aku mohon. Hari ini aku harus pergi ke rumah sakit untuk menemani Putriku." Ucap Miya sambil memegangi keningnya yang terasa berputar-putar. Setelah mendapatkan pakaian untuk Alvin, Miya pun pergi ke dapur untuk mengambil air putih.
Tiba di dapur, ternyata sudah tersaji sarapan yang terlihat begitu lezat. Tapi untuk kali ini Miya tidak bernapsu karena Miya lebih sibuk menikmati rasa pusing dan tubuhnya yang terasa begitu tidak enak.
"Apa yang kau lihat, cepatlah makan." Titah Alvin kembali mengagetkan Miya lagi.
"Wajah Nona Terlihat sangat pucat, apa Nona baik-baik saja?" Tanya Bibi Musti khawatir. Alvin pun turut memandangi wajah Miya dengan raut wajah tak kalah khawatirnya.
Alvin dan Bibi Musti pun mengangguk mengerti, lalu mereka pun kembali melanjutkan sarapannya.
Begitu selesai sarapan, Miya mengantar Alvin hingga ke teras.
"Kau mau kamana hari ini?" Tanya Miya.
"Hanya pulang ke rumah sebantar lalu kembali ke sini lagi, Tuan." Jawab Miya.
__ADS_1
"Bibi Musti, siapkan satu mobil dan sopir untuknya." Titah Alvin.
"Baik, Tuan." Jawab Bibi Musti.
"Mari, Tuan." Ucap Sekretaris Haven mengambil tas kerja Tuannya, membuka pintu untuk Tuannya. Lalu kedepan untuk berganti posisi menjadi sopir.
"Kalau begitu saya ke kamar dulu, Bibi Musti." Pamit Miya.
"Mari saya antar, Nona." Jawab Bibi Musti mengekor dibelakang Miya.
"Apa Nona memerlukan sesuatu?" Tanya Bibi Musti.
"Ah, iya Bibi. Apakah ada pakaian layak yang bisa aku gunakan. Aku belum sempat membawa pakaianku kemari." Ucap Miya sedikit ragu.
"Masalah pakaian tidak perlu Nona pikirkan. Mari ikut saya, Nona." Ajak Bibi Musti ke sebuah ruangan yang terdapat begitu banyak pakain perempuan. Gaun-gaun yang indah, sepatu yang begitu bagus, dan tas-tas yang tidak bisa Miya terka berapa jumlah nolnya saking mahalnya barang-barang brandit itu.
"Silahkan Nona pilih apapun yang ingin Nona pakai. Ini semua milik Nona." Ujar Bibi Musti membuat Miya tak percaya. Bagaimana mungkin semua barang itu adalah miliknya. Kalau memang itu miliknya, maka dia akan menjual semuanya lalu ia berikan kepada Tuan Alvin untuk melunasi hutangnya, sehingga dia tidak perlu menjadi istri kontrak seperti sekarang ini.
"Sadarlah Miya, barang-barang seperti ini hanya mejadi milikmu saat kamu menjadi istrinya. Setelah dia bosan, maka dia akan membuangmu seperti sampah." Batin Miya berkata.
__ADS_1