Noda Melukis Cinta

Noda Melukis Cinta
Ayah kandung Naumi


__ADS_3

***


"Ibu, apa kita tidak salah?" Tanya Naumi ragu.


"Salah apa, sayang?" Tanya balik Miya.


"Salah rumah, Ibu. Ini kan istana," jawab Naumi polos.


"Kita tidak salah Naumi sayang. Ini memang benar rumah Ayahmu. Ayo kita masuk sekarang." Ajak Miya.


"Tidak Ibu, aku ingin bertanya. Apakah Ayah yang ini adalah Ayah yang sudah membuatku. Maksudku, apakah dia Ayah kandungku atau hanya Ayah tiriku." Ucap Naumi menghentikan langkah Miya. Mulai sekarang Miya harus mengingat bahwa Putrinya adalah anak yang cerdas. Dan Miya harus siap dengan pertanyaan-pertanyaan Naumi yang mungkin akan lebih menyulitkan dirinya.


"Dia ini Ayah kandungmu, Sayang. Bukan Ayah tirimu. Dia dan Ibu yang membuatmu dulu." Jawab Miya. "Astaga, sepertinya aku salah menjelaskannya. Putriku yang jenius." Batin Miya frustasi.


"Aku percaya pada Ibu," ujar Naumi tersenyum kepada Miya.


"Untunglah dia percaya." Batin Miya lega.


Miya dan Naumi Kembali melanjutkan kembali langkah mereka untuk memasukki Mansion. Miya tetap masuk, tanpa mempedulikan tatapan kebingungan dari para pengawal yang ada di depan.

__ADS_1


"Nona Miya," sapa Bibi Musti membungkukkan tubuhnya menyapa Nona mudanya.


"Apa kabar Bibi?" Tanya Miya.


"Baik, Nona." Jawab Bibi Musti sambil terus menatap Naumi seakan bertanya siapa gadis kecil itu.


"Emm, Bibi, perkenalkan ini Putriku Naumi Patrisia." Ucap Miya memperkenalkan Putrinya.


Bibi Musti terdiam dan terus menatap Naumi aneh. Dalam hatinya dia bertanya-tanya kenapa gadis kecil dihadapannya punya bola mata dan bentuk wajah yang sama dengan Tuannya. Bibi Musti menatap Miya lalu kembali menatap Naumi lagi. Mirip juga. Miya dan Naumi juga memiliki kemiripan di pipi chuby dan warna rambut mereka yang sama-sama pirang bergelombang. Tapi, mata gadis itu sangat mirip dengan Tuannya, bola mata biru yang bercahaya. Sanga indah, gadis cantik itu benar-benar sangat berkharisma tinggi seperti Tuannya.


"Halo, Bibi. Perkenalkan namaku Naumi. Apa Bibi melihat Ayahku?" Tanya Naumi menggemaskan.


"Iya Bibi. Ayahku, ini kan rumah Ayahku. Aku tidak salah kan Bu?" Tanya Naumi pada Ibunya.


"Sayang, dengerin Ibu ya. Ayah kamu itu lagi bekerja saat ini. Dia akan pulang sore atau malam nanti. Sekarang kita ke kamar dulu ya. Naumi istirahat dulu, pasti kamu lelah," bujuk Miya.


"Baiklah, Ibu. Aku mengerti." Jawabnya singkat. Mendengar itu, entah kenapa Miya merasa sedang membujuk Tuan Alvin. Dia baru menyadari bahwa sifat putrinya juga ada kemiripan dengan Tuan Alvin. Tapi Miya buru-buru menyingkapkan perasaan itu. Tidak mungkin kan putrinya yang lemah lembut Arogan dan angkuh seperti Tuan Alvin. Itu sangat tidak mungkin.


"Bibi, apakah ada kamar yang kosong untuk putriku?" Tanya Miya memelas.

__ADS_1


"Mari ikut saya, Nona." Jawab Bibi Naumi mengarahkan Naumi untuk istirahat di kamar tamu.


"Ibu, kamarnya luas sekali. Aku bisa lomba lari disini," ucap Naumi kagum.


"Kamu ada-ada saja sayang. Yasudah kamu istirahat dulu ya. Nanti ibu bangunkan kalau Ayahmu sudah pulang, oke." Jelas Miya.


"Iya, Ibu. Aku mengerti." Jawab Naumi segera naik keatas ranjangnya.


Miya menemani Putrinya hingga terlelap. Saat putrinya sudah tertidur nyenyak, Miya pun segera keluar dan menuju dapur untuk membuatkan makan malam, karena putrinya hanya ingin memakan masakannya.


"Nona, Nona kenapa ke sini. Nona ingin apa biar saya bawakan ke kamar Nona." Ucap Bibi Musti yang tidak mengizinkan Miya menginjak dapur.


"Bibi, aku mohon izinkan aku untuk masak. Putriku tidak akan makan bila bukan aku yang memasaknya. Aku mohon Bibi, aku sudah membeli bahan-bahan sendiri. Aku janji tidak akan menggunakan bahan makanan disini. Aku hanya menumpang masak saja." Mohon Miya sambil menunjukkan sayurannya.


"Bukan begitu maksud saya, Nona. Saya melarang bukan karena tidak boleh Nona mengambil bahan makanan disini. Tapi, karena Tuan melarang Nona menginjak dapur. Kami disini yang akan melayani Nona. Apapun yang Nona inginkan akan kami buatkan." Jelas Bibi Musti.


"Saya hanya ingin memasak untuk Putri saya. Tidak ada yang lain." Jawab Miya.


"Baiklah kalau Nona memaksa. Tapi, kami akan membantu Nona."

__ADS_1


"Baiklah," jawab Miya setuju.


__ADS_2