
***
"Dari hasil test DNA antara cairan dari ****** Miya Patrisia dan DNA milik Anan leon Hasilnya 'Tidak Cocok'. Dan itu artinya Anan leon bukanlah pelaku yang telah melecehkan Nona Miya Patrisia," ujar sang Dokter membuat Miya tidak terima akan hasil test itu.
"Kamu dengar itu Miya. Sepupu Ibu tidak mungkin melakukan hal bejat seperti itu. Ibu ingatkan padamu, jangan pernah lagi melemparkan kesalahan kepada orang lain. Itu tidak baik, nak. Ibu tau kamu gadis yang baik, sesulit apapun hidupmu jangan pernah lagi melakukan hal serendah ini. Bila kamu memerlukan sesuatu, ibu siap membantumu. Jangan begini, nak. Kamu akan mempermalukan dirimu sendiri. Tapi, kamu tenang saja. Ibu pastikan pihak sekolah akan membantumu mencari pelaku sebenarnya." Jelas ibu Novi membuat Miya meneteskan air matanya.
"Ini pasti ada kesalahan, Bu. Aku sangat yakin kak Ananlah pelakunya, itu tidak mungkin salah. Dokter tolong lakukan test sekali lagi. Saya yakin ini pasti ada kesalahan, saya mohon lakukan Sekali lagi." Mohon Miya membuat Bu Novi semakin tak suka dengan dirinya.
__ADS_1
"Miya, kamu apa-apaan. Bukti ini sudah jelas, apalagi yang kamu inginkan. Apa kamu lupa apa yang dokter katakan saat pertama kali kamu di test, kamu diberikan obat GBH. Bisa saja kamu hanya berhalusinasi kalau Anan yang melakukannya. Bisa saja itu hanya efek dari obat. Tapi, terserah padamu. Lakukan saja sesuai keinginannya, Dokter. Biayanya dari dia sendiri," ujar Bu Novi meninggikan volume suaranya.
"Memangnya berapa biaya rest itu, Dokter?" Tanya Miya tak berhenti menangisi nasibnya yang begitu tidak diinginkannya.
"Biayanya 20 juta untuk hasil secepat ini. Kalau mau yang agak murah dengan hasil keluar seminggu setelahnya, dan biayanya hanya 7 juta." Jawab sang dokter membuat Miya terdiam. Bagaimana mungkin ia sangup membayar senilai itu, untuk makan saja dia kesusahan, tak jarang ia berakhir dengan hanya menahan lapar seharian. Ia tidak punya Ayah, Ibu, atau keluarga dekat lain yang bisa membantu dirinya. Keluarga yang Miya miliki hanyalah seorang nenek yang telah memungutnya. Dan nenek itu telah meninggal dunia setelah mendapaftarkan dirinya sekolah. Harta peninggalan nenek, hanyalah sebuah gubuk yang menjadi tempat tinggalnya sekarang.
"Ibu tau kamu tidak memiliki uang sebanyak itu. Untuk itu, lebih baik kamu pulang ke rumah dan beristirahatlah. Ibu akan mengizinkanmu hari ini. Ayo Anan kita pergi." Ajak Ibu Novi kepada sepupunya. Anan yang hanya diam, segera mengekor dibelakang ibu Novi. Sedangkan Miya masih terus menangis hingga akhirnya ia diusir dari rumah sakit karena mengganggu ketenangan di rumah sakit.
__ADS_1
Berjalan gontai, Miya menuju rumahnya yang berada cukup jauh dari rumah sakit. Langkah kakinya terhenti ketika sampai di sebuah jembatan. Miya mendekat ke tepi jembatan, menatap sungai dengan arus deras dibawah sana. Miya menagap arus itu dengan pikiran kosong, tidak ada jiwa untuk saat ini. Dia hanya terua menangis dan menangis.
"Apakah aku akan mati, bila aku terjun kesana. Hiks, hiks ... Apakah mati adalah akhir dari kesedihan dan kemalangan. Lihatlah betapa lemahnya dirimu Miya, kau masih ingin hidup walau dalam penderitaan yang tiada akhir. Mati saja aku tidak berhak, hiks, hiks ...."
"Nenek, aku benar-benar sendiri sekarang. Aku akan kuat nek. Kau selalu mengajariku untuk bertahan. Demi dirimu aku akan bertahan. Kau pernah mengatakan padaku, saat kita menyelamatkan seseorang yang akan bunuh diri di jembatan ini. Kau bilang mati itu bukanlah akhir dari segalanya. jika kau memilih mati, maka kau payah dan lemah. Hari ini, aku mendengarkanmu nenek. Aku tidak akan melakukan hal bodoh itu. Kau bilang aku adalah gadis yang kuat bukan. Kau lihat aku tidak menangis, aku sangat kuat sekarang." Ucap Miya menepis kasar air matanya.
"Mulai hari ini aku akan selalu bahagia. Hanya akan bahagia." Teriak Miya lalu kembali melanjutkan perjalanannya pulang.
__ADS_1