
***
"****! Apa tidak ada satupun dari kalian yang melihat kemana perginya Yirien?" Tanya Alvin dengan nada suaranya meninggi.
"Maafkan kami, Tuan." Jawab mereka serentak. Alvin sudah mengecek cctv, tapi dia tidak menemukan apapun. Alvin tau— Semua pasti sudah direncanakan oleh Yirien dan Robert. Mereka berdua bertindak dengan sangat rapi. Tidak ada satupun jejak yang mereka tinggali. Dan Alvin, kesulitan untuk mencari keberadaan Istri dan Putrinya.
"Tuan, saya rasa Robert telah membawa Nona ke Markasnya." Ucap Sekretaris Haven.
"Kau benar, Haven. Tapi, kita belum mengetahui dimana tepatnya lokasi Markas mereka sebenarnya." Jawab Alvin.
"Tuan Anan, saya rasa—Tuan Anan mengetahui apa yang tidak kita ketahui." Saut Sekretaris Haven.
"Apa maksudmu, Haven?" Tanya Alvin heran.
"Maafkan saya belum mengatakan hal ini kepada Tuan. Tapi saya tidak bisa menjelaskan apa rahasia yang disembunyikan oleh Tuan Anan. Karena saya rasa—Tuan Anan sendirilah yang harunya menjelaskan kesalahan pahaman ini kepada Tuan." Jelas Sekretatis Haven.
"Kesalah pahaman apa, Haven. Apa yang kau dan Anan sembunyikan dariku." Desak Alvin.
"Lebih baik kita temui Tuan Anan—agar lebih jelas." Jawab Sekretaris Haven.
"Baiklah, Ayo!" Ajak Alvin.
__ADS_1
20 menit perjalanan. Kini, Alvin dan Sekretatis Haven telah berada di Apartemen tempat Anan tinggal.
"Ra-rahasia apa?" Tanya Anan gugup.
"Katakan apapun yang kau tau tentang Robert. Dia telah menculik Miya dan Putriku Naumi. Aku mohon katakan apapun yang kau tau, Anan. Aku tidak ingin Robert dan Yirien melukai dua orang yang aku cintai." Jelas Alvin memohon.
"Jika memang Robert menculik Miya dan putrimu. Kau tenang saja, Robert dan Yirien tidak akan menyakiti mereka berdua. Aku akan menceritakannya nanti. Lebih baik sekarang kita segera pergi untuk merebut kembali Istri dan Putrimu." Ajak Anan.
"Tunggu dulu, Anan. Kita tidak mengetahui dimana tempat ataupun markas mereka." Cegat Alvin.
"Aku tau, Alvin. Aku tau dimana Markas Robert. Sekarang siapkan para pengawalmu. Kita menuju kesana malam ini juga. Siapkan jet-mu—karena tempatnya berada di sebuah pulau terpencil." Titah Anan membuat Sekretaris Haven langsung menghubungi rekannya untuk menyiapkan segala sesuatunya.
***
Hanya mereka bertiga yang datang. Karena sebelumnya, Alvin telah menelpon dan sudah memutuskan untuk berbicara secara baik-baik dengan Robert. Tapi tetap saja, Alvin tidak boleh lengah. Karena bisa jadi semua ini hanyalah perangkap yang Robert persiapkan untuk Alvin. Alvin tau selicik dan sephyscho apa Robert sebenarnya.
Begitu kaki ketiga pria tampan itu minginjak di rumput. Saat itu pulalah, pengawal atau orang dari pihak Robert datang. Alvin, Anan, dan juga Sekretatis Haven begitu terkejut akan tampilan segerombolan pengawal itu. Mereka semua tidak memakai pakaian serba hitam seperti yang Alvin kira, atau selayaknya pengawal pada umumnya. Mereka hanya menggunakan baju santai berbahan tipis dengan pola bulat-bulat dan warna yang sangat mencolok. Hanya senjata M-16 dan alat khusus yang selalu menempel di kuping—yang menjadi tanda. Hingga Alvin, Anan, dan Sekretatis Haven dapat mengenali mereka semua.
"Mari ikut kami," ucap salah satu dari mereka.
Alvin tidak menjawab ataupun mengangguk. Tapi mereka patuh—mengikuti kemana arah para pengawal aneh itu membawa mereka. Kini, langkah mereka berhenti ketika berada di tepi pelayaran kapal pesiar pribadi milik Robert.
__ADS_1
"Silahkan masuk, Tuan Alvin." Ucapnya mempersilahkan Alvin untuk masuk kedalam kapal besar itu.
"Tidak, kalian tetap berada disini." Cegat pengawal itu saat Anan dan Sekretatis Haven akan mengikuti Alvin.
"Bagaimana bisa, kami bertiga datang bersama-sama kesini. Dan itu artinya kami harus selalu bersama-sama." Protes Anan.
"Tidak bisa, ingatlah kesepakatan. Tuan Robert hanya akan berbicara berdua dengan Tuan Alvin." Tukasnya.
"Anan, kau tenang saja, aku akan baik-baik saja." Seru Alvin.
"Ta-tapi, Tu-tuan—" ucap Sekretaris Haven terbata.
"Tenanglah, Haven. Aku akan baik-baik saja." Sanggah Alvin, lalu Alvin pun pergi melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam kapal yang sebentar lagi akan mendarat. Satu pengawal juga ikut bersama Alvin. Sedangkan yang lainya tetap tinggal, mereka pun mengajak Anan dan Sekretatis Haven untuk menuju Mansion pribadi Robert.
Alvin berjalan menyusuri ruagan demi ruangan dengan tiang-tiang Besar disekelilingnya.
"Lewat sini, Tuan Alvin." Ajak pengawal mengarahkan langkah Alvin.
"Silahakan masuk," pintanya ketika tiba di sebuah ruangan dengan pintu baja besar dihadapannya.
Alvin menatap pada pengawal itu, lalu dia pun masuk tanpa ragu.
__ADS_1
Didalam sana, didalam ruangan besar dengan satu meja. Tampak seorang pria dengan perawakan tinggi bertubuh kekar. Berdiri menghadap kaca, yang menyuguhkan pemandangan laut yang luar biasa indah.
"Robert," ujar Alvin melangkahkan kakinya perlahan.