Noda Melukis Cinta

Noda Melukis Cinta
Bonchap • 5


__ADS_3

Di ruang makan.


"Sayang, Minggu besok akan diadakan Reuni SMA. Kita datang, ya, Sayang, aku ingin menunjukkan kepada semua orang, kalau Miya Patrisia adalah Istriku." Bujuk Alvin sambil memeluk Miya dari belakang, sedangkan Miya tetap fokus membuat telur dadar yang kini menjadi menu yang dia sukai ketika tengah malam seperti saat ini.


Miya mematikan kompor, "A-aku tidak ingin mengingat masa lalu," jawab Miya menundukkan wajahnya.


"Sayang, kita bersama karena masa lalu. Jadi, aku mohon kita datang, ya." Alvin memegang kedua pundak Miya, dia menyalurkan kekuatan lewat kedua tangannya. Meyakinkan Sang Istrinya bahwa semua akan baik-baik saja.


"Baiklah, akan aku coba. Bisa tidak, ya aku melanjutkan sekolah? Hahaha ... Mana ada Ibu tiga anak sekolah lagi, hahaha ...." Miya tertawa kala membayangkan dirinya yang menggendong kedua putra kembar dengan memakai seragam SMA.


"Maafkan aku, Sayang." Bila Miya tertawa, maka berbeda dengan Alvin yang malah terlihat murung kala rasa bersalahnya kini mendominasi.


"Alvin Darran Suamiku tercinta, aku sudah memaafkanmu sejak lama. Aku akan mencoba berdamai dengan masa lalu kita. Walau masa lalu itu meninggalkan luka bahkan trauma padaku, tapi aku tidak akan melupakannya walau sepahit apa pun.


Apa kamu tau? Masa lalu itu ada tiga jenis. Satu, manis yang tidak akan dilupakan. Dua, pahit yang harus dilupakan. Sedangkan masa laluku bersamamu adalah tiga, masa lalu yang diibaratkan coklat, coklat yang akan tetap terasa manis, walau juga ada pahitnya." Jelas Miya membuat senyum manis seorang Alvin muncul seketika.


"Tapi, kamu tidak suka coklat, Sayang." Saut Alvin membuat Miya kembali cemberut.


"Jika orang lain akan terlihat jeleknya ketika cemberut. Maka, berbeda dengan Istriku yang super cantik ini, kamu akan terlihat semakin imut dan cantik ketika cemberut," Satu kecupan di bibir Alvin daratkan.


"Aku lapar Sayang, kenapa selalu mengajakku berdebat," kesal Miya sambil menghentakkan satu kakinya.


"Baiklah, Sayang. Apa pun yang kamu inginkan," tubuh Miya seketika melayang di udara ketika digendong oleh Alvin.


"Telur dadarku,"


"Nanti akan aku ambilkan," jawab Alvin lalu memposisikan Miya duduk di salah satu kursi ruang makan. Setelahnya Alvin kembali ke dapur, menyajikan telur dadar yang tadinya di masak Miya. Kemudian telur dadar yang tampak lezat itu, Alvin persembahan untuk Miya. Miya makan dengan tenang, sedangkan Alvin menatapnya sambil tersenyum. Malam romantis itu keduanya lewati dengan bersanda gurau.


Seminggu kemudian.


"Waw, Ibu sangat cantik." Puji Naumi yang kagum akan kecantikan Miya Sang Ibu.


"Terima kasih, Sayang. Kamu juga sangat cantik malam ini," Miya merapikan gaun Naumi yang sedikit berantakan akibat bermain dengan kedua adiknya.


"Sayang. Semakin tua, kenapa kamu semakin cantik?" Alvin tak mengedipkan matanya sama sekali kala memandangi setiap lekukan tubuh Miya yang tetap terlihat begitu idel walau sudah memiliki tiga orang anak. Gaun merah yang kontras dengan kulit Miya, terlihat semakin memancarkan kilauan kecantikan Miya yang tak pernah padam. Semakin dewasa, kecantikkan Miya seolah semakin bertambah, hal itulah yang membuat bunga-bunga cinta di hati Alvin kian lama kian berkembang.


"Kamu juga sudah tua," ejek Miya tak mau kalah.


"Tapi semakin tampan, bukan?" Goda Alvin.


"Ingat ketika kita di SMA dulu, aku sering memergokimu sedang menatapku lama sekali," sambung Alvin membuat kedua pipi Miya memerah.


"Kamu mengetahuinya?" Miya menunduk menyembunyikan raut wajah malu-malunya.


"Tentu saja. Kalau tidak tau untuk apa aku menyelamatkanmu," saut Alvin bersemangat.


"Menyelamatkan apanya? Kamu malah menghancurkan hidup seorang gadis SMA yang malang," kesal Miya.


"Maaf, Sayang. Tapi, itulah maksudku, kalau aku tidak tau kamu juga mencintaiku, tidak mungkin aku ingin memilikimu lebih awal. Tapi memang saat itu aku ingin menyelamatkanmu karena kamu sudah di bawah pengaruh obat," ujar Alvin mengatakan niat aslinya.


"Bila kamu melihat wanita yang seperti itu. Seharusnya bawa dia ke rumah sakit, atau kamu kunci saja aku di gudang itu sendirian,"

__ADS_1


"Mengunci dan meninggalkan wanita yang dicintai seorang diri di dalam gudang. Tidak mungkin aku sanggup melakukannya,"


"Itulah yang terbaik. Karena tidak semua wanita di dunia ini seberuntung aku."


"Ibu, Ayah, kenapa terus berdebat? Kapan kita berangkat?" Teriak Naumi yang kini duduk di sofa bersama dengan dua Baby Sitter yang merawat kedua Adik kembarnya.


"Ah iya, Sayang. Ayo kita berangkat sekarang." Ajak Alvin berjalan menuju tempat di mana Naumi berada. Dia ingin menggendong Naumi. Karena ditolak, akhinya dia hanya menggandeng tangan Sang Putri tercinta.


Mereka semua berjalan keluar dari Mansion. Naumi digandeng oleh Miya dan Alvin di kiri dan kanan, sementara kedua Putra kembar mereka, di gendong oleh kedua Baby Sitter. Kondisi seperti ini bukanlah karena Alvin dan Miya lebih menyayangi Naumi dibanding kedua Putra kembar mereka. Tapi, mereka tau bila di usia Naumi yang sekarang ini, sangatlah rentan dan lebih membutuhkan kasih sayang, dibandingkan kedua Putra kembar mereka yang belum mengetahui apa-apa.


Tiba di depan pintu utama, sudah ada Sekretatis Haven yang menunggu dengan sebuah mobil mewah Alvin yang berukuran lebih besar, dan dapat menampung mereka semua. Begitu masuk, perjalanan menuju hotel Blue Sky pun mereka mulai. Hanya butuh 20 menit perjalanan dan kini mereka telah sampai di sebuah hotel terbesar di kota. Alvin menggenggam tangan dingin Miya, tangan hangat Alvin seolah mampu menyalurkan energi hingga membuat Miya tersenyum manis menatapnya.


"Percaya kepadaku, Sayang." Ujar Alvin lembut. Miya menghela napas lalu tersenyum,


"Aku percaya padamu," jawabnya yakin sambil membalas genggaman tangan Sang Suami.


"Ayo kita keluar Ayah, Ibu," desak Naumi yang duduk di tengah-tengah Alvin dan Miya.


"Baiklah, Sayang." Jawab Alvin langsung keluar lebih dulu. "Ayo, Sayang." Ajak Alvin akan menggandeng tangan Naumi.


"Em, aku mau bersama Kakak Haven. Ayah gandeng Ibu saja," tolak Naumi yang mengerti akan kondisi Ibunya yang gugup.


"Baiklah, Sayang. Haven, jaga Putriku." Pesan Alvin kepada Sekretaris Haven.


"Baik, Tuan." Jawab Sekretaris Haven sedikit ragu untuk menggandeng Nona Mudanya.


Alvin berjalan sambil memeluk pinggang ramping Miya ketika masuk ke dalam gedung tinggi itu. Ketika masuk, para pegawai yang ada di hotel tampak menundukkan kepala memberikan hormat kepada bos mereka, Alvin. Ya, hotel Blue Sky adalah salah satu hotel yang Alvin bangun selama berada di kota besar ini. Alvin dan Miya berjalan menuju Aula dipandu langsung oleh atasan hotel. Di belakang mereka ada dua Baby Sitter yang menggendong Arden dan Erdan, juga ada Sekretaris Haven yang menggandeng Naumi. Sedangkan dipaling belakang, terlihat beberapa atasan lainnya yang berjalan dengan eskpresi arogannya masing-masing.


Pintu Aula yang terbuat dari kaca baja setebal lima centi, langsung terbuka dengan sendirinya. Semua Alumni SMA yang Alvin dan Miya ingat tampak berdiri guna menyambut tamu penting di acara itu. Beberapa guru lama yang Miya ingat wajahnya tampak berdiri sambil menundukkan wajahnya, mungkin saja nyali mereka menciut, kala kini mengetahui bahwa berita tentang Alvin yang menikahi Miya Patrisia terbukti kebenarannya. Bahkan kepala sekolah pun juga ikut berdiri menyambut kedatangan Alvin sang pengusaha sukses yang dulu pernah sekolah di SMA mereka.


"Baiklah teman-teman semua. Tamu penting kita hari ini telah hadir, ayo semuanya kita beri sambutan untuk Alvin Darran, Miya Patrisia, serta Putra dan Putri mereka!" Sorak pembawa acara membuat semua orang berdiri sambil memberi tepukkan tangan yang begitu meriah. Dan teriakan paling kencang datang dari Anan si biang kerok yang tak ketinggalan juga hadir di pesta penting itu.


"Oh iya, teman-teman. Tuan Alvin akan menghibur kita dengan menyanyikan lagi special yang telah beliau persipakan jauh-jauh hari." Ujar pembawa acara membuat semua yang hadir bersorak ria.


"Sayang, kamu beneran mau nyanyi?" Tanya Miya meragukan Alvin.


"Tentu saja, Sayang. Aku sudah berlatih lama. Ini kejutan untukmu." Jawab Alvin bangga.


"Memangnya kamu bisa Nyanyi, Sayang?" Tanya Miya ragu karena memang dirinya tidak pernah melihat Alvin bernyanyi sekali pun. Jangankan bernyanyi, bersenandung saja tak pernah terbayangkan oleh Miya. Seorang pengusaha yang terkenal dingin serta arogan akan bernyanyi, hal yang begitu mustahil bahkan untuk dibayangkan.


"Dengar-dengar dari bisikkan-bisikkan tatangga yang sampai keteling saya, Tuan Alvin rela berlatih vokal selama 3 bulan demi menyanyikan sebuah lagi di depan kita semua. Tidak perlu banyak Ceng Cong lagi, langsung saja kita sambut Tuan Alvin Darran dengan lagu Still Love You!" Sebuah kamera langsung menyoroti Alvin, dia tampak berdiri dengan senyuman yang mampu melelehkan hati semua wanita di yang ada di Aula itu.


Miya tampak linglung, bagaimana pun dia tidak ingin bila Sang Suami akan dipermalukan karena suaranya yang dia pikir pasti fales. Di atas panggung sana, Alvin duduk dengan nyaman sambil tersenyum menatap Miya sang Istri tercinta.


"Ehem, cek-cok. Eh, cek-cek," kelakar Alvin membuat semua orang tertawa riang termasuk Miya pastinya. Dia tidak percaya es dingin itu kini telah mencari oleh kehangatan cinta.


"Apa yang host tadi bilang itu tidaklah benar, karena saya tidak berlatih vokal selama tiga bulan. Melainkan selama 6 tahun lamanya," jawab Alvin membuat semua orang tak percaya, termasuk Miya pastinya.


"Lagu ini berisi setriliun kata maaf saya untuk Istri saya tercinta, Miya Patrisia. Di sini saya ingin mengatakan yang sejujur-jujurnya bahwa sayalah pelaku yang telah memperkosa Miya Patrisia ketika di SMA dulu." Miya tak dapat menahan tangisan harunya kala Alvin mengakui kesalahannya di masa lalu.


Bila Miya terharu, berbeda lagi dengan semua orang yang hadir di sana. Semuanya tampak tercengang akan pernyataan Alvin, apalagi semua guru termasuk Ibu Novi Sang Guru yang dulu begitu Miya sayangi. Ibu Novi terlihat begitu merasa bersalah kepada Miya karena dulu sempat berpikir bahwa Miya adalah perempuan tidak benar, dia terlihat tidak sabaran ingin menemui Miya untuk mengucapkan kata maaf. Semua Alumni juga hampir tak percaya akan apa yang Alvin katakan saat ini, karena mereka tidak tau bahwa penyebab Miya dikeluarkan dari sekolah adalah karena hamil di luar nikah. Selama ini mereka mengira kalau Miya yang telah menggoda Alvin, hingga Alvin mau menikahinya.

__ADS_1


"Saya melakukan hal itu karena sejak SMA saya telah mencintai Miya dengan begitu besarnya, hingga saya tidak sadar dan khilaf malah menyakiti gadis paling berharga dalam hidup saya. Saya mengakui semua perbuatan saya di masa lalu. Saya juga meminta maaf kepada semua pihak sekolah karena saya pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun saat itu, bahkan saya langsung pergi tanpa sempat bertanggung jawab atas perbuatan saya kepada Miya wanita yang paling saya cintai. Miya aku mohon, maafkan kesalahanku di masa lalu," Miya yang masih duduk di tempat semula tampak menganggukkan kepalanya sambil menyeka air mata yang menetes dengan tissue. Kini, suasana Aula menjadi lenggang. Beberapa Alumni terlihat terharu meneteskan air mata masing-masing. Mereka telah berubah pikiran, rasa benci kepada Miya berubah menjadi simpati yang penuh haru.


"Lagu ini saya persembahkan untukmu, Istriku, Ibu dari anak-anakku, Miya Patrisia." Ujar Alvin, tak lama alunan lagi mulai dimainkan, dan Alvin mulai bernyanyi dengan penghayatan di setiap lirik yang dia senandungkan.


Hanya kamu seorang, hanya kamu seorang, hanya kamu seorang


Aku mencintaimu, kamu segalanya bagiku


Maaf telah menyakitimu


Meski aku tak bisa kembali ke masa itu


Kamu tetap satu-satunya


Kamu terukir di hatiku seperti tato


Meski aku mencoba untuk menghapusmu, kamu adalah cinta yang tak bisa aku hapus


Tepukan tangan yang begitu meriah terdengar memenuhi Aula kala Alvin mengakhiri lagu yang dia nyanyikan. Miya hampir tak percaya kalau Alvin mampu membawakan lagu dengan nada tinggi tanpa celah sedikit pun. Air matanya terus menetes tanpa bisa dia tahan, rasa cintanya kini semakin besar untuk Alvin. Miya terlihat begitu sangat bahagia.


Alvin berdiri dari duduknya lalu turun dari panggung untuk menjemput Miya. Alvin membawa Miya ke atas panggung. Sekretaris Haven bersama Naumi, juga kedua Putranya yang juga dia ajak ke atas panggung. Kini, Alvin berdiri di atas panggung sambil memeluk pinggang Miya dengan penuh kasih sayang. Di samping kiri Alvin ada dua Baby Sitter yang masih setia menggendong si kembar Arden dan Erdan, sedangkan di sebelah kanan Miya ada Sekretaris Haven yang juga masih setia menggandeng Naumi Sang Nona Muda.


"Kalian semua pasti sudah mengenal dia, dia adalah Istri saya tercinta, Miya Patrisia." Ujar Alvin sambil memandang Miya dengan penuh cinta.


"Di sebelahnya ada Putri kandung saya yang paling cantik, Naumi Patrisia Aldarran." Naumi melambaikan tangannya dengan begitu percaya diri.


"Di sebalah kiri saya ada kedua putra kembar saya yaitu, Arden Darran dan Erdan Darran." Ujar Alvin memperkenalkan kedua Putra kembarnya tersayang.


Setelah memperkenalkan satu persatu anggota keluarganya, Alvin berlutut di hadapan Miya sambil berkata, "Maaf, atas khilafku yang telah menyakiti hatimu dengan Noda yang tak sengaja aku torehkan di sketsa lukisanmu. Aku sempat pergi untuk belajar melukis cinta dan berusaha mencari cara guna meminimalkan risikonya. Sekarang aku telah kembali dan aku akan mengubah Noda itu menjadi indah dan membuatmu kembali bahagia. Aku memang tidak mengejar cintamu. Tapi, aku mengejar hatimu. Dan cintamu, akan datang kepadaku. Rasa bersalahku ini, bukan lagi seperti torehan Noda di sebuah Lukisan. Tapi sudah menjadi tato yang dulu ku-ukir di dadaku. Kamu memang telah memaafkanku, tapi maafmu tentu tidak akan bisa menghapus tato ini. Biarlah aku tenggelam dalam rasa bersalah ini.


Akan kugunakan tato ini, agar kelak aku tidak akan menyakitimu lagi. Cinta yang terlalu dalam membatku tanpa sadar sudah menyakitimu, kamu bisa mengatakan ini khilaf. Dan itulah yang terjadi kepadaku, tanpa sadar, aku telah menyakiti gadis paling berharga dalam hidupku. Tentu saja aku menyesal, tapi aku tidak akan berlarut hingga tenggelam dalam penyesalan. Aku akan mencoba bangkit walau merangkak, mencoba untuk berdiri, memulai langkah, berlari, bahkan terbang, hingga aku dapat kembali menggapaimu.


Sekarang aku sadar dan aku tidak akan menyesal karena telah melakukan kekhilafan itu. Karena, berkat kekhilafan itulah aku mendapat begitu banyak pengalaman tentang bagaimana cara memperbaiki kesalahan. Miya Patrisia, Istri sekaligus Ibu terbaik, tercinta, tersayang, terkasih, dia segalanya bagiku dan anak-anakku. Aku ingin hidup disetiap hembusan napasnya, dan aku ingin mati ketika dia sudah tak lagi bernapas. Cinta kami akan abadi ... selamanya ...." Ucap Alvin tulus dan tetap berlutut sambil memegang jemari Miya dengan begitu romantisnya. Rentetan air mata terus membanjiri seisi ruangan itu. Mereka semua menjadi saksi peryataan cinta antara Alvin dan Miya.


Miya menunduk kemudian merangkul Alvin untuk berdiri. Miya mendekatkan tubuhnya lalu membenamkan kepalanya di dalam dada Alvin, merebut mic Alvin lalu juga mengungkapkan isi hatinya di hadapan semua orang.


"Kamu memang telah membuat kesalahan besar karena telah menodaiku, dan aku memaafkanmu begitu saja. Aku tau kalian geram padaku karena terlalu cepat memaafkannya. Namun, satu yang harus kalian tau. Kata maafku limited edition, hanya satu dan tidak akan ada yang kedua, ketiga, apalagi seterusnya.


Sekali lagi dia berbuat salah, aku tidak akan mengusirnya. Tapi, aku sendiri yang akan pergi menjauh darinya. Bagiku, lelaki terbaik bukanlah lelaki yang tidak pernah berbuat salah. Tapi, lelaki terbaik adalah lelaki yang mampu meperbaiki kesalahanya. Alvin Darran, dia bukan hanya memperbaiki kesalahannya, tapi dia mampu mengubah Noda menjadi indah dan membuatku sangat bahagia.


Aku mengenal betul siapa Alvin Darran. Dia adalah lelaki terbaik di dunia ini, dia adalah Ayah dari ketiga anakku, aku tau dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Aku tau dia akan membawaku kembali bila suatu saat nanti aku pergi. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Aku juga ingin napas kita bersatu, aku ingin hidup saat kamu hidup, dan aku ingin tiada, saat kamu tiada. Cinta kita akan abadi ... Selamanya ...." Ucap Miya membuat Alvin begitu gemas hingga mendaratkan satu kecupan di bibir sang Istri. Lagi dan lagi ruangan itu dipekakkan dengan tepukkan tangan serta teriakan para penghuni Aula.


Sejak hari itu, tidak pernah terdengar lagi berita miring tentang Alvin dan Miya. Yang ada hanyalah berita yang terus menyorot keharmonisan rumah tangga keduannya. Bahkan Alvin dan Miya diberikan julukan sebagai Hot Daddy and Hot Mommy.


Sedangkan Naumi menjadi sorotan media berkat kecantikkannya yang bak Dewi dan Naumi pun diberikan julukan sebagai Dewi Negari. Si kembar Arden dan Erdan juga tak kalah jadi sorotan, ketampanan serta kelucuan aksi keduanya juga menjadi sorotan di semua media sosial.


Kini hanya kebahagiaan yang akan Miya nikmati, perjalan hidup yang penuh liku-liku telah berhasil Miya lalui. Dan kini saatnya dia menikmati kebahagiaan bersama keluarga kecilnya. Tentu kedepannya masih akan muncul Noda-Noda dalam Lukisannya. Tapi, kekuatan cinta keduanya yang abadi, tidak akan pernah dapat menggoyahkan apalagi menghancurkan Lukisan Cinta Alvin Darran dan Miya Patrisia.


TAMAT


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2