
***
"Sudah, Ayah. Aku sudah kenyang. Makan disuapin Ayah ternyata lebih enak." Oceh Naumi memuji Alvin.
"Banarkah, Sayang. Kalau begitu kasih Ayah hadiah dong," pinta Alvin.
Muach
Satu kecupan mendarat di pipi Alvin sebagai hadiah.
"Kau sangat imut, Sayang." Balas Alvin memberi kecupan di kedua pipi, hidung, kening, dan dagu Naumi. Adegan harmonis itu membuat Miya terharu.
"Andai ini nyata dan bukan Akting. Aku pasti akan sangat bahagia melihat putriku bahagia. Tapi ini tidaklah mungkin terjadi, aku hanya menjual tubuhku untuk kebahagiaan putriku. Ayahnya, bahkan aku sudah melupakan nama laki-laki bajiangn itu. Apakah aku adalah ibu yang baik, apakah seorang Ibu yang membohongi putrinya bisa disebut Ibu yang hebat." Batin Miya begitu terluka. Dia menutupi keinginannya untuk bahagia, tidak apa dia bersedih asalkan putrinya bahagia.
"Ibu, apakah sangat sakit. Sini aku obati," ucap Naumi kala melihat ibunya bersedih.
Muach
Naumi mengecup perban di lengan Ibunya.
__ADS_1
"Setelah ini, luka Ibu akan sembuh. Jadi, Ibu tidak perlu bersedih lagi." Ujar Naumi meniru apa yang dilakukan Miya saat dia terluka. Miya tersenyum lalu mengecup kening putrinya.
"Ibu baik-baik saja, Sayang." Jawab Miya memamerkan senyuman paksa.
"Hay Bro, keluarga yang harmonis." Seru Anan yang datang tiba-tiba. Juga ada Sekretaris Haven yang mengekor dibelakang Anan.
"Kenapa pagi-pagi kau sudah kesini?" Tanya Alvin heran. Biasanya bila ada hal penting, Anan akan menemuinya saat di perusahaan.
"Apa pertanyaanmu itu berarti mengusirku," saut Anan tak suka.
"Jangan baper, ayo berangkat." Sambung Alvin pergi lebih dulu.
"Dadah, Ayah." Ujar Naumi melambaikan tangannya. Dan Alvin pun membalasnya.
"Ibu, Ibu akan kemana hari ini?" Tanya Naumi.
"Ibu akan dirumah bersamamu, Sayang." Jawab Miya memeluk erat putrinya.
"Enak ya kalau punya Ayah. Ibu tidak perlu bekerja lagi, dengan begitu Ibu tidak akan kelelahan lagi. Ini, Apakah masih sakit?" Tanya Naumi kembali melihat lengan Miya yang diperban.
__ADS_1
"Sama sekali tidak sakit, Sayang. Ibu bahkan bisa menggendongmu." Ucap Miya akan mengangkat tubuh mungil Naumi.
"Tidak perlu, Ibu. Aku kan sudah besar." Tolak Naumi. "Ayo kita ke kamarku saja. Ibu harus melihat boneka-boneka beruang yang sangat besar di kamarku. Bahkan lebih besar dari Ibu. Aku bahkan tidak bisa mengangkatnya." Oceh Naumi sambil menyeret lengan kiri Miya untuk dibawa ke kamarnya.
Puas seharian menemani Putrinya bermain. Kini, akhirnya Miya bisa beristirahat kala putrinya juga sudah tidur siang. Miya berjalan akan kembali ke kamarnya. Tidak, maksudnya kamar Alvin. Belum sampai Miya di kamar, langkahnya terhenti kala telpon rumah berdering. Melirik kiri-kanan, Miya tidak melihat siapapun. Pada akhirnya, Miya terpaksa mengangkat telpon itu.
"Hallo, Bibi. Apa Kakak Alvin ada di rumah. Aku menelpon nomornya tidak aktip, aku juga menelpon nomor kantornya, tapi tidak diangkat. Apa kakak Alvin ada di rumah, Bibi?" Tanya seorang gadis diseberang sana.
Miya terdiam, sulit bagi lidahnya untuk menjawab. Hingga berakhir keheningan.
"Hallo, Bibi. Apa Bibi masih ada Disana?" Tanya gadis itu mengira yang mengakat telpon adalah Bibi Musti.
"Bukan, saya bukan Bibi." Jawab Miya jujur.
"Lalu dengan siapa saya bicara. Apa pelayan di Mansion?" Tanyanya lagi.
Miya bingung harus menjawab apa, tidak mungkin dia mengatakan bahwa dirinya adalah istri kontrak Alvin.
"Ah, iya Nona. Sa-saya pelayan baru disini," jawab Miya pada akhirnya.
__ADS_1
"Oh, jadi kau pelayan baru. Kalau begitu dengarkan aku baik-baik, aku adalah calon istri Kak Alvin, namaku Yirrien Bulleci. Kau harus ingat itu agar tidak macam-macam denganku. Oh iya, kalau kakak Alvin pulang nanti, katakan padanya untuk menghubungiku." Miya segera menutup telpon itu secepatnya. Miya begitu terkejut dengan apa yang dikatakan gadis di dalam telpon tadi. Calon istri, untung saja dirinya tidak mengatakan bahwa dia adalah istrinya Alvin. Entah apa yang akan terjadi bila hal itu terjadi.
Kini, pikiran Miya begitu kalut. Entah kenapa hatinya terasa begitu perih seperti disayat sembilu. Dadanya terasa begitu sesak, seakan oksigen diruangan itu tidak cukup untuknya bernapas. Tanpa Miya sadari air matanya telah mengucur deras. Ah, biarlah dia menangis. Hanya dengan begitu dia akan merasa lega. Tidak ingin ada yang melihatnya menangis, Miya pun segera berlari masuk kedalam kamar, mengunci pintu kamar erat. Lalu membuang tubuhnya kasar ke atas ranjang. Lalu menangis dalam diam.