Noda Melukis Cinta

Noda Melukis Cinta
Sayang


__ADS_3

***


Kriett


Alvin membuka pintu kamar perlahan, dari balik pintu Alvin dapat melihat punggung Miya yang tidur menghadap dinding.


Alvin berjalan begitu hati-hati, seakan tak ingin membangunkan Miya dengan suara langkah kakinya. Alvin melepas jas juga kemejanya, lalu kembali melepaskan celananya. Kini, Alvin hanya menggunakan dalaman. Tanpa mandi lebih dulu, Alvin langsung merebahkan tubuhnya disamping Miya.


Baru saja Alvin ingin memeluk pinggang Miya dari belakang. Namun urung dia lakukan karena tiba-tiba saja Miya membalikkan tubuhnya menghadap tepat didepannya.


Alvin begitu terkejut kala melihat wajah Miya yang terlihat begitu sembab. Matanya membengkak, dengan sisa air mata yang membasahi pipinya.


"Maafkan aku Miya. Sungguh aku sangat-sangat menyesal telah merusak hidupmu. Aku harap kau akan memaafkan kesalahanku padamu. Miya, aku sangat menyesal, aku berjanji akan melakukan apapun asalkan kamu mau memaafkanku." Sesal Alvin sambil menyeka perlahan air mata di pipi Miya.


"Aku bersumpah atas nama Naumi bahwa aku akan melakukan apapun yang kau inginkan, Miya." Sumpah Alvin dengan buliran air mata bersalahnya menetes tanpa dapat dia tahan.

__ADS_1


Rasa bersalahnya sangatlah besar, apalagi saat adegan bagaimana dia memaksa Miya tergambar jelas bak film yang diputar di televisi. Teriakan serta jeritan Miya kala itu, membuatnya bergidik ngilu. Entah apa yang dia pikirkan saat itu. Jelas dia menyelamatkan Miya dari kelakukan bejat sahabatnya Anan. Tapi, dia yang meneruskan perbuatan bajat Anan. Anan belum sempat menyentuh Miya sedikit pun. Tapi Alvin, Alvinlah yang merusak hidup seorang gadis sebatang kara yang malang itu.


"Maafkan aku Miya, aku sangat mencintaimu saat itu. Aku memang baru sebulan bersekolah yang sama ditempatmu bersekolah. Tapi, aku sudah mencintaimu saat pertama kali melihatmu. Aku takut kau dirusak lelaki lain, seperti Anan yang ingin merusakmu, karena itulah aku ingin melakukannya lebih dulu. Aku mohon maafkan keegoisanku. Aku mohon maafkan aku." Mohon Alvin begitu menyesali perbuatannya dulu. Tapi apalah daya, Miya adalah wanita pertama yang dia cintai. Dan dia tidak ingin wanita yang dicintainya dirusak orang lain. Sebegitu besar cintanya kepada Miya saat itu. Hingga tanpa sadar, dia menjadi lelaki pengecut yang menghancurkan hidup wanita yang dia cintai.


Pagi datang begitu cepat, cuaca terlihat begitu cerah dengan kicauan burung yang terdengar begitu merdu bak Alarm alami yang membangun umat bumi.


Sinar matahari yang masuk lewat celah-celah ventilasi, membangunkan Alvin dan Miya yang kini mulai mengerjabkan mata mereka masing-masing.


"Tu-tuan," ucap Miya kaget.


"Jadi, saya harus memanggil Tuan dengan panggilan apa?" Tanya Miya bingung.


"Terserah, asalakan jangan Tuan." Jawab Alvin.


"Emm, bagaimana dengan Ayah Alvin." Saut Miya.

__ADS_1


"Memangnya kau anakku," kesal Alvin.


"Kalau begitu Kak Alvin saja." Sambung Miya lagi.


"Memangnya kau adikku," kesal Alvin lagi.


"Lalu aku harus memanggilmu apa?" Kini Miya yang kesal.


"Pikirkan baik-baik. Aku selesai mandi kau sudah harus menemukan panggilan yang romantis untukku," sambung Alvin langsung pergi ke kamar mandi setelah mengambil handuknya.


"Ro-romantis. Jangan-jangan ...." Ucap Miya lalu menutup wajahnya karena tiba-tiba dia merasa malu.


15 menit kemudian, Alvin keluar dari kamar mandi dengan handuk mini yang melingkar di pinggangnya. Seksi, itulah kata-kata yang ada dipikiran Miya, apalagi kotak-kotak diperut Alvin membuat Miya begitu suka memandangnya lama.


"Ini pakaianmu, Sayang." Ucap Miya lalu berlari menuju kamar mandi tanpa melihat reaksi Alvin yang kini senyum-senyum sendiri menatap kamar mandi yang pintunya telah tertutup rapat.

__ADS_1


__ADS_2