
***
"Aku akan mengumpulkan uang untuk menggugurkannya. Aku tidak salah bukan, bila menggugurkannya. Aku tidak punya uang, tidak punya keluarga lain untuk membantuku. Jadi, aku mohon biarkan aku menggugurkan kandungan ini. Lebih baik aku segera ke Toko Bunga, semoga sore ini banyak yang membeli buket bungaku." Ucap Miya langsung bangkit keluar dari gubuknya lalu keseberang jalan karena disanalah tempatnya mencari nafkah. Diseberang rumahnya ada sebuah toko bunga dan ia bekerja sebagai perangkai buket bunga. Jika bunga rangkainnya terjaul, maka ia akan mendapatkan uang sebesar Rp5000 per bunga.
Biasanya bunga rangkainnya akan terjual 4 rangkaian perharinya. Dan Miya mendapatkan uang sebesar Rp20.000 perharinya. Dan jumlah itu sudah cukup untuk biaya hidupnya selama sehari.
***
Keesokkan paginya, Miya berangkat ke sekolah dengan perasaan yang begitu kalut. Ia takut, ia terus memikirkan apakah ia akan dikeluarkan dari sekolah. Memikirkan itu membuat langkah kakinya terasa begitu berat. Begitu sampai di depan sekolah, dengan berat hati Miya masuk kedalam lingkungan sekolah
__ADS_1
Baru saja ia duduk di bangkunya paling belakang. Tapi, seorang adik kelas sudah memanggil namanya mengatakan bahwa ia dipanggil untuk datang ke Aula.
"Apakah disana aku akan disidang," ucap Miya dalam hati.
Tanpa memperdulikan tatapan siswa lainnya, Miya terus berjalan menuju Aula. Saat masuk, beberapa guru sudah berada didalam Aula duduk berjejer menunggu kehadirannya. Ada bapak kepala sekolah yang duduk dipaling depan, ada pula ibu Novi yang duduk disamping kepala sekolah. Serta guru lainnya yang ikut duduk dibelakang kepala sekolah.
"Duduklah disana," titah kepala sekolah mempersilahkan Miya untuk duduk di kursi yang ada dihadapan mereka semua. Berjalan pelan sambil menundukkan wajahnya Miya menuju kursi itu.
"Kami sudah memutuskan bahwa kamu akan dikeluarkan dari sekolah," tubuh Miya bergetar mendengat kalimat dingin yang dikatakan oleh bapak kepala sekolah yang mengucapkan kaliamat itu begitu jelas secara to the point.
__ADS_1
Miya mengangkat wajahnya menatap kepala sekolah dengan setetes air mata yang keluar dari kedua sudut matanya.
"Keputusanku sudah bulat. Waktu sembilan bulan, bukanlah waktu yang singkat. Sekolah akan dipermalukan bila kau datang ke sekolah ini dengan perut buncitmu. Kami tidak ingin mengambil risiko kehilangan nama baik sekolah yang susah payah kami tegakkan. Nama baik sekolah ini akan hancur dalam sekejap bila orang diluaran sana mengetahui insiden ini. Itu keputusanku yang tidak dapat diganggu gugat." Tegas kepala sekolah lalu keluar dari Aula saat itu juga.
Miya menatap punggung orang paling tegas disekolah itu dengan air matanya yang terus mengalir. Ia ingin berucap, ingin membela dirinya, ingin menentang apa yang diucapkan oleh kepala sekolah. Tapi mulutnya seakan terkunci, tidak ada satu katapun yang mampu ia ucapkan selain tangisannya yang semakin menjadi. Ia sudah mengira bahwa hal ini akan terjadi, dan Miya juga sudah mempersiapkan hatinya untuk hal ini. Lalu, kenapa ia sesedih ini saat mendengar langsung kalimat itu. Miya benar-benar tidak dapat menahan air matanya untuk tidak mengalir.
"Miya kemarilah," ujar Ibu Novi menatap Miya dengan tersenyum.
Walau langkahnya gemetar, Miya tetap maju langkah demi langkah. Hingga kini dia sudah berada dihadapan ibu Novi.
__ADS_1
"Jangan bersedih, Miya. Hapus air matamu, kau tidak sendiri. Ini, ada sejumlah uang yang bisa kau gunakan untuk melahirkan nantinya. Walau kau sudah tidak lagi belajar disekolah ini, walaupun aku tidak lagi mengajarimu. Kau tetaplah murid terbaikku. Selalu jaga dirimu. Aku tau kau adalah gadis yang kuat, aku yakin kau bisa melewati masa-masa tersulit sekalipun dalam hidupmu. Semoga kau selalu bahagia Miya," tutur ibu Novi memeberikan selembar amplop berwarna putih kepada Miya. Miya tidak menolak bantuan itu. Dia tidak egois, dia membutuhkan uang itu. Miya bahagia saat mendapatkan pelukan dari Ibu Novi guru kesayangannya. Walau dia tau itu hanyalah pelukkan karena kasian. Walau dia tau bahwa Bu Novi masih belum memafkannya. Tapi, biarkan dia menikamati pelukkan itu. Pelukkan yang begitu ia butuhkan saat ini.