
"Apa kamu gugup, Sayang?" Tanya Miya yang kini tengah menyisir pelan rambut gelombang Naumi yang panjang. Hari ini adalah hari di mana Naumi akan bersekolah untuk yang pertama kalinya. Dan tentu saja Miya merasa khawatir terhadap Putrinya. Dia takut Naumi akan mengalami apa yang dirinya alami dulu. Seperti dirirnya yang tidak punya teman, selalu sendiri, hingga di bully. Miya tidak ingin Putrinya mengalami hal yang sama.
"Ibu jangan khawatir. Memangnya siapa yang berani menyentuh Putri dari seorang pemilik perusahaan Dizzon Grup." Jawab Naumi membuat Miya tercengang.
"Naumi benar. Dulunya aku adalah seorang gadis yang sangat miskin dan tak punya siapa-siapa, tentu saja tidak ada yang ingin berteman denganku. Tapi Naumi, dia adalah seorang gadis yang sangat cantik pintar dan kaya. Sudah dipastikan dia akan menjadi idola di sekolahnya. Lagi pula, Alvin juga sudah mengirim orangnya untuk menjaga Naumi di sekolah. Tidak seharusnya aku terlalu protektif begini." Batin Miya.
"Baiklah Sayang. Ibu percaya kepada Putri Ibu yang paling cantik ini," ujar Miya lalu memeluk Naumi erat.
"Aku bisa menjaga diriku Ibu. Percaya kepadaku," saut Naumi serius.
"Tentu saja, Sayang. Ibu yakin kamu bisa," jawab Miya. "Sekarang kamu sarapan dulu bersama Ayah, ya. Ibu akan menyusul setelah menyiapkan kedua Adiknmu." Tambah Miya lagi.
"Baik, Ibu," jawab Naumi segera turun dari kursi, kemudian keluar dari kemarnya menuju ruang makan. Miya tersenyum menatap Putrinya yang telah menjauh. Setelahnya, Miya juga menyusul ke luar dari kamar, menuju kamarnya yang berada di sebelah kamar Naumi. Selama setahun ini, sejak kehadiran Arden dan Erdan, Miya dan Alvin sudah tidak lagi tinggal di lantai 4. Keduannya memilih tinggal di lantai dasar agar tidak repot turun naik tangga ataupun lift. Di lantai dasar mereka juga dapat terus dekat dengan Putrinya, Naumi. Itulah Miya, dia begitu tau apa yang harus dia lakukan untuk ketiga anak-anaknya juga Suaminya. Meski punya dua Baby yang berusia satu tahun, tapi kasih sayang untuk Naumi tetap menjadi prioritas utamanya. Namun bukan berarti Arden dan Erdan dinomor-duakan.
Miya begitu pandai membagi waktunya. Dia tau mana yang harus dia lakukan lebih dulu. Semua tugas sebagai seorang Istri sekaligus Ibu dia kerjakan dengan baik. Ketika bangun pagi, yang dia bangunkan lebih dulu pasti adalah Suaminya, Alvin. Beruntungnya Alvin memang adalah lelaki yang tidak aneh-aneh, dia tau betapa repotnya Miya. Sehingga Alvin akan segera bangun dan mandi bila sudah Miya bangunkan.
Menyiapkan pakaian untuk Alvin Miya kerjakan lebih dulu. Kemudian memberikan masing-masing satu botol susu untuk kedua Putranya. Begitu Alvin siap, Alvin akan bertugas untuk menemani kedua Putranya bermain, sementara Miya akan pergi ke kamar Naumi untuk menyiapkan Naumi. Dan kini, Miya telah berada di kamarnya. "Sayang Naumi sudah siap?" Sapa Alvin.
"Sudah, kamu temani dia makan, ya. Aku akan memandikan Arden dan Erdan lebih dulu." Saut Miya mendekat pada Alvin yang berada di pinggir ranjang khusus kedua Putranya.
"Siap, Sayang. Aku akan keluar dan memanggil pelayan untuk membantumu," saut Alvin akan mencium Istrinya.
"Mau apa?" Cegat Miya.
"Kiss pagi," jawab Alvin cepat.
"Aku belum mandi, sedangkan kamu sudah rapi begini," jawab Miya menolak.
"Tidak mandi seminggu pun, kamu tetap akan selalu wangi bagiku. Aku suka wangimu, Sayang." Jawab Alvin langsung mencium Miya paksa. "Bagiku kamu selalu wangi," jawab Alvin lalu pergi meninggalkan Miya yang kini merona merah karena malu. Dengan bantuan satu pelayan, Miya dapat menyelesaikan tugasnya dengan cepat. Begitu selesai, dia pun segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
***
"Dek Arden, Dek Erdan. Kakak berangkat dulu, ya. Ingat, jangan jadi Dedek yang nakal." Pesan Naumi lalu mencium satu persatu pipi kedua adik kembarnya.
"Yang ini Dek Arden dan yang ini Dek Erdan. Kamu masih salah menebak mereka, Sayang," ralat Miya sambil tersenyum lepas.
"Wajah keduanya sangat mirip, Ibu," keluh Naumi.
"Sudah, tidak apa-apa, Sayang. Lama-lama kamu juga akan mengenal mereka," sanggah Alvin.
"Arden dan Erdan, jaga Ibu kalian baik-baik, ya. Anak laki jangan cengeng mulu, oke." Kini Alvin yang berpesan lalu mencium gemas pipi, hidung, kening, mata, dan mulut kedua Bayi kembarnya.
Alvin, Miya, juga Naumi begitu gemas ketika Baby Arden dan Erdan menanggapi mereka dengan tertawa menggemaskan.
"Aku pergi, Sayang. Ingat kamu harus meminta bantuan pelayan, aku tidak ingin kamu lelah," pesan Alvin lalu mencium kening Miya dengan sejuta kelembutan dan setriliun kasih sayang.
__ADS_1
"Tentu, Sayang, hati-hati di jalan. Naumi juga baik-baik di sekolah, terus belajar hingga menjadi anak yang membanggakan." Ucap Miya lalu mencium kedua pipi dan kening Naumi.
"Siap, Ibu tercinta," jawab Naumi semangat. Setelah kepergian Alvin dan Naumi, Miya kembali menemani kedua Putrannya bermain. Puas bermain, kedua Putra kembarnya kompak tertidur. Dan saat itulah Miya baru bisa istirahat.
Malam harinya.
"Sayang, kamu lagi apa?" Tanya Alvin ketika masuk ke dalam kamar Putrinya, Naumi.
"Ngerjain tugas rumah, Ayah," jawab Naumi tersenyum manis.
"Ada yang bisa Ayah bantu?" Tawar Alvin yang Kini berada di belakang Putrinya, menyentuh kepala Naumi dengan penuh kasih sayang, dengan salah satu tanganya dia letakkan di meja belajar, guna menahan bobot tubuhnya agar seimbang.
"Ayah terlambat, hehehe. Baru saja selesai. Tapi aku ingin tidur di peluk Ayah, ada banyak yang ingin aku ceritakan tentang sekolahku hari ini" jawab Naumi melepas pulpen ditangannya, lalu memeluk Alvin erat.
"Wah, cerita tentang apa, ya? Ayah jadi penasaran," sambung Alvin.
"Makanya, ayo temani aku tidur, Ayah." Pinta Naumi dengan mata berbinar penuh harap.
"Apa pun yang Putri Ayah inginkan, pasti akan Ayah lakukan," jawab Alvin percaya diri.
"Kalau begitu aku minta ambilkan bintang di langit," goda Naumi.
"Untuk apa jauh-jauh ke langit bila hanya untuk mengambil bintang biasa. Kamu, kan, juga bintang paling bersinar di mata dan hati Ayah. Kalau kamu minta diambilkan bintang di langit, kamulah binatangnya." Jawab Alvin berbalik menggoda Naumi.
"Tidak begitu, Sayang. Yang benar itu begini, Ayah matahari, Ibu bumi, kamu bulan, Arden dan Erdan bintangnya." Ujar Alvin mengecup kedua pipi Naumi geram.
"Ayah salah, matahari, kan juga bintang. Tapi, matahari adalah bintang yang paling dekat dengan bumi. Ah, ayah bagaimana sih, begitu saja tidak tau," ejek Naumi segera turun dari kursi belajar, lalu berlari dan langsung naik ke atas ranjangnya.
"Anak Ayah satu ini memang mewarisi kepintaran Ayah," sambung Alvin sambil berjalan menuju ranjang sang Putri, lalu merebahkan tubuh kekarnya di samping Naumi.
"Aku sayang Ayah," imbuh Naumi mesuk ke dalam pelukkan Alvin. Alvin pun membalas pelukkan Sang Putri dengan begitu eratnya.
"Ayah juga sayang Naumi," saut Alvin mengecup kening Naumi lembut. "Jadi, apa yang ingin Putri Ayah ini ceritakan?"
"Tentang sekolah, Ayah." Jawab Naumi pelan.
"Iya, Ayah tau. Ada cerita apa di sekolah hari ini? Apa ada yang menggangu Putri Ayah tercinta ini, Hem?"
"Tentu saja tidak, Ayah. Semua teman-teman di sekolah sangat suka bermain denganku. Hanya saja—"
"Hanya saja apa, Sayang?"
__ADS_1
"Hanya saja, ada seorang lelaki culun yang terus menatapku. Aku sampai mengira kalau dia itu punya niat jahat kepadaku,"
"Benarkah?" Jawab Alvin bersemangat, jelas dia tau siapa anak lelaki culun yang Naumi maksud.
"Iya, Ayah. Apa ayah tau, dia itu sangat pendiam dan penakut, dia juga tidak pintar. Tapi, dia terus menatapku dan itu membuatku tidak nyaman, Ayah," adu Naumi membuat Alvin tersenyum.
"Masak iya ada lelaki yang penakut, Sayang," saut Alvin.
"Benar, Ayah. Aku tidak berbohong. Dia anak lelaki yang memakai kaca mata bulat dengan lingkaran yang besar. Rambutnya rapi dengan pakaian khas orang culun. Lebih parahnya dia tidak bisa menghitung satu sampai sepuluh. Ketika ditanya dia juga terus diam," jelas Naumi lagi.
"Ayah juga jadi penasaran kenapa anak laki-laki itu penakut dan pendiam,"
"Emm, tapi Ayah, dia terlihat tampan, apa mingkin dia punya trauma hingga bersikap seperti itu."
"Ayo, masih kecil kamu sudah tau mana anak lelaki yang tampan, Hem. Apa kamu menyukainya," goda Alvin bercanda.
"Tidak lucu, Ayah. Masak iya masih kecil sudah begituan. Aku hanya kasian kepadanya, lagian dia juga baik kepadaku." Saut Naumi sambil menguap.
"Kalau dia baik padamu, kamu juga harus bersikap baik kepadanya. Ingat pesan Ayah, jangan pandang bulu ketika berteman."
"Tentu saja, Ayah. Ayah tenang saja, aku pasti akan melindunginnya." Jawab Naumi yang mulai memejamkan matanya. Alvin mengelus lembut rambut gelombang Naumi hingga Sang Putri tertidur lelap.
"Bukan kamu yang akan melindunginya, Sayang. Tapi, dialah yang Ayah pilih untuk melindungimu. Ayah menyayangimu, Naumi Sayang." Alvin mengecup pelan kening Naumi, menyelimutinya agar hangat, lalu segera keluar dari kamar Naumi.
"Sayang, kamu mau ke mana?" Tanya Alvin kala berpapasan dengan Miya yang baru saja keluar dari kamar.
"Aku lapar banget, Sayang. Mau makan," jawab Miya sambil mengelus perut datarnya.
"Makan lagi? Kamu baru saja makan, Sayang," saut Alvin mengelus kepala Sang Istri penuh kasih sayang. "Kamu hamil lagi?" Sambungnya.
"Apaan sih, Sayang. Ya nggak mungkinlah,"
"Mungkin saja, Sayang. Kita sudah top core sejak SMA." Goda Alvin membaut Miya merengut.
"Yasudah Ayo aku temani. Jangan ditekuk gitu mukanya, nanti cepat tua, loh,"
"Aw!" Ringis Alvin kala perutnya di cubit oleh Miya.
"Kenapa wanita itu sangat suka mencubit? Mana ngilu banget lagi," sambung Alvin membuat Miya semakin menekuk wajahnya.
"Ayo Istriku tersayang. Kita makan malam," Alvin memeluk pinggang Miya erat, kemudian berjalan menuju ruang makan.
.
.
.
__ADS_1