
"Dokter Istri saya kenapa!? Miya bangun Miya," Alvin seketika panik kala Miya terkulai lemas dengan mata tertutup rapat.
"Dokter Nita segera memberikan tugas terakhir kepada Dokter kandungan lain yang membantunya, lalu segera memeriksa keadaan Miya.
"Tidap apa-apa, Tuan Alvin. Nona Miya hanya kelelahan dan sekarang dia sedang beristirahat, kondisinya kini baik-baik saja. Tuan Alvin tidak perlu khawatir," jawab dr. Nita membuat Alvin lega. Alvin begitu tanggap dan langsung membersihkan keringat yang menggenang di wajah Miya. Menyeka air mata yang tersisa, kemudian mencium seluruh wajah itu dengan penuh rasa haru dan penuh cinta.
"Terima kasih sayang. Istirahatlah, aku akan menjagamu di sini."
Beberapa menit kemudian, Tuan Aldarran masuk ke dalam ruangan bersama dengan Naumi.
"Sayang," panggil Alvin langsung menggendong putrinya.
"Ayah Ibu kenapa tidak bangun?" Tanya Naumi khwatir.
"Ibu hanya kelelahan saja, Sayang. Sebentar lagi Ibu pasti akan bangun." Jelas Alvin lembut. "Apa kamu tidak penasaran dengan adik-adikmu?" Sambugnya lagi.
__ADS_1
"Iya, Ayah. Aku ingin melihat adik-adikku." Pinta Naumi riang.
"Dengan senang hati, Tuan Putri, Ayah."
"Wah, pipi mereka lebih gembul dari pipiku. Mereka berdua begitu mirip dan sangat imut. Wajah mereka kecil dengan pipi yang chubby, mereka sangat tampan seperti Ayah. Aku akan menjadi Kakak yang baik untuk kedua adik tampanku ini." Celoteh Naumi ketika melihat dua makhluk imut yang berada di atas ranjang khusus Bayi. Kedua bayi itu lahir dengan kondisi yang sangat sehat. Wajah yang kecil, pipi chubby, serta mata berwarna biru cerah yang indah persis seperti mata Alvin.
"Mau kamu beri nama siapa kedua Cucuku ini, Alvin?" Tanya Tuan Aldarran sambil mengusap kening kedua Bayi imut itu. Keduanya Kompak membuka mulut sambil mengecap. Sepertinya kedua Bayi itu sama-sama kelaparan.
"Arden Darran dan Erdan Darran." Jawab Alvin sambil tersenyum bangga.
"Dedek Arden yang mana? Dan dedek Erdan yang mana, Ayah? Aku tidak bisa membedakan wajah mereka." Protes Naumi.
"Perbedaannya ada ditanda lahir mereka, Sayang. Kamu lihat di lengan kanan mereka berdua, di lengan kanan Arden ada tanda lahir berbentuk kotak. Dan tanda lahir di lengan Erdan berbentuk bulat. Arden adalah kakaknya Erdan." Jelas Alavin membuat Naumi mengangguk mengerti, tapi nampak masih bingung membedakan kedua Adiknya itu.
"Ayah. Ibu sudah bangun." Sorak Naumi berontak ingin turun dari gendongan Alvin. Perlahan Alvin menurunkan Putrinya, dan Naumi langsung berlarian ringan menuju ranjang di mana Ibunya terbaring lemah.
__ADS_1
"Ibu, Ibu baik-baik saja, bukan? Ibu, apa Ibu tau Adik-Adikku sangat imut sepertiku. Mereka sangat tampan seperti Ayah, dan apa Ibu tau? Wajah mereka sama, aku bahkan tidak bisa membedakannya," celoteh gadis kecil itu tanpa henti.
"Iya, Sayang. Ibu baik-baik saja. Dimana Adik-Adikmu? Ibu bahkan belum sempat melihatnya." Jawab Miya lemah dan akan bangun, namun segera dicegah oleh Alvin.
"Kamu tetap di sini, Sayang. Jangan dulu banyak bergerak," ucap Alvin mengingatkan.
"Tapi aku ingin melihat anak kita," pinta Miya akan menangis.
"Sayang, ada aku dan Suster yang akan mengantarnya kepadamu," ujar Alvin langsung beranjak menuju rangjang kedua Putranya. Alvin menggendong Arden, sedangkan Erdan dibantu oleh satu Suster yang berjaga.
"Kalau begitu Daddy keluar dulu," ujar Tuan Aldarran. "Daddy ingin berbicara dengan Dokter Kelvin. Sudah lama tidak bertemu dengannya." Jawabnya mendekat kepada Miya. "Kamu baik-baik saja'kan, Sayang? Daddy pergi dulu, jaga kedua Cucu Daddy, ya." Tambahnya sambil mengelus rambut Miya lembut. Membuat hati Miya menghangat karena memang begitu mendambakan sosok Daddy yang begitu perhatian kepada dirinya.
"Terima kasih, Daddy." Jawab Miya Kembali menangis. Setelah kepergian Tuan Aldarran, Alvin menyerahkan Baby Arden kepada Miya untuk disusui. Tapi, Miya malah kebingungan karena tidak tau caranya menyusui dua Baby sekaligus. Setelah diajari oleh Suster, barulah Miya bisa menyusui kedua Bayinya. Baby Arden di sebelah kanan dan Baby Erdan menyusui di sebelah kiri. Senyuman bangga tak pernah lepas dari bibir ranum Miya. Menyusui untuk kedua kalinya adalah hal paling membanggakan bagi dirinya.
.
.
__ADS_1
.